
____π»π»π»π»π»π»π»____
Kediaman Rojali dan Fatimah
Fatimah terlihat mulai kesusahan dengan perut besarnya, kehamilannya padahal baru menginjak enam bulan lebih. Mungkin karena yang di kandungnya adalah bayi kembar, sehingga perutnya lebih besar.
Rojali yang meneruskan usaha resto dari Mirna di bantu oleh Nur sebagai kasir nya. Dikarenakan, kasir yang lama telah mengajukan pengunduran diri. Sebab,ingin fokus mengurus anak yang akan dilahirkannya.
"Mbak Atun," panggil calon ibu muda itu kepada asisten rumah tangga yang berusia 45 tahun itu. Asisten yang di ambil Fatimah dari salah satu tetangganya di kampung tempat tinggal keluarganya. Atun seorang janda tanpa anak, suaminya meninggal terkena serangan jantung ketika sedang bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, Atun masih menanggung kedua orang tuanya yang telah sepuh. Karena kakak dan abangnya sudah punya keluarga masing-masing. Atun tidak tinggal, dia akan datang pagi jam delapan, lalu pulang jam lima sore, ketika Rojali telah sampai di rumah. Atun di pinjami motor matic untuk kendaraannya pulang dan pergi.
"Iya, Neng, ada apa?" tanya mbak Atun.
"Aku pengen makan cumi saos padang, boleh gak ya?" tanya Fatimah sambil mengelus perlahan permukaan perut buncitnya itu.
Ia terlihat sangat bahagia, meski untuk bangun dan berjalan saja, mulai berasa susah dan melelahkan.
"Em, boleh aja si, Neng. Orang hamil gak ada pantangan dalam hal makanan kok, kecuali yang masih menganut ilmu pamali," jelas mbak Atun, membuat wajah Fatimah mendadak berseri.
"Kalo gitu, aku mau nelpon, Abang."
Fatimah pun langsung mengambil ponsel, yang ada di sisinya.
Tuutt...(mendial)
Rojali yang berada di restoran, terkesiap karena ponsel di saku nya berdering. Ia sedang serius tadi memeriksa persediaan barang baku di gudang. Meskipun, ia mempunyai anak buah atau karyawan yang bertugas memeriksanya. Rojali belumlah puas, jika ia belum turun tangan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Senyumnya lantas terukir di wajah menawannya itu, ketika nama sang istri tertera di layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, jauzati,"
"(..........)"
"Bentar lagi, Abang pulang,"
"(..........)"
"Kamu, pengen makan cumi?"
"(..........)"
"Iya, sih..., Iya gapapa kok, boleh,"
"(.........)"
"Gak boleh kalo terlalu pedes gitu,"
"Nanti, kamu jadi cumi,"
Rojali menelpon sambil terkekeh tanpa suara.
"(........)"
"Ya bisa, dong! Kalo terlalu pedes kamu bisa jadi cu...mi, cucah mingkem! Hahaha....."
Rojali pun tak dapat menahan gelak tawanya, ia membayangkan wajah lucu sang istri yang sedang dalam mode serius, padahal ia sedang meledek saja.
(Dasar suami jail, istri lagi hamil masih aja di isengin!)
"(........!!!!)"
__ADS_1
"Iya, iya, sayaaangg...nanti, Abang bawain. Jangan ngambek ya, ya, ya...,"
"(......!!!!)"
"Iya, pedes, iya,"
"Siapp, bos!" Kini Rojali memasang wajah seriusnya. Sambil manggut-manggut ia mengusap kasar wajahnya.
(Kena omelan pasti tuh, lagian sih bumil pake di ledekin, rasa kau!)
Pria gagah dengan setelan semi formal itu, beranjak menuju dapur restoran. Kemudian ia memesan pesanan sang istri tercinta, kepada salah satu chef andalan nya.
"Bli Gusti, buatkan saya tiga porsi cumi saus padang ya, yang pedes...eh, jangan terlalu deh. Yang sedang-sedang saja.
Kemudian ia beranjak ke depan dan berbicara kepada penanggung jawab restorannya.
" Aryo, saya tunggu di ruangan saya ya," ucapnya ramah. Perangainya yang selalu santai membuat para karyawan nyaman bekerja di bawah kepemimpinannya.
Ceklek.
Aryo masuk kedalam ruang kerjanya setelah ia mengetuk terlebih dahulu.
"Maaf, ada apa, Bapak memanggil saya?" tanya nya sopan.
" Nanti, hubungi Pak Ari laba, suruh kirim stok lobster, udang galah dan gurame nya."
"Tadi saya cek, di gudang persediaan tidak banyak, sedangkan besok adalah weekend," perintahnya Rojali.
Ari laba adalah salah satu kawan sekaligus partner usaha tambaknya dulu. Semenjak Mirna melalui proses pemulihan kaki dan punggungnya, dialah yang di tunjuk sebagai pemimpin yang menggantikan sang mama, untuk mengurus kedua cabang restorannya.
Sedangkan resto yang di kota B, di percayakan oleh Firman, manager kepercayaan sang mama. Seorang pria yang di perkenalkan oleh Nur, sahabat sang istri, di acara pernikahannya dulu.
Karena Jihan masih, tahap konsentrasi mengerjakan skripsinya. Setelah masa tenang maka Jihan sendiri yang akan turun tangan. Mengurus restauran yang telah di hadiahkan sang mama untuk kelulusannya. Restauran itu adalah lapangan pekerjaan untuk orang- orang sekitar kota B, karena Mirna memang sengaja mengambil tenaga pemuda- pemudi, serta petani di sana.
Rojali segera berkemas, ketika orang dapur telah melaporkan bahwa pesanannya telah siap.
"Beuhh, sedep bener dah! Manteb ini di makan berempat sama anak dan istriku," monolognya sambil mengendus itu bau makanan yang sudah di bungkus dengan kotak khusus.
Singkat kata, pria selengean yang sebentar lagi berganti status. Menjadi papa tengil bin usil itu, telah sampai di rumah ku istanaku. Ia pun memberi salam sambil memberi ketukan sebanyak tiga kali di pintu. Dan, tak butuh waktu lama, seorang wanita cantik berdaster membuka pintu, dengan perut buncit yang membuatnya semakin menggemaskan di mata Rojali.
Sepasang pupil hitam pria gondrong ini pun, berbinar. Ketika kepulangannya di sambut senyum yang merekah bak bunga teratai. Ia pun melebarkan tangannya, karena seperti biasa, sang istri akan langsung menghambur ke dalam pelukannya.
Namun, harapan tinggallah harapan, ternyata Fatimah hanya menyambar goddie bag yang di tenteng nya.
(Yah, Bang! Masa kalah sama cumi, wakakakakak)
"Sayaaaangg...!"
"Cium tangan enggak, boro-boro peluk dan cium kakanda mu ini!"
"Malah cumi saja yang kau gaet!" protes Rojali sambil mengejar istri nya ke dalam rumah.
"Mbak Atun, siapin piring ya," perintahnya pada Atun yang sedang ngupi-ngupi asoy di temani gabin renyah endulita.
"Wah, udah datang cuminya, Neng? Siaplah!" sahut Atun cekatan.
"Sayaaaang...," panggil Rojali penuh kelembutan kemudian mendaratkan kecupan manis di kening yang tertutup bergo maryam.
"Abang, ih... di liat mbak Atun nanti!" protes Fatimah dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Adek, belom salim tauk," sungut Rojali, masih dalam posisi berdiri di samping meja makan.
"Ya Allah, Adek lupa!" Buru-buru Fatimah mengambil telapak tangan suami tengil bin jahilnya itu.
"Maap...abis udah gak sabar bangett," ucapnya manja sambil mengelus perut.
Rojali langsung menjatuhkan tubuhnya, dan berlutut.
"Hemm, anak-anak Abi udah pada kelaperan ya? Keciaaannn...,"
"Cini, biar Bundanya di cuapin cama Abi yang ganteng," oceh nya di depan perut buncit Fatimah,seakan menyerupai suara anak kecil cadel.
Fatimah mengusap surai rambut sang suami, yang menjuntai keluar dahinya.
Hatinya menghangat melihat interaksi calon ayah dan anak ini. Karena setiap di ajak bicara oleh suami nya, si jabang bayi di dalam perutnya, langsung merespon.
Atun, sengaja berdiam lama di pintu antara ruang makan dan dapur. Matanya menganak sungai melihat adegan yang belum pernah di alami olehnya, hingga sang suami berpulang ke rohmatullah.
Dalam hati kecilnya, ia mendoakan kehidupan suami-istri, yang telah menjadi majikannya selama enam bulan terakhir ini.
Bagaimana, pasangan ini telah mengangkat derajatnya yang seorang tukang kupas bawang di pasar, dengan gaji yang tidak cukup untuk makan serta membeli obat darah tinggi untuk sang bapak.
*Semoga, persalinan neng Fatimah lancar, sehat kedua bayi dan juga ibunya.
Semoga kebahagian dan cinta selalu menghiasi rumah tangga kalian.
πΉ*TAMATπΉ
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sebuah kisah penuh perjuangan dan pengorbanan, di bumbui rasa sakit dan kecewa yang mendewasakan. Terkadang tawa dan kekonyolan itu, mampu menutupi luka yang sesungguhnya.
Ketulusan yang di balas dengan penghianatan.
Keserakahan yang membuahkan dendam dan permusuhan.
Ketika hati yang gelap itu menemukan cahayanya, maka hampiri lah cahaya itu sekuat tenaga.
Karena, cahaya itu yang akan membawamu kembali, menuju akhir dari perjalanan fana mu di dunia.
Ada senang dan sedihnya karena kisah ini menemukan endingnya.
Senang karena akhirnya mak chibi dapat menyelesaikan kisah ini dengan sepenuh hati dan jiwa.
Coretan pertama yang mungkin belumlah layak untuk di sebut, sebagai sebuah karya.
Namun, mak sangat...sangat...sangat...berterimakasih atas dukungan yang kalian (para pembaca dan para penulis)berikan.
Dukungan, saran, dan pelajaran yang di berikan oleh kalian semua yang baik hati, ramah dan tidak sombong.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.
Peluk onlen buat pembaca mak semua, di manapun kalian berada.
Terus dukung mak ye!
Apalah aku tanpa mu!
Penulis tanpa pembaca, bagaikan sayur tanpa huruf"r".
__ADS_1
ππππππππ
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°