Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Hidayah di balik musibah


__ADS_3

___🍂🍂__


"Ya Allah..."


"Aku begitu nista...bahkan hanya untuk sekedar menyebut namamu...,"


Setelah berwudhu,Adiguna melaksanakan solat empat rokaat,kebetulan waktu dzuhur belumlah habis.Ia bersimpuh di atas sajadah musholla.


Tubuhnya bergetar,dengan tangan yang mengepal di atas lututnya.


Kepalanya merunduk,sesekali menggeleng pelan.


Kristal bening itu mengalir seiring jeritan hatinya yang mengakui dosa.


Kedua telapak tangan nya terangkat perlahan,Adiguna memandangi nanar keduanya.


Bibirnya bergetar,suaranya tercekat di tenggorokan.


Rasa malu itu membuncah penuh,menyeruak rasa tak pantas diri.


Adiguna hanya bisa menjerit didalam hati,menyesali keburukan dan kesombongannya selama hidup.



(Allah yang maha besar,Kau yang maha lembut dan penyayang!


Hamba mu yang penuh nista ini bersimpuh,memohon ampunan penuh atas segala dosa yang ku buat selama hidup.


Jangan hukum diri ini,melalui orang-orang yang ku cintai,Yaa Robb...!


Hamba mengaku kalah...diri ini lemah...raga ini sejatinya hanyalah manusia kerdil,yang bersembunyi dengan kesombongan hati.


Hamba,telah menutupi kelemahan diri dengan kuasa yang tidak ada apa-apanya itu,


Berikanlah pengampunan padaku yang jahat ini Yaa Robb...!)


Adiguna terisak hebat di atas sajadahnya,seluruh tubuhnya bergetar ketika ia menyatukan keningnya dengan ujung sajadah.


Sujud yang sangat lama.


Tubuh yang biasanya tidak pernah menunduk pada siapapun,kini telah mengakui kelemahannya.


Dia,tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhannya,hanya seonggok manusia lemah yang tercipta dari setetes air mani yang menjijikkan.


Lantas apa yang membuat diri ini sombong?


Merasa lebih hebat dari siapapun,merasa dapat melakukan apapun,merasa hasil kerja keras mu adalah hasil kehebatan dirimu.


Sehingga kau lupa,bahwa Tuhanlah yang memberimu segalanya.



Adiguna telah berikrar di dalam sujud nya.


Ia akan menukar apapun demi kesempatan kedua baginya dan juga Mirna,istri tercinta sepanjang hayatnya.


Beberapa pengawal yang menyaksikan kejadian di hadapan mereka ini,tak kuasa menahan gejolak di dalam dada mereka masing-masing.


Hati mereka ikut tersentuh,dengan segala perbuatan yang di kerjakan sang tuan saat ini.

__ADS_1


Di depan mereka seorang Adiguna yang terkenal dengan kekejaman dan sikap dinginnya.


Ternyata mampu bertekuk lutut di hadapan Tuhan.


Ketika nyawa sang istri,berada di ujung tanduk.


Nafas mereka sesak,ketika mengingat akan dosa yang di perbuat diri sendiri.


Berapa lama mereka tidak bersimpuh dan bersujud,kepada pemilik raga dan nafas ini.


Maka,mereka berempat serempak meninggalkan Adiguna yang khusuk.


Berlalu menghampiri tempat wudhu,membasahi kulit mereka dengan basuhan air yang mensucikan,berharap dosa-dosa mereka ikut luruh bersama kotoran dan noda di kulit,tubuh dan juga kuku-kuku mereka.


Rojali dan Fatimah yang menyaksikan adegan demi adegan itu dari kejauhan.


Hati mereka berdua,berkali-kali mengucap syukur kepada Allah,berkali-kali menyusut kristal bening yang menghanyutkan rasa haru dan bahagia.


Ternyata di balik musibah,Allah menurunkan rahmatnya,hidayah itu menyiram kalbu sang papa dengan cara yang luar biasa.


Ternyata,Allah mengabulkan do'a nya...kini sang papa sudah masuk ke dalam rangkulan kasih sayang Allahurrobbi.


Rojali merangkul erat Fatimah,kemudian melabuhkan kecupan di ujung kepalanya yang berbalut pashmina.


Mereka pun menghampiri lelaki paruh baya yang kini,sedang duduk bersila.


Adiguna,bersila menghadap keempat pengawal dan ajudannya.


"Saya,Adiguna Brotoseno,meminta maaf_kepada kalian berempat...," ucapnya dengan bergetar.


Para pengawal saling pandang kemudian menunduk haru,mereka memberanikan diri menatap wajah sang tuan,majikan mereka selama ini.


"Maaf,telah mengajak kalian berbuat mungkar dan maksiat bersamaku..."


Adiguna menjeda sebentar ucapannya,ia terlihat mengusap wajahnya beberapa kali.


"Saya akan membebaskan kalian tanpa syarat,dan kabarkan juga pada yang lainnya.


Saya juga akan memberikan tanda jasa kepada semua,sebagai hadiah.


Sebelumnya,panggil pengacaraku kesini,dan undang utusan Dirga Mahesa untuk menghadap ku."tutur Adiguna dengan tenang.


Perencanaannya sudah matang,tekadnya sudah bulat.Ia akan merelakan semuanya,semua yang di raihnya dengan cara haram.


Karena hampir semua usahanya mengandung riba,kecurangan,bahkan beberapa kali melanggar hukum.


Perlahan-lahan ia akan naik kepermukaan,sedikit demi sedikit ia akan membersihkan kotoran di dalam hatinya.


Rojali terlihat menghentikan langkah kakinya,yang hendak masuk ke dalam musholla.


Dengan menenteng beberapa kantong aneka makanan di kedua tangannya.


Fatimah mendorong bahunya,agar sang suami maju,namun Rojali masih berkutat dengan segala keraguan hatinya.


"Papa sedang membutuhkan dukungan mu saat ini,Bang,"


"Kenapa harus ragu?bukankah ini yang selalu Abang pinta dari Allah?"


"Bukankah,ini adalah hari yang Abang tunggu selama ini?"bujuk Fatimah dengan lembut ia terus meyakinkan hati suami gondrongnya itu.

__ADS_1


Rojali tak bergeming,seutas kekecewaan masih bergelayut di hati kecilnya.


Apakah harus diberi musibah dulu,baru sadar?


Apakah harus ada yang menjadi korban dulu,baru melek kebenaran?


Apakah harus di pukul dengan kepiluan dulu,baru mikir?


Berbagai pertanyaan yang diselipi kesal menyelinap di pinggir otak putra dari seorang ibu yang sedang terbaring koma.


"Bang,kadang memang manusia itu baru sadar dan melek,ketika di kasih syok theraphy oleh Allah,"


"Kadang ada juga yang gak mudeng sama sekali,"


"Allah yang berhak membuka dan menutup hati,Allah juga yang berhak menetapkan kapan hidayah itu masuk dan di terima,"jawab Fatimah seakan dapat mengetahui segala pertanyaan di dalam hati Rojali.


"Papa beruntung bukan,karena Allah masih menyentuh hatinya,Allah tidak melupakan dan meninggalkannya,padahal selama ini papa sudah meninggalkan Allah dan menjauh dari agamanya." Fatimah mengelus lembut bahu yang tegap itu.


Rojali menatap wajah yang menenangkan hatinya,beruntung Allah menghadirkan sosok bidadari dunia sebagai penyejuk dan penasihat bagi dirinya.


Kata-katanya seakan menampar sisi egois dari ruang gelap di sudut hatinya.


Membuatnya tersadar,hingga kedua bibirnya menggumamkan istighfar berkali-kali.


Allah saja mengampuni,dan menerima taubat manusia.Sebanyak apapun dosanya,asal bukan syirik dan musyrik.


Kenapa dia yang notabene sang anak harus, mendikte dan memojokkan orang tuanya sendiri.


Dengan langkah pelan namun pasti,tubuh tinggi tegap itu masuk ke dalam musholla,yang terletak dilantai tiga rumah sakit swasta tersebut.


"Pa...," panggil Rojali lirih,setelah raga nya berada cukup dekat.


Adiguna menoleh kearah suara yang begitu di kenalnya itu,suara yang sebenarnya sangat ia rindukan memanggilnya dengan sebutan papa.


Namun,lantaran kesombongan dan keegoisan hatinya,yang tertutup oleh dendam dan kekuasaan.


Membuatnya menyiksa diri juga keluarga nya sendiri.


Adiguna lantas berdiri yang kemudian di sambut dengan rangkulan oleh sang putra.


"Maaf...,"


Hanya sepatah kata itulah yang mampu keluar dari tenggorokan seorang Adiguna.


Nafasnya tercekat,dadanya terhimpit sesak,batinnya tercekik oleh dosa-dosanya terhadap sang putra.


"Lupakan,Pa...,lupakan."


bisik Rojali di tengah rangkulannya pada sang papa.


Kedua ayah dan anak itu pun larut dalam kerinduan,mereka menangis tanpa suara hanya deru nafas tercekat yang berderu pelan.


Alhamdulillah🤲


Semoga hijrahnya lancar ya,Pa...


Boleh dong chibi manggil gitu ke bapak mertua😚


Kabooorrr.....

__ADS_1


__ADS_2