
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Tapi ternyata kamu lagi asyik-asyikan sama cowok selingan kamu" lanjut Rangga begitu menyakiti perasaan Kasih.
Kasih hanya menatap penuh nanar ke wajah Rangga yang begitu terlihat merah padam akibat menahan gejolak amarah.
"Aku, aku cuma mau ketemu Genta buat bilang supaya antara aku dan dia gak berusaha buat berteman. Aku, aku juga minta dia buat ambil tas yang dia kasih ke aku sama--" penjelasan Kasih terpaksa harus terpotong ketika Rangga dengan mata makin menyalang menyalaknya.
"Dia ngasih kamu tas? Pasti harganya mahal, iya?"
Kasih mengangguk mengiyakan pertanyaan Rangga dengan takut-takut, terlebih saat melihat senyum yang sulit diartikan dari Rangga.
"Makanya aku mau kembalikan!"
"Tapi kenyataan yang baru aja aku lihat apa, huh? Kamu justru asyik berciuman di tempat sepi kayak gini, kamu udah tergoda dengan pesona Genta atau mungkin sudah luluh dengan uang Genta?" sarkas Rangga semakin menyakiti hati Kasih.
"CUKUP KAK RANGGA, CUKUUPPP!" teriak Kasih.
"Aku dipaksa sama dia, aku ke sini cuma mau bilang ke dia kalo aku enggak mau lagi berhubungan sama dia. Tapi dia enggak mau, dia justru nyium aku dengan paksa, aku, aku udah berusaha buat berontak tapi aku kalah tenaga. Aku--!"
"Tapi yang aku lihat, kamu begitu pasrah menerima perlakuan Genta!" sindir Rangga menyalak penjelasan Kasih.
"Dan elo selalu tau kan tiap cewek yang gue kasih barang mewah, artinya!" ujar Genta dengan senyum smirknya berusaha memprovokasi keadaan.
"Artinya?"
Kasih benar-benar tak mengerti dengan ucapan Genta, ia menatap lekat Genta dan Rangga bergantian karena dia yakin hanya dirinya lah yang tak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Kamu udah tidur sama dia?" entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, akan tetapi yang pasti ucapan Rangga kali ini sudah benar-benar menyakitkan perasaannya.
"Kak Rangga nuduh aku udah tidur sama dia?" tanya Kasih denga suara tercekat, air matanya pun sudah luruh terlebih saat Rangga memalingkan wajahnya bukan malah menjawab pertanyaannya.
Kasih kemudian menengok ke arah Genta yang masih saja menampilkan senyum devilnya.
Tak tahu kah cowok brandal itu jika semua yang telah ia lakukan pada Kasih begitu membuat gadis cantik itu terhina.
Kasih pun hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap kedua cowok di hadapannya sekarang secara bergantian.
"Harusnya aku nurut sama omongan Kak Rangga buat enggak berdekatan sama Genta dari awal kalo tau ternyata Kakak sama sekali enggak ada rasa percaya ke aku" Kasih menghela nafasnya berat.
"Dan buat elo Genta, terima kasih buat perilaku elo yang bener-bener ngebuat gue sangat terhina selama ini, gue sempet mikir elo enggak seburuk dugaan gue, tapi ternyata gue salah. Elo jauh lebih buruk dari dugaan gue!"
Hancur dan terhina perasaan Kasih saat ini, beberapa kali ia menyusut air matanya sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari kedua cowok menyebalkan untuknya saat ini.
Cukup, ia sudah tak mau lagi terlibat dengan dua saudara sepupu itu. Meskipun ia begitu menyayangi Rangga, tapi ia memilih untuk tak membiarkan seorang pun menyakitinya.
Lebih baik ia merelakannya, untuk apa ia terus melanjutkan hubungan dengan seseorang yang tidak mempercayainya bahkan menuduhnya melakukan hal serendah itu.
__ADS_1
Kasih terus mempercepat langkahnya dan sialnya saat di ujung lorong gudang ia harus bertemu dengan Clara.
Ia pun menghembuskan nafasnya berat ketika semakin mendekati Clara yang tengah berdiri dengan angkuh bersama dengan teman-temannya.
"Kenapa nangis? Sakit abis di threesomee?" ejek Clara dengan senyum jahatnya.
"Maksud Lo?" tanya Kasih yang benar-benar tak mengerti maksud ucapan Clara.
"Cihhh, pura-pura sok polos. Menjijikan!" Clara berdecih.
"Menurut elo, cewek dan dua cowok berada di sudut tempat paling sepi di sekolahan ngapain coba?" tanya Clara mendekatkan wajahnya di telinga Kasih.
Kasih yang sama sekali tak mengerti maksud ucapan Clara hanya terdiam.
"Jadi, antara Genta dan Rangga siapa yang lebih luar biasa, yang lebih memuaskan?" lanjut Clara lagi, kali ini Kasih bisa menangkap arah pembicaraan cewek menyebalkan di hadapannya ini.
"Jangan samain gue sama elo! Gue bukan cewek gampangan kayak elo yang sama siapa aja mau dibobol. Menjijikan!" balas Kasih tanpa rasa takut sama sekali.
Merasa terhina, Clara tanpa ampun langsung menjambak rambut panjang Kasih yang memang dibiarkan terurai.
Terkejut dengan perilaku impulsif Clara, Kasih tak sempat menghindari serangan yang dilakukan oleh Clara. Dengan mudahnya Kasih langsung jatuh terlentang dan langsung ditindih oleh Clara yang duduk di atas perutnya.
"Munafik tau enggak Lo! Elo pikir cowok sama cewek di tempat sepi ngapain hah kalo enggak begituan!" geram Clara menuduh.
"Gue enggak perlu ngejelasin apa-apa sama elo, tapi yang jelas gue enggak serendah elo melakukan hal menjijikan seperti yang biasa elo lakuin. LEPAAASSSSS!" Kasih begitu berusaha keras melepaskan diri dari kungkungan Clara, bahkan kini Clara berusaha memukulinya dengan membabi buta.
Kasih berusaha menghindari tiap tamparan yang akan dilayangkan Clara ke arah wajahnya, sekali-dua kali ia pun mencoba untuk membalas Clara.
Hingga, suara teriakan Genta menghentikan perbuatan Clara.
"CLARAAAA, STOP!!"
Mereka langsung melihat ke arah Genta yang berlari ke arah mereka yang disusul oleh Rangga di belakangnya.
"Kamu apa-apaan sih hah?" Genta menarik kasar lengan Clara agar bangkit dari atas tubuh Kasih yang sudah lemas tak berdaya.
Sedang Rangga, ia langsung membantu Kasih untuk berdiri.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Rangga penuh kekhawatiran.
Namun tanpa siapapun menduga, Kasih menghempaskan tangan Rangga dengan kasar, "LEPASSS!! Aku capek berurusan sama kalian semua!"
Dengan susah payah, Kasih berusaha berdiri. Dirasa cukup kuat ia pun langsung melangkahkan kakinya perlahan.
Meskipun kepalanya terasa sangat pening, ia berusaha keras untuk tetap kuat dan tidak pingsan. Ia tak mau terlihat lemah di hadapan orang-orang kaya yang telah menyakitinya.
Kasih tak langsung menuju ke kelasnya, ia memutuskan untuk ke toilet merapikan dirinya yang terlihat sangat kacau saat ini.
Sesekali Kasih menyusut air matanya yang terus saja deras mengaliri pipinya.
Tak hanya wajah dan tubuhnya, hatinya pun sangat sakit dengan perlakuan mereka, terlebih Rangga.
__ADS_1
Genta yang telah melecehkannya, Rangga yang telah menuduhnya, juga Clara dengan segala tindakan dan tuduhan yang begitu menjijikan terhadapnya.
Terlebih kepada Rangga, ia tak pernah menyangka jika Rangga sebegitu tidak percaya terhadapnya, bahkan dengan terang-terangan dia mengiyakan perkataan bohong Genta.
"Gue enggak serendah itu. Hiks..!" isak Kasih sambil terus merapikan dirinya.
Bel tanda masuk sudah berbunyi, akan tetapi Kasih memilih masuk ke dalam salah satu bilik toilet untuk sekedar duduk menenangkan dirinya, juga untuk meredakan pening di kepalanya.
Sudah lebih dari lima belas menit Kasih berada di dalam toilet, merasa jauh lebih baik Kasih pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya mengikuti pelajaran yang sudah bisa dipastikan sangat terlambat ia mengikutinya.
"Lo dari mana?" tanya Axel berbisik.
"Toilet, perut gue lagi agak enggak beres" jawab Kasih sedikit berbohong.
"Elo enggak apa-apa? Kok elo berantakan dan pucet gitu? Lihat tuh muka Lo juga memar, elo abis ribut?" bisik Axel terus menerus dengan sederet pertanyaan yang membuat Kasih merasa jengah.
"Elo bisa diem enggak sih? Nanya terus, bikin gue nambah pusing aja!" ketus Kasih.
"Cerita aja kalo ada apa-apa, jangan dipendem sendiri!" titah Axel masih dengan berbisik.
Sungguh ucapan Axel langsung kembali memancing tangis Kasih, seberapa pun dia bersikap judes, Axel tetap tak patah arang untuk berada di dekatnya dan menunjukkan kepeduliannya.
"Jangan nangis, nanti pulang gue anter ya. Gue mau pergi lewat arah rumah elo, jadi sekalian aja ya" Axel berbisik sambil mengulum senyuman, tangannya pun tak berhenti membelai rambut belakang Kasih sampai ke punggung.
Kasih pun menganggukan kepalanya, ia berusaha tersenyum meski sambil menyusut air matanya.
"Makasih Sel" ucap Kasih lirih, kali ini Axel menganggukkan kepalanya gantian.
***
Sepanjang perjalanan Kasih terus bercerita tentang semua yang menimpanya hari ini pada Axel.
Awalnya ia enggan menceritakan hal menyakitkan yang ia alami, tetapi ia butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahnya, seseorang untuk memberikannya nasehat dan pendapat, apakah sudah benar jika dirinya menjauh dari ketiga orang kaya yang begitu seenaknya terhadap dirinya.
"Gue rasa apa yang elo lakuin udah bener, ngapain bertahan kalo cowok Lo aja enggak sama sekali percaya sama elo. Lagian, gue heran deh kok iya Rangga bisa-bisanya bersikap begitu ke elo?" Axel terlihat ikut kesal dengan apa yang menimpa sahabat cantiknya itu.
"Gue juga enggak nyangka, gue pikir Kak Rangga bakal ngepihak gue, percaya sama gue dan ngelindungin gue. Tapi ngelihat gue dilecehkan begitu malah dia mikirnya gue ikut menikmati apa yang Genta perbuat ke gue. Gue ngerasa terhina banget, tau enggak?" Kasih kembali terisak.
"Emang gue ada tampang cewek gampangan apa?" lanjut Kasih meminta pendapat sang sahabat dengan suara tercekat.
"Bukan elo yang gampangan, dasar merekanya aja yang selalu ketemu dengan cewek-cewek enggak bener, akhirnya mereka menyama ratakan semua cewek kayak cewek-cewek bego yang pernah mereka mainin, termasuk Clara!" suara Axel begitu menggebu-gebu.
"Elo mau putus dari Rangga?" tanya Axel lagi setelah beberapa saat diam untuk memberikan waktu pada Kasih menangis agar melegakan sedikit rasa sakit di hatinya.
"Gue belum tau, gue sayang sama dia tapi gue bener-bener kecewa sama dia. Untuk sementara ini gue enggak mau berhubungan dengan mereka dulu, gue pengen tenang. Gue capek, gue sakit hati!"
Axel bisa merasakan rasa sakit dan kecewa yang Kasih rasakan di setiap ucapannya.
Ia pun merasa iba dengan apa yang telah menimpa sahabat cantiknya itu, namun ia tak sama sekali tau harus berbuat apa untuk membantu sang sahabat agar tak terlalu terpuruk dengan keadaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1