
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Apa lu?" sembur Kasih saat melewati Genta yang menatapnya dengan tatapan meledek.
Tak ayal kekesalan Kasih langsung membuat Genta tergelak, merasa lucu dengan tingkah cewek cantik itu yang seakan tak ada rasa sungkan sama sekali dengan dirinya.
Dan Genta adalah Genta yang akan merasa ada yang kurang jika tidak menganggu cewek judes itu.
Dan dengan percaya diri, ia duduk di sebelah kursi Kasih yang langsung menatapnya dengan tatapan permusuhan yang sangat kentara.
"Begitu doang gaya pacaran Lo?" ledek Genta yang langsung dihadiahi tatapan menghunus oleh Kasih.
Bukannya takut, Genta justru dibuat gemas oleh tingkah Kasih.
"Begitu doang, apa maksudnya?" sembur Kasih judes.
"Yaa, cuma gandengan tangan and da-da da-da. Mana seru sih?" ejek Genta.
"Ya itulah bedanya gaya pacaran gue sama Kak Rangga, BER-MO-RAL!!' sindir Kasih tanpa rasa takut menyinggung Genta sama sekali.
"Ngebosenin!" ledek Genta lagi.
"Biarin!".
"Enggak seru!".
"Enggak masalah!".
Di saat mereka asyik perang argumen, Clara dengan wajah masam menghampiri mereka.
"Bisa kamu ikut aku, Hun?" ajak Clara ketus yang langsung dituruti oleh Genta dengan langsung berdiri dan menggandeng mesra tangan Clara.
"Mampus Lo!" umpat Kasih yang masih sempat didengar oleh telinga Genta yang sudah berjalan menjauh dari kursinya.
Bukannya marah atau pun kesal, Genta justru terkekeh pelan mendengar umpatan cewek berani itu.
Dengan menahan sesak dan kesal di dada, Clara mengajak Genta ke ruangan kosong penghubung antara aula dan toilet.
__ADS_1
"Sekarang aku mau minta kejujuran kamu!" ujar Clara.
Genta hanya memicingkan matanya mendengar permintaan Clara.
"Kamu suka sama cewek itu?" tanya Clara tegas menahan gemuruh di dadanya.
"Kasih maksud kamu?" tanya Genta memastikan.
"Siapa lagi!" Clara sudah tak bisa lagi menahan laju air matanya.
Bukannya iba atau merasa bersalah telah membuat kekasihnya bersedih, Genta justru tertawa melihat kecemburuan Clara terhadap Kasih.
"Harus berapa kali sih aku jelasin ke kamu, aku cuma suka gangguin dia, enggak lebih. Lagian aku udah bilang ke kamu, aku enggak suka sama sikap kamu yang kayak gini!" meski Genta mengatakannya dengan suara pelan, tapi tetap penuh dengan penekanan.
"Aku juga enggak suka Genta, kamu terus-terusan berinteraksi sama cewek ssialan itu!" geram Clara dengan air mata yang sudah menganak sungai.
"Ohh Clay, please! Stop kecemburuan kamu, aku enggak suka sama Kasih, dia bukan tipe aku!" gertak Genta.
"Okay fine, dia bukan tipe kamu! Tapi aku tau kamu Genta, kamu itu petualang. Aku yakin lambat laun kamu juga penasaran dengan dia!" sungguh Clara menahan sakit membayangkan jika suatu hari nanti Kasih menggantikan posisinya.
"Kamu tau kalo aku seorang petualang dan dari awal pun kamu udah menerimanya, tapi kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?".
Clara terdiam mendengar ucapan kekasihnya, ia memang menerima Genta sedari awal dengan jiwa petualangnya.
Berbeda dengan Kasih, padahal Genta belum melakukan apa-apa dengan gadis itu dan hanya sekedar mengganggunya. Akan tetapi rasanya hati Clara tidak terima, dia marah, dia cemburu.
"Kalo pun aku memang menargetkan Kasih untuk menghangatkan ranjangku, itu juga bukan masalahkan? Karena dari awal pun aku udah bilang ke kamu, aku enggak cukup dengan satu perempuan aja!" tegas Genta menatap tajam kekasihnya.
"Aku ngelihat kamu berbeda cara memandang dia, aku enggak bodoh Genta. Kamu menyukai Kasih!" Clara tertunduk dengan penuh rasa kecewa.
Sedang Genta langsung tergelak usai mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku bukan suka sama dia, aku cuma penasaran. Kamu tau, Baby, Kasih belum pernah dijamah sama sekali dan aku penasaran dengan rasa gadis yang belum terjamah sama sekali!".
Entah mengapa, Clara merasa tersindir dengan perkataan kekasihnya. Karena memang dia pun sudah tak suci lagi saat pertama kali menyerahkan tubuhnya pada Genta.
"Tapi kamu harus merasa tenang dan bangga, karena dari semua cewek yang pernah aku ajak berpetualang, cuma kamu satu-satunya yang bisa memuaskan aku. Kamu mempunyai nilai lebih dibanding dengan cewek lain, yaitu aku melakukannya dengan perasaan bukan sekedar naffsu aja!" rayu Genta.
Genta memilih untuk meluluhkan hati kekasihnya dibandingkan meneruskan perdebatan mereka, ia sungguh-sungguh lelah dan tak berminat menanggapi kecemburuan Clara.
"Kamu harus tau kalo aku sayang sama kamu dan aku minta maaf belum bisa menjinakkan jiwa berpetualang ku yang mungkin menyakiti kamu!".
__ADS_1
Genta langsung memangkas jarak antara mereka berdua, wajahnya pun semakin berdekatan dengan Clara.
Dengan kening saling menempel, Genta menatap dalam ke mata sang kekasih seraya berucap dengan penuh kelembutan.
"I love you..!".
Genta langsung ******* bibir Clara sesaat setelah Clara tersenyum mendengar ungkapan cintanya.
Ciuman mereka berlangsung lama dan dalam, tanpa mereka sadari Kasih berdiri terpaku melihat adegan vulggar di hadapannya saat ini.
Kasih yang ingin buang air kecil, tak menyangka harus menyaksikan adegan panas antara Genta dan Clara.
Setelah menguasai keterkejutannya, Kasih dengan cuek melanjutkan langkahnya ke toilet melewati kedua manusia laknat yang masih asyik saling ******* bibir.
"Bener-bener enggak bermoral, cowok cewek sama aja gak ngotak! Bisa-bisanya ciuman panas di area sekolah!" sindir Kasih lantang sambil menghentak-hentakkan kakinya kencang.
Kelakuannya pun berhasil membuat Clara dan Genta menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah Kasih yang memasang wajah jijik kepada mereka berdua.
Rasanya Clara ingin sekali menghampiri Kasih dan menjambak rambutnya akibat kesal dengan umpatan yang dilontarkan gadis bar-bar itu pada mereka berdua.
Berbeda dengan Clara, Genta justru dibuat tersenyum simpul dengan tingkah gadis pemberani itu, tentu tanpa sepengetahuan Clara jika dirinya tengah tersenyum.
Sedang Kasih dengan cueknya tetap berjalan menuju ke toilet untuk menuntaskan panggilan alamnya.
Tapi sebelum memasuki toilet, Kasih sempat kembali menyindir kedua muda-mudi.
"Dasar cabul, semoga Tuhan segera memberikan hidayah pada kalian berdua..!!".
Genta tak lagi bisa menahan gelak tawanya, terlebih saat Kasih mengumpati dan mendoakan secara bersamaan mereka berdua, Genta juga bisa melihat semburat merah di pipi gadis cantik itu.
"Ada yang lucu sampe kamu ketawa-ketawa gini?" lagi mood Clara dibuat kembali jatuh menyaksikan Genta tergelak hanya karena umpatan yang dilontarkan oleh cewek sainganannya itu.
"Clay, please!" nada suara Genta penuh peringatan.
Clara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Genta yang sepertinya tak mau mengerti jika dirinya cemburu dengan Kasih.
Menghindari pertengkaran, Clara memilih kembali ke aula dan duduk di kursinya sambil melihat-lihat beberapa hasil karya tulisan para anggota teater untuk drama mereka.
Tak lama, Genta menyusul dirinya duduk di sebelah.
"I'm sorry!" ucap Genta tanpa melihat ke arah Clara sama sekali.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=