Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Rayuan sang sepupu


__ADS_3

๐ŸŒฟ**Berapa banyak seseorang yang sukses.


Karena kegagalan yang mendatanginya, bisa diterima dengan kesabaran dan keyakinan untuk bangun.


Karena itu, bila nasi sudah menjadi bubur, jangan seketika di buang.


Tambahkan ayam suwir, kecap dan kerupuk, sehingga bisa menjadi bubur yang special dan nikmat di makan**.


๐ŸŒฟ


***~~~***


Kami berdua pun akhirnya mengurai benang rindu yang kusut,dengan bersenda gurau, sesekali melempar tawa dan canda,mengulang dan mengulik kembali kisah masa kecil yang penuh dengan keceriaan dan kelucuan.


Berbagi cerita dari kisah masa remaja hingga masa kini.


Meskipun terasa kurang leluasa dan bebas, karena nampak dari ekor mataku.


Bahwa pria di ujung sana, memperhatikan kami berdua.


Lebih sering memperhatikan ku sepertinya, ah, semoga itu hanya perasaan ku saja.


Sepertinya akhir-akhir ini aku semakin peka terhadap gestur laki-laki berwatak mesum.


Saat ku tanya siapa dia dan apa hubungannya dengan Tina.


Ia hanya menjawab bahwa itu adalah temannya.


Aku merasa ada beberapa kejanggalan yang ku raba,dari setiap kalimat dan cerita yang di tangkap oleh indera pendengar ku.


Aku berusaha tidak membiaskan nya pada raut wajah ku.


Aku tetap berusaha menanggapi nya dan menyembunyikan kecurigaan ku.


Aku tidak ingin berprasangka buruk dengan saudara yang pernah jadi sobat kental masa kecil ku itu.


Tetapi, bukan berarti aku harus percaya seratus persen bukan?


Aku tetap harus mempertahankan signal kewaspadaan.


Walau bagaimana pun, aku hanya mengenalnya pada masa kecil saja, dimana sifat itu bisa berubah seiring waktu.


Seperti yang di tangkap oleh kedua netra ku kini.


Ketika visual ini memindai nya dari segi penampilan , dia sudah sangat berubah seratus delapan puluh derajat.


Sejak kecil, yang aku sangat tau dan hafal.


Sepupuku ini, tidak pernah mau memakai baju tanpa lengan.


Ia tidak pernah mau menampakkan lengan dan kakinya.


Ia memang memiliki kulit yang seputih susu, dan mata yang secerah mentari.


Walaupun cantik sejak kecil tetapi,


dia adalah anak yang pemalu dan pendiam bila bertemu dengan orang yang baru di kenal.


Tetapi sangat manja padaku dan kedua kakaknya.


Sangat cerewet hanya kepada kami saja.


Tapi, lihatlah bagaimana penampilannya sekarang?


Bukan maksudku menyangkal sebuah filosofi.


Yang berbunyi"Dont judge the book, by it cover"


Sungguh bukan itu maksudku.


Akan tetapi, terkadang penampilan itu merupakan ciri-ciri dari kepribadianmu.


Penampilan atau "looking", bisa menjadi penunjuk jati dirimu yang sebenarnya.


Setelah sekian paragraf isi dari percakapan kami berdua, akhirnya Tina mulai membicarakan pekerjaan yang hendak di tawarkan nya padaku.


Ia ingin aku membantu kawannya yang akan membuka cafe baru.


Kawan nya itu membutuhkan beberapa karyawan dan juga kasir.


"Gimana , Kak? "

__ADS_1


Tanya Tina


"Tapi Kakak belom punya pengalaman jadi kasir? "


"Lalu bagaimana dengan penampilan Kakak, apakah masuk dengan image dari cafe nya itu? "


Tanyaku.


"Masuk aja sih, asal Kakak gak make bergo model begini, " ucapnya sambil terkekeh memindai penampilanku.


"Maksud kamu? "


selidikku.


"Ya, Kakak yang modis lah, "


"Nanti kerudungnya, sebatas leher aja, nanti kan seragamnya kaos tangan pendek gitu,sama celana panjang levis street , "


"Kakak tinggal pake daleman panjang, "


Jelasnya padaku sambil memainkan rambut pirangnya yang sebahu.


Sungguh mirip dengan girlband yang berasal dari negeri ginseng itu.


Ia duduk dengan menyilangkan kakinya, membuat ku jengah sebagai sesama wanita.


Bagaimana dia bisa sesantai ini? memperlihatkan kaki mulus jenjangnya.


Kepada lelaki sipit yang sedari tadi melempar pandangan lapar ke arahnya.


"Tapi Kakak gak bisa berpenampilan kayak gitu Dek, "


" Lha, Kakak kerja di pabrik aja feminim, padahal kerjanya berat dan kesana kemari Dek, "


jelasku, mencoba menolak secara halus.


"Tapi kan, bisa di ubah lah dikit, "


"Kan gak di haruskan lepas kerudung juga, "tampiknya, tetap bersikukuh pada keinginannya.


" Kakak gak mau pake celana jeans,


dek,"


"Apa gak bisa, kerja nya kayak begini aja, " Kilahku tetap berusaha teguh pada pendirian.


Ku lihat ia menghela nafasnya berat.


"Kakak tu cantik tauk, "


"Kenapa Kakak gak percaya diri? "


tanyanya, yang membuatku melongo.


(Ish, bukan itu maksudku)


Walau bagaimanapun tanggapannya nanti, aku tetap harus menjelaskannya.


"Begini lho Dek, "


"Kakak, bukan gak percaya diri, "


"Tapi, menutup aurat itu, sebuah perintah dan kita wajib melaksanakan perintah itu, "


"Perintah yang menyusahkan, membatasi, mengekang, "


"Merepotkan saja, "


"Apa untungnya kita mengikuti perintah itu? "


"Hidup itu di nikmati Kak, "


Protesnya, mematahkan semua penjelasanku mentah-mentah.


"Selama kita menjalani suatu kewajiban dengan ikhlas, tidak akan pernah kita merasa seperti apa yang kamu sebutkan tadi, hm, "


Jawabku dengan lembut dan tetap mengulas senyum.


Aku harus calm down jangan sampai terbawa emosi.


"Terserahlah, ya, itu ideologi Kakak, "

__ADS_1


"Aku kesini kan mau membantu, dan mengatasi kesulitanmu, "ucapnya dengan nada yang sudah mulai berubah.


" Dek, ini bukan ideologi Kakak, tapi aturan pada agama kita, "


"Iya, Kakak faham niat kamu mau menolong, "


"Meskipun, Kakak sangat butuh pekerjaan, tapi Kakak tetap harus konsekuen pada aturan yang sudah berlaku, karena hidup di dunia, bukan mencari harta semata, "


"Semua yang kita lakukan harus di ridhoi oleh Allah, supaya berkah dan selamat, "


ucapku lembut namun tegas.


(Si*l, susah juga ternyata ngebujuk dia, gue harus selow nih, mangsa kali ini jangan sampe lepas)


Ku lihat Tina senyum-senyum sendiri sambil memainkan rambutnya, sesekali ia melirik pria di seberang sana yang sedang menyeruput es nya, sambil merokok.


Sengaja aku menyuruhnya duduk berjauhan, selain risih aku juga tidak tahan terhadap asap dari benda panjang kecil berisi tembakau,yang di bakar ujungnya itu.


"Yaudah deh, Kak,"


"Pokoknya, nanti Kakak temuin aja dulu kawan aku itu, "


"Biar nanti Kakak nego sendiri aja sama dia, "


"Gimana? "


tawarnya lagi padaku, seakan bersemangat sekali mempertemukan aku dengan kawannya itu.


"Kawan kamu itu pria atau wanita,


Dek? "


tanyaku memperjelas.


"Emang kenapa kalo laki-laki Kak? "


"Klo kata aku sih,lebih enak bos nya laki-laki, gak cerewet, "


jawab Tina lagi.


"Kalau kawan kamu laki-laki Kakak harus di temani saat menemui dia, "


"Nanti Kakak sama Nur kesana nya, kamu kirim aja alamatnya, "


saran ku.


"Kan aku yang bawa, jadi aku yang nemenin ,Kakak tenang aja, " ucapnya dengan senyum.


"Kakak tetap akan ajak sahabat Kakak si Nur, "


"Siapa tau ada kerjaan juga buat dia, "


saran ku lagi tetap dengan pendirian ku yang akan mengajak Nur kemanapun aku pergi.


"Yaudahlah, terserah Kakak aja, " ia pun menyerah dengan senyum yang terlihat di paksakan.


Ah, kenapa perasaan ku seperti ini?


Mau mundur pun percuma.


Aku harus mempersiapkan diri.


Karena,aku tidak tahu akan menghadapi manusia-manusia seperti apa.


"Yaudah, Kak, aku balik ya, "


"Besok aku jemput jam 4 sore, "


"Gak boleh nolak, " ucapnya tegas.


"Bye, muah. "


Ia pun berlalu setelah mencium sekilas pipiku.


Kemudian menuruni tangga dengan menggandeng pria berwajah oriental itu.


Ia tidak menginginkan aku mengantarnya ke bawah, entahlah.


______


Maaf ya baru bisa update lagi, berhubung otor jadi perawat bayi dadakan jadi gak kepegang deh,,

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih mau baca Kisah Fatimah dan Rojali.


Kecup jauh buat kalian kesayangannya akuhh.. muahh..


__ADS_2