
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
ππ
Pagi ini Kasih bersiap melakukan aktifitasnya begitu bersemangat, setelah Sang Bude bercerita semalam membuatnya seakan memiliki suntikan semangat untuk menjalani hari-harinya terlebih melalui hari-harinya di sekolah barunya.
"ASSALAMUALAIKUMMM, SELAMAT PAGII..!" Sapa Kasih seperti biasa memekikkan telinga orang lain
"Suara lo bikin gendang kuping gue pecah, Pe'Ak!" Gerutu Dewa mengorek-ngorek telinganya yang berdenging hebat akibat ulah adik sepupunya, sedang Ranti hanya mengorek-ngorek telinganya guna untuk menetralisir suara yang cukup mengganggu di ruang pendengarannya.
"Bodo amat!" Sahut Kasih menimpali kekesalan Dewa, membuat Dewa menaikkan salah satu sudut bibirnya kesal.
"Sarapan apa pagi ini Bude?" Tanya Kasih bersemangat, setelah mendudukkan dirinya di sebelah Dewa.
"Lo gak lihat tuh, gudeg di atas meja?" Tunjuk Dewa kesal.
"Tau, cuma basa-basi aja sih. Sewot amat!!!" Geram Kasih dengan wajah semengesalkan mungkin.
Tanpa memperdulikan wajah kesal Kakak Sepupunya, Kasih mulai menyendokkan nasi putih, gudeg nangka, pindang telur serta tahu dan tempe bacemmya ke dalam piring. Setelah berdoa, Kasih pun mulai menyantap sarapannya.
"Gak mau pake sambel krecek atau oseng mercon bikinan Ibu?" Ledek Dewa pada Kasih yang memang tak menyukai makanan pedas.
"Pura-pura enggak tau apa enggak tau beneran hah? Lagian masih pagi, enggak takut gitu makan makanan pedes?" Cibir Kasih, terlebih ketika melihat Dewa menambahkan oseng mercon serta sambal kerecek ke dalam piring dan langsung menyantapnya dengan gaya tengil justru membuat Kasih bergidik ngeri membayangkan lambung sang Kakak Sepupunya.
"Mas Dewa enggak takut sakit perut di kampus nanti, makan makanan pedes gitu pagi-pagi. Kasihan lambungnya dong Mas masih pagi dihajar cabe!" Ucap Kasih.
"Tau ini bocah, Bude sebenernya gak mau nyiapin sambel krecek sama oseng merconnya. Lah wong masih pagi kok udah makan yang pedes-pedes, lihat aja nanti kalo ngeluh sakit perut biar Bude diemin gak usah capek-capek ngobatinnya. Ngapain, lah wong dia nyari penyakit sendiri!" Ancam Ranti dengan logat Jawa yang masih kental, meskipun sudah lama menetap di Jakarta.
"Gak pedes gak nendang Bu, lagian mah gak mungkin Ibu tega cuekin anak Ibu yang gantengnya gak ketulungan ini kalo nanti sakit. Yakin deh, Ibu pasti selalu ada disaat aku membutuhkan Ibu!" Narsis Dewa membuat Ranti dan Kasih menaikkan bola matanya malas mendengar ocehan narsis Dewa.
***
__ADS_1
Seperti biasa Dewa membukakan tali helm Kasih setibanya Kasih di sekolahnya dan seperti biasa pula Dewa akan memberikan petuah-petuahnya pada Kasih agar Kasih berani menghadapi semua yang terjadi di sekolahnya hari ini.
Bukan karena apa, namun Dewa sudah merasakan bagaimana hidupnya menjadi anak beasiswa di sekolahan elit macam sekolahan Kasih ini meskipun ia bersekolah di sekolah favorit lain di bawah sekolah Kasih sekarang, Dewa bisa membayangkan perjuangan Kasih tak akan mudah melalui hari-harinya di sekolahnya seperti dirinya dulu, terlebih sekolahan Kasih di atas sekolahannya terdahulu.
"Lo harus inget tiap omongan gue ya Kasih~an, elo gak perlu berinteraksi terlalu intens sama-sama borju di sekolah lo ini, cukup belajar yang tekun and then pulang ke rumah. Gue lebih berpengalaman dari elo ngadepin anak-anak manja yang masih disokong harta orang tuanya, jadi gue tau mereka itu seperti apa terhadap anak-anak semacam kita!" Nasehat Dewa kali ini terlihat menggebu-gebu.
"Iya Mas, iya. Kasih udah faham kok, Mas Dewa tenang aja dan percaya sama Kasih kalo Kasih bisa jaga diri Kasih sendiri selama di sini. By the way kok Mas Dewa keringetan gitu?" Tanya Kasih khawatir melihat keringat yang mengucur deras membasahi kepala dan tubuh Dewa.
"Perut gue mules..!" Rintih Dewa.
"Tuh kan aku bilang juga apa, pagi-pagi jangan sotoy pamer mampu makan makanan pedes. Gini nih akibatnya!" Kesal Kasih sambil mengelap keringat di wajah Kakak sepupunya menggunakan sapu tangan miliknya.
"Lo yang sotoy, gue mules emang dari kemaren belum BAB bukan karena makan sambel krecek sama orcen mercon tadi!" Sahut Dewa tak terima.
"Udah ah, gue mau cepet-cepet ke kampus mau langsung buang hajat gue di sana!" Dewa buru-buru mengenakan helm nya kemudian tancap gas meninggalkan Kasih dengan ekspresi jijik di wajahnya.
Sepeninggalan Dewa, Kasih pun mulai melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya. Sepanjang perjalanan beberapa anak memandangnya penuh ejek membuatnya sedikit bingung. Ia juga melihat beberapa anak berkumpul mengerubuti papan mading sekolah sambil saling tertawa.
"Kasih..!" Panggil Evelyn, Rania juga Axel bersamaan.
"Ada apa sih kok kayaknya gue ngerasa ada yang beda ya?" Tanya Kasih penasaran.
"Kasih, emang bener lo minta tolong salah satu Kakel di sini buat galang dana supaya lo bisa ngelunasin uang buku dan seragam lo?" Tanya Rania membuat Kasih mendelikkan matanya terkejut.
"APA??" Teriak Kasih dengan suara yang menggelegar membuat ketiga temannya serempak menutup telinga mereka.
"Ishh elo itu, cantik-cantik suaranya enggak banget!" Keluh Axel sebal.
"Kok kalian tau ada yang galang dana buat gue?" Tanya Kasih tanpa memperdulikan penderitaan telinga ketiga temannya itu.
Dan tanpa menjelaskan apapun Evelyn langsung menarik Kasih ke salah satu papan mading tak jauh dari mereka berdiri.
"Awas, awas. Minggir!" Gertak Evelyn ketika mencoba membelah kerumunan siswa mengerubuti papan mading tersebut.
__ADS_1
Mata Kasih langsung membola ketika melihat dan membaca pamflet penggalangan dana untuk dirinya, ia pun langsung menatap wajah Evelyn dengan mimik bingung.
Dan lebih parah lagi ketika Evelyn kembali menarik tangannya menuju lapangan upacara diikuti kedua temannya yang lain dimana di sana tengah ada demo penggalangan dana dan poster-poster dirinya yang diedit sedemikian rupa seakan untuk menarik belas kasihan para siswa siswi sekolah tersebut.
Kasih dengan amarah yang membuncah tanpa berfikir panjang langsung membelah kerumunan siswa siswi untuk menuju ke tengah panggung kecil buatan yang tengah digunakan seseorang untuk mendemostrasikan penggalangan dana untuk dirinya dengan kata-kata yang didominasi ejekan untuk dirinya.
Makin kesal saja Kasih ketika tahu pelaku pembuat onar adalah Kakel tampan yang menyebalkan, Genta. Ia tak menyangka jika Genta akan benar-benar membuat penggalangan dana atau lebih tepatnya mempermalukan dirinya dengan ide konyolnya itu.
Kasih pun langsung menaiki panggung serta menarik lengan Genta dengan wajah penuh emosi.
"Lo apa-apain sih hah?" Gertak Kasih.
"Wahhh, beruntung nih Kasih udah hadir ditengah-tengah kita buat menyaksikan penggalangan dana penulasan uang buku dan seragamnya sekecil 10 juta doang!" Ejek Genta yang disambut gelak tawa seluruh siswa yang berkumpul.
"Entar lo bisa nyaksiin sendiri ya Kasih uang yang udah terkumpul buat lo, jadi semua transparan tanpa ada yang bisa nilep sumbangan yang udah terkumpul buat elo. Yaa, walaupun gak mungkin sih kita-kita ada yang nilep uang sekecil itu!" Ejek Genta lagi dengan seringai menyebalkannya yang lagi-lagi disambut gelak tawa siswa-siswi yang menyaksikan mereka.
"Lo bisa gak, enggak bertingkah konyol kayak gini hah?" Geram Kasih mencengkram kasar lengan Genta membuat Genta mulai tersulut emosi.
"Bisa enggak lo lepasin tangan lo hah? Lo jangan bertindak di luar batas sama gue, lo gak tau siapa gue. Ngerti!" Gertak Genta menghempaskan kasar tangan Kasih.
"Jelas gue tau siapa lo, lo itu cuma anak manja yang sok berkuasa cuma karena harta orang tua yang berlimpah sehingga lo ngerasa udah hebat dan bisa bertindak semaunya terhadap orang lain, termasuk bertindak konyol kayak sekarang ini!" Teriak Kasih lantang tanpa rasa takut sedikit pun.
"JAGA MULUT LO!!" Gertak Genta menggelegar.
"Kenapa? Gue bener kan? Atau lo mulai malu dengan kenyataan tentang diri lo sendiri hah?" Kasih benar-benar membalik keadaannya saat ini untuk mempermalukan Genta.
"Dan asal lo tau ya Kakak Kelas yang super hebat, gue enggak butuh penggalangan dana yang lo udah adain ini, lebih baik lo amalin hasil penggalangan dana lo ini buat ngurang-ngurangin dosa lo karena uang seragam dan buku gue udah gue lunasi!" Ejek Kasih dengan tersenyum smirk sebelum berbalik untuk meninggalkan Genta.
"Oohh jadi uang 10 juta lo udah lunasi, siapa yang ngelunasin? Cowok lo? Lo jatah berapa ronde dia sampe mau ngasih lo uang itu buat ngelunasi biaya buku dan seragam lo?" Hina Genta membuat Kasih seketika mendidih darahnya mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Kakak kelasnya tersebut.
"Plakkkk..."
Dan tanpa bisa meredam emosinya lagi Kasih membalik tubuhnya menghadap kembali ke arah Genta kemudian menampar pipi Genta dengan suara keras membuat suasana seketika hening dengan wajah-wajah terkejut dari semua yang menyaksikan perdebatan mereka.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=