
๐ฆDoa itu bukan untuk mengingatkan Allah tentang masalah yang kita hadapi.
Doa itu adalah mengingatkanmu akan siapa Allah itu.
๐ฆ
***~~~***
Hujan yang mengguyur sejak beberapa jam yang lalu.
Diharapkan dapat mendinginkan hati dan otak yang dipenuhi amarah.
Meski luka di sekujur tubuh basah dan perih.
Tapi itu masih tak seberapa, dibanding luka yang menganga sedemikian besar di hati.
Menciptakan lubang nestapa yang memendam benci.
Itu manusiawi.
Itu wajar.
Itu lumrah.
Bila hati terluka tatkala di sakiti.
Bila hati membekas benci tatkala di khianati.
Bila hati mendendam akan luka yang hanya akan sembuh oleh waktu.
Karena kita manusia.
Bukan malaikat.
Menangislah, agar sesak di dada terkikis, lewat airmata dan jeritan yang tumpah.
Karena, sejatinya,tangisan dan air mata adalah obat dan perantara untuk kita dapat mengikhlaskan apa yang terjadi.
Yakinlah, kau akan kuat dan tegar lagi, setelah meluapkan apa yang kau rasakan.
Hanya saja, luapkan lah pada jalan dan alur yang benar, bukan menyimpang.
Karena bila kau mengambil jalan yang salah, bukan jalan keluar yang kau raih.
Tetapi, masalah baru yang akan sentiasa mengikuti.
Itulah yang di lakukan Fatimah,ia menangis dan meraung.
Di bawah guyuran hujan .
Ia duduk berlutut di atas rumput yang basah.
Ditemani Sahabatnya Nur dan juga seorang lelaki yang sudah menolongnya di saat genting.
Dialah, Rojali.
Rojali faham bahwa Fatimah harus meluapkan emosinya.
Semua kekecewaan itu dan juga sakit hatinya.
Ia tidak ingin bila gadis yang di cintai nya dalam diam ini tertekan.
Jadi, dia mencari kan tempat yang luas.
Rojali membawa mereka ke sebuah hutan pinggir kota yang terdapat danau buatan di sana.
Sebenarnya ketika mereka berangkat, hujan belumlah turun, hanya saja langit memang sudah berselimut awan mendung.
Dia saja yang bukan korban, merasa sangat geram dan benar-benar mengutuk perbuatan Tina dan mereka semua yang terlibat dalam kejahatan berencana itu.
Ia tak habis fikir, bagaimana ada seorang sepupu yang begitu kejam, menjebak saudarinya sendiri.
Ia teringat cerita dari Nur beberapa waktu lalu, ketika mereka memeriksakan luka Fatimah di klinik.
*Flashback*
"Maaf, situ gapapa? "
tanya Rojali pada Nur karena melihat bekas merah dipipi yang kentara membekas kan jejak telapak tangan.
"Nur, gapapa, Bang, "
jawab Nur singkat, sambil sekilas memperhatikan lelaki gondrong di sebelahnya ini.
__ADS_1
Batinnya bertanya, bagaimana lelaki ini bisa hadir tepat pada waktunya?
Jiwa kepo nya meronta, ketika wajah sangarnya mendadak lembut tatkala menatap sahabatnya yang penuh luka lebam di wajahnya.
Berbagai tanya mencuat di dalam benak gadis tomboy ini.
Tatkala ia melihat kekhawatiran yang begitu tercetak jelas di raut wajah lelaki yang hanya mengenakan kaos oblong itu.
"Em, Gue boleh nanya gak? "
tanya Rojali penuh harap.
Ia menatap sendu gadis yang duduk di sebelahnya.
"Boleh, Bang, nanya aja, "
jawab Nur, karena ia yakin bahwa lelaki yang sedang berhadapan dengannya, adalah orang yang bisa di percaya.
"Fatimah sempet chattingan sama gue, kalo dia lagi interview, "
"Ada sepupunya yang nawarin kerjaan sebagai kasir di cafe kawannya, "
jelas Rojali.
"Apa kalian gak nanya dulu itu cafe apa? "
tanya Rojali.
"Kita berdua sempet curiga, Bang, "
"Kalo cafe itu, kamuflase, "
"Cuma kita gak nyangka aja, kalo ternyata niat Tina sejahat ini, "
"Makanya, pas kita berdua di suruh minum cairan merah itu,"
"Kita sepik aja, cuma nyeruput sedikit doang dan kita buang lagi, "
"Tapi tetep aja efeknya, bikin kunang-kunang dan panas, "
ucap Nur sembari menunduk.
Rojali seketika membulatkan matanya, ia kembali mengepalkan tangannya,kemudian mencengkram pada kursi yang di duduki nya.
seru Rojali hendak beranjak berdiri.
"Gak usah Bang! "
"Kita udah nenggak minyak kayu putih tadi, sampe lidah Nur kebas, "
jelas Nur menahan pergerakan lelaki yang rambut gondrongnya di kuncir itu.
"Hah! "
Rojali terperangah, darimana ide meminum cairan minyak kayu putih bisa menghilangkan efek obat perangsang.
"Gue bakalan tetep minta obat,"
"Biar kata lu berdua udah ngebuang minuman itu, "
"Gua takut ada yang udah sempet ketelen biarpun sedikit, "
*flasback off*
Rojali kembali merenung.
Bagaimana kalau seandainya kedua gadis ini tidak bisa ilmu beladiri.
Entah apa yang terjadi?
Bahkan mereka berdua sempat di cekoki obat laknat itu.
Rojali meremas rambutnya, ia tak habis fikir.
Bahkan ia tak berani memikirkan akibatnya.
Mereka gadis yang kuat, hanya saja musuh yang di hadapi tidaklah sepadan.
Untung saja Rojali berhasil menerobos lampu merah yang tidak terekam cctv .
Kalau tidak, mungkin saat ini ia sudah kena tilang online.
Apalagi tadi ia mengebut macam pembalap yang melintas di atas sirkuit.
__ADS_1
Ternyata si Jambul mendukung penunggangnya kali ini.
Ia begitu perkasa di atas aspal tadi.
Padahal biasanya suka mendadak mati.
Apa karena baru ganti aki dan oli.
__
Fatimah masih terisak kuat.
Nur, terus menggenggam tangannya.
Dan, sesekali menghapus aliran air mata yang bercampur dengan tetesan hujan.
Tubuh mereka berdua sudah menggigil, namun rupanya gadis yang terluka di hatinya itu.
Masih enggan beranjak dari situ.
Mungkin, Fatimah ingin melepas kesakitan nya.
Agar segala luka dan rasa kecewa terhadap saudara masa kecilnya menguap.
Terbawa arus dari guyuran hujan, menjauh dari sesal yang akan menggerogoti hati nya suatu hari nanti.
Di bawah guyuran hujan yang sudah tidak sederas tadi.
Rojali tak bergeming, dan sama sekali tak memindahkan pandangannya sejengkal pun dari gadis yang sedang berlutut di dalam rengkuhan sahabatnya.
Ia menautkan kedua tangannya, meremas jemarinya sendiri.
Ia , butuh pelampiasan juga sepertinya.
Ia merasa tak terima, gadisnya di buat seperti itu.
Ingin rasanya ia yang merengkuh tubuh lemah yang naik turun di dalam sesenggukan nya.
Seandainya ia boleh?
Seandainya ia berhak?
Ingin rasanya ia yang menyapu derai air mata yang mengalir deras tersamarkan air hujan.
Tapi, apa dayanya?
Ia hanya bisa menyaksikan gadisnya terluka sedemikian rupa.
Rojali pun menghela nafasnya dengan keras.
Ia mengambil sebuah batu, dan melemparnya jauh ke atas sungai.
"AARRGGGHHH...! "
Teriakannya tertelan suara hujan dan tersapu angin.
Setidaknya ia puas.
Rojali, menyeka air yang tiba-tiba merosot dari ujung matanya yang memanas.
(Kenapa hatiku sakit sekali melihat mu seperti ini?)
(Ingin rasanya aku merengkuhmu, membawamu dalam pelukanku)
(Bahkan, ketika papa mengusirku, dan aku di pisah dari mama juga Jihan adik ku,aku tidak sedikit pun menangis)
(Tuhan, kenapa takdirnya begitu malang?)
(Izinkan aku bersatu dengannya, aku tak ingin ada siapapun lagi yang menyentuhnya, apalagi melukainya)
Rojali memejamkan matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas.
Membiarkan tetes air yang tinggal gemericik itu menghujani wajahnya.
Semoga doa Babang Rojali diijabah ya.
Soalnya waktu hujan adalah waktu yang paling bagus untuk berdoa.
Hayyo?
Siapa yang suka menghujat hujan?
Like , gift, vote or komen pliss... ๐
__ADS_1