Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Si Tua Bangka Bau Tanah


__ADS_3

💦Tetaplah waras walau pun dunia sudah menggila.


Tetaplah sadar di tengah pukau dan kilau dunia yang memabukkan.


Tetaplah berpijak pada dasar meski sayap kesenangan mengajakmu terbang.


💦


***~~~***


Willy masih berada dalam fatamorgana nya, sepertinya dia sudah mabuk dan terbius minumannya sendiri.


Karena terlihat ia menyeringai dan sesekali tersenyum aneh.


Sambil mengusap dagu dan juga bibirnya.


Jangan lupakan sorot matanya yang bagaikan singa lapar karena sudah berpuasa selama sebulan, kemudian berhasil menemukan seonggok daging segar.


Akhirnya Willy kembali pada kesadarannya, ia pun mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya yang di cat hitam berkilau.


"Baiklah, kalian pergilah ke toilet, "


"Pelayan tadi ada di luar, dia akan menunjukkan letak toiletnya. "


Willy berujar seraya merapikan jasnya.


Kenapa ia sudah merasa gerah, padahal baru sekedar membayangkan saja.


____


(Dasar tua bangka tak tau diri!)


(Sudah bau tanah masih saja genit)


(Minta di sunat habis rupanya?)


Nur terus mengumpat di dalam hati nya, sambil sesekali melirik pelayan wanita yang berada di belakang mereka berdua.


Lain dengan Nur, lain dengan Fatimah, ia mencoba meraba hapenya yang di letakkan di dalam kantong cardigan nya.


"Ini toiletnya, saya akan menunggu di luar, "


ucap pelayang wanita yang lumayan seksi dan cantik itu.


Lebih pantas jadi model sebenarnya.


"Ah, tidak perlu di tunggu mbak, kita hafal kok jalannya, "


jawab Fatimah berusaha mengusir pelayan tersebut.


(Gimana mau kabur, kalo ditungguin gini?)


"Tidak masalah, masuk lah! "


ucapnya dengan penekanan bernada perintah.


(Wah, ngajak gelud ni orang)


Nur terlihat sudah mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Meski ia sudah merasa sedikit buram pada penglihatannya.


Seketika ia menengok ke arah Fatimah,


terlihat bahwa Fatimah juga sedang berusaha tetap berada dalam kesadaran yang penuh.


Ia mengeluarkan minyak kayu putih berukuran botol sedang,dan kemudian memasukkan cairannya dengan meminumnya.


Ia memberikannya pada Nur agar ia melakukan hal yang sama dengannya.


Kelakuan dua gadis berkerudung di hadapannya ini, membuat pelayan seksi itu membulatkan matanya.


"Apa yang kalian lakukan? "


"Bukankah kalian mau buang air kecil? "


"Hei,! "


Kemudian...,


"BUKK, "


"BUKK..., "


(Aahh, si*l*n mereka berdua! )


"Mmmmhh... mmhhh... "


gumam wanita yang mulutnya sudah di sumpal dengan tissue toilet.


Dengan tangan yang terikat oleh tali pinggang yang di kenakan oleh Nur.


Mereka pun berusaha mencari jalan keluar dari bangunan itu.


Fatimah sadar bahwa mereka pasti di temukan, karena sepertinya mereka di awasi oleh CCTV.


"Bagaimana cara kita kabur tanpa terekam,


Kak? "


tanya Nur yang sudah mulai panik, karena ini pertama kalinya ia terjebak dalam situasi mencekam seperti ini.


"Kita jalan menyisir tembok saja,


ayo! "


Fatimah pun menggandeng tangan Nur.


Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung nya.


Ia pun merasa takut dan deg-degan.


Ia terus merapal doa agar di beri keselamatan oleh Sang Kuasa.


Ia berhasil melewati koridor dan melewati tangga di lantai teratas ini.


Ia tidak ingin menggunakan lift, karena di dalam lift pasti ada CCTV.


Dan mereka berdua akan dengan mudah nya untuk tertangkap.

__ADS_1


Mereka kembali menyusuri koridor di lantai kedua.


Berhubung ketika naik ke atas mereka menggunakan lift, sehingga mereka tidak tahu kemana arah koridor ini mengarah sebenarnya.


Fatimah hanya berlari berdasarkan naluri nya saja.


Ketika hendak berbelok, seseorang berhasil menarik tangan Fatimah.


Begitu juga dengan Nur.


"Mau kemana kalian? "


"Sudah pipisnya, hmm...? "


Willy bertanya dengan seringai dan mata yang nyalang menyusuri setiap jengkal tubuh gadis yang hampir mengkerut ketakutan di dalam cekalan tangannya itu.


"Lepasin saya! "


pekik Fatimah dengan rahang yang sudah mengeras dan tangan yang sudah mengepal, ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya kini, ia harus berani.


Beda dengan Nur yang sudah berkali-kali melepaskan pukulan dan tendangannya, namun karena panik hingga kurang bertenaga.


Sehingga dengan mudah ia di bekuk oleh Eddie,


Ya, pria itu adalah kaki tangannya Willy.


"Diamlah gadis manis, "


"Atau aku akan menggigit mu di sini, kau lumayan juga ternyata. "


Eddie membekuk Nur dengan tangannya yang di tekuk kebelakang, hingga dia dengan leluasa dapat mencium aroma gadis tomboy ini dari belakang.


Nur meronta, namun pegangan lelaki yang menguncinya ini terlalu kuat.


Akhirnya ia pun berhenti, demi mengumpulkan tenaganya.


Ia harus mencari cara lain, ia harus mengirit tenaganya.


Karena lawannya lebih besar tubuh dan juga tenaganya di banding dengannya yang seorang gadis berperawakan kecil.


Ia harus menggunakan otak di sela ototnya.


Kembali pada si tua bangka bau tanah Willy.


"Mengapa gadis semenarik kamu, memiliki tangan yang kasar, hm? "


tanya Willy berusaha mendekatkan wajahnya untuk mencium tangan Fatimah.


"Jangan harap kau, tua bangka...! "


Eng, ing, eng,....


Tegang gak sih bebs????


Kesel gak??


Sama Willy aja tuh jangan sama otor yak, piss... 🤗


Kencengin dukungannya dong biar bisa up lagi... 😁

__ADS_1


__ADS_2