
___ππ___
"MAMAA...!"
Rojali memekik hingga ponsel itu hampir saja, terlepas dari genggamannya.
Sontak ia mengucap istighfar berkali-kali,berharap ketenangan itu menghampiri sudut hatinya yang baru saja,disergap oleh kejutan yang menyesakkan.
Seperti ada bongkahan batu yang menekan dadanya.
Hingga nafasnya kian sesak,nyeri menusuk di ulu hati.
Fatimah yang mendengar pun buru-buru menghampiri suaminya itu.
Ia melihat raut wajah yang tak biasa,seperti ada sesuatu yang buruk sedang terjadi .
Mama__,hanya kata itu yang keluar dari mulut suaminya.
Bahkan tanpa ia mengeluarkan suara untuk bertanya,hanya dari tatapan mata saja Rojali bisa tau maksudnya.
Fatimah mendekap erat raga tinggi dan gagah di dalam pelukannya.Mengusap punggungnya perlahan,mengalirkan ketenangan pada hati yang terpukul keras itu.
Mereka pun segera meninggalkan rumah mungil itu menuju rumah sakit swasta di salah satu pusat kota.
Karena Rojali tidak tega pada Fatimah,bila mereka harus mencapainya dengan mengendarai motor maka di putuskan menggunakan angkot mang Kardi.
Angkot itu melesat membelah keramaian ibu kota.
Untung saja sang sopir memiliki surat izin lengkap juga pada kendaraannya.
Sehingga mereka bisa melewati barisan anggota berseragam,yang berdiri di pinggir jalan itu.
"Lebih cepat Mang!"
Rojali terlihat gusar dan berkali-kali memerintahkan sang sopir untuk menambah kecepatannya.
Fatimah berusaha memberi ketenangan pada suaminya itu.Meskipun hatinya berdenyut ngilu dan juga tak tenang.
Lebih baik berdzikir saja,berharap pertolongan dari yang maha kuasa.
Karena semua takdir berada di tangan-NYA.
Beberapa kali terjebak di lampu merah,membuat dada Rojali seakan hendak meledak.Ingin rasanya ia menyingkirkan puluhan kendaraan di depannya,yang ribut saling beradu klakson memekak telinga.
Tapi apa daya,ini bukan kuasanya,ia hanya bisa bersabar dan berharap tidak terlambat.
"Mang,biar saya aja yang gantiin nyetir!"
ujar Rojali berniat menggantikan posisi sang sopir.
Ta,tapi Bang..."
ucap sang sopir terbata.
"Bang,kamu lagi dalam keadaan kalut,biar aja Mang Kardi yang bawa ya,"ujar Fatimah melarang dengan kalimat yang lembut,karena ia tahu suasana hati pria itu mudah tersulut emosi saat ini.
Rojali berdecak kesal lantaran mang Kardi membawa angkotnya macam siput saja.
Hei,Bang dah tau itu angkot bukan mobil balap!
__ADS_1
Padahal mang Kardi sudah ngebut dan menyalip beberapa mobil hingga di teriaki.
"Angkot gilak!!"
"Woii,ini bukan jalanan bapak moyang lu...!!"
Akan tetapi mang Kardi tutup kuping,karena yang ia pikirkan adalah perasaan lelaki di kursi belakang mobilnya.
Bukan,tekanan di atas bahu nya yang membuat nya takut.
Karena Rojali tanpa sengaja sering menekan dengan keras bahu sang sopir bila di rasa kecepatannya berkurang.
Mang Kardi mengerti dan memaklumi,mungkin ia pun akan bersikap yang sama bila kejadian ini menimpa keluarganya.
Tinggal beberapa ratus meter lagi mereka akan sampai di rumah sakit.
Akan tetapi,di depan tiba-tiba saja kendaraan itu tidak bisa bergerak maju.
"Ada apa lagi sih?!"
Rojali menghela nafas berat kemudian beranjak turun dari kendaraan beroda empat itu.
Ia memutuskan akan berlari membelah puluhan kendaraan yang tiba-tiba berhenti.
"Adek ikut!"tahan Fatimah meraih lengan Rojali yang hendak melompat dari dalam angkot.
" Biar Abang aja,Adek nyusul sama Mang Kardi,"
ucap Rojali melepas pegangan sang istri.
"Tapi,..."
Setelah melabuhkan kecupan singkat di bibir,dan memandang sepasang iris yang mengguratkan kekhawatiran itu.
Rojali segera meninggalkan Fatimah yang masih terpaku di dalam mobil angkot.
Kemudian Rojali berlari menghujam trotoar dengan pijakannya yang kasar.
Membelah keramaian dengan menyalip puluhan kendaraan yang tak bergerak.
Tak peduli dengan peluh yang seketika membanjiri tubuhnya, meski pun kaus merah yang membalut tubuhnya kini sudah setengah kuyup.Laki-laki itu terus berlari secepat ia bisa.Dibawah terik matahari dan jalan aspal yang berdebu panas.Kaki itu menjejak keras hingga tubuhnya melesat melewati barisan kendaraan yang sudah bisa bergerak perlahan.
Hingga kini raganya sampai di pelataran salah satu rumah sakit terbesar itu.
Setelah sempat beradu mulut dengan penjaga di depan.
Karena bajunya yang lusuh dengan wajah yang banjir keringat.
Membuat security berseragam mirip polisi itu, sempat menahannya dengan beberapa pertanyaan.
Setelah menghubungi Jihan di depan meja operator,Rojali kembali melesat melewati lorong rumah sakit yang sepi.
Secara ini adalah rumah sakit elit,untuk kalangan atas saja.Karena fasilitas dan biaya nya yang luar biasa mahal.
Sehingga penampakkannya hampir mirip dengan hotel berbintang lima.Tidak seperti rumah sakit umum unit daerah yang berjejal dan gaduh dengan para pesakitan.
"Abang..." pekik Jihan yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan berkaca.
__ADS_1
Ia menangis tersedu menumpahkan semua perasaan tak menentu di dalam hatinya.
Sesak itu kembali menghujam dada lelaki yang tampangnya sudah berantakan karena berlari.
Pelukan erat sang adik disertai tangisan yang menggores kalbu nya menghancurkan pertahanan dirinya yang susah payah ia jaga sejak tadi.
Hingga kini kaosnya bukan hanya basah karena keringat saja tapi sudah bercampur dengan air mata keduanya.
Ketika isakkan sang adik sudah mulai berkurang,ia melerai pelukan mereka.
Dengan lirih Rojali menanyakan kejadian yang menimpa sang Mama.
Yang ia tahu,Mirna sedang visit ke resto nya yang di cisarua.Seperti apa yang mama bilang tadi pagi.
"Jelasin ke Abang semuanya,apa yang terjadi...?"
Dengan nafas yang masih sedikit tercekat, gadis cantik dengan mata sembab dan hidung yang memerah, mulai menceritakan kronologi kejadian sesuai dengan apa yang ia dengar dari para bodyguard sang mama.
Bahkan salah satu orang kepercayaan yang mengemudikan mobil mewah sang mama,meninggal di tempat kejadian perkara.
"Jadi...Mama...," ucapan Rojali terpotong,ia menatap nanar ruangan yang di sekat dengan kaca tembus pandang.
Ia menyentuh lapisan kaca yang dingin itu.
Menatap ke ruangan operasi di depan sana,dengan lampu yang berwarna merah.
Pertanda bahwa mereka yang berada di dalam sana sedang berjuang.
"Bertahanlah,Ma...,Abang belom bilang terimakasih atas renovasi rumah,"
lirih Rojali hampir tak terdengar hanya bahunya yang terlihat naik dan turun.
Setelah ia mampu menguasai emosinya,kini terlihat rahangnya yang mengeras dan buku-buku tangan yang mengepal erat.
"Lalu di mana Papa?!"
tanya Rojali setengah berteriak.
Kedua netra nya menatap tajam kearah dua lelaki yang berjaket kulit hitam.
"Tuan Adiguna,kebetulan sedang berada di negara T," ucap sang bodyguard pertama dengan keterkejutannya,yang sempat menguasai dirinya walau sekejap,karena ia tidak menyangka pewaris utama Brotoseno Group masih hidup.
Rojali yang tidak dapat menguasai amarah yang mengerubungi hati nya itu.
Sontak menghampiri pria berjaket hitam itu, kemudian menghimpit tubuhnya ke dinding dengan keras.
Tangan kanannya sudah berada di depan leher pria berbadan besar dan bertato di leher.
Nafasnya tercekat,keringat sudah mulai menetes dari pelipis pria itu.
"A,apa sa,salah saya tu,tuan...?" ucap pria itu terbata-bata, merasakan udara yang semakin menipis di paru-parunya.
"Abang...!!"
pekik dua wanita bersamaan,melihat aksi di luar kendali dari Rojali.
Terus dukung chibi yaaπππ
__ADS_1