Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Menuju nirwana bersamamu


__ADS_3

___🍁🍁___


💖💖Lebih dari sekedar memenuhi janji, bersamamu malam ini adalah anugerah yang tak terkira.


Duduk berdua, saling menggenggam jemari di tengarai gerimis satu-satu. Bahagiaku telah mematuk nyata.


Membilas senja bersamamu, di timang getar yang diam-diam menjelma tanpa ampun.


Jika bertemu denganmu adalah takdir Tuhan,


maka jatuh cinta padamu,bukanlah hal yang aku rencanakan.💖💖


*****


💖Fatimah POV💖


Aku merasakan sesuatu yang berat menindih ku,hingga kaki ini seakan sulit untuk ku gerakan. Ku rasakan pegal pada punggungku, ingin rasanya aku bergerak dan menggeliat, akan tetapi raga ku seakan ada yang mengikat.


Ku paksakan bola mata ini membuka, meski kantuk masih menggelayut di kedua kelopak nya.


Aku mengerjapkan kedua mata untuk beberapa saat, menyesuaikan retina dengan pendar cahaya, yang merangsek masuk melewati celah jendela kaca.


"Ough," lenguh ku, ketika sesuatu yang berat itu semakin membelit ku kencang.


Aku meraba sesuatu yang bidang serta dingin, sebenarnya aku sangat nyaman berada di posisi ini, hanya saja tubuh penat dan lengket ini harus di bersihkan, belum lagi lambung kosong ku seakan menjerit minta diisi.


Ketika kedua mata ini telah membuka sempurna. Pertama kali yang ku lihat adalah dia, wajahnya yang polos ketika sedang tidur.


Ku angkat sedikit keatas,selimut putih yang menutupi tubuh polos kami.


Teringat kembali penyatuan sempurna selepas subuh tadi, karena sempat gagal di malam tadi, membuat kami penasaran dan akhirnya mengulangnya kembali.


Aku pun tak tega melihat abang menunda, yang seharusnya ia lepaskan sejak sepuluh hari yang lalu.


Syukurlah,ternyata rasa sakit itu tidak lah terlalu perih seperti di awal,aku bisa menahannya tadi.


Meski pun aku harus menyatukan gigi agar pekik kesakitan ku tidak terlepas lagi.


Kasian abang, karena masalah yang terjadi, malam indah kami tertunda hingga lewat sepekan lebih. Karena waktu kami sudah banyak terlewati di rumah sakit, meskipun sempat pulang ke rumah, kami hanya tidur berpelukan karena tubuh yang lelah dan pikiran yang terkuras, membuat gelora itu tertahan.


Aku paham abang sangat menginginkannya sejak malam pertama di rumah ayah.


Hanya saja, saat itu aku sedang berhalangan.


Kemudian, esoknya kami pindah ke rumah abang, yang ternyata telah di renovasi secara diam-diam oleh mama. Permintaan maaf kepada abang katanya, karena selama lima tahun, mama seakan abai.

__ADS_1


Karena mama sempat sepemikiran dengan papa.


Hingga, akhirnya, berita kecelakaan mama membuat dunia abang seakan runtuh seketika, aku bisa merasakan bagaimana ketakutan itu, keresahan yang selalu menghias wajahnya.


Kemudian, kabar baik itu datang, mukjizat Allah turun, mama sadar setelah tiga hari koma dan sempat anfal, hingga dokter mengatakan bahwa semua tanda-tanda vital mama telah berhenti.


Ku ingat saat itu papa hampir pingsan, sedangkan abang tak mampu bersuara apalagi menangis, mereka syok berat dan sangat terpukul, hanya Jihan adik ipar ku yang histeris tak karuan.


Segala puji bagi Allah,Tuhan semesta alam.


Mama mati suri selama kurang lebih enam jam, kemudian Allah mengembalikan lagi ruhnya ke dalam jasad, memberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki apa yang rusak dan salah dalam hidup. Hingga monitor yang memantau alat-alat vital mama kembali menyala.


Semua telah terlewati, kurasa kini hanya akan ada kebahagiaan yang akan menyelimuti kisah hidup abang.


Aku berjanji, akan menjadi salah satu sumber kebahagiaan abang.


Aku bergerak perlahan, berharap pergeseran tubuh ku tidak akan membangunkan lelapnya.


Sepertinya abang sangat lelah, tenaganya seakan terkuras setelah aksi penjebolan gawang.


Tanpa sadar, bibirku melengkungkan senyum, mengingat momen indah, yang membuat ku seakan melayang ke nirwana.


Nikmat tuhan yang manakah,yang kau dusta kan?


Apakah akan senikmat ini?


Jika label halal itu belum kau kantongi?


Jika ridho itu belum kau raih?


Hubungan yang halal itu sudah pasti lebih nikmat, karena tidak ada rasa takut di sana. Semua rasa membaur menjadi kesatuan, yang membuat gairah dan hasrat itu membuncah melenakan.


Tentu,berbeda dengan hubungan haram yang terlarang.Melakukannya dengan terburu-buru dan ketakutan,diam-diam dari pengetahuan manusia.Hingga mereka lupa,ada yang maha melihat sedang menyaksikan nista mereka.


Ku tatap lagi bibir tipis yang sensual itu,apalagi kalau sudah mengecup,membuat ku lupa akan segalanya.


Aku teringat sikap lembut abang semalam,setelah kami solat hajat sebanyak dua rokaat. Berharap ibadah yang akan kami lakukan,mendapat ridho dan bimbingan dari Allah.


Masih terpatri di memori ku, bagaimana abang memperlakukanku dengan sangat hati-hati, perlahan dan tidak terburu-buru.Ia mengecup keningku, kemudian mengucapkan doa sebelum bersetubuh.


**Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathana marazaqtana.**Artinya : “Deqngan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami,” (HR Bukhari).


Sentuhan dari lawan jenis yang belum pernah ku rasakan di seluruh area kulitku.


Membuatku merasakan sensasi, yang tak dapat ku ceritakan, tak dapat ku gambarkan bagaimana geliat gelora yang membuncah pada malam istimewa itu.

__ADS_1


Dimana peluh kami menyatu, tanpa ada sehelai benang pemisah raga, tanpa ada selembar kapas pembungkus badan. Semua yang telah halal tak memberi jarak, sehingga setiap sentuhan dan deru nafas yang di nilai ibadah itu, mencipta anti bodi serta menaikkan sistem peningkat imun.


Hingga,tanpa ku sadari aku memekik kencang, ucapan istighfar itu di barengi dengan derai air mata yang meleleh di kedua pipiku.


"Ya Allah, maafin Abang, Dek!" paniknya langsung memisahkan bagian inti kami. Kemudian ia bergeser kesamping tubuhku, menyeka air mata ini dan mengecup kedua kelopak mata yang basah.


Mata sendunya menatap ku penuh sesal.


"Perasaan,Abang tadi udah pelan, Dek. Maaf ya sayang," lirih nya kemudian berkali-kali mengecup seluruh area wajah ku.


"Kamu istirahat aja ya," ucapnya sambil merapikan rambut yang menutupi wajahku. Aku mengangguk dengan sisa tangis ku.


"Kenapa rasanya sesakit ini?"


Aku merasa bersalah karena belum bisa memberikan hak nya malam ini.


Bagaimana lagi, rasanya seperti tersayat, begitu perih.Dan, aku pun merasakan ada cairan hangat mengalir menambah sensasi perih itu, hingga ke ubun-ubun.


Ingin rasanya aku berlari ke kamar mandi, tapi, apalah daya, tubuh bagian bawahku terasa susah untuk di gerakkan.Lagi pula kata abang, nanti saja membersihkan nya. Akhirnya aku memutuskan tidur di dalam dekapannya saja.


"Maafin, Adek, ya Bang," lirihku pelan sambil mendusel di dada terbukanya.


"Iya, sayang, Abang ngerti, Abang akan sabar," sahut lelaki itu kemudian mengecup bibir ku singkat.


"Maafin Adek juga, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya,"


Abang pun bertanya mengapa aku tak mau menikah dengannya? dan apakah aku menyesal menikah dengannya?


Sambil tersenyum, aku pun menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu."


Blush...


(Masyaallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri kepada suaminya.🥰😍)


Lelaki, yang telah berlabel suami ku itu pun mendekap dengan erat, sambil berbisik ia berkata, "Besok kita coba lagi ya...,"


"O, oow...,"


💖Fatimah POV end💖


TUBI KONTINYU...........


Kurang?


Mao nambah?

__ADS_1


Jempol dulu dong ahh...😙


__ADS_2