
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Sekali lagi kami benar-benar memohon maaf atas kejadian yang menimpa Kasih saat ini, karena kejahilan putera kami membuat Kasih seperti sekarang ini. Kami sungguh-sungguh menyesalinya" Ucap Adam dengan raut wajah sedih penuh penyesalan.
"Kejahilan?" Tanya Dewa mengernyitkan dahinya.
"Iya, karena kejahilan putera kami Kasih terpaksa mencicipi makanan pedas" jawab Adam lagi, sedang Dewa langsung mengeratkan rahangnya serta menatap tajam ka arah Genta.
Andhira yang berdiri di sebelah Genta langsung menyikut anaknya untuk memberi kode agar Genta juga meminta maaf atas ulahnya.
"Saya minta maaf, saya bener-bener menyesali perbuatan saya. Saya gak tau kalo ternyata Kasih alergi makanan pedas, saya pikir dia hanya gak suka pedas aja. Makanya saya jahili dia sedikit!" Ucap Genta sungguh-sungguh penuh sesal.
Ranti sendiri terus saja membelai lengan Dewa, berusaha agar Dewa tak tersulut emosinya karena Ranti betul seperti apa suasana hati anaknya saat ini.
"Semoga setelah ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua agar lebih berhati-hati terhadap orang lain, kami juga berterima kasih keluarga Bapak sudah mau membantu biaya pengobatan Kasih sebagai bentuk tanggung jawab keluarga Bapak atas kejadian yang menimpa keponakan saya dan saya rasa cukup, tak perlu diperpanjang lagi. Lebih baik kita saling memaafkan dan berdoa agar Kasih cepat sembuh!" Ucap Ranti bijak membuat keluarga Dawson justru semakin malu atas perbuatan Genta.
Sedang Dewa hanya mampu pasrah mendengar ucapan Ibunya, meskipun jujur hatinya dipenuhi kemarahan yang teramat sangat, bahkan jika saja sekarang ia tinggal hanya berdua dengan Genta ingin rasanya Dewa menghajar Genta.
"Kenapa Kasih gak bilang kalo dia alergi pedes Tante, kenapa dia cuma bilang kalo dia gak suka makanan pedes?" Tanya Rangga sedikit aneh dengan sikap Kasih karena mungkin jika Kasih mengatakan alergi terhadap pedas, Genta pun tak akan berani memaksanya.
"Terakhir Kasih seperti ini saat awal SMP, dia pernah bercerita ke salah seorang temannya jika dirinya alergi terhadap kandungan yang terdapat pada cabai, seiring berjalannya waktu dia dan temannya itu sedikit terjadi konflik dan temannya memanfaatkan kelemahannya itu untuk mengerjai dia. Makanya Kasih hanya bercerita pada orang-orang yang bener-bener dia sudah percaya, karena dia takut terjadi hal seperti ini lagi!" Jawab Ranti panjang lebar.
***
Malamnya Kasih akhirnya tersadar, ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya kamar dengan pengelihatannya.
Setelah kesadarannya benar-benar terkumpul, Kasih dibuat cukup tertegun dengan kamar yang di tempatinya saat ini.
"Bude? Mas Dewa?" Panggil Kasih dengan suara lirih.
__ADS_1
"Udah bangun cantiknya Bude?".
"Haus Bude, minta minum!" Pinta Kasih, dengan cekatan Ranti pun menyodorkan air di gelas yang langsung diminum oleh Kasih melalui sedotan.
"Kasih dimana?" Tanya Kasih bingung menelisik ruang kamar yang amat mewah menurut Kasih.
"Di rumah sakit, Sayang!" Jawab Ranti.
"Tapi kok kamarnya bagus banget Bude? Rumah sakit mana ini? Kamar kelas berapa?" Tanya Kasih begitu penasaran.
"Rumah sakit deket rumah, ini kamar VIP sayang!" Jawab Rantai membelai lembut wajah Kasih.
"Kenapa harus VIP? Mahal kan Bude, sayang uangnya!" Kasih begitu gelisah dengan keputusan sang Bude yang menempatkan dirinya di ruang VIP.
"Ini Bapak Adam yang biayain semuanya sebagai permintaan maaf karena puteranya sudah membuat kamu sakit!" Jelas Ranti membuatnya teringat akan kejadian yang membawanya ke rumah sakit.
"Genta.." cicit Kasih bersamaan dengan kedatangan seseorang yang baru saja disebutkan namanya.
"Selamat malam..!" Sapa Genta tersenyum kikuk saat pandangannya bertemu dengan pandangan Kasih.
"Kebetulan kamu di sini, emhh Tante mau minta tolong temani Kasih dulu sebentar ada yang harus Tante urus di rumah. Dewa juga kebetulan lagi keluar ada urusan sama teman kampusnya, bisa kan Tante titip Kasih sebentar aja?" Pinta Ranti.
"Bisa Tante, bisa," sahut Genta.
"Kalo begitu Bude tinggal dulu ya Sayang, enggak lama kok" ucap Ranti mencium kening keponakannya.
Sepeninggalan Ranti, Genta langsung mendekati Kasih yang sedari awal kedatangannya sudah memasang wajah bermusuhan dengannya.
"Gue mau minta maaf sama elo" ucap Genta tulus.
"Apa lo bilang barusan?" Tanya Kasih memicingkan matanya.
"Iya, gue minta maaf sama elo udah ngebuat elo masuk ke rumah sakit. Gue bener-bener enggak tau kalo lo alergi cabe!" Genta mengulangi ucapannya dengan wajah penuh sesal.
__ADS_1
"Wahhhh, seorang Genta sang primadona sekolah mau minta maaf. Luar biasa, enggak nyangka gue?" Cibir Kasih.
"Ini sebagai ucapan maaf gue buat elo..!" Genta mengangsurkan paperbag berwarna cokelat ke arah Kasih.
"Ini apa? Bubuk cabe jangan-jangan?" Kasih tak langsung menerima paperbag yang disodorkan Genta untuknya karena jujur Kasih belum sama sekali percaya dengan ketulusan Genta dalam meminta maaf.
"Emang gue sejahat itu apa?" Desis Genta dengan helaan nafas berat.
"Awas aja lo sampe ngerjain gue lagi!" Ancam Kasih mengambil alih paperbag dari tangan Genta.
"Gue buka nih ya!" Genta mengangguk tersenyum mendengar ucapan Kasih yang kini sudah sibuk membuka dan mengeluarkan isi dari dalam paperbag tersebut.
Kasih sempat dibuat melongo dan memutar-mutar boneka anjing berwarna cokelat dengan wajah garang yang diberikan oleh Genta, tetapi sesaat kemudian justru tawanya meledak mengingat perkataan Genta saat di cafe Kakak sepupu Axel malam itu.
"Ngendusin, emang gue anjing".
Sewot Genta malam itu, membuat Kasih menatap bergantian arah Genta dan boneka anjing yang diberikan oleh Genta dengan tawa yang cukup nyaring.
"Ada yang lucu sama hadiah yang gue kasih?" Decak Genta kesal karena terus menerus ditertawakan oleh Kasih.
"Gue bakal keinget-inget terus nih sama elo tiap ngelihat nih doggy" sahut Kasih yang masih belum menghentikan tawanya.
"Emang gue mirip apa sama tuh boneka anjing?" Makin jadi saja tawa Kasih meskipun masih dalam keadaan lemas, karena sungguh awalnya Kasih tertawa saat teringat ucapan sewot dari mulut Genta ketika di cafe Aldo, tapi saat Genta mengatakan apakah dirinya mirip dengan boneka anjing yang diberikannya dan dengan sengaja Kasih membadingkan wajah keduanya membuat ia semakin tertawa karena entah kebetulan atau tidak keduanya memiliki wajah yang sama-sama angkuh.
"Genta, gue bisa aja langsung menerima permintaan maaf elo. Tapi dengan satu syarat__", ucap Kasih ketika sudah menguasai dirinya.
"Apa? Kalo elo berharap gue berlutut sampe memohon-mohon di bawah elo jangan harap deh, lagian elo juga udah enggak apa-apa dan fasilitas super mewah yang elo terima di sini lebih dari cukup buat menebus kesalahan gue!".
"Dihh, sombong amat? Lagian gue enggak minta elo harus sebegitunya kok, tenang aja gue tau elo itu salah satu manusia berkepala batu yang hidup di dunia ini" ejek Kasih sambil mengulum senyuman.
"Emang laknat lo, udah keliatan gak berdaya gini masih aja bisa ngejek gue!" Cibir Genta.
"Ta, lo sekarang udah tau kan kelemahan gue apa? Gue cuma minta sama elo, tolong rahasiain ini semua dari temen-temen sekolah kita terlebih ke anak-anak yang gak sama gue, termasuk cewek elo. Karena sungguh gue enggak mau kejadin ini terulang lagi!" Pinta Kasih.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=