Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Melunak


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Malamnya saat Kasih membantu Ranti dan beberapa karyawan Ranti menyortir bahan-bahan bumbu serta bahan-bahan baku untuk masakan esok hari yang sudah dipastikan akan ramai setiap akhir pekannya, Dewa pulang dengan membawa enam box martabak manis termasuk satu box martabak spesial untuk adik kesayangannya.


Namun bukan wajah senang yang diperlihatkan sang adik, justru Dewa menerima wajah kesal Kasih yang langsung berdiri meninggalkannya sesaat setelah ia duduk di sebelah Kasih.


"Ini martabak pesenan elo, gak mau dimakan dulu?" Dewa mencoba mengiming-imingi Kasih dengan oleh-oleh yang ia bawakan, namun Kasih hanya bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.


"Kenapa sih dia Bu?" Tanya Dewa setelah meminta salah satu karyawan sang Ibu untuk menyajikan lima kotak martabak sebagai teman mereka bekerja malam ini.


"Ngambek dia kamu gak izinin main sama temen-temennya!" Jawab Ranti.


"Kan sebagai gantinya besok aku ajak main, masa masih ngambek juga sih?" Gerutu Dewa yang memang mempunyai perasaan minus kepekaannya.


"Dewa kamu ngerasa berlebihan gak sih dengan cara kamu memperlakukan Kasih? Kasih itu udah remaja, udah bukan anak kecil lagi yang harus kamu batasi sebegitunya. Dia butuh bergaul Dewa, lagian Ibu lihat teman-temannya baik-baik kok, sopan semua.!" Ucap Ranti mencoba memberikan pengertian pada anaknya.


"Justru karena Kasih udah remaja, dia lagi di masa labil kan Bu. Aku harus lebih tegas lagi ngawasin dia nya!" Sahut Dewa


"Ibu ngerti maksud kamu, tapi bukan berarti kamu harus ngekang dia begini, kasihan dia Wa. Tadi aja dia nangis kejer banget abis matiin telpon kamu sampe temen-temennya bingung bikin dia tenang. Dia butuh bergaul Wa, dia butuh main sama teman-temannya. Yang terpenting kita tau dengan siapa saja dia bergaul, dan kita batasi saja waktu dia bermain di luar misalnya jangan sampai lebih dari jam 10 malam..!" Usul Ranti.


"Tapi Bu__!".

__ADS_1


"Dewa, kita harus belajar memberi kepercayaan pada Kasih. Dia juga butuh mengenal dunia luar, nak! Ibu malah takut jika kelak dia harus berhadapan dengan dunia luar, dia sama sekali tak memiliki pengalaman membuatnya malah justru terjerumus karena tak tahu mana yang baik, mana yang buruk di luar sana. Ibu mohon lebih bijaklah Nak, awasi dia tapi jangan kekang dia!" Lanjut Ranti.


"Entahlah Bu, aku hanya gak ingin Kasih tersakiti..!" Sahut Dewa menghela nafasnya berat.


"Ibu tau kamu sangat menyayangi Kasih, tapi Kasih juga butuh menikmati masa remajanya Nak. Percayalah Kasih pasti bisa jaga diri!" Ranti sangat mengerti keposesifan Dewa pada keponakan cantiknya itu.


"Baiklah Bu kalo emang apa yang Ibu bilang baik untuk Kasih, aku coba untuk sedikit melunak dan berharap dia akan baik-baik aja!" Ucap Dewa mengalah.


"Temui Kasih, minta maaf sama dia. Dia bilang ke Ibu tadi gara-gara kamu temen-temennya jadi ngelihat sisi cengeng dia!" Ranti terkekeh mengingat gerutuan keponakannya itu.


"Ya udah kalo gitu aku ke atas dulu ya Bu, sekalian ngasih pesenan dia, martabak super duper spesial!" Pamit Dewa yang diangguki oleh Ranti.


Sesampainya Dewa di kamar sang adik, ia melihat Kasih yang sudah berbaring miring membelakangi pintu. Tapi Dewa yakin adik manjanya itu belum terlelap.


"Nih martabak pesenan lo, abisin!" Dewa menyodorkan kotak berisi martabak yang mengeluarkan aroma yang cukup menggoda.


"Marah mah marah aja, gak usah musuhin makanan yang gak tau apa-apa!" Seloroh Dewa mencoba memancing tawa adiknya, namun sayang sang adiknya sepertinya benar-benar dalam mode ngambek akut.


"Mas Dewa kenapa sih tega banget sama aku?" Salak Kasih yang sudah mendudukan dirinya.


"Aku cuma mau main sama temen-temen aku, bukan mau macem-macem. Aku juga gak bodoh-bodoh amat kok, masih ngerti batasannya tapi Mas Dewa enggak percaya sama aku. Aku tuh pengen kayak temen-temen aku Mas, pengen ngerasain yang namanya hang out, ngumpul-ngumpul, nonton bioskop, jalan-jalan ke mall!" Dewa terus saja mendengarkan protes sang adik tanpa mau menyelaknya, membiarkan Kasih mengutarakan keinginannya selama ini.


"Bukannya semua udah sering elo lakuin?" Tanya Dewa seolah-olah mengingatkan.


"I.. Iya sih, tapi kan sama Mas Dewa dan temen-temen Mas Dewa. Pasti bedalah lah rasanya kalo jalannya sama temen-temen aku sendiri!" Sahut Kasih sempat tergagap.

__ADS_1


"Apa bedanya coba?" Goda Dewa membuat Kasih berdecih kesal.


"Mas Dewa mah nyebelin, keluar sana dari kamar aku sekalian bawa aja tuh martabak. Abisin sendiri, aku gak mau ngomong sama Mas Dewa lagi!" Usir Kasih dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat sang adik mulai merajuk sambil menangis, Dewa langsung menarik tubuh mungil adiknya ke dalam dekapannya.


"Mau janji beberapa hal ke gue?" Tanya Dewa masih terus mendekap tubuh Kasih.


"Apa?" Suara Kasih begitu lirih dan tercekat.


Kasih bukan tipe gadis cengeng dan manja namun ketika ia harus menangis artinya ia memang merasakan sesak yang teramat sangat.


Dan keinginannya untuk bisa menikmati masa remajanya seperti ketiga sahabatnya, tetapi harus ditentang oleh sang Kakak membuatnya marah dan teramat kesal karena ia merasa terkekang dengan sikap sang Kakak yang terlalu posesif.


"Lo boleh main sama temen-temen lo ketika besoknya elo libur dan udah ada di rumah pas jam sepuluh malem gak boleh lebih, dan gue minta banget sama elo jangan sekali pun ke tempat maksiat macem diskotik dan juga bertemen sama cowok gak jelas. Tolong lo jaga diri, gue berharap kebebasan yang gue kasih ke elo gak bikin gue kecewa!" Kasih mendongakan kepalanya menatap Dewa yang menunduk untuk menatap dirinya, ia begitu bahagia akhirnya Dewa mau memberikan izin untuk dirinya menikmati masa remajanya seperti teman-temannya.


"Makasih Mas Dewa, makasih banyak. Aku janji Mas aku gak bakal ngerusak kepercayaan yang Mas Dewa kasih buat aku!" Sahut Kasih senang, ia pun memeluk erat tubuh kekar Kakak sepupunya tersebut.


"Ya udah, sekarang istirahat. Besok pasti kedai Ibu rame, kita butuh tenaga buat bantu Ibu kan?" Perintah Dewa lembut mengusap-usap puncak kepala Kasih.


"Makan martabaknya dulu yuk, baru deh gosok gigi terus tidur!" Ajak Kasih kembali ceria.


"Lho, bukannya elo enggak mau martabaknya? Baru gue mau abisin sendiri di kamar!" Ledek Dewa.


"Enak aja, aku udah ngiler berat tau dari pagi apalagi pas di depan mata gini, aromanya menggoda banget!" Sahut Kasih bergelayut manja.

__ADS_1


"Makanya kalo ngambek, ngambek aja gak usah sok-sok nolak makanan!" Cibir Dewa membuat keduanya tergelak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2