
๐พKita hanya perencana,bukan penentu.
Kita hanya bisa berusaha, semoga Allah bantu.
Tak ada racun tanpa penawar.
Tak ada penyakit tanpa obat.
๐พ
***~~~***
Gimana keadaan Nadia,Bi?"
tanyaku sambil melihat ke atas ranjang dimana seorang perempuan muda sedang tertidur, dengan selang oksigen yang melingkari hidungnya.
Bibi pun menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaanku.
Terlihat aura sedih dan kecewa nampak dari raut wajah nya.
"Nadia,melakukan percobaan bunuh diri,
"Padahal dia sedang hamil muda... "
Jelas Bibi sambil terisak.
Aku pun menghampiri dan memeluk guna menenangkan beliau.
"Kenapa, Nadia bisa nekat kayak gitu Bi? "
tanya ku , sambil mengusap punggung Bibi.
Tubuhnya bergetar, jiwa nya terpukul.
Ya, Ibu mana yang tidak terluka melihat anaknya terbujur tak berdaya.
"Nadia, dia..., "
Bibi menjeda kalimatnya,mencoba menetralkan nafasnya setelah melepaskan pelukannya dariku.
"Dia...memergoki suaminya selingkuh, padahal dia ingin memberi tahukan kehamilannya, "
Bibi pun terisak lagi, lebih hebat dari tadi, sampai-sampai nafasnya sesak.
"Aku tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkannya, hanya bisa memeluk, dan menggenggam erat tangannya.
Untung saja, tidak semua bangsal terisi penuh, hanya ada tiga orang pasien saja , itu pun masing-masing berada di ujung.
" Istigfar Bi, "
"Ini semua sudah takdir dari Allah, Bibi harus kuat, supaya bisa menguatkan Nadia nanti, " Ucapku dengan hati-hati, karena takut di anggap sok nasehatin orang yang lebih tua.
Ku rasakan Bibi mengangguk di dalam rengkuhan ku.
"Begitulah, kalo nyari suami dari gantengnya, "
"Dimana-mana, tebar pesona, "
Tiba-tiba saja Bibi ku yang satu lagi menyahuti obrolan kami, dengan cara bicara nya yang ketus, gak pernah di saring dulu.
Gak bisa liat situasi dan kondisi.
Apa pantas dia berkata seperti itu di saat seperti ini?
Bener-bener sodara minim akhlak!
"Nih, contoh Reva, biar kata laki nya kagak ganteng ,tapi gak neko-neko kalem, "
Sindirnya sambil selonjoran di bawah dengan karpet, tanpa dosa sama sekali.
(Ck, bisa diem dulu kagak si tu bibir)
(Ini Empoknya lagi terpuruk lho, bisa-bisanya malah banggain menantu sendiri)
"Ya mana saya tau, Ijah, "
__ADS_1
"Selama ini sifatnya juga baik-baik aja, "
"Dia kelihatan sayang sama Nadia, perhatian sama mertuanya, "
"Kamu jangan ujug, mana tau depannya aja dia kalem, belakangnya brengsek juga, sama kayak suami Nadia! "
Sahut Bibi mulai terbakar emosi.
"Ye ,Mae,jangan nyumpahin menantu gue dong, "
"Jangan samain ama menantu elu yang durjana itu! "
Ketus Bi Ijah yang sudah berganti posisi, menjadi berdiri, dengan tangan berkacak pinggang dan mata yang mendelik.
(Haish, tu kan, perang mulut kan ujungnya,)
Aku pun berusaha menjadi penengah di antara mereka berdua.
"Udah Bi, udah, inget kita ada di rumah sakit, "
"Mendingan kita doa'in Nadia, biar dia cepet sadar, "
Ucapku tegas mengingatkan dua wanita dewasa ini, yang mulai mengeluarkan tanduk dan taringnya untuk saling menyerang.
Reva pun berdiri,menghampiri Ibunya kemudian menyentuh bahunya pelan.
Berusaha menetralkan emosi sang ibu,dan mengajak nya kembali duduk lesehan.
Aku pun memimpin doa.
Memohon kepada Sang pemberi kehidupan,Sang pemilik segala obat dari segala penyakit, agar sepupuku segera siuman dan di beri kesembuhan.
ุงููููููู ูู ุฑูุจูู ุงููููุงุณู ุฃูุฐูููุจู ุงููุจูุฃูุณู ููุงุดูููู ูุฃูููุชู ุงูุดููุงููู ูุงู ุดูููุขุกู ุฅููุงูู ุดูููุงุคููู ุดูููุงุกู ูุงู ููุบูุงุฏูุฑู ุณูููู ูุง ALLAHUMMA RABBAN-NAASI, ADZHIBIL BAโSA, WASYFIH, WA ANTASY-SYAAFI LAA SYIFAA-AN ILLAA SYIFAAUKA, SYIFAA-AN LAA YUGHAADIRU SAQAMA โ Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain
Aku segera berpamitan, karena sudah lewat waktu dzuhur maka aku memutuskan akan solat dulu di musholla rumah sakit.
Aku menemukan lokasi musholla setelah bertanya kepada pihak keamanan rumah sakit ini.
Selesai solat, aku mengambil telepon genggam dari dalam tas selempang ku.
Pantas saja terus bergetar sejak tadi ternyata Rojali sudah berkali-kali menghubungi.
+62518970xxx๐ฑ Dek, ini Abang ojek ganteng ๐
Cuma mau sekedar info, kamar Abang di lantai 4,kamar NagaGeni nomer 212.
Jangan lupa mampir ya,
Janji adalah hutang.
Tanpa sadar aku mesem-mesem sendiri.
Membaca isi chat nya.
Apa-apaan dia, menyebut diri nya sendiri ganteng, cih percaya diri tingkat tinggi.
Aku pun membalasnya,
Insyaallah, Bang.
Saya lagi di musholla.
Baru selesai solat.
Send๐ฒ
Nama kamarnya unik, tadi waktu nengok Nadia, nama-nama bunga, nah ini nama apa ya?
Kayak pernah denger tapi kapan dan di mana?
Sudahlah, mungkin tidak apa mampir sebentar saja.
Menyenangkan orang lain itu kan perbuatan baik.
Apalagi orang yang sedang sakit.
__ADS_1
Sebelum menengok Rojali, aku mengirim kabar dulu melalui chat kepada Farhan.
Bahwa aku akan sedikit sore sampai di rumah.
Karena ada kawan yang kebetulan di rawat di rumah sakit yang sama.
(Hei, sejak kapan kami berkawan?)
(Sudahlah)
Aku tidak perlu naik lift karena memang aku berada di lantai 2.
Aku mencari pihak keamanan ,guna menanyakan di mana letak kamar Rojali di rawat.
Sementara itu di kamar rumah sakit kelas ll.
Ada 4 bangsal yang terpisah hanya dengan tirai berwarna biru muda.
Tapi ranjang yang terisi hanya yang di tempati oleh pemuda berambut gondrong.
Yang saat ini sedang duduk bersandar, diganjal tumpukan bantal.
"Oh, iya, Pak Deni, tadi saya masuk kesini pake uang siapa? "
tanya Rojali kepada laki-laki yang menjabat sebagai ketua rukun tetangga di w tempat tinggalnya.
"Itu, Bapak patungan sama si Endin, "
"Duit die 700,duit bapak 500,"
jawab pak erte rinci.
"Nomer rekening nye berape Pak Erte, mau saye ganti, "
ucap Rojali sambil menatap ke arah pak erte dan Endin.
Yang di tatap malah saling lirik satu sama lain.
"Eh, emang Bang Ali ade duit nye buat ganti? "
"Kalo gak ade, pake aje dulu, gapape, "
ujar pak erte seakan mengerti keadaan warganya yang sedang susah.
Apalagi setelah beliau tahu bahwa Rojali tidak ada satupun keluarga nya yang bisa di hubungi.
Entah, masih punya keluarga apa tidak?
Mungkin itu pertanyaan yang tersirat di benak pak erte dan si Endin.
"Saya ada tabungan Pak, "
"Ga pape, saya langsung ganti aje ye, biar gak kepikiran.
" Saya paling gak tenang kalo punya utang, "
"Lagian, Bapak sama Endin ude saya repotin, ampe bawa saya yang semaput ke mari, "
sesal Rojali tak enak hati.
Ya , dia mengerti pak erte juga mempunyai kebutuhan.
Endin juga tidak bekerja, pasti tadi yang di pakai adalah jatah jajan bulanannya, dari sang abah, yang notabene adalah juragan kontrakan.
"Tapi, buat bayar rumak sakit selama tiga hari, gimana Bang Ali? "tanya pak erte khawatir.
"Coba punya kartu kesehatan dari pemerintah, kan bisa gratis, "
timpal Endin
"Nanti deh saya bikinin, "ucap pak erte kemudian.
Memberikan nomer rekeningnya yang dia simpan di telepon genggam nya.
Segini dulu ya sayangnya akuh
__ADS_1
jangan lupa sajen buat otor yak, yg mao nyumbang vote nya juga boleh besok senen.
๐