
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Woi *****, bangun! Udah nyampe nih!" teriak Genta.
Kasih langsung tergagap mendengar suara menggelegar dari Genta. Tak hanya berteriak, bahkan Genta juga mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan sangat kencang.
"Astaghfirullah.. Gentaaaaaa .. Elo mau gue kena serangan jantung ya? Bisa gak sih hah bangunin orang jangan bar-bar gini!" omel Kasih marah-marah.
"Udah kali, Lo nya aja yang kebo! Gue bangunin dengan lemah lembut udah, sampe gue cium bibir elo tadi, tapi bergerak aja enggak!".
Kasih langsung memelototi Genta dengan wajah penuh amarah.
"Enggak, gue bohong!" ralatnya cepat-cepat.
"Ngeselin tau engga!" decak Kasih sebal.
Genta hanya menampilkan senyum simpul melihat wajah bangun tidur, namun terlihat tetap cantik itu sedang membrengut.
"Ya udah gue turun ya, makasih tumpangan sama traktirannya. Besok-besok enggak usah lagi!" ketus Kasih berpamitan.
Bukannya kesal, Genta justru tergelak dengan sikap Kasih, "jangan lupa bawa tuh bucket chicken dua-duanya!" ingatkannya menunjuk dua bucket chicken di jok belakang.
"Ohh iya hampir aja lupa!" cengir Kasih begitu menggemaskan di mata Genta.
Dengan dibantu Genta, Kasih yang sudah di luar mobil diberikan dua bucket chickennya.
"Sekali lagi makasih ya buat hari ini. Elo hati-hati pulangnya!" ucap Kasih sekali lagi saat menerima chicken bucketnya.
"Cieeee yang perhatian!" goda Genta.
"IDIIIHHH NAJISSS!" salak Kasih cepat-cepat dan langsung meninggalkan Genta yang masih saja terbahak-bahak.
Sebelum melajukan mobilnya, Genta melihat ponselnya yang dari tadi terus saja sibuk berbunyi.
Dilihatnya beberapa pesan dan telepon dari Clara yang meminta dirinya untuk datang menemui di kamar suatu hotel berbintang, tempat biasa jika mereka ingin menghabiskan waktu di akhir Minggu.
"Kenapa harus di hotel sih ketemuannya!" keluh Genta mulai menjalankan mobilnya.
Sedang Kasih, memasuki rumah melalui arah kedai untuk langsung menemui sang Bude yang tengah sibuk di belakang meja kasir.
Sore hari ini pun terlihat pelanggan tak terlalu ramai. Hal biasa jika menjelang sore, kecuali weekend yang tetap ramai hingga menjelang malam.
"Baru sampe, Nduk?" tanya Ranti saat sosok cantik itu di hadapannya.
Kasih langsung menyalami punggung tangan sang Bude sambil tersenyum, "Iya Bude, maaf terlambat. Tadi Kasih ditraktir teman makan dulu. Nih, dia juga bungkusin buat Bude!" Kasih meletakkan dua chicken bucket di atas meja Kasir.
"Wahhh, baik sekali teman kamu, sampe inget bungkusin Bude juga!" sahut Ranti sumringah, ia pun membuka salah satu tutup bucket chickennya dan ternganga melihat isinya yang begitu banyak.
"Yang satu biar buat para pegawai aja, satunya lagi untuk teman makan malam kita nanti. Ini terlalu banyak!" usul Ranti yang langsung diangguki setuju oleh Kasih.
"Kalo gitu Kasih izin ke kamar ya Bude, Kasih mau mandi terus ngerjain PR. Hari ini PR aku banyak banget, tapi nanti kalo kedai ramai jangan sungkan panggil aku ya Bude!".
__ADS_1
Ranti menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di kamar, Kasih langsung merebahkan tubuhnya sebentar sebelum melakukan ritual mandinya.
Menatap langit-langit kamarnya, mengingat tentang kejadian hari ini yang begitu menguras emosinya.
Jujur, berita sampah yang tersebar di grup sekolah sedikit mengganggu dirinya, meskipun dua cowok tampan yang juga masuk ke dalam berita sampah tersebut berhasil meredam gosip murahan itu.
Dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada Genta, ia ingat sekali saat cowok rese itu mengatakan jika awalnya ia tak ingin masuk sekolah, tetapi setelah melihat grup sekolah yang meributkan dirinya tanpa pikir panjang Genta langsung berganti pakaian untuk menuju sekolahnya karena kepikiran tentang dirinya yang pasti sedang dibully habis-habisan.
Juga dengan percaya dirinya, Genta masuk ke dalam kelas Kasih padahal saat itu sudah ada guru yang sedang menerangkan pelajaran hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja.
Senyum Kasih mengembang semakin lebar, saat ingatannya tertuju pada pembelaan Genta di grup chatting sekolah, hanya dengan satu pesan yang dipenuhi kata-kata ancaman, mampu membungkam semua mulut siswa siswi yang meributkan dirinya.
"Elo itu sebenernya cowok yang kayak gimana sih, Genta?" lirih Kasih bertanya-tanya sendiri.
Tak mau larut memikirkan cowok aneh dan ajaib itu, Kasih memilih pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual sorenya. Ia pun juga harus mengerjakan PR yang begitu banyak hari ini.
Sedang di tempat lain, Genta baru saja sampai di hotel untuk menemui kekasihnya. Sungguh sejak obrolannya dengan Kasih saat Kasuh pertama kali ke rumahnya cukup mempengaruhi dirinya.
Ia tak ingin lagi menyentuh Clara, lebih dari sekedar mencium dan meraba. Ia tak ingin lagi bercintaa dengan Clara.
Selama ia tak yakin dengan perasaannya sendiri, ia tak mau lagi menyentuh gadis itu, ia mulai akan sedikit menjaga jarak dengan Clara untuk mencari tahu tentang perasaan dirinya pada Clara.
Sudah jatuh cinta kah? Atau hanya sekedar senang-senangnya gejolak anak muda?
Genta menghela nafasnya berat sebelum memasuki kamar president suite hotel tersebut, dalam hati ia berharap akan mampu menahan gejolak birahii nya saat berhadapan berdua saja dengan Clara di dalam kamar nanti.
Dengan rasa malas, ia pun mulai memutar handle pintu kamar dan memasuki kamar tersebut, mencari sosok Clara.
Dengan menahan gejolaknya, Genta melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis yang benar-benar ingin menggoyahkan pertahanannya sebagai laki-laki.
"Harus kamu berpenampilan kayak gini?" ketus Genta menyamar wine dari tangan Clara.
Clara langsung memincingkan matanya, merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya.
Biasanya Genta selalu menyukai penampilannya yang seksii, bahkan Genta akan langsung menerjang dirinya.
"Ada masalah dengan penampilan aku?" tanya Clara, menelisik penampilannya sendiri.
"Kamu terlalu seksii!" jawab Genta tanpa sama sekali mau menengok ke arah Clara.
Clara pun semakin merasa aneh. Jelas pasti ada yang salah dengan kekasihnya, terlebih beberapa terkahir ini Genta selalu menolak dirinya.
"Kamu ini sebenernya kenapa sih, hah? Kamu udah bosen sama aku? Udah punya cewek lain?" salak Clara dengan serentetan pertanyaan.
Mendengar berbagai tuduhan sang kekasih, akhirnya dengan terpaksa dia pun menengok ke arah Clara dengan tatapan tajamnya.
"Jangan ngaco kamu!"
"Aku enggak ngaco, Genta! Udah beberapa hari terakhir ini sikap kamu berbeda ke aku, kamu seakan-akan jijik sama aku. Kamu enggak mau nyentuh aku lagi! Kalo enggak bosen, ya pasti kamu punya cewek lain!" Clara terlihat geram dengan sikap Genta.
"Siapa cewek itu, huh? Kasih?" tuduh Clara lagi.
Genta menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan segala tuduhan yang dilontarkan untuk dirinya.
__ADS_1
"Makin ngaco aja kamu!" cibir Genta kemudian kembali menyesapnya wine berkadar alkohol rendah tersebut.
Suasana langsung hening, Genta yang enggan menanggapi segala tuduhan sang kekasih memilih diam dan menikmati winenya. Sedang Clara yang tengah terbakar api cemburu, terus menatap tajam ke arah Genta.
"Apa mau kamu sebenernya?" tanya Clara lirih memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Seperti yang aku bilang di sekolah. Aku mau kamu buat bikin klarifikasi di grup, minta maaf sama Kasih di grup atau pun secara langsung!" jawab Genta tanpa perduli raut wajah Clara yang berubah merah padam.
"KASIH LAGI, KASIH LAGI, KASIH TERUS!" teriak Clara histeris.
Sungguh, dia sudah merasa muak dengan gadis itu. Apalagi dia merasa semakin ke sini hubungannya dengan Genta semakin renggang saja semenjak kehadiran Kasih.
"Jawab aku yang jujur, kamu suka sama dia hah?" Clara sudah tak mampu lagi menutupi amarah dan air mata kecewanya.
Genta tetap bergeming, ia tak berminat manyahuti kecemburuan pacarnya.
"Sejak ada dia, kamu aneh tau enggak? Apa istimewanya gadis miskin itu hah? Apa kurangnya aku dibanding dia?" Clara benar-benar kecewa.
"Aku cuma enggak mau dia dibully cuma gara-gara berita sampah itu!" jawab Genta setenang mungkin.
"Apa peduli kamu?"
"Aku cuma kasihan sama dia" Clara langsung tersenyum miris mendengar jawaban Genta.
Atas dasar apa kekasihnya itu perduli dengan gadis miskin itu? Bukankah awal pertemuan antara gadis itu dengan kekasihnya tidak menyenangkan? Bukannya mereka berdua saling membenci satu sama lain?
Tetapi sekarang apa? Genta kasihan dengan gadis itu?
Atas dasar apa dia harus kasihan dengan gadis yang pada awalnya menjadi musuh kekasihnya itu?
Apakah Genta sudah mulai tertarik dengan Kasih?
"Kenapa harus kasihan sama dia? Karena dia miskin? Karena dia cuma murid beasiswa? Atau kah kamu ada rasa sama dia, sampe kamu ngerasa kasihan kalo dia dibully sesekolah?" makin ngaco saja tuduhan Clara.
Genta langsung menatapnya lekat, pandangannya pun sangat sulit diartikan, "kalo kamu mau kita terus jalan, lakuin apa yang aku perintahkan!" Genta beranjak berdiri dari duduknya.
"AKU MUAK NURUTIN SEMUA YANG KAMU MAU, AKU CAPEK DISURUH NGALAH TERUS. DI SINI EMANG CUMA AKU YANG CINTA KAMU, SEBALIKNYA KAMU GAK SAMA SEKALI CINTA AKU, MAKANYA SEGITU MUDAHNYA KAMU MELEPASKAN AKU! AKU BENCI KAMU GENTA, AKU BENCI SAMA KAMU!" teriak Clara histeris meluapkan amarahnya.
"Terserah! Lakukan apa yang kamu mau, kalo sampe malem kamu tetep diem aja, lebih baik kita udahan!" tanpa melihat sama sekali ke arah Clara, Genta melangkahkan kakinya keluar.
Sebelum benar-benar pergi, Genta masih bisa mendengar Clara mengumpatinya.
"Jahat kamu Genta, tega kamu sama aku! Aku benci sama kamu!"
Sebenarnya hati Genta begitu perih mendengar ucapan Clara yang mengatakan jika hanya Clara lah yang mencintainya, sedangkan dirinya tidak.
Karena memang itu yang ia rasakan, tak ada rasa cinta untuk Clara, hanya rasa iba. Rasa iba yang datang karena selama ini Clara selalu menuruti kemauannya hanya dengan menggunakan sebuah ancaman akan mengkandaskan hubungan mereka.
Yakin jika tak memiliki rasa cinta untuk Clara, beberapa hari ini memang Genta memutuskan untuk sedikit demi sedikit kedekatan mereka.
Mulai dengan tidak melakukan hal yang memang seharusnya belum mereka lakukan.
"Maaf Clay, maafin aku..!" lirih Genta sambil terus berjalan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1