Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Gaya Pacaran


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Kalo gue bisa bikin Kasih jatuh cinta sama gue, gue enggak mau lo berisik ngatur-ngatur gaya pacaran gue sama dia, tapi kalo gue enggak bisa bikin dia jatuh cinta gue janji gue bakal berhenti ngisengin tuh cewek. Gimana?" Tantang Genta.


"Tunggu dulu, gue masih enggak ngerti dengan omongan lo kalo gue gak boleh ngatur-ngatur gaya pacaran lo sama Kasih, maksudnya apa?" Tanya Rangga benar-benar tak mengerti.


"Ohh come on Bro, lo tau kan selama ini gaya pacaran yang gue jalani kayak apa? Nah kelak kalo nanti gue bisa jadian sama Kasih, gue juga pengenlah nyicipin tubuh dia!" Jawaban nyeleh Genta pun berhasil membuat Rangga langsung dilanda emosi.


Dan tanpa ampun, Rangga langsung merangsek ke arah Genta dan menarik kerah baju yang dikenakan oleh Genta, satu pukulan pun berhasil Rangga hadiahi ke wajah tampan sepupunya itu hingga Genta jatuh tersungkur.


"Dasar bangsat, lo pikir Kasih cewek apaan hah? Berani lo nyentuh se inchi tubuh dia, gue pastiin lo bakal berurusan sama gue!" Ancam Rangga dengan mata menyalang menahan amarah.


"Ini artinya lo yakin kan kalo gue bisa bikin cewek berisik itu jatuh cinta sama gue? Ayolah Rangga, cewek itu tercipta emang buat dinikmati. Buat apa lo nahan hasrat kalo elo pengen, hajar aja lah buat muasin elo!" Genta sepertinya enggan untuk berhenti memprovokasi Rangga yang terlihat semakin mengeratkan rahangnya.


"Gue yakin andai kata Tante dan Kak Adhisti denger bacotan elo tentang perempuan, mereka pasti sedih dan kecewa!" Ucap Rangga menggelengkan kepala kemudian meninggalkan Genta.


Ia tak mau lebih lama lagi berdekatan dengan sepupunya itu yang dipastikan tak akan pernah mau berhenti jika sudah memancing emosinya.


"Mau kemana lo?" Teriak Genta yang sudah kembali berdiri.


"Bukan urusan elo!" Salak Rangga tanpa mau menoleh ke arah sepupunya tersebut.


Keributan yang mereka buat sempat menjadi perhatian beberapa pengungjung, membuat Genta hanya memandang satu per satu orang-orang yang masih melihatnya dengan penuh selidik.


Hingga sapaan familiar menyapa telinganya.


"Hun..!".


"Mau apa lagi? Mood aku lagi buruk banget, tolong kamu jangan nambah-nambahin lagi dulu!" Sahut Genta dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Aku cuma mau minta maaf udah buat kamu kecewa, aku udah cemburu gak jelas ke kamu. Aku gak mau kita marahan, aku gak bisa!" Ucap Clara lirih mendekati Genta dengan takut-takut.


"Kalo aku ajak kamu nikmatin malam ini di kamar hotel, kamu bisa?" Tanya Genta menggoda.


Mendengar ajakan kekasihnya, dengan malu-malu Clara pun menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Good girl, aku suka kalo pacar aku selalu nurut kayak gini!" Puji Genta dengan senyum penuh arti.


Ia lantas menggandeng mesra tangan kekasihnya, sebelum pergi ia mencari sosok Arsya untuk berpamitan agar Arsya tak kebingungan mencarinya.


"Bang gue balik duluan, mau nganter Clara dulu!" Pamit Genta pada Arsya yang masih asyik mengobrol dengan Aldo di salah satu meja.


"Langsung balik, jangan kemana-mana. Inget pulangin anak orang hati-hati, jangan macem-macem!" Arsya mengerti sekali tabiat adiknya itu.


"Percaya sama gue!" Sahut Genta yang langsung pergi meninggalkan meja Kakaknya setelah berpamitan juga dengan Aldo sebelumnya.


***


Sesampainya di kamar hotel, seperti serigala yang kelaparan Genta langsung menyerang tubuh kekasihnya dengan cumbuan-cumbuan yang terasa lebih kasar, namun tetap bisa diterima oleh Clara dengan terus men de**ah setiap Genta mengeksplor tubuhnya.


"Gak kerasa sakit kok, biasa cowok. Jangan khawatir!" Jawab Genta dengan suara parau sambil menyatukan diri mereka.


Bukan tak tahu alasan pertengkaran antara kekasihnya dan Rangga, tapi ia lebih memilih diam dan tak ingin membuat sang kekasih kembali marah.


Dalam hatinya pun Clara bertekad untuk menuruti semua kemauan Genta, menjadi seperti apa yang Genta mau agar dia bisa benar-benar bisa mengambil seluruh hati dan cinta kekasihnya.


Clara terus dibuat merintih di bawah kendali sang kekasih yang saat ini seakan-akan sedang dilanda kehausan yang teramat sangat.


Bahkan ucapan cinta disela-sela rintihannya sama sekali tak ditanggapi oleh Genta yang lebih fokus menikmati permainan mereka.


Berbeda dengan Genta, entah mengapa disaat ia menikmati tubuh kekasihnya namun bayang-bayang Kasih terus mengganggunya. Hingga ia pun menjadi lebih bergairah ketika wajah cewek berisik itu hadir di bayangannya.


"Ahhh, sial...!" Umpatnya ketika ia sudah mencapai pelepasannya, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Clara.

__ADS_1


"Apa aku gak bisa memuaskan kamu kali ini?" Tanya Clara khawatir sambil mengusap-usap punggung lebar kekasihnya.


"Bukan itu..!" Jawab Genta masih mencoba mengatur nafasnya.


"Terus kenapa kamu mengumpat tadi?" Clara benar-benar khawatir jika mengecewakan kekasihnya.


Sebelum menjawab kekhawatiran Clara, Genta pun menarik dirinya untuk kemudian melepas karet pengaman yang ia gunakan.


"Kamu luar biasa malem ini!" Puji Genta kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membuang karet pengaman yang ia gunakan dan langsung membersihkan diri.


Clara bisa merasakan ada yang berbeda dengan Genta saat ini, karena biasanya Genta akan menghujaminya kecupan-kecupan selesai melakukan hal tersebut.


Dan Genta akan hanya membuang karet pengamannya untuk kemudian kembali ke ranjang dan berpelukan, namun kali ini Genta langsung membersihkan dirinya.


Benar saja, Genta keluar dari toilet dengan tampilan yang lebih segar dan langsung meminta Clara untuk juga membersihkan diri.


"Cepet mandi, aku anter kamu pulang!" Perintah Genta sambil mengenakan pakaiannya.


"Pulang? Kita langsung pulang? Kamu bilang kita bakalan nginep, ngabisin waktu weekend ini di sini?".


"Sorry Clay, aku harus batalinnya. Abang Arsya hari ini pulang ke rumah, aku gak mau dia curiga kalo aku gak pulang!" Jawab Genta.


"Ya bilang aja kamu nginep di rumah salah satu temen cowok kamu, gitu!" Pinta Clara.


"Clay please, lain kali oke kita nginep di sini!" Gertak Genta yang mulai merasakan Clara kembali dalam mode menyebalkan.


"Aku tuh udah ngerasa kayak jal*ng kamu aja tau enggak! Selesai dinikmati langsung kamu gak peduliin lagi!" Isak Clara.


"Oohh come on Clay, kalo aku nganggep kamu cuma jal*ng aku aja aku enggak bakal mau nungguin kamu terus nganter kamu pulang. Ayo lah Clay jangan mulai lagi, hari ini mood aku bener-bener buruk. Tolong jangan ajak aku berantem terus!" Geram Genta.


Tanpa mau berargumen lagi, Clara langsung melilitkan selimutnya untuk kemudian pergi ke toilet membersihkan diri.


Di dalam toilet, ia tak langsung membersihkan dirinya. Clara memilih mendudukan dirinya di atas toilet menumpahkan tangisannya karena rasa sesak yang teramat sangat menggelayuti hatinya saat ini.

__ADS_1


Sedang Genta, ia terus menatap dirinya di cermin meja hias. Memikirkan alasan kenapa wajah Kasih selalu hadir mengganggunya malam hari ini di saat ia tengah berci*ta dengan Clara dan sialnya ia benar-benar menjadi berkali-kali lebih bergairah saat wajah itu hadir, terlebih saat ia teringat ciuaman paksa yang ia lakukan pada Kasih di cafe tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2