
๐Kau percaya akan cinta pada pandangan pertama?
Ya, karena cinta butuh visual sebelum ia beralih menjadi debaran.
๐
***~~~***
Aku yang baru saja terbang ke awang-awang, sekejap terasa terhempas ke dalam jurang.
(Ngarep ye boleh, tapi ya gak gitu juga mandra!)
(Rasa itu butuh pendekatan bro!)
Akhirnya ku relakan juga Fatimah keluar guna memanggil tim medis.
Aih, padahal cuma mau berduaan aja, udah lama gak ada yang perhatiin juga.
Mungkin, Yang Kuasa tak suka aku melanggar etika.
Bukankah aku sudah berikrar, dan yakin akan semua ketentuan dariNYA.
Walau bagaimana pun juga, setan lebih kuat segala-galanya.
Apalah arti imanku yang masih tipis ini.
Hingga berfikir untuk mencuri kesempatan.
Sementara aku sudah menulis janji kepada illahi ku.
Akan menyerahkan hati kepada jodoh pilihannya.
Tinggallah aku si jomblo mengsedih.
Terpekur menatap langit-langit kamar perawatan kelas ekonomis ini.
Berharap pandanganku bisa menembus plafon, Tapi sekuat apapun keinginanku, semua hanya halu.
Karena aku segera tersadar,bahwa aku hanya manusia biasa,bukan super hero ciptaan Marvel.
Sepi nya...,
Dua tetangga ku itu,entah kemana rimbanya.
Kemudian.
"Ceklek"
Suara pintu di buka.
Dua orang petugas medis,yang biasa di sebut juga Perawat masuk ke ruangan tempat ku nelangsa sendirian.
Satu memeriksa cairan infus apakah sudah habis atau belum,macet atau tidak.
Dan yang satu lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap ku.
"Permisi Mas Rojali, "
Perawat wanita itu tersenyum ramah kepadaku sambil meletakkan stetoskopnya di dadaku.
"Kata pacarnya tadi, perut Mas nya sakit? "
tanya Perawat itu setelah memeriksa tekanan darah ku.
Kemudian,ia beralih memeriksa perutku dengan sedikit menekan dan mengetuk.
"I, iya sedikit sus, barusan,"
gagap nya, bohongin Fatimah sih bisa aja, lha tapi ini Perawat?
"Lho,bukannya sudah baikan ya? "
"Ini tensinya normal kok, suhu tubuhnya juga, "
"Saturasi oksigennya bagus(oksigen dalam darah), "cecar perawat berseragam serta berkerudung putih tersebut.
"Cuma, cuma keram gitu tadi sus, "
jelas ku mencoba memberi alasan yang masuk di akal.
"Baiklah, biar nanti di observasi lagi sama Dokter nya ya,"
"Mungkin nanti sore, "
__ADS_1
"Kalau tidak ada keluhan lagi kami permisi, jangan lupa makan siangnya di habiskan. "
Kemudian para petugas medis yang berseragam serba putih itu pun berlalu.
Setelah para Perawat itu keluar dan menutup pintu.
Aku meraih botol air mineral di nakas kecil samping ranjang ku.
Aku menenggaknya, hingga separuh, kemudian ku hela nafas dalam-dalam.
Kemudian menghembuskannya perlahan.
(Fiuhh, untung gadis gue kagak ikut masuk tadi,)
(Dih, ngaku-ngaku)
Pintu pun terbuka kembali, menampilkan sosok yang entah sejak kapan terus memenuhi volume otakku,dan secara kebetulan menjadi pelipur sakit yang mendera fisik ku.
Penyakit maag yang sudah lama diidap oleh tubuhku, kini tiba-tiba saja kambuh lagi.
Mungkin karena waktu istirahatku yang kacau dan pola makan yang asal-asalan, menjadi salah satu pemicunya.
Ku kira dia sudah pergi?
Ternyata masih setia menemani abang Rojali.
Aku menengok gadis yang sejak pertemuan itu, selalu ada si setiap untaian doaku.
Bayangannya selalu ada di ujung harapku.
Entah kenapa, pertemuan pertama itu begitu membekas di ruang terdalam jiwa ini.
Seakan mengisi ruang hampa yang sekian lama kosong tak terisi.
Hingga tak sadar hati ku bernyanyi.
Terpesona ku pada pandangan pertama.
Dan tak kuasa tuk menahan rinduku.
Senyumanmu slalu menghiasi mimpiku
Ingin ku peluk (eh jangan di terusin dah, belon halalan toyyiban, dosa coy!)
Kesan yang unik, lucu, namun hangat.
Begitu membekas hingga terkenang.
Mencipta rindu yang entah sejak kapan membuat sarang di pelupuk mata.
Meski ini bukan kali pertama aku mengalami, jatuh hati kepada makhluk indah, ciptaan Tuhan yang berwujud manusia,dan bergenre wanita.
Tapi itu dulu, sudah lama sekali kurasa,karena ada di masa, dimana aku mengenyam pendidikan.
Menempa diri dengan ilmu.
Di sebuah universitas tinggi di jakarta.
Sebelum, aku faham dan mengerti.
Karena itu aku menyebutnya"zaman kebodohan".
Namun, dia(dulu) yang ku harap akan selalu ada di sisi, menemani keterpurukan dan kekecewaan dalam diri.
Ternyata semua di luar kendali hati.
Dia pergi, menjelajah kepada hati yang lain.
Yang lebih bisa berkontribusi dalam memenuhi segala ambisi dan juga properti.
Sejak saat itu, aku tak pernah berani untuk berfikir.
Bahkan, tak pernah percaya,apalagi mendamba untuk jatuh cinta.
Bukan takut untuk mengalami luka lagi.
Tetapi, hanya tak ingin mengecewakan hati. Yang berharap untuk kedua kali.
Kenapa, ketika bertemu dengannya, menatap matanya, meresapi senyumnya.
Menelan semua kejudesannya.
Kesan antipati nya, membuat penasaran.
__ADS_1
Kenapa hati ini berbeda?
Kenapa ia mengkhianati perjanjian tak tertulis?
Kenapa ia melemah, hanya karena tatapan dari bola mata lucu dan menggemaskan ketika mendelik sebal.
(Aih, bucin... bucin...)
Lamunanku terhenti,seketika aku kembali ke masa kini,masa dimana ketika netra ini kembali terpekur satu sama lain.
Pertemuan ini, aku yakin tak lain dan tak bukan, adalah skenario yang sudah tersusun dan terencana kan.
Oleh kehendaknya, Sang penguasa jagad alam.
Aku memandangnya, ah tidak, dia juga memandangku.
Ah, ya, tepatnya kami kembali saling memandang.
Mungkin kalau ada Ikke Nurjanah sama Aldi Bragi udah dinyanyiin.
*Memandang mu walau selalu
Tak akan pernah beri jemu di hatiku
Menyapamu walau selalu
Masih terasa merdu bagai di awal jumpa
Mencari apa yang aku cari
Merangkai rindunya hatiku
Bulan bawa bintang menari, iringi langkahku (iringi langkahku)
Malam hadir bawa diriku, berjumpa denganmu
Dua hati satu tujuan, melangkah bersama.
Cinta hadir bawa diriku menyentuh indahnya*.
"Bang, "
sapa lembut dari bibirnya mengembalikan ku dari lamunan syahdu nan halu.
"Eh, iya Dek, "
Jawabku
"Aku, permisi pulang dulu, "
ucap Fatimah berpamitan pada ku.
"Ah, iya..., "
aku menjawab lesu.
"Abang gak mungkin menahan Adek lebih lama lagi di sini, "
"Kamu juga pasti capek, hari libur kerja kan harusnya istirahat di rumah, ngumpul sama ummi, ayah dan si kembar ganteng, "
"Tapi, malah terjebak di sini, di repotin sama orang gak jelas, "
lirihku, tak enak hati,merasa bukan siapa-siapa.
Tak punya hak untuk menahannya lebih lama di sini.
Fatimah, melongo karena sifat pemuda di hadapannya ini mendadak berubah mellow.
(Lah, napa ni orang jadi baper gini?)
( Sebelom, di periksa suster, masih tengil dan selengean?)
(Apa tu suster udah ngasi obat yang salah kali ya?)
(Eh,)
Selalu dukung Kesayangan klean ye, siapa lagi kalo bukan Fatimah dan Bang Ali...
hihii...
Cara dukungnya gampang kok, cuma like , vote , gift dan komen gummush
otor tunggu... uhhuii
__ADS_1