
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Mungkin elo punya ide, kira-kira drama musikal yang mau kita mainkan bercerita tentang apa? Yang jelas kita harus bikin sesuatu yang beda, dan drama kita harus berbobot tanpa mengurangi romansa anak seusia kita!" Genta benar-benar menantang kecerdasan Kasih saat ini, ia sangat ingin menguji kecermatan dan kecepatan daya pikir Kasih.
"Elo ehh maksudnya Kakak yakin cuma mau minta ide dari saya aja? Kakak enggak coba tanya yang lain, mungkin mereka juga punya ide yang jauh lebih baik dari saya!" Kasih pun tak mau kalah dengan balik menantang Genta.
Dia tak mau terlihat di depan anggota lain jika Genta selalu memprioritaskan dirinya, jelas hal tersebut akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
"Jadi menurut kamu baiknya bagaimana?" tanya Genta tanpa sama sekali memutus pandangannya pada sosok cantik dihadapannya.
"Gimana kalo semua yang ada di sini juga menjabarkan ide mereka masing-masing, jadi nanti Kakak pun bisa memilih cerita yang terbaik dari kita semua!" usul Kasih tersenyum bangga.
Sungguh Genta dibuat terpesona oleh senyuman Kasih, terlebih gigi ginsul yang menjadi ciri khas Kasih membuatnya berkali-kali lipat lebih cantik saat tersenyum.
Ahh, andai saja awal pertemuan mereka berjalan baik, mungkin saat ini Genta lah yang akan menjadi kekasih cewek cantik nan judes tersebut.
"Boleh juga usulan kamu!" sahut Genta untuk kemudian kembali ke atas panggung dan memberitahukan usulan Kasih pada semua.
"Oke, karena hari ini adalah hari pertama kita berkumpul jadi saya mau kita semua mengusulkan ide cerita untuk drama musikal yang akan kita mainkan tahun ini!".
Genta sempat terdiam ketika suasana tiba-tiba menjadi ricuh, karena merasa tugas yang diberikan Genta terasa sulit.
Sebagian dari mereka mengeluh karena mereka memang hanya ingin memainkan peran tanpa harus merangkai ceritanya.
__ADS_1
"Kak, ini kita langsung menjabarkan?" tanya salah seorang siswa.
"Ditulis saja ide kalian dalam bentuk kerangka cerita, sesingkat mungkin tapi tetap jelas alur dan inti ceritanya. Saya tunggu sampai jam lima, sanggup? Harus sanggup!" Genta benar-benar menguji semua anggota teaternya.
Selama berbicara, Genta sering mencuri pandang ke arah Kasih yang menatap serius dirinya. Sungguh dirinya merasa gemas dengan gadis judes tersebut.
"Sekarang jam empat, artinya dia cuma ngasih waktu kita sejam doang dong? Dasar Kakak pembina stress!" cibir Kasih sambil mengeluarkan kertas dan penanya.
"Udah ikutin aja, jangan ngegurutu terus. Nanti Ayang Beb Genta denger berabe lho!" Kasih semakin mencibir saat Rania justru menyematkan panggilan sayang untuk Kakak kelasnya yang menyebalkan itu.
Suasana menjadi hening ketika semua mulai serius menjabarkan ide cerita seusai dengan perintah Genta. Sedangkan Genta dan beberapa pembina yang lain sibuk berkeliling dan mengecek beberapa kerangka cerita yang mereka buat.
Satu hal yang pasti, Genta akan menuju ke arah Kasih yang juga sibuk mencorat coret kertasnya, rasanya tak akan pernah puas menggoda gadis berkucir kuda tersebut.
"Jangan bilang Lo bikin cerita cinta Lo sama Rangga?" bisik Genta yang sudah mendudukan dirinya di sebelah kursi Kasih.
Genta tersenyum mendengar ocehan cewek galak di sampingnya, rasanya ia semakin ingin menggoda dan memancing kekesalan cewek cantik itu.
"Bikin keki apaan? Gak minat gue sama kisah cinta elo sama Rangga, yakin deh gue elo sama dia ******* aja belum pernah!".
"Ishhh, otak lu mah ya gak jauh dari *******!" cibir Kasih memandang jijik cowok slengean di sampingnya.
Genta tergelak mendengar cibiran Kasih yang terlihat kesal menanggapi ocehannya, makin semangat saja Genta untuk menggoda cewek berisik di sebelahnya.
"Lah emang tujuan pacaran apaan kalo enggak *******, bobo bareng? Masa Lo pacaran cuma buat belajar kelompok gitu?" Kasih langsung menatap heran dengan pola pikir cowok cabul di sebelahnya, akan tetapi karena ia yang memang baru pertama kali menjalin hubungan pacaran juga dibuat bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan berpacaran?
"Emang harus gitu orang pacaran ******* dan bobo bareng?" tanyanya polos yang langsung membuat Genta terbahak-bahak.
__ADS_1
Setelah dapat menguasai dirinya, Genta pun menjawab pertanyaan polos Kasih, "bobo bareng mungkin enggak semua sampe ke tahap itu, karena artinya kalo elo udah sampe tidur bareng elo udah bener-bener ngasih kepercayaan ke pasangan elo bahwa dia enggak akan pernah ninggalin elo dan elo percaya pasangan elo itu bakal bertanggung jawab dengan apa yang udah kalian perbuat--!".
"Tapi kalo *******, jelaslah tiap hubungan pacaran itu biasa sebagai pembuktian rasa sayang diantara pasangan!" lanjut Genta menatap dalam Kasih yang memperhatikan dirinya dengan seksama.
"Emang iya begitu? Apa cuma modus lu aja?" sembur Kasih yang tak langsung percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Genta.
"Terserah sih kalo elo enggak percaya sama apa yang gue bilang, enggak heran kalo elo kelihatan cupu banget pacarannya!" Genta menaik turunkan alisnya untuk menggoda gadis cantik yang terlihat tengah mencurigainya tersebut.
"Kalo elo sama Clara udah sampe tahap mana?" tanya Kasih tanpa diduga Genta sama sekali, membuatnya langsung menatap serius gadis itu.
"Kalo udah sampe tidur bareng, artinya kalian enggak main-main dong pacarannya? Dan elo pasti mempertanggung jawabkan perbuatan kalian?" lanjut Kasih lagi polos tanpa memperdulikan perubahan air muka Genta yang tersadar jika apa yang ia dan Clara perbuat tak lebih hanya untuk bersenang-senang.
"Tapi anehnya, Clara ngelepas perawanya kan sama Mas Dewa tapi kenapa hubungan mereka enggak bertahan justru dengan tanpa beban Clara berhubungan sama elo?" Kasih menatap ingin tahu jawaban yang akan diberikan oleh Genta.
"Elo tau kalo Clara ngelepas perawannya sama Abang lo?" pertanyaan Genta justru membuat Kasih terhenyak karena ia sadar telah kelepasan bicara.
Dengan gugup Kasih coba mengalihkan topik bahasan mereka, karena menurutnya pembahasan mereka saat ini terlalu sensitif untuk dilanjutkan.
"Gue mau lanjut bikin kerangka cerita buat drama kita, bisa enggak sih elo gak gangguin gue. Nohh lihat cewek elo bentar lagi mewek kejer ngeliat elo deketin gue terus!".
Genta langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kasih, benar saja Clara tengah memandang mereka dengan tatapan kesal. Ia tahu jika pasti hati kekasihnya tersebut sedang bergemuruh hebat melihat dirinya dengan Kasih berbicara cukup lama.
Dia pun langsung bangkit dari kursinya untuk menghampiri Clara yang wajahnya sudah memerah menahan kekesalan akibat ulahnya.
"Kamu kayaknya emang ada rasa sama cewek itu, berkali-kali peringatan aku enggak kamu gubris!" salak Clara kesal saat Genta sudah berada di hadapannya.
Genta memilih diam daripada menyahuti kekesalan pacarnya tersebut, karena dia yakin jika menyahutinya mereka akan terlibat pertengkaran.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=