Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Minyak Goreng Mahal


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Genta tertawa renyah melihat bagaimana wajah panik Kasih dan juga cara dia membuat benteng perlindungan untuk dirinya sendiri.


"Gue cuma mau pasangin seatbelt elo, enggak denger apa mobil gue bunyi terus gara-gara elo nggak pake-pake seatbelt elo!" ucap Genta sambil memasangkan seatbelt Kasih.


"Harusnya elo bilang dong, enggak usah begini juga. Gue kan takut!" salak Kasih berusaha menetralkan degup jantungnya.


"Takut? Emang Lo mikir apaan sih?" tanya Genta yang mulai menjalankan mobilnya.


"Pokoknya deketan sama elo tuh pikiran gue jelek aja!" jawab Kasih tanpa menatap Genta sama sekali.


Meskipun tak melihat ke arah cowok tampan itu, Kasih masih bisa mendengar kekehan kecil dari mulut Genta.


"Kak Rangga pasti bakal marah nih kalo nanti dia tau aku dianter Genta!" batin Kasih menduga.


Ia pun lantas mengeluarkan ponselnya, berniat untuk mengirim pesan pada sang pacar.


Kasih : "Kak Rangga, aku pulang dianter Genta. Maaf ya Kak, dia maksa aku, pake ngancem-ngancem mau bikin gaduh di grup chat sekolah."


Kasih langsung menghembuskan nafasnya berat, berharap bisa menguraikan beban perasaannya.


Tingkah aneh Kasih pun tak luput dari perhatian Genta, "kenapa?" tanyanya.


"Kak Rangga pasti marah sama gue gara-gara pulang bareng sama elo!" jawab Kasih melirik sekilas ke arah Genta.


"Paling ngambek bentaran doang. Nyantai aja sih! Kalo ngambeknya lama, elo cipokk bibirnya, luluh deh!" Kasih langsung memukul lengan Genta sekeras mungkin.


"Bener-bener ya otak Lo tuh isinya begituan doang!" decak Kasih kesal sendiri.


"Gue tuh ngajarin elo, gimana caranya ngeluluhin pasangan. Coba aja deh praktekan!"usul Genta nyeleneh yang diiringi tawa.


Makin sebal saja Kasih dibuatnya.


"Makan dulu yuk, gue laper!" tanpa menunggu persetujuan Kasih, Genta langsung membelokkan mobilnya ke area restauran makanan cepat saji.


"Ihh Genta, gue mau langsung pulang. Udah mau sore ini!" keluh Kasih.


"Bentar doang, gue laper banget. Ayo!" perintah Genta tanpa memperdulikan rengekan Kasih.


Sesampainya di dalam restauran, Genta dengan gaya bossnya langsung memerintah Kasih, "Elo cari tempat duduk gih sana! Gue yang pesen makanan. Elo mau pake nasi apa kentang goreng?" tanya Genta.


"Kentang aja. Gue masih belum laper!" jawab Kasih ogah-ogahan.


"Noted! Noh dipojok ada meja kosong, buru gih sana, takut ditempati orang!" perintah Genta masih tetap dengan gaya bossnya.


"Alam aja sampe ngasih kesempatan kita buat mojok!" ucap Genta lirih yang masih bisa didengar oleh Kasih.


Sedang Kasih memilih berlalu sambil menggelengkan kepalanya, merasa ajaib dengan kelakuan absurd setengah teman, setengah musuhnya itu.


Kasih terus menatap Genta yang masih di dalam antrian. Ia pikir seorang Genta yang kaya raya tak pernah makan makanan cepat saji dan hanya mau memakan makanan mewah restauran bintang lima.


Sempat terpesona dengan sikap sederhana seorang Genta, tiba-tiba Kasih langsung mencibir Genta saat Kasih melihat bahasa tubuh Genta yang tengah menggoda seorang kasir.


"Sekalinya playboy tetep aja playboy!" cibir Kasih mengangkat salah satu sudut bibirnya.

__ADS_1


Setalah menunggu hampir sepuluh menit, Genta dengan senyum lebaynya datang membawa satu nampan berisikan minuman dan beberapa makanan penutup sepertin puding dan es krim.


"Makanannya nanti dianter, nihh ada puding, es krim sama es milo. Gue perhatiin elo suka banget sama es milo, tiap jajan di sekolah pasti minumannya es milo!" Genta menyodorkan makanan bagian Kasih.


"Rajin banget lu stalking in gue! Ngefans?" cibir Kasih untuk kemudian menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.


Genta langsung tergelak mendengar kenarsisan gadis mungil itu. Tak mau berdebat, Genta memilih mengikuti Kasih memakan es krim miliknya.


"Kok elo enggak nganter cewek lu, tumben?" Kasih iseng bertanya.


"Gue lagi ngasih ultimatum ke dia! Gue minta dia supaya ngelakuin apa yang elo suruh!" jawab Genta yang sudah beralih memakan pudingnya.


"Bener kan kata gue, cewek elu itu salah satu manusia berkepala batu yang hidup di dunia ini" ejek Kasih.


Kasih sedikit bingung, ia pikir Genta akan marah jika dia mengejek pacarnya, tetapi yang dilihatnya justru Genta tersenyum simpul.


Tak lama, pesanan mereka diantar oleh seorang pegawai.


Kasih terperangah melihat begitu banyak makanan yang dipesan oleh Genta. Selapar apa cowok di hadapannya ini, hingga harus begitu banyak memesan makanan?


"Banyak amat?" cibir Kasih.


Genta menatap Kasih dengan senyuman, sambil membuka dua buah bungkus nasi dan diletakkan di atas piring menjadi satu, "nih kentang goreng elo, elo enggak mau nasi kan?" Genta menyodorkan kentang goreng milik Kasih, setelah selesai menata makanannya.


"Gue ambil saos dulu, elo ambil aja ayam sebanyak yang elo mau. Semua ini yang crispy, enggak ada yang spicy kok!" Genta langsung beranjak menuju ke tempat pengambilan saus.


Dia mengambil dua jenis saus, saus sambal untuk dirinya dan saus tomat untuk Kasih.


"Sippp! Elo mau pake saos tomat? Nih!" Genta memberikan saus itu di atas meja. "Nah yang ini saos sambel punya gue, jangan sampe salah cocol!" lanjutnya lagi memberitahukan.


"Cieeee, yang perhatian sama gue!" bukannya mengucapkan terima kasih, Kasih justru menggoda Genta.


"Dihh, eneg gue malahan!" ejek Kasih ketus dengan memasang wajah jijik.


"Songong lu!" geram Genta.


"Bodo amat!" sahut Kasih lagi, sambil menikmati kentang goreng yang ia cocolkan ke saus tomat.


"Gue juga bukannya perhatian sama elo, jangan Ge'er!" dengus Genta yang kini sedang menikmati ayam keduanya dengan nasi.


"Gue cuma enggak mau elo kejang-kejang di sini kalo alergi elo kambuh!" lanjutnya lagi.


"Elo tau?" tanya Kasih penasaran.


"Taulah, setelah dari rumah sakit waktu elo dirawat dulu. Gue langsung browsing tentang alergi cabe yang elo alami!" jawab Genta.


Ia tak menyadari jika jawaban yang dia berikan justru membuat Kasih dan orang lain yang mungkin mendengarnya adalah bentuk sebuah perhatian.


"Elo laper banget ya?" tanya Kasih mengalihkan pembicaraan, apalagi melihat Genta sudah menghabiskan nasinya dan kini tengah memakan potongan ayam yang ke empat.


"Banget! Gue belum sempet sarapan tadi di rumah. Ngeliat grup sekolah ngeributin masalah sampah tentang kita bertiga perasaan gue enggak tenang. Apalagi ngebayangin elo yang pasti kena bully an, gue kepikiran. Gue aja sampe enggak sempet mandi tadi!" jawab Genta blak-blak an tanpa rasa malu sama sekali telah membongkar aibnya.


"Jorok lu!" Kasih melemparkan tisu bersih ke arah Genta yang hanya terkikik.


"Biar enggak mandi, gue tetap wangi dong!" pongah Genta.


"4,9 juta harga parfum gue. Bukan parfum termahal emang, tapi tetep kan enggak kebeli sama elo!" Genta benar-benar menikmati wajah cemberut yang diperlihatkan oleh Kasih setiap digodanya.


Enggan meladeni kepongahan Genta, Kasih memilih untuk larut kembali bersama dengan makanannya.

__ADS_1


Kasih pun sudah beralih ke potongan ayam kedua, hal tersebut membuat Genta tersenyum simpul karena menurutnya Kasih tak lagi canggung dan malu di hadapannya.


"Jangan sering-sering makan makanan cepat saji kayak gini. Enggak baik!" ucap Kasih menasehati.


Melihat bagaimana Genta begitu rakus makan-makanan tersebut, membuat Kasih berkesimpulan jika Genta terbiasa makan makananan tersebut.


"Cieeeeee, yang perhatian!"


Bukannya berterima kasih sudah dinasehati, Genta justru meledek dan menyalah artikan nasehatnya.


"Siapa yang perhatian? Enak aja!" salak gadis cantik itu dengan wajah merah padam antara menahan malu dan kekesalan.


"Enggak apa-apa kok, gue seneng kalo perhatian gitu sama gue".


Makin senang saja Genta menggoda gadis mungil yang terus menerus menampilkan semburat merah di wajah yang terlihat begitu menahan kekesalan.


"Idiihh, najis!" sembur Kasih lagi.


Merasa kesal dan mungkin juga malu, Kasih memilih beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Genta yang masih saja menggodanya sambil tertawa.


Dengan buru-buru Genta pun beranjak dan menyusul gadis mungil berparas cantik yang tengah berjalan menuju parkiran mobilnya.


"Mau jalan-jalan dulu, muter-muter Jakarta? Mumpung masih sore nih!" tawar Genta saat mereka telah duduk manis di kursinya masing-masing di dalam mobil.


"Enggak mau. Gue mau langsung pulang! Hari ini PR gue banyak banget, gue harus cepet sampe rumah terus ngerjain PR!" tolak Kasih.


Genta pun tak memaksa, ia memilih mulai melajukan mobil mewahnya untuk mengantar Kasih pulang ke rumah


"Nanti bawa tuh chicken bucket buat Bude Lo!" tunjuk Dewa dengan matanya.


Dewa memang membawa dua chicken bucket dan beberapa plastik makanan yang dibelinya di restoran cepat saji tadi.


Kasih pikir, semua itu untuk Dewa. Tak disangka untuk sang Bude.


Tapi Kasih adalah Kasih, ia lebih memilih menutupi kekaguman sikap Genta yang begitu manis mentrear orang lain.


"Bude gue mana suka makan makanan kayak gini! Bude gue tuh paling seneng kalo dikasih minyak goreng sekarang!"


Genta mengernyitkan dahinya bingung, kenapa minyak goreng bisa membuat Ranti senang?


Kasih menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya berat atas kebingungan yang entah sudah berapa kali ditunjukan oleh Genta.


"Minyak goreng tuh lagi gila-gilaan mahalnya, sedangkan Bude gue punya kedai makan, lumayan berasa dia ketika minyak goreng mahal, tapi membutuhkannya.


"Gue enggak tau kalo minyak goreng tuh lagi mahal!" sahut Genta.


"Elo tau minyak lagi mahal juga buat apa?" ejek Kasih.


Setelah perdebatan tentang minyak goreng selesai, Kasih yang merasa perutnya kenyang, merasakan kesejukan dan aroma wangi di mobil Genta. Entah wangi tersebut datang dari parfum mobil atau kah dari parfum mahal yang dipakai Genta, yang jelas akhirnya membuat Kasih terbuai untuk kemudian terlelap.


Terlebih jalan menuju rumah gadis cantik itu mulai tersendat-sendat akibat kemacetan, makin pulas saja tidurnya.


Biasanya setiap dirinya terjebak macet, Genta akan marah-marah dan mengumpat dengan kata-kata kasar.


Namun tidak Kali ini, bagaimana bisa dia mengumpat dan marah-marah disaat ia menyadari ada bidadari berwajah cantik tengah terlelap di kursi penumpang sebelahnya.


"Cantik banget sih Lo, pantes aja Rangga jatuh cinta dan sayang banget sama elo. Selain cantik, elo itu polos dan baik banget!" puji Genta lirih sambil merapikan anak rambut yang beranyak di dahi Kasih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2