Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Numpang neduh


__ADS_3

🎍Jika dirimu di uji dengan syahwat dan *****, maka periksalah solatmu.


Jika dirimu rasa tidak tenang dan keras hati, maka periksalah hubunganmu dan baktimu kepada orangtuamu.


🎍


****~~~****


Aku buru-buru masuk lagi ke klinik, melihat ke kursi di ruang tunggu, depan depot obat. Orang-orang yang mengantri sudah berkurang, aku yakin sebentar lagi pasti akan dipanggil.


Aku tidak tau akan dikenakan biaya berapa sementara di dompetku hanya tersisa uang tiga ratus ribu.


Kemudian aku ingat amplop yang diberikan oleh anak pak RW tadi.


Aku pun membukanya amplop yang memang belum di rekatkan tersebut, mungkin memang di sengaja seperti ini.


Ketika aku lihat isinya ada beberapa lembar uang berwarna merah dan biru.


Aku pun mengucap syukur di dalam hati dengan senyum tersungging di bibirku.


(Alhamdulillah)


Allah selalu tepat ketika membantu hambanya,terima kasih Ya Robb.


Lima belas menit kemudian giliranku dipanggil, apotekernya menjelaskan dengan rinci obat apa saja, dan waktu serta dosisnya.


Aku pun mendengarkannya dengan seksama, karena nanti aku harus menyampaikannya kepada Ummi.


Kemudian aku beralih kekasir, dan membayar pengobatan ayah seharga enam ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.


Itu sudah termasuk obat, vitamin, infusan, dan biaya dokter.


(Mahal juga ya, untung dapet sumbangan, coba kalo enggak, aku bayar pake apa ini)


Aku pun berdoa dalam hati, semoga mereka yang memberi sumbangan untuk pengobatan ayah, senantiasa Allah limpahkan kesehatan dan rezeky yang barokah.


(Aamiin, Yaa Mujibbassailin)


Masih sisa tiga ratus ribu lebih uang di dalam amplop.


Dan aku memutuskan,membelikan bahan-bahan untuk membuat bubur, dan juga untuk membeli buah alpukat. Karena alpukat aman untuk lambung ayah.


Setiba di depan gerbang, sebelum aku berbelok, tiba-tiba pemuda itu lagi sudah yang sudah ada di hadapanku.


(Demi katakululu, ingin rasanya aku menghipnotisnya agar dia mau menuruti apa kata-kataku, dan segera pergi dari hadapanku.)


"Nyok neng, abang anter balik, biar cepet diminum tu obatnya sama ayahnya, ucapnya sambil menyerahkan helmnya kepadaku.


Tapi aku tak bergeming dan hanya menatapnya dingin.


" Abang gegara abis makan batagor, jadi gak ngerti bahasa indonesia ya bang?


Apa perlu saya ngomongnya pake bahasa jerman?

__ADS_1


Apa bahasa kodok aja? ujarku sewot.


"Waddaaww Neng, mana ada nyang kayak gitu, halu nih, "


"Abang malah kagak ngarti ntar klo Enengnya ngomong bahasa jerman, dan emang Nengnya bisa bahasa kodok? " tanyanya polos, bikin aku makin gondok aja sama ni cowok atu.


"Kalo gitu, napa abangnya masih disini juga, kan udah saya bilang, saya gak usah ditungguin. "protesku sambil menghela nafas pelan, karena gregetan sama ni ojol kesannya malah kayak ikutan ribet dia tuh.


Aku bukan tipe perempuan yang gampang didekati lawan jenis, bahkan banyak yang bilang aku termasuk judes sama laki-laki.


Sebenarnya bukan maksudku seperti itu, aku sudah seringkali melihat laki-laki yang pura-pura baik dan perhatian, tetapi ternyata ada udang di balik batu. (kalau udangnya di balik bakwan sih aku mau-mau aja).


Aku hanya berusaha menjaga harga diri dan marwahku sebagai perempuan.


"Abis kagak ada yang nyangkut neng orderannya, " jawabnya sambil menggaruk rambut gondrongnya.


(Jangan-jangan dia kutuan lagi, atau?)


"Mungkin emang udah dari sononya saya disuruh standby aja kali buat nganterin Neng botoh, eh. " ucapnya kemudian memukul kecil mulutnya sendiri.


(Etdah,pake keceplosan lagi dah, jadi mau malu kan? entar kalo dikira modus pegimane nih, padahalkan emang iye.)


Perang dalam batin bang ojol, jadi bikin pengen nimpuk gak si??


Aku yang sebenarnya ingin tersenyum mencoba tetap bertahan memasang wajah dingin dan kaku.


(Mukanya polos sih, gak kayak lagi modus, ah, sepertinya dia jujur)


"Oke, oke, saya terima alasannya, tapi saya minta di anter ke pasar dulu ya, mau nyari buah alpukat mentega. " Ujarnya sambil meraih helmnya, kemudian mengembalikkannya lagi setelah ingat bahwa itu tidaklah di butuhkan.


"Males ah, deket ini jaraknya, gak pake lewat jalan besar, "


jawabku cuek.


"Mau jauh, mau deket, kan biar safety Neng, " sarannya lagi kembali menyodorkan helmnya ke arahku.


(Maksa banget si ni orang)


Aku pun meraihnya dengan sedikit malas, daripada berdebat pasal helm, kapan pulangnya coba.


Kami pun berlalu ke pasar yang jaraknya tidak jauh dari klinik.


Sampai di pasar, aku membeli sekilo ayam potong, setengah kilo hati sapi, dan kacang hijau.


Kemudian aku berkeliling agak kedalam pasar demi mencari buah alpukat.


(Alhamdulillah, ketemu juga di dalem, biar kata mahal,karena bukan musimnya,biarin deh demi kesehatan ayah.)


Setelah selesai, aku pun menghampiri pemuda berambut gondrong itu, yang hampir seharian ini macam ojek pribadiku saja.


Entah nanti aku harus bayar dia berapa.


"Kuy bang cepet balik, "

__ADS_1


"Udah mendung gitu, takutnya keburu turun ujan. "


Ucapku, yang melihat langit begitu gelap di sebelah timur sana.


"Kuylah Neng, " jawabnya mengikuti gayaku.


(Sok gaul nih si abang)


Sepanjang jalan menuju pulang, kurasakan hembusan angin yang mulai terasa kencang dan menusuk menembus hoodie yang ku kenakan.


Sepertinya hujan benar-benar akan turun kali ini.


Karena sudah cukup lama kami berada di musim kemarau, dan memang kami sangat mengharapkan guyuran dari langit akhir-akhir ini.


Agar bumi tidak terlalu gersang.


Pantas saja siang tadi panasnya terik sekali tanpa sedikitpun angin.


Ternyata...,


Tes... tes... tes,


Rintiknya mulai turun satu persatu membasahi tanah pijakanku yang mengering.


Untungnya kami sudah sampai di depan teras rumahku.


Aku meletakkan belanjaanku begitu saja di teras dan hendak mengambil uang di dompet untuk membayar jasa pemuda dinhadapanku ini, tak peduli air langit yang mulai meneteskan curahnya lebih banyak lagi.


Tiba-tiba Ummi keluar dan...,


"Ajak masuk aja dulu kak, kasian keujanan! " seru Ummi memerintahku, yang seketika membuat mataku tak sengaja membola.


Kemudian aku menatap ojol itu.


Yang di tanggapinya hanya dengan cengiran iklan pasta gigi.


"Kalo dipaksa, ya mau gimana lagi Neng, soalnya ujannya bakalan deres ini. " Kemudian ia memarkirkan motornya di pojok halaman, membuka sepatunya, meletakkannya di kolong kursi plastik.


Aku pun hanya bisa melongo dibuatnya, yang seenaknya saja duduk di bale sambil selonjoran.


(Apa-apaan ni orang)


"Kakak, ngapain masih di situ?! "


"Pake maen gerimis-gerimisan segala! "


Pekik Ummi melihatku yang bengong, di bawah rintik hujan.


Aku hanya tersenyum sekilas, kemudian segera berlalu kedalam tanpa menghiraukan pemuda yang sedang selonjoran santai berasa dirumah sendiri.


(Ck, kok ada si orang kayak gitu, sok akrab banget, pokoknya aku harus bayar jasanya, aku gak mau utang budi sama dia)


Segini dulu ya bebs,

__ADS_1


Maap kalo gak bisa up tiap hari...


Aku zheyenk klean zemuaaahhh.... πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


__ADS_2