
___π»π»π»π»π»π»π»__
Setahun kemudian.
Sebuah rumah sederhana berlantai dua, yang dibangun di atas tanah seluas 200mΒ². Menyisakan sedikit halaman yang di tumbuhi tanaman perdu dan bunga. Serta, terdapat sebuah garasi ukuran satu buah mobil. Hanya sekelas Avanza lah yang sekarang keluarga ini miliki. Bukan tidak mampu untuk membeli yang lebih mahal dan bergengsi seperti Pajero ataupun BMW.
Hanya saja, mereka toh membutuhkan kendaraan yang bisa membawa bepergian, bukan kendaraan bergengsi untuk di pamerkan. Manakala seseorang telah ikhlas melepas segala yang dimilikinya, harta, benda ,tahta, yang sejak lama berada dalam genggamannya.
Mereka tidak akan lagi, memusingkan pandangan orang lain. Toh, kita hidup untuk kenyamanan kita, bukan untuk menyenangkan mereka yang tak pernah melihat kita sempurna.
Oleh karena itu, ketika kita telah memutuskan untuk hijrah dari segalanya, hijrah dari kehidupan di luar aturan, hijrah dari maksiat dan dosa. Bersungguh-sungguhlah. Niscaya, Allah akan mengganti semua yang telah kau tinggalkan di belakang(masa lalu).
Karena rezeki tidak sebatas apa yang kau miliki, bukan sebatas dari apa yang mampu kau beli. Hakikat rezeki, adalah sesuatu yang dapat kau rasa dan kau nikmati.
Di pinggir jalan raya, tepatnya di sekitaran kota bogor. Sepasang suami istri yang sudah tak muda lagi ini. Biasa menghabiskan waktu mereka melakukan aksi jumat berkah.
Sebuah aksi amal atau sedekah, dengan membagikan makanan siap saji, ataupun bahan-bahan pokok. Sasaran mereka yang terutama adalah para pedagang di pinggir jalan, pemulung ,pengamen serta pengemudi ojek online.
Seperti sore ini, pandangan mereka terfokus pada segerombolan remaja, yang berkeliling sambil menari, membawa atribut alat musik khas betawi, serta arakan ondel-ondel. Ada yang mendapat bagian menabuh alat musik gong, mendorong tape recorder yang mengeluarkan lagu-lagu betawi. Ada yang membawa ember kemudian berkeliling, ke warung-warung atau pun orang yang lewat. Yang paling berat tugasnya, adalah yang membawa boneka raksasa"Ondel-ondel" kemudian menari berputar-putar.
Pandangan yang mengulik hati nurani, dimana usia mereka seharusnya berada di sekolah, menuntut ilmu dan belajar, bukan justru mencari uang dengan berjalan berkilo-kilo meter bahkan tanpa alas kaki.
Baju yang lusuh, keringat yang bercampur dengan debu panas jalanan. Rambut yang coklat kemerahan, ada yang begitu karena terbakar matahari, ada yang memang sengaja di warnai.
Pasangan suami istri ini memberi rombongan remaja itu, beberapa makanan siap santap, serta uang, agar mereka segera pulang.
Karena dari obrolan yang sempat mereka lakukan. Biasanya rombongan ini akan pulang sehabis isya.
__ADS_1
Belum lagi selesai pembahasan mereka tentang anak ondel-ondel. Kini lewat di depan mobil mereka, para manusia silver.
Orang yang berkeliling membawa ember,dengan seluruh tubuh yang di cat oleh warna abu-abu metalik. Bahkan, sebagian mereka masih anak-anak. Juga ada ibu muda yang sedang hamil. Mereka berpencar dari satu toko, ke toko yang lain. Betapa mirisnya.
Hingga, Mirna meneteskan air matanya.
Betapa banyak orang-orang yang kurang beruntung di sekitarnya, kenapa dulu ia dengan mudah menghamburkan uangnya hanya demi sosialita, hanya demi ke eksisan sementara.
Sementara, bagi mereka ini, mencari uang begitu susah sampai kesehatan dan keselamatan nyawa di abaikan hanya demi rupiah. Seandainya mereka dapat memilih, tentu mereka pun tak ingin kehidupan yang seperti ini, kehidupan tanpa kejelasan setiap hari, mengais belas kasih dan setitik iba di hati manusia yang berlebih.
Mirna tampak lama ketika mengobrol, dengan manusia silver yang sedang hamil itu.
Ia menanyakan apakah ia memiliki suami?
Yang kemudian hanya di balas gelengan kepala dan wajah yang penuh beban.
Kemudian,Mirna meminta nomer ponsel wanita muda itu. Ia berjanji akan menanggung biaya nya sampai melahirkan nanti, hingga mulai hari ini, wanita itu jangan berkeliling lagi seperti ini.
Mirna menatap lama pada wanita muda bertubuh kurus itu. Berharap bahan kimia pada cat di tubuhnya, tidak membawa pengaruh buruk pada janin di dalam kandungannya.
Wanita anggun dengan pakaian panjang dan khimar yang menutupi kepalanya. Berjalan, menghampiri sang suami, yang kini sedang menatapnya penuh arti.
Setelah sampai dan duduk di jok kursi depan, Mirna menoleh ke arah pria yang berada di depan kemudi. Ia tampak berpikir, hingga Adiguna memangkas lamunannya dengan sentuhan di bahu.
"Ada apa, Ma? Apa yang sedang kamu pikirkan?
tanya Adiguna heran.
__ADS_1
" Eum, tidak, Pa. Hanya saja, aku sedang berpikir, apa keputusan kita yang ingin belajar di pesantren tepat waktu? sementara kelahiran cucu kembar kita, kurang dari tiga bulan lagi." tutur Mirna mengungkapkan kegelisahan hatinya.
"Papa rasa ini waktu yang tepat, Ma. Nanti kan kita bisa pulang, pas si kembar lahir. Niat baik itu harus di segerakan. Itu yang selalu di katakan oleh menantu kita bukan?" jelas Adiguna dengan senyum hangatnya.
Kini, wajah itu tak lagi suram. Wajah itu tak lagi dingin dan kaku. Tak ada lagi keangkuhan yang membuatnya di takuti. Pribadi itu menghangat seiring dengan hatinya yang melunak.
Beralih ke kisah besan di kota D.
"Assalamu'alaikum!" ucap remaja kembar tampan ini serentak. Mereka segera melepas sepatu, meletakkannya di rak kemudian masuk ke dalam rumah.
Khadijah, terlihat tergopoh-gopoh dari dapur dengan tangan sebelah yang masih mengenakan sarung tangan plastik serta apron di badannya.
"Maaf ya, Ummi lagi bikin kue di dapur, jadi gak bisa nyambut para jagoan ganteng," sesal Umma, sambil melepas plastik yang membungkus telapak tangannya.
"Emang, kita abis pulang jihad, pake di sambit segala, eh sambut?" kelakar Fadlan kemudian menggamit tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Kemudian di susul oleh saudara satu ari-arinya itu.
"Tapi, aku mau dong di sambit," ucap Farhan penuh arti. Membuat khadijah memicingkan matanya.
"Sambit pake donat ubi, buatan...Ummi khadijah!" kelakar Farhan membuat mereka bertiga tergelak.
"Ya udah, kalo gitu cepetan cuci tangan terus bantuin, bikin adonannya. Kalian banting-banting adonan ya. Nanti ummi tinggal lelehin coklat dulu," titah ummi pada keduanya.
Kini, si kembar sudah kelas X SMU. Mereka baru saja pulang sekolah kemudian eskul basket di lanjut main hadroh. Karena kesibukan mereka, terpaksa Khadijah mengerjakan sendiri pesanan nya. Karena itu, ia tidak bisa menerima pesanan kue atau catering banyak-banyak.
__ADS_1
Mereka, kembar identik. Putra kedua dari pasangan ummi Khadijah dan ayah Abdul Rojak ini, memiliki perbedaan hanya dari gaya rambut dan suara saja. Farhan yang bersuara serak suka menyanyi kan lagu-lagu gambus, nasyid dan sholawat. Sedangkan Fadlan lebih tertarik dengan alat musik hadroh seperti darbuka.
Next.....