Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Selamat Tidur, Cantik!


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Evelyn : "Kasih, tas Lo udah ada yang minat! Sabtu ada acara enggak? Kalo enggak ke rumah gue ya!"


Kasih langsung berjingkrak kegirangan saat membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya, akhirnya dia bisa memanfaatkan tas pemberian cowok rese itu tanpa harus terpaksa menggunakannya.


Kasih : "Alhamdulillah, sippp deh Sabtu nanti Insya Allah gue ke rumah elo!"


Gadis cantik dengan cepolan rambut asal tersebut langsung meletakan ponselnya usai membalas pesan sang sahabat, ia kemudian menatap paperbag tas branded pemberian Genta dengan lekat.


Ada rasa tak enak hati sebenarnya untuk menjual barang pemberian orang lain, serasa dirinya tak menghargai si pemberi dan sungguh itu bukanlah sifat dirinya yang sebenarnya.


Akan tetapi barang tersebut memang tak pantas ia terima dan kenakan, terlalu mengundang pikiran negatif dari orang lain dan tentunya gadis bermata indah tersebut sama sekali tak ingin memberikan celah untuk si cowok rese masuk dan merusak hubungannya dengan sang kekasih.


Sayangnya Genta adalah tipe cowok nekat dan juga sedikit gila. Bagaimana bisa ada orang yang dengan entengnya membuang barang seharga puluhan juta dengan tanpa beban. Ckk, benar-benar mengerikan sekaligus menyebalkan.


"Maaf Genta ini yang terbaik, daripada tuh tas berakhir mengenaskan kalo lagi-lagi gue balikin ke elo, lebih baik gue jual aja dan uangnya gue kasih ke yang lebih membutuhkan. Semoga elo ikhlas," monolog Kasih sambil membelai-belai paper bag yang sudah berada di pangkuannya saat ini.


Kasih kemudian berinisiatif untuk menghubungi Genta, setidaknya sekali lagi ia ingin meminta izin pada si pemilik sebenarnya barang wah tersebut. Gadis cantik itu tidak mau jika kelak Genta akan mempermasalahkan tindakannya menjual tas super mahal tersebut.

__ADS_1


"Tumben nelpon duluan? Kangen?" ucap Genta saat panggilan mereka terhubung di dering pertama.


Kasih langsung mencebikkan bibirnya mendengar kenarsisan Genta, "gue cuma mau bilang ke elo kalo tas yang elo kasihin ke gue udah laku. Gue harap elo ikhlas tas itu gue jual," ucapnya to the point.


Gadis cantik itu bisa mendengar dengan jelas helaan nafas berat yang dihembuskan oleh Genta, mungkin itu sinyal kekecewaan yang ditunjukkan oleh cowok random akan tetapi tampan tersebut.


"Elo beneran enggak suka ya pemberian gue?" tanyanya.


"Bukan enggak suka, tapi gue ngerasa enggak pantes aja nerima barang semahal itu. Lagian gue juga harus ngejaga perasaan Kak Rangga, elo tau sendirikan Kak Rangga enggak suka kita saling deket, meskipun sekedar temenan" jelas Kasih dengan berat hati, tetapi tetap harus memberikan pengertian pada Genta.


Makin berat saja helaan nafas dari Genta, "jujur gue kecewa, tapi gue juga enggak mau nerima balik barang yang pernah gue kasih dan juga karena duit yang elo dapet nantinya bakal elo donasiin. Ya udah enggak apa-apalah!" Kasih benar-benar merasa tak enak mendengar ucapan Genta ini, sungguh dirinya bukan bermaksud tak menghargai pemberian Genta, tapi memang dirinya merasa tidak pantas dan juga ia harus berani mengambil sikap demi menjaga hubungannya dengan Rangga juga memperjarak hubungannya sendiri dengan Genta yang sudah terang-terangan mengungkapkan perasaan pada dirinya.


"Emmhh, Kasih! Boleh enggak gue minta satu hal?" tanya Genta setelah mereka cukup lama saling diam.


"Boleh gue ikut elo saat elo nyerahin uang donasi itu?" tanya Genta ragu-ragu, ia yakin gadis cantik yang sudah memporak porandakan hatinya itu akan menolak permintaannya.


"Kenapa? Elo enggak percaya sama gue?" cebik Kasih dengan nada tidak suka.


Genta terkekeh sendiri, membayangkan wajah membrengut dan judes usai mendengar permintaanya, "bukan, gue cuma pengen punya pengalaman berbagi aja! Sebagai pemilik tas itu, boleh lah gue ikut terlibat?" jelasnya, meskipun alasan sebenarnya adalah ingin menghabiskan waktu dengan gadis jutek tersebut.


Tidak mungkin seorang Genta Mahardika Dawson tak pernah memiliki pengalaman berbagi, bahkan hal tersebut punya agenda tersendiri di keluarganya.


"Oke deh, mungkin Sabtu sore gue jalan ke panti soalnya nanti gue ke rumah Evelyn dulu, kenalan dia yang mau beli tas itu. Nanti gue kabarin ya!" Kasih pun mengalah, toh benar yang dikatakan oleh Genta kalo dia pemilik sebenarnya tas tersebut, bagus cowok menyebalkan itu mengizinkannya menjual tas itu, tak ada alasan untuk menolak permintaan Genta, bukan?

__ADS_1


"Jam berapa elo ke rumah Evelyn? Biar gue anter!" Genta tersenyum penuh harap, semoga gadis jutek itu menerima tawarannya sehingga dia mempunyai waktu lebih panjang lagi untuk bersama-sama dengan sang pujaan hati.


Tapi harapannya harus kandas saat Kasih dengan tegas menolaknya, "enggak usah, gue jalan sendiri aja. Nanti aja pas udah di panti gue hubungi elo, baru deh elo jalan. Kelamaan, entar bosen lagi Lo!"


Dan Genta adalah Genta, ia pantang menerima penolakan, "enggak apa-apa, gue juga pengen kali ngelihat barang pemberian gue yang gue beli sepenuh hati berpindah tangan!"


"Dihh, nyindir lu!" salak Kasih yang membuat Genta langsung tergelak.


"Nanti gue kabarin pas mau jalan, gue izin dulu sama Kak Rangga!" lanjut Kasih lagi.


"Harus ya?"


"Haruslah, mutlak malahan. Jadi dia tau gue lagi sama elo, kalo elo macem-macem lagi sama gue, dia langsung nyari elo buat bikin perhitungan!" Kasih tak sadar jika ucapannya membuat hati seorang Genta mencelos, ternyata perbuatannya sungguh membuat gadis berani itu memasang dinding kewaspadaan yang sangat tinggi dalam menghadapinya.


"Gue minta maaf, gue bersumpah enggak bakal berbuat di luar batas kayak waktu itu!" lirih Genta yang bisa didengar oleh telinga Kasih.


Seketika suasana menjadi canggung, Kasih bisa merasakan dengan jelas nada suara penuh penyesalan dari mulut Genta.


"Emhh, kalo gitu udah dulu ya. Gue mau tidur!" ucap Kasih memecah keheningan diantara mereka berdua yang sempat terjadi.


"Iya" jawab Genta singkat kemudian langsung mematikan sambungan telpon mereka.


"Selamat tidur, cantik" ucapnya lagi melihat layar ponsel yang menampilkan foto Kasih yang pernah dia ambil diam-diam saat Kasih menghadiri acara ulang tahun Kakaknya di rumah, karena ternyata sebelum Kasih menelpon Genta sedang melihat-lihat beberapa foto Kasih yang diam-diam ia abadikan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2