Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Tom And Jerry


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih menatap tidak suka ke arah cowok berparas tampan, akan tetapi sangat menyebalkan di hadapannya saat ini. Terlebih melihat cengiran tanpa dosa yang tengah ditampilkan Genta saat bertatapan dengan dirinya.


"Maksa banget sih?" ketus Kasih.


Yups, Genta memang memaksa Kasih agar mengizinkannya untuk menjemput gadis mungil itu mengantarkannya ke rumah Evelyn, "kenapa sih, ditemenin cowok rupawan kayak gue ogah banget kayaknya lu?" ledeknya masih dengan cengiran penuh kemenangan yang terlihat begitu menyebalkan di mata Kasih saat ini.-


Kasih mendekati Genta hingga terdengar dengusan dari nafasnya yang menandakan betapa kesalnya dia saat ini, "gue kan udah bilang ketemu di panti aja. Elo enggak tau aja gue sempet ribut sama Kak Rangga gara-gara minta izin ngajak lu ke panti!" Kasih mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam cowok yang jauh lebih tinggi darinya tersebut, " Kak Rangga taunya kita ketemuan di panti, sekarang elo malah dengan pedenya ke sini. Semarah apa coba nanti kalo dia tau seharian gue jalan sama elo!" lanjutnya berapi-api.


Sebenarnya Kasih bersikeras menolak permintaan Genta yang ingin menjemput dan mengantarkannya ke rumah Evelyn dan hanya setuju untuk bertemu di panti yang sudah ia beritahukan nama dan alamatnya, akan tetapi seperti biasa, Genta mengeluarkan jurus andalannya agar gadis mungil itu menuruti kemauannya, yaitu dengan mengancam jika ia akan kembali mengambil tas tersebut dan memilih memberikannya pada orang lain.


Mungkin jika Kasih belum memberitahukan kepada pihak panti tentang kedatangannya untuk memberikan donasi, Kasih tak mempermasalahkan jika Genta ingin mengambil kembali tas tersebut, tetapi sayangnya Kasih sudah lebih dahulu memberitahukan pengurus panti tentang niat kedatangannya.


"Yaudah sih, entar kalo Rangga marah sama elo biar gue yang ngomong!" Genta terlihat santai menghadapi kegundahan gadis cantik di hadapannya itu.


Kasih melemparkan pandangannya ke samping, tak mau terus menerus melihat tatapan intens Genta kepadanya, "kayak enggak tau aja gimana cara kalian berdua menyelesaikan masalah? Paling ujung ujungnya saling baku hantam!" dengusnya yang justru membuat Genta terkekeh.


"Ya berarti Rangga enggak perlu tau lah kalo seharian kita ngedate__!" Kasih langsung menatap tajam mendengar ucapan asal Genta, "upss, maksud gue jalan seharian ini. Bilang aja ke dia kita emang ketemu di panti!" ralat Genta terkekeh melihat wajah galak yang tengah protes tersebut.


"Elo ngajarin gue jadi tukang bohong?" sindir Kasih dan lagi-lagi membuat Genta tergelak.


Makin sebal saja Kasih dibuatnya, "Udah yuk ah berangkat! Makin lama sama elo, makin stress gue!" ajak Kasih ketus yang hanya ditimpali gelak tawa semakin menjadi dari mulut Genta.


***


Evelyn menatap penuh keheranan atas kedatangan dua orang yang selalu bertentangan itu. Wajah Kasih terlihat begitu kesal, berbanding terbalik dengan Genta yang terus menerus menebar senyuman menawannya.

__ADS_1


"Masuk!" ajak Evelyn tersenyum seramah mungkin mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam rumah megahnya.


"Biasanya kalo orang kaya yang bukain pintu kalo ada tamu itu pembantunya, kok ini elo sendiri yang bukain?" Kasih menyodorkan paperbag berisikan tas mewah pada Evelyn.


Dengan senang hati Evelyn menerimanya, "kebetulan gue tadi di depan pintu makanya gue sendiri yang bukain. By the way, kalian mau minum apa?" tanya Evelyn menawarkan.


"Apa aja yang dingin-dingin seger, panas banget di luar!" jawab Kasih tanpa memperdulikan Genta yang dengan santainya duduk di sebelah dirinya.


"Kalo Kak Genta mau minum apa?" Evelyn beralih menatap ke arah kakak kelasnya itu.


"Samain aja sama Kasih.." jawab cowok tampan itu melirik Kasih yang menatap sebal ke arahnya.


"Kalo gitu gue bilang ke orang dapur dulu ya. Sebentar ya!" Evelyn langsung beranjak dari tempat duduknya sambil menatap aneh kedua orang yang sering bersitegang akan tetapi selau bersama-sama tersebut.


Kasih dan Genta cukup lama menunggu kedatangan kembali Evelyn, bahkan asisten rumah tangga yang mungkin diperintah Evelyn untuk menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk mereka berdua telah datang.


"Evelynnya mana Bu?" tanya Kasih ramah pada wanita yang terlihat cukup berumur tersebut.


Sepeninggalan asisten rumah tangga tersebut, Kasih langsung menyambar gelas berisian air sirup yang terlihat segar tersebut dan langsung meneguknya. Begitu pula Genta, ia pun menyambar gelas miliknya dan juga langsung meneguknya bahkan isinya langsung tandas.


"Haus banget?" cibir Kasih melihat isi gelas Genta telah kosong.


"Hmm, di luar panas banget jadi bawaannya haus" jawab Genta menatap lekat wajah Kasih yang berada di sampingnya.


Kasih pun mengangguk mengiyakan ucapan Genta, karena memang cuaca akhir-akhir ini begitu ekstrim. Siang yang begitu terik, sedangkan malam sering sekali turun hujan.


Sejenak hening, keduanya memilih untuk saling diam. Kasih yang memang belum terlalu nyaman berdekatan dan berinteraksi dengan Genta, juga Genta yang tak memiliki objek obrolan.


"Lama banget sihh!?" gerutu Kasih karena sang sahabat belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Emhhh, nyantai aja sih. Buru-buru amat! Si Evelyn nanti ikut kita kan?"

__ADS_1


"Enggak, cuma kita berdua aja. Dia mau pergi!" jawab Kasih yang enggan menatap ke arah Genta, ia terus saja duduk dengan gelisah dan Genta menyadari hal tersebut.


"Dahi Lo kenapa?" Genta yang memang penasaran dari kemarin dengan dahi Kasih yang terluka, akhirya pun menanyakanya.


Kasih memegang luka di kepalanya yang memang masih ia balut, "kena kaki meja waktu jatoh dari tangga!"


"Kok bisa?" pekik Genta dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.


"Bisalah, namanya juga musibah."


Genta menggelengkan kepalanya, ia merasa sepertinya selain mempunyai sifat pemberani gadis di sebelahnya pun memiliki kecerobohan yang luar biasa, "ini mah bukan musibah, elo nya aja dasar ceroboh!" cibirnya.


Kasih langsung mencebikkan bibirnya, "emang gue bisa sampe begini gara-gara siapa?" batinnya kesal.


Sebelum Kasih berucap, Evelyn datang dengan membawa amplop cokelat berukuran sedang dan langsung meletakkannya di pangkuan Kasih.


"Nih uangnya! Kenapa sih enggak ditransfer aja, kenapa harus cash?" tanya Evelyn mendudukkan dirinya di sofa seberang Kasih dan Genta.


"Gue belum punya rekening kan, masih nebeng di rekeningnya Mas Dewa. Ribet ahh kalo kirim ke rekening dia dulu" jawab Kasih dengan mimik tidak suka.


Evelyn hanya ber ohh ria mendengar jawaban sang sahabat.


"Kalo gitu, kita jalan sekarang ya Eve. Takut kesorean, soalnya ada tiga panti yang kudu kita sambangin!" pamit Kasih beranjak dari duduknya yang diikuti oleh Genta.


Evelyn kemudian mengantarkan keduanya ke depan pintu utama, saat berjalan sengaja Kasih dan Evelyn berjalan di belakang Genta.


"Kok elo akur lagi sama Kak Genta? Emang Kak Rangga enggak bakalan marah apa elo jalan berduaan sama Kak Genta?" bisik Evelyn yang sedari tadi memang penasaran dengan kedatangan dua orang yang sudah seperti Tom and Jerry versi manusia itu.


"Ishh najis gue akur sama dia, kayak elo gak tau aja sih senekat apa nih cowok? Makanya gue minta tolong sama elo supaya ngerahasiain kedatangan gue sama Genta dari Kak Rangga, kalo Kak Rangga sampe tau bisa habis gue dimarahin!" jawab Kasih yang juga berbisik.


Mereka tak menyadari jika Genta masih bisa mendengar bisik-bisik mereka sambil tersenyum dengan tingkah dua adik kelasnya itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2