
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Astaghfirullah, kamu kenapa Nak?" Ranti begitu panik melihat Kasih terkapar di atas lantai dengan kondisi mengenaskan, Ia pun lantas berlari keluar untuk meminta tolong siapa pun yang mendengar teriakannya.
"Ada apa Bu?" Tanya seorang pegawai wanita yang mendengar teriakannya.
"Dewa dimana? Tolong kamu panggil Dewa, suruh dia ke kamar Kasih. Kasih pingsan!" Perintah Ranti sangat panik.
"Ba, baik Bu!" Sahut pegawai tersebut yang langsung bergegas menghampiri Dewa yang kebetulan sedang melayani keluarga Dawson.
"Mas Dewa, dipanggil Ibu disuruh ke kamarnya Mbak Kasih, Mbak Kasih pingsan kata Ibu!" Ucap pegawai itu tak kalah panik.
"Pingsan? Kamu layani tamu kita dulu, saya mau ke atas!" Perintah Dewa, kemudian mengucapkan permisi pada keluarga Dawson yang saat ini pun sama terkejutnya dengan Dewa.
Bahkan Rangga langsung mengikuti Dewa dari belakang dengan raut wajah sama khawatirnya dengan Dewa.
Betapa terkejutnya Dewa dan Rangga ketika melihat Kasih sudah tak sadarkan diri dengan kulit pucat membiru di atas pangkuan Ranti yang sedang membersihkan wajah Kasih dari muntahan yang mengotorinya
"Kenapa Kasih Bu?" Tanya Dewa berjongkok mengambil alih tubuh Kasih dari Ibunya yang menangis dan tubuh bergetar ketakutan.
"Coba dicek Wa, Kasih masih nafas enggak. Ibu takut..!" Perintah Ranti dengan suara bergetar.
Meskipun dilanda kepanikan yang teramat sangat, Dewa berusaha untuk tenang. Ia pun kemudian mengecek nadi serta nafas adiknya itu, sungguh Dewa merasakan jika Kasih seperti kesulitan bernafas.
Dengan tanpa menunggu apapun lagi, Dewa langsung mengangkat tubuh Kasih untuk dibawa ke rumah sakit.
"Mau gue anter Mas?" Tawar Rangga saat Dewa melewatinya.
"Enggak usah, di belakang ada mobil. Lo tolong tenangin nyokap gue dulu!" Pinta Dewa kemudian melanjutkan langkahnya.
"Tante tenang ya, Kasih sebenarnya kenapa Tan? Dia baik-baik aja tadi?" Rangga sungguh ingin tahu.
"Kayaknya alergi Kasih kambuh lagi, dia pasti enggak sengaja atau sebenernya Tante enggak tau juga kok bisa Kasih teledor dia biasanya hati-hati banget!" Jawab Ranti sedikit membingungkan disela isakannya.
__ADS_1
"Alergi? Teledor? Rangga enggak ngerti Tante..?".
"Kasih, dia enggak bisa kena cabai. Ada kandungan apa dicabai gitu yang tubuh dia gak bisa terima. Terakhir dia seperti ini waktu di sekolahan awal SMP dulu, dari situ dia hati-hati sekali pilih makanan!" Jawab Ranti mencoba menjelaskan.
"Brengsek!" Umpat Rangga dengan wajah penuh kemarahan.
"Kenapa?" Ranti yang bingung mendapati Rangga justru mengumpat.
"Maaf Tante, Tante mau saya antar nyusul Mas Dewa dan Kasih ke rumah sakit?" Tawar Rangga.
"Kalo tidak merepotkan Nak, tapi Tante ganti baju dulu dan mau nitip kedai sama karyawan Tante dulu!" Izin Ranti yang diangguki oleh Rangga.
Rangga langsung bergegas turun, tapi sebelum menuju ke mobilnya ia sempatkan untuk menghampiri keluarganya. Dan dengan dikungkung amarah, Rangga langsung merangsek ke arah Genta dan menarik kerahnya.
Genta yang terkejut pun menatap tajam Rangga, begitu pula anggota keluarga yang lain. Mereka hanya mampu ternganga melihat kemarahan Rangga.
"PUAS LO HAH? AKIBAT KEISENGAN LO, SEKARANG KASIH HARUS DILARIIN KE RUMAH SAKIT!!" Gertak Rangga kemudian dengan tanpa ampun menghajar Genta.
Genta yang tak siap sama sekali, langsung tersungkur ke lantai.
"Udah, berhenti! Malu dilihat orang!" Gertak Adam.
"Rangga coba jelasin pelan-pelan, kenapa dengan Kasih?" Tanya Andhira tanpa bisa menutupi kekhawatirannya.
"Kasih lagi dibawa ke rumah sakit Tante, dia alergi makanan pedas. Kondisinya kritis karena tadi pas dibawa Kakaknya sudah dalam keadaan gak sadar!" Jawab Rangga masih menatap tajam ke arah Genta yang tengah dipegangi oleh Arsya.
"Kalo gitu saya permisi mau antar Budenya Kasih ke rumah sakit!" Melihat keluarganya terdiam karena terkejut, Rangga pun memutuskan untuk segera ke mobil.
"Kami ikut!" Ucap Adam yang juga terlihat marah pada Genta.
"Dhisti kamu urus pembayaran dulu, kami duluan ke rumah sakit. Nanti kamu nyusul pakai taksi saja!" Pernitah Andhira yang diangguki oleh Adhisti.
***
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju IGD. Mereka melihat Dewa yang tengah duduk di ruang tunggu dengan raut wajah tak tenang dipenuhi kekhawatiran.
"Gimana Kasih, Wa?" Tanya Ranti langsung, sedang Dewa memasang wajah bingung melihat keluarga Rangga yang ikut berbondong-bondong datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Masih diurus Dokter di dalam Bu, aku gak dibolehin masuk." Jawab Dewa mengesampingkan kebingungannya.
"Ya Allah, jangan sampe Kasih kenapa-kenapa!" Isak Ranti yang langsung dipeluk oleh Dewa untuk menenangkannya.
Tak lama Dokter pun keluar dan langsung menghampiri Dewa.
"Bagaimana Dokter dengan adik saya?" Tanya Dewa.
"Alhamdulillah kondisi adik Anda sudah stabil, tapi saya minta agar lebih hati-hati lagi dengan apa yang akan dikonsumsi oleh adik Anda karena tadi sedikit terlambat saja, akibatnya bisa sangat fatal!" Jawab Dokter tegas.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik saya Dok?" Tanya Dewa lagi.
"Adik Anda terkena syok anafilaktik atau anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Akibatnya, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran." Jawab Dokter menjelaskan.
"Lalu sekarang bagaimana Dok?" Tanya Dewa.
"Kami akan melakukan pengobatan secara berkala agar mencegah kambuhnya syok anafilaktik adik Anda dan adik Anda harus dirawat beberapa hari agar kami bisa pantau kondisinya!" Jawab Dokter lagi.
"Baiklah, terima kasih Dok!" Ucap Dewa.
"Aku urus administrasinya dulu ya Bu" izin Dewa yang diangguki oleh Ranti.
"Biar saya ikut dengan kamu Mas, saya yang akan menanggung biaya pengobatan Kasih sebagai bentuk tanggung jawab kami!" Ucap Adam membuat Ranti dan Dewa bingung.
"Tanggung jawab?" Tanya Dewa mengulang ucapan Adam.
"Nanti akan saya jelaskan, lebih baik kita urus dulu administrasi rawat inap Kasih tapi sebelumnya saya dan keluarga minta maaf terlebih dahulu dengan apa yang menimpa Kasih!" Jawab Adam penuh sesal.
***
Kini semua telah berkumpul di ruang perawatan VIP Kasih, awalnya Dewa menolak keinginan Adam agar Kasih dirawat di ruang VIP dan meminta dirawat di kelas biasa, namun Dewa harus terpaksa menyetujui permintaan Adam, karena Adam terus menerus memaksa.
Semua pun kini menatap Kasih yang masih tergolek lemah tak sadarkan diri dengan selang infus terpasang di tangan dan selang infus yang terpasang di hidung bangirnya.
Mereka pun terlihat iba dengan kondisi Kasih yang terlihat pembengkakkan di beberapa bagian tubuhnya, seperti mata, bibir, pipi, tangan dan kakinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1