Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Mati Gaya


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih berjalan gontai menuju ke meja makan, ia sungguh tak bersemangat hari ini mengingat bahwa dirinya tidak diizinkan untuk masuk ke sekolah.


"Kenapa muka lo ditekuk gitu?" Salak Dewa ketika Kasih sudah duduk di kursi sebelahnya.


"Aku boleh masuk ke sekolah ya Mas, please!" Rengek Kasih mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas.


"Badan lo masih anget gini, mau ke sekolah!" Cibir Dewa yang dengan tiba-tiba meletakan punggung telapak tangannya di dahi Kasih.


"Ya angetlah namanya juga orang idup, kalo dingin mayat namanya!" Kasih benar-benar dibuat kesal dengan tingkah Kakaknya itu.


"Enggak, enggak pokoknya lo istirahat total dulu di rumah. Jangan ngebantah lagi!" Tegas Dewa tak terbantahkan.


"Nurut Kasih daripada nekat ke sekolah ehh besok malah tambah sakit terus izin lebih lama enggak enak kan? Udah sekarang makan dulu sarapannya, Bude udah gorengin chicken katsu buat kamu tuh sekalian saladnya!" Ucapan Ranti seketika membuat Kasih berbinar, bagaimana tidak menu sarapan kali ini adalah makanan favoritnya.


"Si Ibu kalo Kasih sakit pasti deh masak makanan favorit dia, giliran aku yang sakit mah cuma dikerik doang. Pilih kasih banget deh..!" Gerutu Dewa dengan memasang wajah kesal.


"Lah kamu kan cowok Wa, udah gede pula masa mau manja-manja gaje sih. Enggak malu sama gayamu yang sok laku itu, yang selalu bilang tinggal lirik aja cewek udah pada nyamperin kamu. Mintalah sama cewek-cewek kamu buat manjain kamu!" Sindir Ranti telak, Kasih yang mendengarnya pun tak dapat menahan tawanya.


"Tawa lo, lucu hah? Pake saos sambel jangan saos tomat doang beraninya!" Ledek Dewa yang melihat Kasih tak sama sekali pernah memakan makanan pedas, sekali pun saus sambal yang tak seberapa pedasnya pun Kasih tak pernah berani.


Sebenarnya Dewa sedikit miris melihat selera makan adik sepupunya yang masih seperti anak-anak yang takut pedas, dimana biasanya gadis seusia Kasih sangat bersemangat memakan makanan pedas bahkan berlomba-lomba makan makanan dengan tingkat kepedasan yang diukur dengan takaran level, tetapi Kasih gadis cantik itu tak sama sekali berminat seperti gadis sebayanya yang lain.


"Kasih lo kenapa gak mau nyoba makan makanan pedes sama sekali?" Tanya Dewa yang tak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Enggak suka aja, gak enak!" Jawab Kasih sambil terus menikmati chicken katsunya.


"Aneh, biasanya cewek-cewek seumuran elo itu senengnya makanan pedes dengan tingkat level tertinggi. Coba dong sekali-kali jangan kayak gini makannya, gak seru banget selera lo. Kayak anak kecil aja!" Ledek Dewa.


"Aku gak bisa makan pedes Mas, tubuh aku intoleran sama capcaisin, kandungan yang terdapat di cabai. Aku bakal sesak nafas kalo kena makanan pedes, muntah-muntah, kadang badan aku juga merah-merah!" Kasih mencoba menjelaskan yang sesungguhnya.


"Masa sih? Ada ya orang alergi pedes, baru denger gue?" Dewa betul-betul dibuat bertanya-tanya dengan penjelasan yang Kasih berikan.


"Makanya kuliah yang bener Mas, jangan ke kampus cuma buat modusin cewek doang!" Sindir Kasih yang langsung dihadiahi jitakan di dahinya oleh Dewa.


***


Dan sore ini ia hanya berleha-leha di kursi goyang belakang rumah Budenya, menikmati angin semilir sore di taman kecil halaman belakang rumahnya.


Kebosanannya bertambah parah ketika sang Bude melarang dirinya untuk turun membantu kedai dan juga Dewa yang tumbenan belum pulang ke rumah membuatnya semakin mati gaya saja.


Tapi kebosanannya seketika sirna saat salah satu pegawai Budenya menghampirinya bersama dengan rombongan teman-teman sekolahnya juga Rangga yang benar-benar menjadi kejutan tersendiri untuknya.


"Ya bisalah, kan ada Kak Rangga yang nanya ke bagian administrasi sekolah alamat elo!" Jawab Rania dengan cengiran khasnya.


"Kalo kita-kita yang nanya mana dikasih..!" Keluh Evelyn.


"Kak Rangga gak sibuk apa sampe nyempetin nengok aku di sini?" Tanya Kasih basa basi.


"Enggaklah, aku sengaja ngajak temen-temen kamu barengan nengokin kamu. Ehh ternyata belum ada satu pun yang tau alamat rumah kamu, tapi yaa karena emang niat nengok kamu ya aku nekat nanya alamat kamu ke administrasi sekolah!" Jawab Rangga malu-malu.


Teman-teman Kasih menangkap ada sesuatu diantara keduanya terlihat dari gerak tubuh serta rona wajah mereka yang memerah.


"Kasih kita gak ditawarin minum? Gue juga belum makan dari siang ini, laper banget!" Celetuk Axel seperti biasa membuat yang lainnya berdecak kesal.

__ADS_1


"Lo bisa gak sih jaim dikit, malu-maluin banget sih!!" Bisik Rania kesal.


"Ayoo kita ke depan, gue siapin makan sama minum. Bude gue masakannya enak, dijamin bakal sering bolak-balik ke sini lagi sekali coba!" Ajak Kasih bersemangat, begitu pula keempat temannya.


***


"Yakin banget deh, masakan Bude kamu pasti enak. Rame banget kedainya!" Puji Rangga yang diangguki oleh semua teman-temannya, saat mereka telah duduk di salah satu sudut meja makan di dalam kedai.


"Ayo cobain, pesen aja yang dimau gak usah malu-malu!" Tawar Kasih menyodorkan buku menu pada keempat temannya.


"Pesen aja beda-beda biar saling nyobain!" Usul Axel.


Mereka pun kini tengah heboh memilih-milih menu yang sekiranya menggugah selera mereka, terkadang mereka juga bertanya-tanya tentang makanan yang sedikit asing buat mereka pada Kasih, Kasih pun dengan sabar dan senang hati menjawabnya.


Setelah memilih menu yang mereka inginkan, kebanyakan pilihan makanan mereka yang terlihat unik dan asing yang belum pernah mereka coba sebelumnya.


Dengan sangat bersemangat, Kasih membantu menyiapkan pesanan teman-temannya. Meskipun Budenya melarang keras dan meminta Kasih untuk duduk menemani teman-temannya, namun Kasih tetap nekat membantu untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para sahabatnya.


"Enggak apa-apa Budeku Sayang, Kasih udah mendingan kok. Kalo dibuat diem aja malah berasa sakit badan Kasih!".


"Kamu itu emang keras kepala kalo Bude yang bilangin, coba kalo Mas Dewa mu yang ngomong mana berani kamu bantah!" Dengus Ranti kesal, namun hanya ditanggapi oleh cengiran dari sang keponakan juga pelukan manja.


"Kalo kamu mau makan apa, hm?" Tanya Ranti yang masih digelayuti oleh Kasih.


"Aku nasi gudeg aja pake pindang telur sama tahu-tempe bacem Bude!" Jawab Kasih kemudian mencium gemas pipi Ranti sebelum beranjak untuk membantu pegawai Budenya mengantarkan pesanan para sahabatnya.


Tanpa Kasih sadari, tingkah Kasih menjadi fokus perhatian Rangga yang tak henti-hentinya memperhatikan Kasih sambil terus mengulum senyuman.


Berbeda dengan Kasih yang tidak menyadari kelakuan Rangga, ketiga sahabat Kasih saling melirik dan saling menyenggol satu sama lain memperhatikan tingkah laku Kakak kelas mereka itu.

__ADS_1


"Gue rasa Kak Rangga suka deh sama Kasih?" Celetuk Axel berbisik agar tidak didengar oleh Rangga yang diangguki oleh dua sahabatnya yang lain.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2