
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Yuni, salah satu pekerja di kedai Ranti, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Ranti serta anak dan keponakannya yang tengah menikmati makan malam mereka di meja makan.
"Bu, maaf mengganggu" ucap Yuni tak enak hati.
Ranti, Dewa dan Kasih langsung menatap heran ke arah Yuni yang wajahnya terlihat mengernyit kebingungan.
"Ada apa, Yun?" tanya Ranti.
"Itu Bu, emhh, Ibu apa ada pesan minyak goreng?" Ranti langsung menggelengkan kepalanya, karena memang Ranti sudah menyetoknya beberapa hari yang lalu untuk kebutuhan dua Minggu kedepan.
Melihat gelengan majikannya, dahi Yuni semakin mengkerut, "tapi di luar ada satu truk berukuran sedang, kata Pak supirnya mau antar pesanan minyak goreng, Bu!"
Kini bukan saja Yuni yang kebingungan, Ranti pun mendadak langsung ikut bingung. Bahkan Dewa dan Kasih ikut-ikutan bingung, bukan masalah soal pesan memesan minyak goreng, akan tetapi tentang muatan yang membawa minyak goreng. Tak pernah sekali pun Ranti membeli minyak goreng diantar truk. Paling-paling menggunakan pick up.
"Salah kirim kali, Mbak Yuni?" terka Dewa kali ini bersuara.
"Nggak kok Mas, nama penerima dan alamatnya menggunakan nama Ibu dan alamat kedai kita!" Yuni langsung meralat terkaan yang dilontarkan Dewa.
Mereka pun langsung saling memandang satu sama lain.
Tak ingin dibuat penasaran, Ranti langsung beranjak hendak menemui kurir yang mengantarkan minyak goreng tersebut. Ia akan langsung memastikan ada apa sebenarnya, mungkinkah salah kirim atau kah ia yang lupa memesan stok minyak goreng sebanyak itu.
Sedang Kasih dan Dewa pun langsung mengekori di belakang Ranti, mereka juga sama-sama dilanda rasa penasaran yang teramat sangat.
Apa iya, Ranti memesan minyak sebanyak itu disaat harga minyak yang melambung tinggi? Rasanya tidak mungkin!
__ADS_1
"Selamat malam Mas, ada yang bisa saya bantu?" sapa Ranti ramah saat berhadapan langsung dengan sang kurir.
Sang kurir pun tak kalah ramah dan penuh dengan kesopanan tersenyum pada Ranti yang menyapanya, "Selamat malam Ibu, maaf apa ini dengan Ibu Ranti sendiri?" tanyanya.
"Iya, saya Ranti. Jadi gimana ya Mas?"
"Ohh, baik Bu. Kami di sini hanya ingin mengantarkan pesanan minyak goreng kepada Ibu, dan membutuhkan tanda tangan Ibu sebagai prosedur serah terima barang!" Kurir tersebut langsung menyerahkan lembaran ke arah Ranti untuk ditandatangani.
Fokus Ranti langsung tertuju pada nominal yang tertera di nota yang disodorkan oleh sang kurir, matanya bahkan langsung terbelalak lebar melihat deretan angka tersebut, lebih dari lima belas juta.
"Ini sudah dibayar lunas Bu. Ibu tinggal tanda tangan saja sebagai bukti jika barangnya sudah sampai pada Ibu!" ucap si kurir menginformasikan.
"Ini yakin enggak salah kirim Mas? Soalnya saya yakin banget enggak pernah pesan" ujar Ranti.
"Tidak Bu, ini semua dikirim atas nama Ibu dan di alamat sini Bu" sahut si kurir.
Ranti masih saja memperdebatkan tentang siapakah si pengirim misterius, karena sang kurir sepertinya enggan memberitahukannya.
"Genta" cicit Kasih yang teringat obrolan mereka saat pulang tadi.
Tanpa mau menjelaskan apapun, Kasih justru meminta izin untuk pergi ke kamarnya. Meskipun Kasih sadar tatapan menuntut mereka yang meminta penjelasan pada dirinya.
Sesampainya di kamar, Kasih langsung menyambar ponselnya. Ia pun langsung mencari kontak Genta untuk memastikan kecurigaannya.
Tak butuh waktu lama untuk Kasih menunggu sambungannya terhubung, karena Genta langsung mengangkatnya.
"Tumben nelpon duluan, kangen?" seperti biasa Genta langsung mengucapkan kata-kata narsis yang selalu membuatnya mual saking sebalnya.
"IDIHHHH, NAJISSSS!" dan seperti biasa pula, Kasih akan menyalak ucapan Genta dengan sangat ketus yang membuat Genta justru tergelak bukannya marah.
Kasih mengambil nafas cukup dalam dan lama saat akan mulai mengintrogasi Genta atas kecurigaannya bahwa si pengirim misterius tersebut adalah cowok seenaknya saja ini, "Elo yang ngirim se truk minyak goreng?" tanyanya.
__ADS_1
"Udah nyampe?" bukannya menjawab kecurigaan gadis cantik itu secara langsung, Genta justru menjawabnya dengan sebuah pertanyaan.
"Jadi bener minyak goreng sebanyak itu elo yang ngirim?" hardik Kasih.
Yang ia tak tahu, Genta terus saja mengulum senyuman mendengar keketusan gadis lucu itu, dan Genta yakin jika Kasih sedang mencoba untuk membuatnya menarik apa yang baru saja ia berikan pada sang Bude.
"Elo itu kesambet apa sih? Ngapain juga elo ngirim minyak goreng sebanyak itu?" tepat seperti dugaannya, gadis cantik itu tengah memulai misinya.
"Lah katanya Bude elo lebih seneng dikirimin minyak goreng, daripada ayam KFC?"
"Iya, emang, tapi enggak sebanyak itu juga kali! Elo mau cari perhatian sama Bude gue?" terka Kasih yang mulai jengah dengan sikap seenaknya seorang Genta.
Dengan santainya sambil menyesap sedikit demi sedikit sodanya Genta menikmati kekesalan gadis di seberang sana, "bisa iya, bisa enggak" jawabnya slengean.
"Elo naksir Bude gue?" celetukan Kasih yang ngaco sukses membuat Genta tersedak sodanya, bahkan hingga terbatuk-batuk.
"Ehh, elo kenapa sampe batuk-batuk gitu? Elo kaget ya tebakan gue bener tentang perasaan elo ke Bude gue? Udah tenang aja, rahasia dijamin aman. Gue janji enggak bakal ngasih tau siapapun tentang selera elo terhadap perempuan. Lagian nih ya jaman sekarang udah biasa kali anak muda macem elo suka sama perempuan lebih tua.." makin ngaco saja ocehan gadis cerewet itu.
Genta yang sedang menetralkan batuknya justr dibuat semakin parah saat mendengar ucapan tak jelas gadis tersebut.
"Tapi elo harus pinter-pinter ngambil hatinya Mas Dewa, apalagi elo sama Mas Dewa enggak pernah akur, malah kelihatan macem musuh bebuyutan kalo ketemuan. Tenang aja, elo enggak perlu khawatir, gue akan bantu perjuangan elo. Jangan ragu minta tolong sama gue oke!"
"Ngaco Lo ya Kasih!" salak Genta setelah menguasai bisa menguasai dirinya.
"Ngaco gimana? Ehh tunggu, tunggu! Kalo elo jadi sama Bude gue, berarti elo jadi Pakde gue dong!" Kasih langsung tergelak membayangkan setiap harinya akan memanggil Genta dengan julukan 'Pakde'.
Bukannya ikut tertawa atas joke Kasih, Genta justru dibuat semakin membrengut kesal, terlebih mendengar tawa renyah gadis yang sangat menyebalkan untuk dirinya saat ini.
Kasih sendiri bisa mendengar dengusan kesal dari nafas Genta, bisa dibayangkan sekesal apa cowok sok kaya itu saat ini.
"Emang menurut elo, gue ini kelihatan penyuka perempuan yang jauh lebih tua dari umur gue apa?" kesal Genta setelah beberapa saat hanya diam menerima ucapan ngaco tentang dirinya dari gadis mungil itu.
__ADS_1
"Ya siapa tau kan elo coba menutupi selera elo yang lebih suka perempuan yang lebih tua, dibandingkan yang seumuran atau enggak yang di bawah elo gitu?" tebak Kasih asal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=