Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Terancam


__ADS_3

✨ketulusan hati tidak terikat dengan hubungan darah.


Persaudaraan dapat terjalin dengan kesatuan hati dan iman.



***~~~***


Sahabat yang pergi bukan berarti hilang.


Kita hanyalah menempuh jalan kehidupan masing-masing.


Tetaplah teguh pada kasih sayang diantara kalian.


Karena jalinan itu akan bersaksi suatu saat nanti.


Karena pada setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan.


Setiap awalan akan menemukan ujung.


Fokus lah pada akhir yang akan kita tuju, namun nikmatilah juga setiap alur yang akan kita lewati, untuk mencapai garis akhir nanti.


Selang beberapa hari setelah salah satu sahabatku pamit.


Sekejap ada sesuatu yang hilang, merasa ada yang kurang.


Perpisahan bukan akhir segalanya, tautan hati tidak akan terputus oleh bentangan jarak bahkan waktu.


Gajian masih beberapa hari lagi, itu artinya simpanan semakin menipis.


Hal yang biasa bila kami berdua harus sarapan, dan makan malam hanya dengan mi instan.


Karena kalau siang kita bisa berhutang di salah satu warung makan, di luar pabrik.


Meskipun bisa berhutang, tapi kami tidak bisa seenaknya.


Kami tetap memilih lauk yang sederhana.


Yang pasti, tidak boleh lebih dari sepuluh ribu.


Kami akan menginjakkan kaki di kantin pabrik kalau sudah gajian, itu pun hanya beberapa kali saja.


Bagaimana pun, kami harus berhemat.


Harus bisa menahan setiap keinginan yang memerintahkan otak agar memanjakan lidah dengan makanan enak.


Apalagi gaji ku bulan ini hanya separuh.


Bagaimana aku menceritakannya nanti kepada kedua orangtuaku.


Meski pun mereka tidak menuntut dari gaji ku, tapi sebagai anak, aku merasa bertanggung jawab untuk meringankan beban mereka.


Kenapa moment nya pas sekali, aku kena potong gaji dan ayah sakit berhari-hari.


Selain ayah jadi tidak bisa bekerja, ummi juga tidak bisa berjualan dan menerima pesanan.


Disaat kebutuhan sekolah si kembar sedang menuntut pembayaran uang ujian tengah semester.


Aku yakin orangtuaku pasti sedang pusing.


Aku sama sekali tidak sedang menyalahi takdir, atau menyesali ketentuan dari Allah.


Hanya kadang batin ku bertanya, kenapa kebetulan itu suka bertubi-tubi.


Sejak kejadian di loker beberapa hari yang lalu.


Aku tidak pernah lagi bertemu dengan duo kiong racun itu lagi.


Semoga mereka sadar dan tidak mengusikku lagi.


Tapi bebas dari kiong racun, aku masih terancam dengan kehadiran buaya buntung.


Aku fikir dia sudah melupakan ambisinya terhadapku.


Tapi arti tatapan tajam itu, seakan mengancam.


Aku benar-benar sudah merasa tidak nyaman bekerja disini.

__ADS_1


Netra nya yang mengunci membuatku terintimidasi.


Aku merasa seolah di telanjangi.


Bagaimana bisa aku bertemu dengan nya di warung sederhana seperti ini.


Sungguh aneh?


Bukankah sudah semestinya,dia mendapat jatah makan siang di kantin khusus karyawan dan para staf?


Tak mau ambil pusing, aku melanjutkan sesi makan siang ku yang sudah kehilangan selera itu.


Menghindari nya dengan masih berada satu lingkungan bekerja, aku rasa adalah hal yang sia-sia.


Tapi aku harus bekerja apa lagi dan di mana?


Disini gajinya lumayan besar, hanya saja akhir-akhir ini banyak setan yang mengusik ketenangan.


Aku menyelesaikan hari bekerja dengan suasana yang tidak mengenakkan sama sekali.


Ketika di dalam kamar kos, aku mengingat salah satu sepupuku, aku memutuskan akan menghubungi nya dan menanyakan pekerjaan padanya.


Nur yang bawel terlelap dalam buaian mimpi.


Akan tetapi kedua mataku masih terjaga.


Otak ini masih melanglang buana dengan segala pemikirannya.


Lingkungan kerja yang sudah tidak nyaman, bahkan mengancam kesehatan jiwaku belakangan ini.


Aku seakan tak mampu lagi mengontrol emosi.


Lingkungan kosan yang tidak aman, karena aku merasa selalu di awasi.


Ingatanku kembali pada beberapa hari lalu saat Sumi dan Aji kesini.


Kenapa pada saat itu Aji berpesan padaku secara langsung, ku ingat wajahnya benar-benar serius dan penuh ke khawatiran.


"Mbak Fatimah dan Nur, sebaiknya setelah pulang kerja tutup pintu rapat-rapat, "


"Jangan terima apapun dari orang asing, meski itu dari tetangga kalian,"


"Lebih baik lagi, cari sewa kosan yang khusus putri, "


"Demi menghindari 'ain, "


(Penyakit ain berasal dari kata 'aana ya'iinu yang berarti terkena sesuatu hal dari mata. Sebuah pandangan mata yang menyebabkan penyakit ain adalah pandangan yang diikuti respons jiwa yang negatif. Pandangan mata tersebut menjadi jalan dan dimanfaatkan oleh setan untuk menciptakan sifat iri dan dengki.)


Itulah sederet panjang pesan dari Aji.


Dia dengan usia semuda itu, bisa begitu bijak.


Tutur kata yang lembut, tidak pernah melakukan kontak mata secara berlebihan.


Lebih banyak menunduk ku rasa.


Sumi begitu beruntung, mencintai dan di cintai dengan begitu besar.


Saling menjaga diri dan hati meski tanpa ikrar.


Tanpa ikatan rasa.


Hanya bermodalkan keyakinan bahwa cinta sejati akan menemukan tempat berlabuhnya.


Aku juga ingat pesan ayah sebelum aku kembali kesini.


Tatapan ayah saat itu begitu dalam.


Ah, apakah ini semua pertanda?


Lalu bagaimana aku memberi pengertian pada bocah satu ini.


Yang asik tertidur dengan dengkur.


Berbeda sekali denganku yang tengah bertempur dengan segala problematika hidup.


Hidupnya seakan tanpa beban, begitu cuek dan tak pernah ambil pusing dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Namun memang semenjak mendapat peringatan dari Aji, kami selalu berdua kemanapun.


Ke kamar mandi,satu di dalam, satu di luar, begitu bergantian.


Entah karena panggilan alam, setoran langsung tunai, dan mandi sekalipun.


Salah satu dari kami akan setia menemani.


Selalu berduet ketika mencuci dan menjemur.


Awalnya aku hanya ingin mencari tempat kos baru.


Kini aku merasa harus mencari pekerjaan baru.


Dan itu sangat sulit di kota besar seperti ini.


Sebelum otakku mengeluarkan asap karena berfikir terlalu keras.


Sebaiknya aku mendinginkannya.


Aku meraba mushaf itu, membacanya tartil hingga rasa kantuk itu menyapa dan membuat berat kelopak mata.


Ku letakkan perlahan di antara tumpukan novel-novel ku di atas lemari baju.


Lemari bajuku hanya setinggi dada ku asal readers tau.


Itu pun sudah usang, makanya aku lapisi dengan kertas kado agar terlihat lebih rapi dan enak di pandang.


Setelah meneguk air putih hangat segelas.


Ku rebahkan diri ini, kemudian miring ke arah kanan.


Tak lupa bersholawat sebelum membaca doa tidur.


Namun sekelebat senyum selengean itu, kenapa tiba-tiba muncul.


"Rojali apa dia masih ingat aku ya? "


"Eh, astagfirullah! "


"Apa-apaan, ini, "


"Hush, hush, hush, "


Aku melambaikan tangan di depan wajahku, mencoba mengusir bayangan seseorang yang tidak sepantasnya aku bayangkan.


"Karena belom baca ayat kursyi kali ya, jadi di gangguin setan kan? "


Aku memejamkan mata kembali ,sembari menggumamkan salah satu ayat yang terdapat di suroh Al baqoroh itu.


Sementara itu di lain tempat, di waktu yang sama.


Seorang pemuda berusia sekitar 30 tahunan, dengan rambut gondrong nya yang di kuncir separuh.


Sedang terbatuk-batuk, di depan kompor yang menyala.


Lantas ia pun segera menghampiri meja makan dan menuang air putih ke dalam gelas.


Kemudian menengguk nya hingga tandas.


Akhirnya ia bisa bernafas lega sekarang.


"Siapa yang lagi ngomongin gue sih? "


"Makan juga belom, udah keselek aja gue, "


gumamnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Yaah, lonyot kan mie gue, ah! "


pekiknya, seketika ia mematikan kompor,kemudian menatap nanar makanan instan yang tadi bentuk nya keriting itu, tapi sekarang sudah tidak terlalu keriting.


Siapa yang mau ketawa?


Cung kaki, eh tangan.


Maaf ya kalo ujungnya garing🤗

__ADS_1


Jangan lupa sajen buat otor ya, 👍, 💐, 😄


__ADS_2