
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Tanpa ba bi bu, Dewa langsung melayangkan pukulannya tepat di rahang sebelah kiri Genta hingga cowok bertubuh jangkung dan tegap itu tersungkur karena tak siap menerima pukulan seseorang yang datang tiba-tiba.
Sedang Clara, hanya mampu menutup mulutnya yang ternganga saking terkejutnya dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"APA-APAAN LO?" Geram Genta sambil berusaha berdiri ditolong oleh Clara yang sudah bisa menguasai keterkejutannya, akan tetapi sebelum berdiri tegak Dewa menendang tubuh setengah berdiri itu hingga kembali tersungkur.
"Ada masalah apa Lo sama gue, hah?" Genta langsung menatap tajam ke arah Dewa yang saat ini juga tengah menatap tajam ke arahnya.
"Elo boleh memperlakukan cewek manapun seenak Lo, tapi enggak ke adek gue!" gertak Dewa.
"Oohhh, jadi adek Lo ngadu kalo abis gue cium? Cuma cium pipi doang aja lebay gini lu, apalagi kalo gue--!" ucapan nyeleneh Genta terhenti, ketika tangan kekar Dewa menarik kerah seragamnya.
"Kalo elo apa, hah?".
Genta yang tak terlihat takut sama sekali dengan kemarahan Dewa, malah ia seakan ingin kembali memancing emosi Dewa saat ini.
"Ngeliat kemarahan elo sekarang, gue rasa Kasih bener-bener cewek yang belum pernah dijamah sama sekali, gue jadi penasaran sama adek Lo!" Genta tersenyum smirk.
Mendengar sang adik dilecehkan, darah Dewa dibuat semakin mendidih. Ia lantas kembali melayangkan pukulan ke arah wajah Genta, akan tetapi kali ini Genta dapat mengelak.
Dewa tak menyerah, ia terus merangsek ke arah Genta yang memiliki tubuh tak beda jauh dengannya.
Dia benar-benar tak terima sang adik yang begitu dia lindungi dan jaga justru dijadikan objek pikiran kotor cowok dihadapannya.
Baku hantam pun tak terelakkan, bahkan saat ini pergulatan mereka menjadi tontonan orang-orang di sekitaran mereka. Dua orang security sekolah pun tak mampu melerai pertengkaran mereka.
Sedang di lorong sekolah, Kasih yang sedang berjalan menuju kelasnya dengan perasaan yang tak enak, gadis cantik itu bahkan sempat berhenti melangkah beberapa kali.
Karena perasaannya yang tak kunjung membaik, malah semakin menjadi-jadi Kasih pun memutuskan untuk kembali ke area parkir sekolahnya dimana dirinya diturunkan oleh Kakak sepupunya tadi.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Kasih, saat tiba di sana langsung disajikan pemandangan yang mengerikan dimana Dewa tengah menghajar habis-habisan Genta.
Dua security, beberapa siswa dan staff sekolah dilihatnya kualahaan mengentikan kebrutalan Dewa saat ini yang mengukung Genta di bawah tubuhnya sambil terus dipukuli oleh Dewa.
"MAS DEWA, BERHENTI!!" teriak Kasih dengan tubuh bergetar.
Mendengar teriakan sang adik Dewa langsung berhenti dan bangkit dari atas tubuh Genta, ia sempat sekali lagi menendang tubuh Genta yang sudah terkapar tak berdaya sebelum kembali ke motornya dan mengendarainya secepat mungkin tanpa melihat ke arah Kasih sama sekali.
Sepinanggalan Dewa, Kasih langsung berlari ke arah Genta yang tengah dipangku kepalanya oleh Clara.
"Ya Allah, gue minta maaf atas nama Mas Dewa!" ucap Kasih penuh sesal saat berjongkok di sebelah Genta.
"Seneng kan Lo sebenernya, puas kan Lo?" sembur Clara disela isakannya.
Kasih sama sekali tak memperdulikan semburan Clara, ia memilih meminta tolong pada security yang masih berdiri untuk membawa Genta ke ruang UKS.
Meskipun sering kali dibuat kesal oleh Genta, akan tetapi apa yang terjadi pada Genta saat ini jelas membuatnya sangat merasa bersalah.
Sesampainya di ruang UKS, Genta langsung dibaringkan salah satu ranjang. Beberapa petugas yang berjaga pun langsung mengerubungi Genta.
"Tapi..?" Clara jelas tak mau menuruti perintah Genta, bagaimana mungkin dia meninggalkan sang pacar dalam kondisi mengenaskan.
"Enggak apa-apa Sayang, I'll be fine. Don't worry!" ucap Genta mencoba menyakinkan sang kekasih.
Clara yang faham betul jika Genta tak suka penolakan mau tak mau menuruti perintah kekasihnya meski dengan berat hati.
Selagi petugas yang berjaga menyiapkan air hangat untuk mengompres luka-luka Genta juga mempersiapkan obat-obatan yang dibutuhkan, Kasih berinisiatif untuk meninggalkan Genta dan kembali ke kelasnya.
"Mau kemana Lo?" tanya Genta membuat Kasih terlonjak kaget, kemudian memutar balik lagi tubuhnya.
"Gue mau balik ke kelas!" jawab Kasih.
"Enak aja, terus gue gimana hah? Siapa yang ngobatin luka-luka gue?" geram Genta.
"Kan ada petugas UKS, tuh mereka lagi nyiapin keperluan buat ngobatin luka-luka elo!" tunjuk Kasih ke arah petugas-petugas tersebut.
__ADS_1
"Lo pikir gue begini gara-gara siapa, hah? Gue enggak mau mereka ngobatin luka-luka gue, gue maunya elo sendiri yang ngobatin luka-luka gue!" Genta menatap tajam Kasih, ia pun memasang wajah tak ingin dibantah.
Kasih yang merasa bersalah pun mau tak mau mengikuti permintaan Genta, ia kembali duduk di tepian ranjang Genta yang saat ini sudah duduk bersandarkan bantal yang ditempelkan di kepala ranjang.
"Taro aja di atas nakas Kak, biar saya yang ngobatinnya!" pinta Kasih sopan saat salah seorang petugas membawa semua keperluan untuk Genta.
"Ada lagi enggak yang dibutuhkan, Dek?" tanya petugas tersebut ramah.
"Bisa minta teh anget enggak sih Kak? Atau kalo enggak saya minta tolong belikan di kantin!" Kasih sedikit ragu-ragu mengutarakan permintaannya.
"Kalo gitu saya belikan dulu ya!" sahut Kakak petugas tersebut membuat Kasih bernafas lega.
Setelah petugas itu pergi, Kasih mulai mengompres luka-luka yang cukup parah di wajah Genta. Bahkan Kasih ikut meringis saat melihat luka terbuka di pelipis dan salah satu sudut bibir Genta.
"Kakak Lo ganas juga ya kalo marah!" ucap Genta memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Dia emang gitu kalo menyangkut gue, enggak main-main!" jawab Kasih masih terus fokus mengompres dan membersihkan luka-luka Genta.
"Jadi Lo ngadu ke dia kalo gue udah nyium elo?" tanya Genta lagi menatap lekat wajah cantik Kasih.
Kasih menghembuskan nafasnya berat sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tepatnya tuduhan Genta terhadapnya, "Gue enggak ngadu, cuma kelepasan ngomong!".
"Sama aja kali!" ejek Genta.
"Ya nggak sama lah, enak aja. Emang gue kelihatan Kayak cewek pengaduan apa!" sembur Kasih reflek menekan luka Genta yang membuat Genta mengaduh kesakitan.
"Pelan-pelan Kasih, jangan dipencet! Sakit Oon!" Genta menahan tangan Kasih yang tengah mengobati lukanya.
"Iya, sorry enggak sengaja gue!'' sahut Kasih melepas tangannya yang ditahan oleh Genta untuk kemudian melanjutkan kegiatannya.
Selesai membersihkan luka-luka Genta, Kasih pun mulai mengoleskan antiseptik ke luka-luka yang terbuka di wajah Genta.
"Sedikit perih, tahan sebentar ya!" ucap Kasih memberitahukan, ia pun dengan sangat perlahan mulai mengoleskan antiseptik menggunakan cotton bud.
Selama Kasih mengobati luka-lukanya, Genta terus saja menatap lekat-lekat gadis cantik di hadapannya ini. Dan Kasih sendiri bukan tak menyadari jika Genta terus saja menatapnya, akan tetapi dia memilih pura-pura tak mengetahuinya karena sungguh wajah tampan Genta memang tak dipungkiri sedikit membuatnya gugup.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=