
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Elo bukannya lagi kesel ya sama si Genta?" tanya Axel mendekati Kasih saat sosok Genta sudah menghilang dari hadapan mereka.
Kasih menganggukkan kepalanya, "dan sekarang gue makin kesel ngelihat kelakuan seenaknya dia!"
"Elo bayangin aja, masa dia dengan seenak jidatnya ngebuang tas seharga puluhan juta rupiah begitu aja. Gila kan tuh!" lanjutnya lagi tak habis pikir.
"Kenapa dibuang?" tanya Axel yang memang tak mengerti urusan antara Kasih, Genta dan tas tersebut.
Kasih pun menjelaskan secara singkat permasalahan antara dirinya, Genta dan tas tersebut.
"Gue rasa dia beneran suka deh sama elu, bisa-bisanya ngasih barang branded semahal itu ke elo!" sahut Axel usai Kasih selesai bercerita.
"Wajar sih dia suka, gue cantik gini kok! Elo kalo normal juga pasti bakalan jatuh cinta sama gue" narsis Kasih dengan cengiran menyebalkannya.
"Gue normal anjirrr!" salak Axel kesal mendengar tuduhan menyebalkan dari sahabat cantiknya.
Kasih langsung tertawa melihat wajah sahabat gemulainya yang berubah merah padam akibat kesal oleh celetukannya.
"Udah ahh, jangan kesel-kesel gitu. Sekarang mending bantuin gue nyari tuh tas, buru makin malem. Entar keduluan Mas Dewa pulangnya, abis dimarahin lagi gue!"
"Elo gendeng apa gimana sih? Liat dong gelap gitu, gue enggak mau, entar ada binatang melata berabe dah!" tolak Axel bergidik ngeri.
"Tapi gue enggak bisa ngebiarin tuh tas kebuang gitu aja, tujuh puluh juta lho! Ayo dong Axel, tolongin gue!" rengek Kasih.
"Ishhh, elo tuh ya. Coba deh elo pikir kira-kira kalo kita nyari tuh tas ketemunya jam berapa?"tanya Axel menarik turunkan alisnya, ingin membuat gadis itu menimbang kembali keinginan mencari tas tersebut.
"Terus gimana dong?" Kasih merengek.
"Udah gue anter pulang aja, entar biar gue minta orang-orang bokap gue buat nyari tas elu. Dijamin besok pagi tuh tas udah ada di tangan elo lagi!" Axel langsung meletakan tangannya di pundak untuk menggiring gadis cantik itu ke parkiran.
Kasih pun akhirnya menuruti perintah sang sahabat, ia pun langsung menggelayut manja pada Axel yang begitu posesif menggandengnya.
"Orang kaya mah emang beda yaaa, gampang banget nemuin problem solving serumit apapun masalahnya!"
***
Paginya benar saja, saat di meja makan Dewa memberitahukan jika semalam ia menerima tas yang ia kirimkan ke rumah Genta dari seseorang.
__ADS_1
"Kok balik lagi tuh tas?" tanya Dewa di sela mengunyah sarapannya.
"Semalem yang balikin orangnya Genta?" lanjutnya bertanya lagi, meskipun pertanyaan pertamanya belum dijawab oleh Kasih.
"Bukan, itu orangnya Axel. Semalem Genta dateng ke sini, ngajak aku ke taman kota--!" penjelasan Kasih terpaksa terpotong di udara karena dengan ketusnya Dewa menyelaknya.
"Elo jalan sama Genta?"
"Ishhh, denger dulu kenapa....!"
Kasih pun langsung menceritakan semuanya pada sang Kakak sepupu, hingga kenapa tas tersebut bisa kembali padanya.
"Maksa bener dia buat ngasih tas itu ke elu!" cibir Dewa.
***
Di sekolah dengan lesu, Kasih memasuki kelasnya. Ia bingung harus diapakan tas yang saat ini kembali ia simpan di kamarnya.
"Udah nyampe kan tasnya?" tanya Axel saat Kasih sudah menduduki kursinya.
"Udah, makasih ya Sel!" jawab Kasih lesu.
"Udah kok masih lemes aja?" sindir Axel.
Kasih menghela nafasnya panjang, ia pun menatap Axel penuh arti yang seakan meminta sang sahabat memberikan solusi dari masalah yang tengah ia hadapi ini.
"Genta ngasih elo tas?" tanya kedua sahabat Kasih lainnya berbarengan sambil menengok ke arah belakang, menatap penuh rasa ingin tahu yang besar.
Makin berat saja beban yang dirasa Kasih, ia harus menjelaskan dari awal hingga kenapa Genta memberikannya tas tersebut sampai dengan kejadian semalam saat Genta dengan begitu mudahnya membuang tas yang sebenarnya ditolak oleh Kasih.
"Gue rasa beneran deh si Genta itu suka sama elo" tebak Evelyn yang ditanggapi cuek oleh Kasih.
Sedang Rania langsung memasang wajah cemberut, kesal dan cemburu, yang lainnya pun tak memperdulikan sikap Rania, mereka sudah faham sekali kecemburuan Rania terhadap Kasih yang lebih mendapatkan perhatian dari Genta.
Dan dengan kesalnya, Rania langsung kembali memutar tubuhnya ke depan, enggan untuk mendengar cerita Kasih selanjutnya.
"Jadi gue harus apain dong tas itu?" tanya Kasih pada kedua sahabatnya yang lain, Evelyn dan Axel.
"Genta kan bilang kalo emang elo enggak mau tuh tas disuruh buang atau enggak jual aja kan, jadi kalo menurut gue sih mending elo jual aja tasnya. Nah duitnya kalo emang enggak mau elo simpen mending elo sumbangin deh!" cetus Evelyn memberikan idenya yang langsung disambut sumringah oleh Kasih dan anggukan setuju oleh Axel.
"Bener juga, kok gak kepikiran sih sama gue? Daripada dibuang sia-sia mending dijual aja, duitnya kasihin deh ke yang lebih membutuhkan. Toh tuh tas udah punya gue, bebas dong mau gue apain aja!" Kasih begitu bersemangat atas ide yang diberikan oleh sahabatnya.
"Tapi kemana gue ngejualnya?" semangat Kasih seketika redup saat lagi-lagi ia kebingungan harus ia jual kemana tas tersebut.
__ADS_1
Terlebih dia sendiri bingung bagaimana cara memasarkan tas branded super mahal tersebut, karena ia sendiri tak mengerti apapun tentang tas tersebut.
"Ish, Kasih, Kasih! Elo itu bego apa gimana sih? tinggal elo online in aja di sosmed sama status elo! Nanti gue bantu juga deh ngejualinnya. Temen-temen arisan nyokap gue kan banyak tuh dari kalangan sosialita, nanti coba gue tawarin ke mereka buat anaknya!" usul Evelyn yang lagi-lagi disambut gembira oleh Kasih.
"Ini tasnya yang dia kasih gue! Awal dikasih sempet gue foto dulu!" Kasih menunjukkan foto di ponselnya kepeda para sahabatnya, kecuali Rania yang masih dalam mode cemburu.
"Ya udah lo kirim aja, nanti gue update di status sama semua sosmed gue!" perintah Evelyn yang diangguki oleh Kasih kemudian langsung mengirimkannya.
***
Genta : "Diambil lagi tuh tas?"
Kasih enggan membaca pesan yang dikirimkan Genta yang mengomentari statusnya, setelah membacanya Kasih pun kembali menyimpan ponselnya di atas meja belajarnya untuk kemudian kembali melanjutkan belajarnya.
Genta : "Kenapa dijual, elo beneran enggak suka barang pemberian gue? Apa elo lagi butuh duit?"
Namun sepertinya Genta enggan menyerah, ia terus saja mengirimi Kasih pesan-pesan.
Dan Kasih pun masih dengan pendiriannya tetap tak mau membalas pesan dari Kakak kelasnya yang super menyebalkan itu.
Akan tetapi sepertinya Kasih harus mengalah dan membalas pesan Genta, setelah sang Kakak kelas yang berkali-kali lipat menyebalkannya mulai mengancam, senjata terakhir dan andalannya.
Genta : "Balas pesan gue Kasih, atau gue teleponin terus nih!!!"
Kasih : "Gue blokir lah!!"
Genta : "Gue telepon melalui Bude lu lah, 081342913xx bener kan nomornya ππ"
Kasih : "Gentaaaaaa, nyebelin tau enggak lu. Iya itu tas gue ambil lagi, terus mau gue jual daripada terbuang sia-sia. Ada masalah lo hah?"
Genta : "Enggaklah Sayang, sama sekali gue enggak masalah kok. Terserah mau lo apain tuh tas, kan itu punya elo! Tapi gue penasaran, duitnya mau buat apa sih?"
Kasih : "Mau gue sumbangin ke beberapa panti asuhan. Lo tau enggak hah, barang yang elo buang seenak jidat elo itu, bakal lebih bermanfaat buat orang lain. Tujuh puluh juta cuma buat sebuah tas, menurut gue itu sakit jiwa karena dengan uang sebanyak itu elo bisa menorehkan senyum orang-orang yang kurang beruntung, elo bisa bikin kenyang perut-perut yang kelaparan tau enggak?"
Hati Genta berdesir membaca pesan yang dikirimkan oleh Kasih, gadis remaja yang mempunyai pemikiran dewasa selalu saja membuatnya terpukau.
Genta : "That's why i love you, you know?"
Kasih : " SINTING!!! Udah jangan gangguin gue terus, gue lagi ngerjain PR yang banyak banget ini!!"
Genta : "Selamat belajar wife to be ku ππ"
Kasih : "IDIIIHHHHH NAJISSSS ππ"
__ADS_1
Genta langsung tergelak membaca umpatan cewek mungil pemberani tersebut, terbayang bagaimana raut wajah kesal Kasih saat mengumpatinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=