
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Udah ya jangan nangis lagi, nanti kalo Kak Rangga dateng terus ngelihat Lo begini pasti dia curiga elo kenapa-kenapa!" rayu Evelyn menepuk-nepuk lembut punggung Kasih yang masih naik turun akibat menangis.
Dengan terpaksa Kasih menjauhkan tubuhnya dari dekapan Evelyn, ia pun menyusut air matannya dengan punggung tangannya.
Perasaannya sedikit lega setelah mencurahkan beban hatinya pada sang sahabat.
"Jangan sampe Kak Rangga tau kalo gue abis--!" Kasih enggan melanjutkan ucapannya, ia sungguh merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Enggak akan, elo tenang aja ya!".
"Udah jangan sedih terus, Kak Rangga udah jalan ke sini tuh!" Evelyn menunjuk ke pintu yang menghadap ke lorong dimana Rangga tengah berjalan ke arah kelasnya.
"Maaf, lama ya nunggunya?" ucap Rangga penuh sesal saat tiba di hadapan Kasih dan Evelyn.
"Lumayan, untung ada Evelyn jadi aku enggak bete nungguin Kak Rangga!" sahut Kasih mengerucutkan bibirnya.
"Makasih ya Evelyn udah nemenin Kasih, mau aku anter sekalian?" tawar Rangga tersenyum ramah.
"Enggak usah Kak, aku udah dijemput. Lagian aku langsung ke tempat les kok!" tolak Evelyn sopan.
"Ya udah yuk, kita pulang!".
Bukan tak menyadari, Rangga tahu betul jika Kasih baru saja menangis. Wajah sembabnya tak bisa sama sekali bisa ditutupi dengan senyumannya saat ini.
Rangga juga sebenarnya tahu kejadian antara Dewa dan Genta tadi pagi di parkiran sekolah, akan tetapi Rangga memilih untuk membahasnya nanti disaat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Rangga terus menerus menggenggam tangan mungil Kasih. Ia tahu jika gadisnya tengah gundah.
"Mau makan ke luar dulu sebelum pulang?" tawar Rangga saat mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Aku belum izin sama Bude, sama Mas Dewa!".
"Tadi aku udah wa Mas Dewa mau ngajak kamu makan di luar dulu sebelum pulang--!" ucapan Rangga terpaksa terputus saat Kasih menyelaknya.
"Mas Dewa ngizinin?".
Rangga hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab keingintahuan pacar cantiknya.
"Gampang banget Kak Rangga dapet izin dari Mas Dewa, kalo aku yang minta izin harus dengan perjuangan yang luar biasa kerasnya sampe kadang pengen nangis!" Kasih berkeluh kesah yang ditanggapi dengan senyuman gemas oleh Rangga.
"Beneran deh Kak, Mas Dewa tuh paling pelit ngasih izin ke aku. Jangankan buat main, kadang izin buat belajar kelompok aja ngintrogasinya ya ampuuunnnn..!" Kasih terus berceloteh mengadukan nasibnya.
"Tapi sama Kak Rangga, kayaknya Mas Dewa langsung oke-oke aja ngajak aku keluar. Enggak adil banget!" sungut Kasih membuat Rangga terkekeh.
"Mungkin Mas Dewa yakin kalo adik kesayangannya berada di tangan orang yang tepat, orang yang dipercaya buat ngejagain adiknya yang cantik ini".
Kasih mencebikkan bibirnya, namun tak ayal wajahnya langsung dihiasi rona merah. Tersipu akan pujian sang pacar.
"Tadi pagi Mas Dewa sama Genta baku hantam di parkiran?"
"Iya, Mas Dewa marah Genta nyium aku. Mas Dewa emang begitu, paling marah kalo ada yang nyentuh aku sembarangan!"
"Udah sih, udah babak belur juga kok orangnya. Enggak usah diperpanjang lagi Kak!" Kasih menatap keluar jendela, karena sesak kembali menghampiri dadanya.
Rangga sadar betul perubahan tiba-tiba Kasih ini, juga dia tak mampu lagi menutupi rasa penasarannya untuk menanyakan alasan dia menangis.
"Kamu di kelas tadi nangis? Kenapa?" Rangga langsung bisa menangkap kegelisahan kekasihnya itu.
Sedang Kasih, memaksa otaknya untuk mencari alasan yang tepat demi menutupi kejadian yang sesungguhnya.
"Kenapa?" tuntut Rangga lagi, karena Kasih tak juga menjawab dan hanya meremat roknya, kebiasaannya jika sedang gelisah atau pun gugup.
"I, iya aku nangis tadi. Emh .. Aku, aku takut kalo Genta nuntut Mas Dewa!" jawab Kasih terbata-bata.
"Genta ngancem kamu mau menjarain Mas Dewa?".
__ADS_1
Kasih menelan salivanya susah payah, sungguh dia seakan sedang berhadapan dengan seorang penyidik saat ini.
Ia pun menengok sebentar ke kursi pengemudi, melihat Rangga yang tengah berkonsentrasi membelah jalanan Jakarta yang siang menjelang sore ini belum terlalu padat.
Ia harus tetap menutupi kejadian sebenarnya atau kalau tidak ia yakin akan ada peperangan lagi antara Genta dan Rangga, juga pasti Mas Dewa ikut-ikutan.
"Orang kaya bukannya selalu seperti itu, mudah bikin laporan ke kepolisian terlepas salah atau benar dirinya!" jawab Kasih sedikit lega karena telah menemukan alasan untuk menutupi masalah yang sebenarnya.
"Tenang aja, aku enggak akan ngebiarin Genta sampe ngebuat laporan ke pihak berwajib!" Rangga memberi keyakinan pada Kasih, agar Kasih tak perlu gelisah memikirkan tentang nasib Mas Dewanya.
"Kakak bisa?" sungguh Kasih semakin merasa bersalah jika benar Rangga bisa membuat Genta tak sampai memperpanjang masalah antara Genta dan Dewa ke jalur hukum.
"Bisa, kenapa enggak? Kartu mati dia ada di aku semua! Kalo dia ngancem, aku pun bisa balik ngancem dia!".
Bahu Kasih langsung melorot mendengar ucapan Rangga, ia begitu menyesal karena terlalu cepat mengambil keputusan saat Genta mengancamnya tadi.
Harusnya dia tadi meminta waktu dan tidak langsung mengiyakan kemauan Genta. Tanpa terasa air matanya kembali luruh menyesali apa yang sudah terjadi antara dirinya dan cowok berandal di UKS tadi.
"Mau makan apa?" tanya Rangga memecah keheningan yang cukup lama terjadi diantara mereka berdua.
"Emhh, Kak Rangga mau nyoba mie ayam jamur favorit aku sama Mas Dewa enggak?" tawar Kasih dengan suara serak.
"Kamu nangis lagi?" selidik Rangga mendengar suara serak Kasih, sedang Kasih langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rangga.
"Emang dimana kedai mie ayamnya? Jauh?".
"Deket kok, nanti aku tunjukkin. Mie ayamnya enak banget, porsinya juga bikin kenyang dan yang pasti harganya terjangkau, tempatnya bersih. Kak Rangga pasti suka!".
Kasih mencoba terlihat bersemangat, ia tak mau Rangga menyadari kegelisahannya.
"Siap Tuan Putri, mari kita ke sana. Arahkan jalannya ya!" sahut Rangga tak kalah bersemangat membuat keduanya tergelak.
"Jangan sedih lagi, kalo ada apa-apa jangan ragu buat cerita. Kamu beruntung lho punya dua guardian angel yang siap jagain kamu, belum lagi kamu punya sahabat-sahabat yang baik dan sayang sama kamu--!" Rangga teringat saat ia memasuki kelas Kasih tadi, dimana tangan Evelyn menggenggam tangan Kasih dengan lembut juga tatapan mata Evelyn yang dipenuhi dengan kepedulian bisa Rangga lihat.
"Jadi, aku harap kamu enggak perlu ragu kalo kamu mau berbagai kegundahan hati kamu, kamu punya kita semua yang selalu ada. Oke!" lanjut Rangga lagi.
__ADS_1
Kasih pun sadar ia sangat beruntung berada di sekeliling orang-orang yang sayang dan peduli dengannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=