Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Lamaran euy,


__ADS_3

__®®__


Sejak malam itu Rojali hampir setiap hari menyambangi rumah sang gadis.


Tak puas hati untuk terus menengok sang pujaan.


Meskipun lebih sering bercengkrama dengan ayah Rojak,mendengar nasihat dan petuah yang berguna untuk masa depannya nanti.


Berbicara dari hati ke hati antar sesama lelaki ini,tak pernah sekalipun di jumpai nya bahkan dengan papanya sendiri.


__**__


Sore itu tampak rambut gondrongnya terurai tersibak oleh angin yang lumayan kencang.


Di halaman belakang duduk bersila di atas pendopo kayu atau bisa kita sebut dengan bahasa kerennya,gazebo.


Berdua dengan seorang lelaki seusia dengan sang papa,dengan rambut pendek di balik kopiah bulatnya.


Rahang yang tegas dengan jambang yang halus,serta janggut tipis yang agak panjang.


Abi Fatih dengan kharismanya,dan senyumnya yang hangat.


Kulitnya yang tidak terlalu putih,tapi bersih dan tidak terlihat keriput sama sekali.


Ya,disinilah Rojali kembali meminta izin sekalian mengundang guru sekaligus malaikat penolongnya itu.


"Seneng Abi dengernya,sekarang semua ente serahin aje ke Allah,"


"Tugas ente ude cukup sampe sini aje,tinggal doain,mudah-mudahan babe ente masih di kasih kesempatan buat tobat."


Begitulah ujaran bijak dari sang guru.


"Alhamdulillah,ente nemu jodoh juge,"


ucap Abi Fatih sembari menepuk pundak Rojali.


Mereka berdua terkekeh bersama.


Kemudian datanglah Uma Khumairoh istri Abi,dengan kopi hitam panas,dan sepiring pisang goreng hangat.


Sungguh mendukung di cuaca sore yang sedikit mendung.


"Syukron Uma syantik,"


Goda lelaki gondrong ini dengan gaya nya yang tengil.


"Iyelah tu,dapet kopi ame pisgor aje Uma dibilang syantik,hu!"


rajuk perempuan yang sudah di anggap mamanya sendiri itu.


Dengan jitakan yang mendarat tak lembut di ujung kepala Rojali.

__ADS_1


"Ish,sakit Uma," ringis Rojali sambil mengusap-usap kepalanya.


Abi Fatih hanya menggeleng dengan sesekali tersenyum,melihat interaksi keduanya.


"Ente jangan ngeledekin Uma terus,Abi takut entar bibirnye copot,eh,"


Buru-buru Abi menyuapkan potongan pisang goreng ke dalam mulut Uma.


Karena mata bulat itu sudah mendelik ke arah nya.


Sambil mengunyah Uma terus mendelik jenaka ke arah dua lelaki yang terkekeh di hadapannya.


"Kalian berdua tu selalu kompak kalo ngeledek,"


protesnya masih dengan bibir yang memberengut lucu.


"Itu karena kita terlope-lope sama Uma Khumairoh yang pipinya kemerah-merahan ini,"


rayu Abi kepada istri imutnya ini.


Dan benar saja semburat kemerahan itu muncul di kedua pipi Uma.


"Pacaran aje terus!"


"Jadi deh Ali nyamuk kebon!"


sungut Rojali sambil menyuapkan potongan pisang goreng untuk kesekian kalinya.


Hari lamaran itu pun tiba.


Pagi yang cerah di iringi suara kicauan burung gereja.


Mentari yang bersinar hangat,dan angin yang sesekali bertiup lembut.


Rojali sudah tiba,ia turun dari sebuah mobil kijang keluaran lama.


Bersama beberapa kawan dari partner usahanya.


Juga beberapa tetangga di tempat tinggalnya seperti erte Udin serta pok Minah selaku bu erte.


Juga si Endin dan pak Haji Duloh sang babe,alias si juragan kontrakan.


Rojali juga membawa Abi Fatih dan Uma khumairoh.


Sebagai perwakilan dari nya untuk meminang sang gadis istimewa.


Mereka semua beriringan berjalan melewati gang kecil untungnya tidak becek.


Karena hujan hanya sekedar rintik dini hari tadi.


Sepertinya alam ikut merestui.

__ADS_1


Untuk mengecoh musuh yang notabene adalah para mafia yg masih penasaran.


Karena memang gerak gerik keluarganya selalu saja ada yang mengawasi.


Adi guna berencana menempatkan beberapa penjaga atau bodyguard.


Akan tetapi Mirna menolak tegas,karena hal itu hanya akan menarik perhatian warga.


Adiguna pun tetap bersikeras menempatkan penjaga secara sembunyi-sembunyi.


Sedangkan Jihan,ia ternyata sudah merencanakan penyamaran mereka.


Ternyata beberapa hari sebelum hari lamaran tiba mereka telah pindah,dan tinggal di sebuah kampung dengan penampilan sederhana.


Mirna dan Jihan sudah berdandan ala wanita muslimah,dengan baju gamis dan hijab yg mengulur sampai ke dada.


Dengan wajah tanpa polesan make up berlebihan juga tanpa perhiasan dan barang- barang branded.


Mereka berdua turun dengan anggun dari taxi online yang di pesan melalui aplikasi itu.


Rojali yang kaget dengan penampilan baru dari mama dan Jihan,lantas memeluk mereka erat .


Dalam hati ia berdoa,berharap semua itu menjadi jalan dan pintu hidayah untuk keduanya.


__**__


Adi guna pun kehilangan jejak istri dan putrinya.


Dan,itu semua sesuai keinginan Mirna agar semua berjalan natural seperti semestinya.


Awalnya Adiguna geram,lambat laun ia membiarkan anak dan istrinya itu berlaku sesuka hatinya.


Pikirnya,Mirna si ratu sosialita tidak akan betah hidup ala rakyat jelata.


"Kita lihat saja,sampai kapan kalian betah tinggal di kampung kumuh itu!"


"Kalian sudah terbiasa dengan gelimang harta dari ku!"


"Hahaha...!"


Adiguna terbahak bahkan suaranya menggema di ruang kerjanya yang luas itu.


Setelahnya,ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa,kemudian memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Ia menunduk menenggelamkan kepala sampai ke lutut.


Isak kecil itu begitu menyayat hati,bagi siapa saja yang melihat.


Bahunya terguncang perlahan naik dan turun.


Kerapuhan yang ia sembunyikan dari dunia nya.

__ADS_1


Kawal terus yuk sampe halal.


__ADS_2