
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Elo enggak lihat apa gue lagi kerja?" salak Kasih menatap tajam cowok tampan yang terus menerus memasang senyum menyebalkannya.
"Ini kan jam makan siang Beb, gue rasa enggak masalah juga sih elo nemenin gue makan siang. Anggap aja ini jam istirahat elo. Emhh.. Atau elo mau gue mintain izin dulu ke Mas Dewa atau Bude Lo?".
"Oke, elo menang! Tunggu, gue ambilin pesenan lu sekalian makanan gue!" sekali lagi Kasih dibuat pasrah dengan ancaman Genta, dilihatnya senyum penuh kepuasan dari wajah menyebalkan cowok seenaknya itu.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, Kasih bersama dengan seorang pelayan wanita akhirnya datang membawa pesanan mereka.
"Lama!" sindir Genta saat Kasih menata makanan di atas meja mereka.
"Kalo mau cepet, elo makan aja daun di depan sana!' salak Kasih kesal.
"Siap deh, makasih ya Mbak!" ucap Kasih pada pelayan yang membantunya tadi.
"Elo makan apa?" tanya Genta melihat ke piring makan Kasih.
Kasih mendengus kesal, ia yakin akan menjadi bahan ejekkan setelah memberitahukan menu makanannya, "sayur bayam sama pindang telur. Mau ngetawain?" Kasih memelotot.
"Enggak, siapa yang mau ngetawain. Gue kan cuma nanya doang!" elak Genta, sedang dalam hatinya merasa antara kasihan dan juga unik melihat seorang remaja tak suka makanan pedas sama sekali.
Bukan tak suka, tentu Genta ingat bahwa Kasih tak bisa makan makanan pedas. Seketika hatinya merasa miris.
"Kirain mau ngebully gue? Ya udah cepet habisin makanannya, gue harus balik lagi kerja!" perintah Kasih kemudian memulai menyuapkan sendok pertama makanannya.
"Abis makan, temenin gue ke mall ya?" entah meminta izin atau memerintah, dengan cueknya Genta mengucapkannya sambil terus memakan makanannya.
***
Kasih terus saja memasang wajah kesal saat berada d dalam mobil Genta yang tengah melaju ke arah salah satu mall mewah di Jakarta.
__ADS_1
Ia terpaksa menuruti kemauan cowok seenaknya itu, setalah dengan nekatnya Genta meminta izin pada Ranti, bahkan dengan percaya dirinya meminta izin pada Dewa. Meskipun Dewa terlihat memasang wajah tak setuju dan wajah tak suka, akan tetapi Genta tak mau peduli, ia tahu Ranti adalah pengendali Dewa saat ini. Rasa bersalah Ranti akibat ulah anaknya, jelas membuat Ranti merasa tak enak menolak keinginan gaje seorang Genta.
"Udah sih cemberutnya, gue cuma minta temenin sebentar doang juga!" Genta melirik sekilas wajah cantik yang tengah cemberut itu.
"Gue itu entar mau jalan sama Kak Rangga. Ishh, lagian kemana sih cewek elo? Bukannya jalan sama cewek elo sana, malah sama gue?" sembur Kasih kesal.
"Hari ini Clay ulang tahun, gue mau beliin dia kado!" ucap Genta tetap fokus pada kemudinya.
"Jadi gue mau minta tolong sama elo, buat ikut nyariin kado yang cocok buat Clay. Gue enggak ngerti gitu-gituan!" lanjut Genta lagi.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Genta, cowok di sebelahnya ini bukan tipe cowok romantis atau pun manis.
Kasih pun tersenyum saat mengingat dengan bangganya Genta memberikan boneka anjing berwajah garang saat menjenguknya di rumah sakit waktu itu dan fatalnya boneka itu juga simbol permintaan maaf Genta untuknya.
Bagiamana bisa ia memberikan boneka segarang itu untuk gadis imut seperti dirinya.
"Kenapa elo senyum-senyum sendiri, kesambet atau kesenengan jalan sama gue?" tanya Genta.
"IDIHHH NAJIS" salak Kasih cepat saat Genta dengan percaya dirinya mengatakan hal tersebut.
"Matre juga Lo!" cibir Genta.
"Bodo amat!"
"Emang elo mau apa? Gue cium atau bobo semalem, huh?" goda Genta dengan tatapan mesumnya.
"Dihh najis, bisa enggak sih Lo sekali aja gak mengarah ke sana? Bingung gue sama elo, beneran deh. Nyokap, Bokap sama Kakak elo normal-normal gitu, kenapa cuma elo doang yang mbelok gak jelas gini? Jangan-jangan bener elo cuma anak pungut?" Kasih menelisik sosok Genta yang tengah tertawa dengan seksama.
"Tapi kalo elo anak pungut, elo itu mirip banget sama bokap elo. Alah, enggak masalah juga kan, kebanyakan anak yang diambil sama orang tua asuh makin lama bakalan makin mirip sama orang tua yang ngasuhnya. Banyak gue denger cerita begitu kok!" Kasih asyik sendiri dengan praduganya membuat Genta semakin terbahak-bahak sambil menggelengkan kepalanya.
Tanpa Kasih sadari, ternyata mobil mereka telah sampai ke area parkir mall saking seriusnya ia terus berceloteh.
"Udah nyampe?" tanya Kasih melihat kanan dan kiri luar mobil yang sudah berhenti.
"Tenyata elo cerewet juga ya, kita udah nyampe aja sampe enggak tau!" sindir Genta sambil membuka seatbelt nya.
__ADS_1
Mendengar ledekkan dari Genta, Kasih hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
"Ayo!" ajak Genta tersenyum manis.
Kasih sedikit terperangah saat Genta dengan santainya menggandeng tangannya, selayaknya menggandeng seorang pacar.
Dengan gerak cepat dan kasar Kasih langsung menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman cowok menyebalkan satu ini.
"Kenapa? Upss,, sorry kebiasaan jalan sama Clara. Lagian biasanya cewek-cewek lain seneng-seneng aja tuh gue gandeng, bangga malahan kelihatannya!" sempat terkejut dengan sikap Kasih, Genta menyadari kesalahannya yang dengan seenaknya menggandeng tangan mungil gadis cantik itu.
"Kan udah gue bilang, gue enggak sama kayak cewek-cewek bego penganggum elo itu!" geram Kasih dengan wajah judesnya.
Memasuki area dalam mall, Kasih langsung terperangah melihat begitu mewahnya pusat perbelanjaan yang dipijaknya saat ini.
Menelan susah salivanya, sambil menelisik penampilannya untuk kemudian membandingkan dengan penampilan Genta Kasih dibuat insecure.
Meskipun bernampilan selayaknya anak muda biasa, aura orang kaya Genta jelas sangat kentara. Sedangkan dirinya, terlihat seperti seorang asisten dari seorang Genta dengan penampilannya saat ini.
Bagaimana tidak, karena ajakan paksaan Genta di kedai tadi membuatnya tidak sempat memakai baju untuk setidaknya mengimbangi penampilan Genta saat ini dan hanya mengganti baju sekenanya tadi.
"Gue berasa kayak asisten elo deh. Kenapa sih enggak bilang mau ke mall ini, gue kan bisa pake baju yang pantes!" gerutu Kasih berbisik.
"Elo pake baju apa aja, tetep cantik kok. Udah tenang aja, lagian kita ke sini mau belanja bukannya mau fashion show!" sahut Genta mencoba untuk mengurangi rasa tidak percaya diri yang melanda Kasih saat ini.
Bukannya menjawab atau pun mulai melangkahkan kakinya lagi, Kasih justru terlihat gugup dengan terus menggerakan tubuhnya tak berarah sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ayo!" ajak Genta kembali menggenggam tangan mungil Kasih.
"Gue enggak pede, lihat deh pengunjung lain pada keren-keren gitu penampilannya!" ujar Kasih, entah sadar atau tidak ia tetap membiarkan Genta menggenggam tangannya.
"Penampilan mereka emang keren-keren, tapi enggak ada satu pun cewek di sini yang secantik elo!" ucapan Genta dengan tatapan tulus membuat Kasih menatap bingung cowok absurd di hadapannya saat ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=