Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Mengobati Kekecewaannya


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Takdir sepertinya sedang bercanda, bagaimana tidak Kasih saat ini dibuat ternganga ketika dirinya ditentukan menjadi pemeran utama wanita pada drama yang akan mereka mainkan bersama dengan Genta sebagai pemeran utama prianya.


Bukan hanya Kasih, Clara dan Rania pun sama syoknya dengan keputusan yang baru saja dibacakan oleh para pembina. Berbeda dengan Genta yang terlihat begitu senang menerima keputusan untuk berperan bersama Kasih.


"Akting saya gak terlalu bagus Kak, saya rasa ada yang lebih pantas memerankan peran utama ceweknya dibanding saya!" Kasih mencoba menolak keputusan tersebut.


"Maaf Kasih, keputusan yang sudah dibuat gak bisa lagi diubah. Lagian di sini tempatnya belajar kok, jadi kalo kamu ngerasa belum bagus berakting kamu bisa sekalian belajar kan?" tolak Zaskia, salah satu pembina.


"Tapi Kak, saya ngerasa gak adil aja. Ada yang lebih bagus bakat aktingnya, kenapa harus saya? Saya mah cukup kebagian peran yang gak begitu menonjol aja Kak, sekalian belajar sama yang lebih bisa" terlihat wajah Kasih begitu enggan mengemban tugas sebagai pemeran utama di drama pertamanya ini.


Zaskia dan beberapa pembina mendessahkan nafas mereka berat menghadapi Kasih yang terus menerus mencoba menolak keputusan para pembina dan juga pelatih, "Kasih, di sini cuma kamu yang bisa bernyanyi sambil memainkan alat musik. Toh kamu dipilih setelah melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang, bukan asal pilih aja dan ingat kamu dan Genta juga pemeran lainnya dipilih langsung sama pelatih kita!" tegas Zaskia sekali lagi.


Mendengar penjelasan Zaskia yang sepertinya tak bisa diganggu gugat lagi, Kasih pun dengan berat hati berusaha menerima keputusan yang sudah diambil, ia juga sempat melirik ke arah Genta yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan.


Hari ini, mereka hanya mengisi latihan dengan instruksi dan penjelasan tentang peran masing-masing pemain. Ada tiga pelatih yang akan mengajar mereka nantinya dan berharap mereka mulai melakukan pendekatan agar lekas terjadi chemistry diantara semua pemeran, terlebih pemeran utama.


Kasih menatap tak suka saat Genta mendekatinya, sungguh saat ini ia tak mau sama sekali berinteraksi dengan ketiga orang yang sudah menyakitinya, salah satunya Genta.


Bahkan tadi pagi ia sudah meminta Dewa untuk memaketkan tas pemberian Genta agar dikirimkan ke alamat rumah Genta.


Kasih memilih cara tersebut karena ia tahu betul Genta tak akan menerima kembali tas tersebut jika diberikannya secara langsung.


"Hai!" sapa Genta terlihat canggung.


"Gue minta maaf" ucapnya lagi karena Kasih tak kunjung membalas sapaannya, juga memasang wajah bermusuhan yang teramat kentara.


"Kalo udah selesai sama permintaan maaf elo, mending sekarang elo pergi. Gue bener-bener enggak mau ngomong sama elo, sama Kak Rangga dan sama cewek bego elo!" ketus Kasih tanpa mau melihat sama sekali ke arah Genta.


"Gue tau gue udah keterlaluan, maaf kalo gue--" penjelasan Genta terpaksa terputus saat Kasih dengan tatapan penuh amarah dan sakit hati menyelaknya.


"Genta, cukup! Gue bener-bener enggak mau denger penjelasan apapun dari kalian, hati gue masih terlalu sakit. Tolong, sementara ini izinin gue buat enggak berinteraksi sama kalian semua!"


Genta menatap iba pada Kasih yang matanya mulai berkaca-kaca, hatinya begitu perih saat melihat pancaran luka dari mata indah gadis cantik dihadapannya, "sayangnya kita bakal terus berinteraksi karena kita berada di organisasi yang sama, bahkan di project yang sama!"


"Ya gue tau itu, biarpun berat tapi gue terima itu. Tapi tolong di luar project kita lebih baik kita enggak saling kenal!" tegas Kasih mengusap air matanya yang dengan tanpa permisi jatuh membasahi pipi mulusnya.


Merasa tak ada lagi yang mau diungkapkan, Kasih memilih meninggalkan Genta yang terus menerus memandanginya dengan tatapan penuh rasa bersalah.

__ADS_1


Benar saja, Kasih cukup profesional. Ia begitu menerima dan menjalani dengan baik intruksi dan penjelasan yang diarahkan oleh para pelatih, bahkan ketika ia harus mencoba untuk sedikit beradu akting dengan Genta.


Seakan tak punya masalah, Kasih begitu luwes beradu akting dengan Genta. Hal tersebut membuat para pelatih, pembina dan para pemain yang berperan cukup merasa puas, kecuali Clara dan sepertinya juga Rania.


"Elo hebat" puji Genta saat mereka baru saja menyelesaikan adegan mereka, namun ditanggapi dingin oleh Kasih yang langsung melengos pergi.


***


Kasih duduk seorang diri di halte bus depan sekolahnya, menunggu Dewa yang akan menjemputnya. Dilihatnya jam menunjukkan pukul setengah enam sore membuat Kasih mencebikkan bibirnya, kesal karena lagi-lagi Dewa terlambat menjemputnya.


Kekesalan Kasih bertambah saat ponselnya berdering dan melihat nama pemanggil dilayarinya adalah Dewa, karena ia tahu betul Mas Dewa nya akan menelpon dirinya di waktu krusial seperti saat ini untuk memberikan seribu alasan mengapa dirinya tak jadi menjemput.


"Adekku yang cantik, maaf ya Mas Dewa mu yang rupawan enggak bisa jemput. Ada acara dadakan di kampus" ucap Dewa dibuat sejenaka mungkin untuk menghindari amukan adik kesayangannya.


"Kebiasaan deh! Bisa enggak sih ngasih taunya enggak dadakan gini!" sungut Kasih.


Dewa bisa membayangkan wajah menggemaskan sang adik saat merajuk seperti saat ini, "acaranya juga dadakan sayang, maaf ya. Tapi gue udah nyuruh Rangga nganter elo pulang kok!"


"APAA?" pekik Kasih.


"Gue udah nyuruh Rangga nganter elo pulang, kenapa sih kaget gitu?"


"Mas Dewa ihh, sembarangan banget deh! Kenapa sih enggak konfirmasi dulu ke aku? Tau aku lagi enggak mau berurusan sama Kak Rangga!" salak Kasih.


"Kenapa sih emangnya? Ehh, dilanjut nanti di rumah aja ya, gue mau cabut dulu!" Dewa langsung memutuskan panggilan telpon mereka sepihak membuat Kasih mencebikkan bibirnya.


Cepat-cepat Kasih membuka aplikasi ojek online nya untuk memesan ojek, ia sangat berharap ada satu ojek yang mau menerimanya karena di jam saat ini pasti banyak yang akan menolak mengambil dirinya.


Benar saja, Kasih mendengus kesal saat pesanannya yang kedua kali kembali ditolak.


"Ishhh, kenapa sih Bude nyari rumah jalannya rawan macet!" gerutu Kasih dalam hati sambil mencoba memesan untuk yang ketiga kalinya.


"Sayang.."


Kasih langsung menghentikan kegiatannya saat dia mendengar sapaan dari suara berat yang begitu familiar di telinganya.


"Aku anter pulang kamu ya, tadi Mas Dewa udah minta sama aku buat nganter kamu pulang" lanjut Rangga, namun tetap ditanggapi dingin oleh Kasih.


"Enggak usah, aku udah dapet ojeknya!" ketus Kasih begitu membuat hati Rangga sedih.


"Sayang, kita butuh ngomongin masalah kemarin. Please, mau ya?" pinta Rangga begitu memelas.


Lagi-lagi Kasih tetap menanggapinya dingin, ia seakan tak peduli dengan permohonan yang begitu memelas dari cowok yang masih berstatus pacarnya itu.

__ADS_1


"Kayaknya udah enggak ada yang perlu kita omongin lagi Kak, kemarin udah jelas banget kok. Aku udah sadar diri, aku emang enggak pantes buat Kak Rangga. Malah nih ya aku enggak pantes ada di sekitaran kalian. Udah bisa sekolah di sini aja kudunya aku udah cukup tau diri!" sarkas Kasih dengan tatapan dingin penuh amarah.


"Kasih please, kita butuh ngomong Sayang! Aku bener-bener minta maaf udah nyakitin perasaan kamu" Rangga memberanikan diri untuk menggenggam tangan mungil Kasih.


Kasih tak menolak genggaman tangan Rangga, hanya saja ia langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca dan siap meluruhkan air matanya.


"Aku sakit hati sama Kakak!" ungkap Kasih dengan suara tercekat.


"Aku tau Sayang, maaf."


"Aku marah, marah banget sama Kakak!"


"Aku emang pantes kamu marahi, tapi aku bener-bener minta maaf sama kamu!"


Kasih langsung menundukkan kepalanya, terdengar isakan yang begitu memilukan dari gadis cantik itu.


Hal tersebut sungguh membuat hati Rangga perih, kini ia menyadari jika dirinya sudah sangat menyakiti hati sang pacar.


"Aku enggak tau salah aku apa sama kalian bertiga, kenapa kalian sampai hati ngehina aku, ngerendahin aku, nuduh aku macem-macem.." Kasih terus terisak menumpahkan keluh kesahnya.


Rangga sendiri membiarkan sang kekasih untuk terus mengungkapkan kekesalannya tanpa mau menjedanya sama sekali.


"Aku dilecehin.." lirih Kasih semakin menundukkan wajahnya.


"Aku enggak bisa ngelawan sama sekali, aku kalah tenaga, aku cuma bisa pasrah ngebiarin dia memperlakukan aku semaunya.."Kasih melepaskan salah satu genggaman tangan untuk menyusut air matanya.


"Aku, aku pasrah bukan karena aku menikmatinya. Aku hancur, aku terhina. Aku..." Kasih tak mampu lagi berucap, ia langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyembunyikan isakannya yang semakin menjadi-jadi.


"Saat Kakak dateng, aku pikir malaikat penjagaku bakal nolong aku, bakal ngehajar orang yang ngelecehin aku, tapi nyatanya Kak Rangga malah nuduh aku macem-macem dan rasanya itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan" isakan Kasih sama sekali tak berhenti.


Kasih mulai memberanikan diri menatap kekasihnya yang saat ini sudah mendudukan diri di sebelahnya, setelah berkali-kali mengusap air matanya yang sama sekali tak bisa berhenti, "Kak Rangga tau rasanya saat Genta ngelecehin aku, aku sakit Kak, sakit banget. Aku ngerasa kayak cewek yang enggak punya perasaan yang seenaknya bisa dia perlakuan. Aku lebih baik dipukul, daripada dilecehkan kayak kemarin. Aku memang lahir bukan dari keluarga berada, tapi orang tuaku, Bude dan Mas Dewa selalu mengajari aku untuk menjaga diri dan menghargai diri sendiri juga orang lain!" lanjut Kasih menatap penuh yakin ke mata sang pacar.


"Maafin aku, Sayang. Aku mohon!" pinta Rangga sekali lagi, ia tak mampu membela diri karena memang kemarahan Kasih pada dirinya sangatlah mendasar.


Bagaimana bisa, sebagai seorang yang harusnya menjaga dan melindungi kekasihnya justru malah menuduhnya yang bukan-bukan, bahkan dengan tuduhan yang begitu menyakitkan karena merendahkan sang kekasih.


"Aku butuh waktu Kak, hati aku terlalu sakit, aku terlalu marah sama Kakak!" sahut Kasih tegas.


Rangga hanya mampu menghela nafasnya berat, sungguh ia sangat menyesali sikapnya kemarin.


Ia pun pasrah pada Kasih, wajar jika gadis cantik berstatus pacarnya saat ini membutuhkan waktu untuk mengobati kekecewaannya.


"Tapi mau ya aku antar pulang, Mas Dewa udah minta aku buat nganter kamu sampe rumah?" tanya Rangga penuh harap yang diangguki lemah oleh Kasih.

__ADS_1


Karena toh percuma menolak juga, hari semakin petang dan ojek pesanannya pun tak sama sekali ada yang mau menerima dan ia yakin Rangga tau bualannya jika ia tengah menunggu ojek yang akan mengantarkannya pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2