Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Hang Out


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Sore hari ketika Kasih tengah sibuk membantu Budenya, ia kedatangan ketiga sahabatnya. Karena masih begitu sibuk, Kasih meminta ketiganya untuk menunggunya sebentar di belakang rumah tempat ketika mereka berkumpul kemarin.


"Sorry ya gue belum bisa nemenin kalian dulu, tunggu sebentar lagi ya gue ke sini lagi kalo dua pegawai Bude Ranti dateng abis nganter pesenan. Kalian mau makan sekalian?" Kasih begitu tak enak hati saat mengantaran es jeruk kepada ketiga sahabatnya yang tak bisa langsung ia sambut karena masih sibuk membantu kedai sang Bude yang sore ini masih juga rame.


"Enggak usah, tadi kita udah makan sebelum ke sini di Mcd. Nih gue bawa tiga paket buat lo, Bude sama Mas Dewa!" Ucap Rania mengangkat plastik berisikan makanan salah satu restauran cepat saji.


"Sogokan nih buat minta maaf sama gue ya?" Sindir Kasih tersenyum smirk.


"Ish.. Mulut lu mah nyelekit banget kalo ngomong!" Salak Rania.


"Hehehe, sorry becanda gue. Ya udah kalian tunggu sebentaran ya, gue ke depan dulu!" Sahut Kasih dengan cengiran khasnya untuk kemudian meninggalkan para sahabatnya.


"Gue kira Kasih bakal ngambek lebay, taunya biasa aja gitu. Padahal tadi kita lihat sendiri kan gimana meledak-ledaknya marahnya dia!" Celetuk Axel yang diangguki dua sahabatnya yang lain.


Setelah lima belas menit kemudian, Kasih akhirnya bisa menghampiri ketiga sahabatnya. Dengan wajah lelah serta penampilan yang sedikit kacau namun tak sama sekali mengurangi kadar kecantikan gadis mungil itu ia buru-buru menuju ke halaman belakang berharap tak membuat sahabatnya jenuh karena telah menunggu lama dirinya.


"Maaf ya lama..!" Ucapnya tak enak hati setelah berada di sekeliling sahabat-sahabatnya.


"Iya gak apa-apa. Rame banget kedai Bude lo ya?" Sahut Evelyn.


"Iya, Alhamdulillah..! Kalian ada apa ke sini?" Tanya Kasih mendudukan diri sebelah Axel.


"Tuh si Rania mau minta maaf sama elo, udah seenaknya aja mencak-mencak tadi di sekolah!" Tunjuk Axel pada Rania yang tertunduk.


"Hahaha.. Gak apa-apa kok, gue juga minta maaf udah ngomel enggak jelas tadi. Wajar sih kalo Rania sebegitu keselnya sama gue pas crush nya nyosor gue, tapi sumpah deh gue juga kaget tadi gak nyangka tuh cowok rese bakal berani begitu di depan umum!" Decak Kasih dengan tampang kesal.

__ADS_1


"Dan elo harus tau Rania kalo gue tuh enggak suka sama Genta, dia itu buat gue kayak kutukan tau enggak. Jadi elo jangan khawatir gue bakal suka sama dia!" Lanjut Kasih untuk kemudian memperlihatkan ekspresi seakan-akan ingin muntah setelah mengucapkan kata suka pada Genta, membuat ketiga sahabatnya langsung tertawa.


"Jangan suka sok jijay gitu lho, siapa tau malah jodoh sama dia!" Ejek Axel yang langsung disalak Kasih dengan suara menggelegar.


"Idih najiss..!".


"Jalan yukk" Ajak Evelyn.


"Iya, besok kan libur ini. Kita seneng-seneng dulu sebelum Senin mulai nguras otak buat belajar!" Sahut Axel bersemangat.


"Elo boleh kan pergi keluar sama Bude lo?" Tanya Rania kali ini sedikit ragu apalagi melihat wajah Kasih yang sepertinya ragu-ragu menerima ajakan mereka.


"Gue enggak tau boleh apa enggak, masalahnya Mas Dewa gak ada di rumah. Bude lagi repot banget, tapi sebentar ya gue coba izin dulu ke Bude!" Tak ingin mengecewakan sahabatnya Kasih pun memberanikan diri untuk meminta izin pada Ranti.


Dan seperti dugaannya, Ranti tetap mengizinkan Kasih untuk keluar tapi harus dengan izin dari Dewa. Dan inilah perjuangan yang sesungguhnya ketika ia harus menghadapi Dewa sendirian demi untuk meminta izin hendak melakukan apa yang ia inginkan.


Karena Dewa memang tak pernah main-main dalam mengawai dan menjaga Kasih hingga ia terlihat keras dan tegas pada Kasih.


"Sama Bude mah selalu boleh, tapi dengan syarat harus dapet izin dulu dari Mas Dewa!" Jawab Kasih.


"Ya udah izinlah, apa susahnya sih?" Salak Axel kesal melihat Kasih masih saja menampilkan wajah ragu.


"Masalahnya dapetin izin dari Mas Dewa tuh susah banget, dia gak bakal segampang itu ngasih izin gue buat main keluar apalagi menjelang malam gini!" Sahut Kasih menghela nafasnya berat.


"Jadi selama ini lo gak pernah main keluar? Kuper dong lo?" Axel benar-benar dibuat takjub lagi dengan tingkah sahabat cantiknya ini.


Setelah selera makan yang aneh, sekarang mereka bertiga ditunjukan oleh keseharian Kasih yang tak sebebas remaja lainnya, padahal jelas mereka hidup di ibukota yang notabene bergaul serta menikmati masa remaja dengan kegiatan bermain dan hang out bersama para sahabat adalah hal lumrah.


"Elo itu kan bukan anak kecil lagi Kasih, elo butuh bersosialisasi, elo harus tau dunia luar biar elo gak kuper-kuper amat. Lagian main-main di luar buat anak seumuran kita gak semuanya buruk kok, kita bisa seneng-seneng menikmati masa remaja kita dengan berbagai hal sesuai usia kita, misalnya main di game center, keliling mall, nongkrong di kafe kekinian. Apa salahnya coba? Yang penting kita bisa jaga diri aja!" Ucap Rania menjelaskan.


"Gue bukannya gak pernah ngelakuin itu semua, gue juga sering kok ngelakuin semua hal yang elo bilang tapi gue ngelakuinnya sama Mas Dewa dan teman-teman dia!" Penjelasan Kasih sontak membuat ketiga sahabatnya membolakan mata mereka.

__ADS_1


"Elo nyaman jalan bareng sama temen-temen Mas lo?" Celetuk Evelyn yang disahuti anggukan oleh Kasih.


"Ya ampun Kasih, elo itu bukan anak TK lagi yang harus terus-terusan diawasi. Usia kita itu udah saatnya bisa mengeksplor diri kita sendiri, lagian pergi bareng sahabat-sahabat lo bakal berasa lebih santai dan bebas, beda kalo pergi sama keluarga! Ishh.. sebel gue sama Mas Dewa, keterlaluan amat posesifnya ke elo!" Cibir Rania.


"Udah-udah gini aja, sekarang elo telepon Mas Dewa elo itu coba minta izin sama dia. Elo ngomong apa yang kita omongin tadi, nahh kita lihat deh dia bakal kasih izin enggak ke elo!" Usul Axel yang diangguki semuanya.


Kasih langsung mengambil ponselnya dari dalam saku apron yang masih ia pakai, dan dengan sedikit ragu ia mendial nomor Kakak sepupunya tersebut.


"Halo Mas Dewa..!" Sapa Kasih ketika panggilannya sudah terhubung, ia sengaja meloudspeaker ponselnya agar semua bisa mendengarkan.


"Iya, kenapa Dek?" Sahut Dewa dari seberang sana.


Cukup lama Kasih terdiam karena ia sungguh ragu ingin mengutarakan keinginannya agar Dewa memberinya izin untuk bermain bersama ketiga sahabatnya.


"Mas, emhh.. Kasih mau minta izin main keluar sama temen-temenku. Mereka udah ngejemput aku" Kasih begitu takut mengutarakan keinginannya tersebut.


"ENGGAK..!" Jawab Dewa tegas, seperti dugaannya.


"Tapi Mas Kasih cuma mau jalan ke mall atau enggak nongkrong di cafe aja. Aku janji sebelum jam sepuluh, aku udah di rumah!" Rayu Kasih memelas.


"Kalo gue bilang enggak, ya enggak. Ngerti lo? Lo mau ke mall? Mau nongkrong di cafe hah? Besok gue ajak!" Dewa benar-benar tak terbantahkan, membuat ketiga sahabat Kasih hanya bisa menggelengkan kepala.


"Tapi temen-temen aku udah di sini Mas, mau ngajak jalan aku!" Sekali lagi Kasih mencoba bernegosiasi.


"Main aja di rumah, oke! Pokoknya gue enggak ngizinin elo keluar, ngerti!" Tegas Dewa sekali lagi.


"Mas Dewa nyebelin ihh!" Geram Kasih dengan suara menahan tangis, kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya sepihak.


"Maaf, gue gak diizinin sama Mas Dewa!" Ucap Kasih disela isakannya.


Merasa kasihan ketiga sahabatnya pun memilih menghabiskan waktu bermain di kamar Kasih, Ranti yang sempat mencuri dengar pun merasa iba pada Kasih langsung berinisiatif memesankan beberapa box pizza dan softdrink untuk mereka berempat.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2