Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Pangeran Bermobil


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Bude!" panggil Kasih saat sang Bude baru saja memasuki kamarnya.


"Kenapa Sayang? Masuk sini!" sahut Ranti tersenyum.


Dengan langkah riang dan senyum yang sangat cantik, Kasih yang membawa paper bag pemberian Rangga memasuki kamar sang Bude.


"Bude masih sibuk enggak?" tanyanya setelah mendudukan diri di bangku depan meja rias dan meletakkan paper bag nya di sana


"Bude mau sholat Maghrib dulu, abis itu ke kedai lagi. Masih rame di sana tumben!" jawab Bude tersenyum.


"Emang Cantiknya Bude mau minta apa sama Bude?".


Yupz, Budenya ini selalu tahu jika dirinya tengah menginginkan sesuatu.


"Aku mau minta tolong Bude dandanin aku, aku mau diajak pergi sama Kak Rangga. Mas Dewa udah ngebolehin kok aku keluar sama Kak Rangga!".


"Ya udah, tapi Bude sholat dulu ya. Kamu udah sholat?" tanya Ranti mengingatkan.


"Lagi enggak Bude, mandi sore tadi aku haid!" jawab Kasih.


***


Kasih ternganga melihat hasil make up sang Bude, tak pernah menyangka jika ia terlihat sangat berbeda, terlihat sangat cantik.


"Ini beneran Kasih kan Bude? Kok aku bisa cantik gini?" tanya Kasih terheran-heran.


Ranti terkekeh mendengar pertanyaan dari keponakan cantiknya, tak sadarkah dia kalo sebenarnya dia itu memiliki paras yang sudah cantik.


Ranti juga hanya sedikit mengaplikasikan make up untuk mempertegas kecantikan Kasih saja.


"Kamu emang dasarnya udah cantik, Sayang!" pujinya.


"Iya sih Kasih tau, tapi enggak pernah nyangka aja kalo bakal secantik ini. Makasih ya Bude!" dan Kasih tetaplah Kasih yang selalu narsis membuat Ranti hanya terkekeh lucu dengan kenarsisan ponakannya itu.

__ADS_1


"Ya udah sekarang ganti pakaian kamu, sebentar lagi pangeran bermobil kamu pasti dateng ngejemput!" titah Ranti yang langsung diangguki oleh Kasih.


"Dimana-mana pangeran berkuda, Bude?" cibir Kasih.


"Emang Kak Rangga kamu itu jemput kamu pake kuda?" tanya Ranti sarkasme.


"Mobil sih!" jawab Kasih cengengesan.


***


Tepat pukul tujuh, Rangga pun datang untuk menjemput sang pujaan hati.


Selagi menunggu Kasih mempersiapkan diri, Rangga menunggu di ruang tamu ditemani oleh Dewa dan Ranti mengobrol.


"Diminum dulu Nak Rangga!" Ranti menyodorkan gelas berisi es sirop pada Rangga.


"Kasihnya tinggal ganti pakaian aja, tadi udah Bude dandanin!" ucap Ranti lagi memberitahukan.


"Makasih Bude, maaf jadi merepotkan" sahut Rangga, kemudian menyesap es siropnya.


"Bude tinggal ke kedai dulu ya, mau bantu-bantu tutup kedai. Ngobrol-ngobrol dulu aja sama Dewa ya Nak Rangga!" pamit Ranti yang diangguki keduanya.


Kasih memang sempat menceritakan pada Dewa dan Ranti perihal pertengkarannya dengan Rangga.


Dia juga sempat mengomel pada keduanya karena menurutnya pertengkaran itu lantaran Ranti dan Dewa memberi izin pada Genta untuk mengajaknya jalan.


"Gue emang enggak suka Mas, ngelihat Kasih terlalu deket sama Genta. Makanya pas gue ngelihat mereka jalan bareng, gue langsung panas, apalagi gue ngelihat mereka gandengan tangan sambil bercanda-canda, makin kesel aja gue!" adu Rangga menjawab pertanyaan Dewa.


"Mereka gandengan tangan?" Dewa menaikkan intonasi suaranya.


Rangga hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Dewa.


"Tapi kata Kasih, itu murni keenggak sengajaan karena dia emang kebiasaan gandeng siapa aja yang lagi jalan bareng sama dia!" Dewa mengangguk, mengiyakan ucapan Rangga.


"Dia emang begitu, selalu gandeng siapa aja yang lagi jalan sama dia. Nggak perduli itu cewek atau cowok. Udah kebiasaan dia!".


"Gue juga minta maaf, gara-gara gue sama Ibu kalian jadi ribut! Gue sebenernya juga enggak pengen ngasih izin buat tuh cowok belagu ngajak si Kasih, tapi apa boleh buat kalo Ratu Penguasa di sini udah bilang 'oke, enggak apa-apa' ya kita enggak bisa apa-apa selain nurut" lanjut Dewa penuh penyesalan.


Rangga tertawa melihat air muka Dewa yang seperti memendam kekesalan yang teramat sangat, "enggak apa-apa Mas, lupain aja. Toh gue sama Kasih udah baik aja sekarang!".

__ADS_1


Selagi mereka asyik berbincang, Kasih dengan malu-malu sudah berdiri tak jauh dari kursi tamu yang mereka duduki.


"Berangkat sekarang?" tanya Kasih langsung membuat kedua lelaki tampan memusatkan perhatian mereka pada dirinya.


Tanpa dikomando siapapun, tiba-tiba Rangga dan Dewa berdiri menatap penuh kagum pada sosok yang begitu cantik dan menawan di hadapan mereka. Bahkan keduanya sama-sama ternganga.


"Kalian kenapa sih? Aku aneh ya? kemenoran ya?" Kasih langsung menelisik penampilannya sendiri dari atas ke bawah, takut-takut jika dirinya memang terlihat aneh.


"Ini beneran elo, Kasih?" tanya Dewa tak percaya dengan sosok yang begitu cantik di hadapannya adalah adik sepupunya yang super cerewet.


"Iya ini aku, emang kenapa sih?" tanya Kasih sedikit merengek.


"Gila cantik banget!" ujar Dewa melihat Kasih dari atas sampai bawah.


Jelas, pujian frontal Kakak sepupunya membuatnya serasa terbang ke awan, apalagi saat melirik Rangga yang masih saja ternganga penuh kekaguman.


"Baru tau aku cantik?" narsis Kasih, seperti biasanya.


"Elonya mah biasa aja, baju sama make up Lo yang bikin elo tuh cantik!" elak Dewa menggoda sang adik yang mengerucutkan bibirnya dan membuat gemas kedua cowok tampan di hadapannya.


"Udah yuk Kak Rangga, mending kita berangkat sekarang. Kelamaan di sini entar bikin aura aku enggak cantik lagi!" ketus Kasih dengan mimik yang dibuat-buat.


"Kok gue jadi enggak rela ya ngebiarin elo pergi dengan penampilan secantik ini?" keluh Dewa.


Rangga dan Kasih langsung dibuat tertawa mendengar ketidak relaan Dewa membiarkan sang adik untuk keluar.


"Ya udah Mas, kami pamit dulu. Gue izin bawa Bidadari cantik ini keluar. Janji deh gue bakal pulangin dia tanpa lecet segaris pun!" pamit Rangga, membuat Kasih tersipu.


"Jangan cuma tanpa lecet, pulangin dia dalam keadaan perawan juga!" ledek Dewa frontal yang langsung dihadiahi pukulan keras di lengannya dari kepalan tangan mungil Kasih.


"Mas Dewa malu-maluin ihh!".


***


Kasih langsung melihat sekeliling ketika mobil Rangga telah berhenti di tempat yang tak asing untuk Kasih, "Kak Rangga ngajak aku ke rumah Genta?" tanyanya masih memperhatikan rumah besar tersebut yang sedikit berbeda dari kemarin, karena yang dilihatnya saat ini rumah tersebut dihias dengan lampu-lampu dan bunga-bunga yang indah.


"Yupz, aku emang mau ngajak kamu ke sini. Hari ini ada acara keluarga, sekalian ngerayain ulang tahun Kak Adhisti yang ke dua puluh enam. Keluargaku juga dateng, makanya aku bawa kamu sekalian mau aku kenalin ke mereka!" jawab Rangga mengerlingkan matanya.


Raut wajah Kasih seketika berubah, selain belum siap bertemu dengan keluarga Rangga, dia juga tak membawa kado apapun untuk Adhisti.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2