
___®®___
Setelah menemui abi Fatih dan mendapat wejangan serta nasehat dari sang guru.
Rojali memutuskan akan menemui ayahnya.
Sebelum itu,ia haruslah bicara dan tukar fikiran dulu dengan mama dan juga adik perempuan satu-satunya.
Ia mengikuti saran Jihan.
Adiknya itu memang kebanyakan nonton film dan drama,sehingga isi kepalanya terlalu banyak khayalan dan fantasi.
Akan tetapi,itu lumayan membantu di situasi yang sedang terjadi saat ini.
Sebenarnya,Rojali sempat menolak dua rencana gila dari adiknya itu.
Rasanya,ingin ia siram kepala Jihan dengan air asinan yang asam pedas.
Supaya sadar dan kembali kepada realita.
Bagaimana mungkin lelaki se gagah dan se macho dirinya.
Harus berdandan seperti tante-tante dengan rambut palsu yang panjang dan ikal.
Atau dengan kerudung dan gamis panjang.
Akhirnya ia menggunakan ide nya sendiri agar dapat menyusup masuk kerumah besar itu.
Tanpa di curigai dan di kenali oleh siapapun.
___❤___
Mama mirna yang sudah tau rencana penyusupan dan penyamaran itu pun menjadi bersemangat pagi ini.
Ia masak begitu banyak dan bermacam-macam.
Beberapa dari masakan itu adalah kesukaan dari anak lelakinya itu.
Rencana ini memang di eksekusi ketika papa Adiguna libur dan ada di rumah.
Adiguna yang memang pembawaannya cuek.
__ADS_1
Benar-benar acuh dengan aktivitas tak biasa yang dikerjakan oleh istrinya.
Ia bahkan tak dapat membaca ekspresi sumringah dari wanita paruh baya yang sudah memberinya putra dan putri itu.
Mirna meletakkan kopi tanpa gula yang masih mengepulkan uap panas itu,ke atas meja bundar di hadapan Adi guna yang sedang intens menatap pada layar laptopnya.
"Hari libur santai kenapa si Pa!"
"Biar kerutan gak tambah banyak,"sindirnya sambil meletakkan tubuhnya di kursi rotan itu.
Adiguna hanya sepintas melirik dan kembali fokus pada apa yang di lakukannya sejak tadi.
" Kamu tu ngejar apa si Pa?"
"Kaya,udah."
"Harta,banyak."
"Kedudukan,tinggi."
cecar Mirna gemas melihat kesibukan prianya yang tak kenal waktu dan tempat itu.
"Urusan ku!"
sarkas Adi guna melirik sebentar kemudian membenarkan letak kacamata nya.
"Berpuluh tahun mendampingiku,"
"Seharusnya kau tau,"
"Aku,paling tidak suka di dikte!"
Adiguna kemudian berdiri dan hendak berlalu meninggalkan kopi yang bahkan belum di liriknya itu.
Aura dingin itu ternyata sudah menyulut bara di dalam sekam.
"Sekarang,aku tahu apa itu penyesalan!"
"Ya,penyesalan terbesarku,adalah bertahan mendampingimu!"
"Berharap kau berubah dan sadar!"
__ADS_1
ucapan Mirna sontak menghentikan gerakan Adiguna.
"Tapi semua harapan itu ku sadari adalah kemustahilan,"
"Berharap kau berubah,sama saja berharap agar batu kali menjadi bongkahan emas!"
Mirna berteriak kepada lelaki tegap yang berdiri membelakanginya.
Meski pria yang berambut setengah putih itu,tetap tidak bergeming dalam posisinya.
Namun,terlihat ia mengatupkan rahangnya kuat.
Menahan emosinya yang hampir meluap.
Mirna terus saja mengeluarkan semua isi hatinya saat ini.
Sesak yang ia pendam bertahun-tahun.
Kini bagai larva yang di muntah kan oleh gunung merapi.
"Kau bahkan menyiksa dirimu sendiri!"
"Menyiksaku dan juga anak-anak kita!"
"Lalu untuk apa dan siapa harta yang kau kumpulkan ini!"
"Aku muak dengan kemewahan yang menggerogoti hidup ku dan juga putriku secara perlahan."
"Tutup mulutmu,Mirna!"
"Jangan kau fikir aku tidak bisa bertindak tegas terhadap dirimu!"
ucap Adiguna tegas penuh penekanan.
"Kau,bukan manusia,kau sudah berubah menjadi iblis Adi guna...!"
Mirna berteriak histeris dan menangkis cangkir kopi panas di atas meja.
Hingga suara dentingan beling pecah menyusul pekikan nya.
__®®___
__ADS_1
Segini dulu ya gaes,,
Nanti klo ada waktu lagi chibi bakalan up lagi.