Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Candu yang bikin sakau


__ADS_3

___💞💞___


Akhirnya pasangan pengantin baru itu pun bisa juga rehat di kamar.


Sebuah kamar tidur yang kecil dan sempit.


Namun,sudah di tata dan di rias sedemikian rupa oleh WO.


Sehingga menciptakan suasana yang manis dan syahdu.


Meskipun sederhana namun sejuk dipandang mata.



Tidak ada lagi kamar yang sumpek dan kucel.


Seperti kamar sebelumnya yang di tempati oleh Fatimah.


Bahkan kasur dan dipannya sudah di ganti.


Semalaman Fatimah tidak bisa memejamkan mata,karena ia terus menerus memandangi kamar ini.


Serta kebaikan-kebaikan yang terus mengalir dari mama mertuanya itu.


Suasana canggung seketika melingkupi keduanya.


Terlihat,sang wanita yang terus meremas tangannya.


Mungkin ia bingung,antara gerah mau ganti baju tapi malu.


Ada laki-laki asing yang kini sudah bergelar suaminya tersebut.


Sang pria pun terlihat sama,tubuhnya lelah setelah seharian berperang dengan hawa groginya sendiri.


Ingin rasanya ia merebahkan tulang punggungnya di kasur empuk yang bertabur bunga itu.


Ah,tapi apa kata istrinya nanti.


Ia pun harus ganti baju juga kan?


Jas pengantin dan berbagai aksesorinya yang melekat erat di tubuh.


Ingin rasanya ia melepas semuanya saat ini,kemudian mengenakan kain sarung saja seperti biasa.


Ah,tapi kini semua sudah berbeda.


Ia harus memikirkan orang lain yang kini akan berada di sisinya selamanya,setiap waktu...semoga,"


Di tengah kecanggungan dan kebisuan itu,tiba-tiba,


"Engh...!"


Mereka saling menoleh dan berucap bersamaan.


Kemudian mereka tertawa canggung.


"Adek duluan dah,mau ngomong apa emang?"


ucap Rojali sambil menatap wajah manis jelita itu,dengan mata besar dan alis tebal asli tanpa sulam.


Bibir yang penuh bagai buah plum,dengan warna merah segar seperti stroberi yang di petik langsung dari pohonnya.


Bulu mata lentik itu seperti sengaja menggoda dengan terus bergerak melambai naik dan turun.


Mata Rojali tanpa sadar terus menyisir wajah menggemaskan itu.


Wajah yang biasanya jutek dan dingin.


Kini begitu merona bagai sakura yang baru mekar di musimnya.


Ia sampai menelan saliva dengan susah.


Seperti tak sengaja menelan biji rambutan atau biji kecapi.


Seret,mampet,bahkan untuk bernafas pun seakan sesak.


Apa karena kamar ini yang pengap?


Oh,anda salah tuan alibaba!


Kau tidak lihat ada AC bertengger dengan tak tahu malunya di pojok atas.


Menertawakan kalian yang sudah mandi oleh keringat.


Padahal dia sudah semaksimal mungkin membuat udara sekotak kamar ini dingin.


Fatimah yang di tatap oleh mata yang bagai elang melihat kelinci itu.


Berusaha menghindar,dengan menunduk melihat buku-buku jarinya yang di hias oleh henna berwarna putih.


Di jari manisnya sudah tersemat cincin putih yang sama dengan milik pria di hadapannya.


Meski yang di sebut hanyalah kalung sebagai mas kawin untuknya.


Rupanya,Rojali memberikan satu set perhiasan emas putih yang berisi,kalung,cincin,anting-anting dan juga jam tangan bertali emas.

__ADS_1


"Dek,"


"Tadi kayaknya mau ngomong sesuatu?"


"Apa?"


tanya Rojali dengan berani mengangkat dagu yang terbelah itu agar sedikit mendongak.


Netra keduanya pun bertemu,saling mengunci hingga tergembok.


Menatap dalam hingga menembus ke jantung yang berdegup kencang,laksana habis maraton berkilo-kilo meter.


Fatimah tidak bisa membuka mulutnya,lidahnya kaku,giginya terkunci rapat.


Padahal tadi mau bilang sesuatu, tapi apa itu dia pun lupa sudah.


Seakan di buat mabuk oleh tatapan dalam dan tajam dari pria yang sudah sah menjadi imamnya ini.


Wajah tirus dengan garis tegas,mata tajam namun teduh,alis hitam dan tebal,hidung mancung.


Bibir tipisnya yang sensual kalau lagi diam begini.


Tapi,menyebalkan jika sudah mencebik apalagi nyengir dengen gaya tengilnya itu.


Ya,itulah daya tariknya.


Meski tampan tapi Rojali tidak pernah sok kecakepan.


Dia gak takut terlihat jelek dan kumal.


Yang penting gayanya itu nyaman untuk dirinya.


Entah dorongan dari mana,tau-tau wajah mereka semakin dekat.


Rojali menyusuri pipi kemerahan itu dengan jarinya.


Fatimah merasakan sengatan bagai setrum itu mengalir di setiap sendinya.


Membuatnya seketika lemas dan seakan kehilangan keseimbangan.


Rojali pun dengan sigap menangkap pinggang ramping yang masih terbalut,dengan baju pengantin berpayet.


Fatimah membulatkan matanya yang sempat terpejam tadi.


Merasakan adanya lengan kokoh yang melingkar erat di pinggangnya.


Juga dada mereka yang menempel erat meski masih terbungkus rapat dengan pakaian yang melekat kuat.


Mereka begitu dekat,jarak terbunuh seketika.


Rojali semaki merapatkan tubuh wanitanya.


Pikirannya seakan kosong kini.


Yang ia lihat hanyalah bibir merah didepannya itu.


Kenapa begitu menggoda,membuat nya haus dan harus melepas dahaga segera.


Ia melihat wanitanya tak bergeming di dalam rangkulannya.


Matanya pun sayu seakan merasa dan menahan gelora yang sama.


Senyum itu sekilas bagai magnet untuknya.


Ibarat lampu hijau yang menyala di tengah macet karena lampu merah.


Ia yang sudah tidak sabar segera menerobos dengan laju yang pasti.


Kedua benda kenyal itu pun bertemu.


Mereka bertabrakan dengan lembut.


Menempel sekian detik untuk merasai,pengalaman pertama yang baru di jumpai.


Lama kelamaan sesapan itu pun terjadi,lembut dan pelan seakan saling merasai dan menikmati.


Manis,basah dan hangat.


Fatimah yang merasakan terbuai seakan melayang.


Ia merasa kakinya sudah tidak sanggup berpijak lagi.


Dengan reflek ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rojali.


Rojali yang merasakan gerakan Fatimah, malah semakin mengeratkan pelukan mereka.


Jarak sudah terkikis habis.


Kecupan ringan itu, kini sudah berubah menjadi semakin menggebu dengan gelora yang membara.


Rojali melepas tautan mereka.


Ia menempelkan kening keduanya.


Saling menyuplai oksigen yang tadi seakan habis tertelan suasana yang hampir panas.

__ADS_1


Ia menatap mata bulat jeli itu,dengan bulu mata lentik menggemaskan.


Menatapnya dalam.


Merangkul pinggang ramping itu dengan kedua tangannya.


Fatimah yang sudah stabil dengan nafasnya,kini berani buka suara.


"Maaf,kalo Adek mengecewakan,"


lirihnya kemudian menyembunyikan wajahnya di dada tegap Rojali.


Rojali mengkerut kan dahinya tanda tak mengerti.


Ia pun melerai pelukannya dan mengangkat wajah itu.


"Mengecewakan apa maksud Adek?"


tanya Rojali sambil menatap penuh arti.


"Ci,ciumannya_gak enak kan?"


"Makanya tiba-tiba di lepas?"


jawabnya frontal dengan wajah yang menggemaskan sekali bagi Rojali.


"Ya,ampun!"


Rojali mencapit hidung Fatimah dengan gemas.


"Kok bisa punya pikiran begitu?"


"Abang lepas karena kamu udah kehabisan oksigen tadi,makanya bernafas sayang,"gemas Rojali kemudian mengecupi seluruh bagian wajah yang akan menjadi candu nya itu.


Fatimah yang di perlakukan seperti itu hanya menahan gelinya.


Ia memukul pelan dada bidang di hadapannya ini.


Kemudian menatap kedalam netra tajam itu cukup lama.


" Udah,liatinnya?"


"Abang kan emang ganteng!"


"Lagian sekarang udah jadi milik kamu,"


"Jadi,selamat menikmati setiap hari,"


ucapnya dengan cengir tengilnya seperti biasa.


"Mulai deh narsis gak ketulungannya!"


"Adek,kan,cuma gak pede aja,"


cebik Fatimah dengan mengerucutkan bibirnya manja.


"Gak pede kenapa?"


"Malahan ni ya,mulai sekarang,ini tuh bakal jadi kesukaan Abang,"


"Bakal jadi candu buat Abang,"


"Jadi,kalo sehari aja gak ngerasain pasti Abang bakalan sakau,"


lirih Rojali sembari menunjuk benda kenyal di bawah hidung yang warnanya sudah berubah pink itu.


Fatimah yang merasakan kehadiran sesuatu di kamarnya,mendadak melepas pelukan mereka.


"Psstt...bentar deh,Bang,"


"Abang nyium bau sesuatu gak?"


tanya Fatimah dengan bola mata yang membulat.


Kemudian kepalanya menoleh kesana dan kemari.


"Bau?"


"Bau apaan ya?"


Rojali balik bertanya sambil membaui tubuh serta ketiaknya.


"Emh,Abang gak bau Dek,"


"Kamu lagi ngendusin apa sih?"


tanya Rojali bingung melihat ekspresi Fatimah dengan hidungnya yang kembang-kempis.


"Akkhh...itu apa Bang!"


"Kyaaaakh...!!"


Apaan si??


Ada apa??

__ADS_1


Penasaran??


Tungguin kelanjutannya😜


__ADS_2