
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Genta terus saja terniang-niang semua cerita yang diceritakan oleh Kasih, tentang panti terakhir yang mereka kunjungi.
Sangat disayangkan, panti yang begitu asri dan juga nyaman harus ditinggalkan para penghuninya karena keegoisan dan keserakahan salah satu keluarga pemilik tanah panti tersebut.
Tanah yang sebenarnya sudah dihibahkan sang pemilik sebenarnya, haus menjadi masalah setelah sang pemilik meninggal dunia dan salah satu keluarga yang ingin menarik kembali tanah tersebut.
"Emang enggak bisa dimusyawarahin lagi gitu, kan kasihan anak-anak di sana? Mungkin ada cara lainnya yang sama-sama enak buat kedua belah pihak?" tanya Geta saat mendiskusikan permasalahan ini dengan Kasih sepanjang perjalanan mereka kembali untuk mengantarkan Kasih pulang ke rumahnya.
"Udah pernah kok dan ada jalan keluar yang dimaui oleh salah satu pemilik yang ingin menarik kembali kepemilikan tanahnya" jawab Kasih memandang sekilas wajah serius Genta yang fokus dengan kemudinya.
Tanpa menoleh Genta pun kembali bertanya, "apa?"
"Pihak Panti mau membayarkan uang ke mereka sebesar satu setengah miliyar rupiah" jawab Kasih diiringi dessahan nafas yang begitu berat.
"APA?" pekik Genta yang langsung menoleh ke arah Kasih yang terlonjak kaget mendengar pekikkan suara Genta yang cukup keras.
"Bukannya tanah yang udah dihibahin tetap punya sertifikat kan ya yang menyatakan jika tanah tersebut sudah diberikan kepada pihak yang ditunjuk?" lanjut Genta lagi terheran-heran.
"Ohh ayolah Genta, mereka itu orang-orang serakah yang punya kekuasaan juga uang yang banyak. Bisa apa pihak panti saat ini ketika dengan uang dan kekuasaan mereka, mereka bisa memanipulasi data semau mereka' cibir Kasih kesal dengan kenaifan seorang Genta.
__ADS_1
Dan kini gantian cowok tampan itu yang mendessahkan nafasnya berat, tak pernah menyangka ada oang-orang yang begitu tega mengorbankan orang lain terlebih mengorbankan anak-anak yang belum mengerti apapun demi memenuhi ketamakkan mereka.
"Emang mereka pengen bikin apa sih di tanah panti itu?" tanya Genta masih saja penasaran dan juga kesal.
"Katanya sih mau dibuat wisma atau penginapan gitu deh, elo tau kan tempat itu tuh nyaman banget, deket berbagai objek wisata juga. Gue rasa memang bakal menguntungkan kalo di tempat itu didiriin penginapan juga restauran, ya kan?" jawab Kasih juga berpendapat yang diangguki setuju oleh Genta.
"Terus sekarang gimana?" tanya Genta.
Kasih mngernyitkan dahinya bingung dengan maksud pertanyaan Genta, "gimana, gimana apa maksudnya?"
Ke depannya panti itu harus gimana kalo enggak bisa memenuhi keinginannya mereka?' Genta lebih memperjelas pertanyaannya agar lebih dimengerti oleh Kasih.
"Ya kayak yang elo denger sendiri tadi, Ibu Panti cuma bisa pasrah aja sejauh ini. Apalagi tenggat waktu yang diberikan orang-orang tamak itu tinggal dua bulan lagi supaya panti asuhan tersebut untuk segera dikosongkan. Yang terbaik yang bisa Ibu Panti lakukan saat ini mencari tempat yang cukup bisa menampung para penghuni panti dan tentunya dengan harga yang mereka sanggupi."
Medengar jawaban Kasih yang diselingi helaan nafas putus asa mengetahui kenyataan tentang panti asuhan tersebut membuat keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Akan tetapi melihat jumlah uang yang begitu besar dan tak masuk akal yang diminta oleh orang-orang tamak tersebut jelas bukan di bawah kuasanya untuk menyelesaikannya seorang diri, ia pun berniat akan mmendiskusikannya dengan sang ayah.
***
Benar saja, usai makan malam Genta langsung menanyakan keberadaan Daddy nya pada sang Mommy.
"Tumben nyariin Daddy, bikin masalah apalagi kamu yang memerlukan Daddy untuk menyelesaikan kekacauan yang kamu buat?" tuduh Adam dari kursi kebesarannya di ruang kerjanya.
Genta yang duduk di sofa langsung berdecak kesal mendengar tuduhan sang Daddy dan melemparkan pandangannya ke samping menghindari tatapan mengejek sang Daddy yang sepertinya senang jika dirinya terlihat dungu.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa kali ini masalahnya begitu berat sampai-sampai kamu sendiri bingung mau mulai dari mana? Kamu enggak ngehamilin ank gadis orang kan?" tuduh Adam semakin menjadi-jadi.
"Dad, please..!" Adam terkekeh melihat wajah frustasi sang putera, ia pun lantas berjalan mndekati Genta dan duduk di sebelah puteranya yang selalu membuatnya darah tinggi dengan kenakalan sang putera yang di atas rata-rata.
"Bisa enggak sih buat enggak nuduh aku yang aneh-aneh dulu?" decak genta begitu kesal dengan Adam.
Adam sendiri semakin terkekeh melihat wajah Genta yang begitu kesal akibat tuduhannya, "emang ada ulah kamu yang enggk aneh selama ini?" makin kesal saja Genta mendengar sindiran sang Daddy
Ya, ia akui dirinya memang anak yang nakal, bahkan beberapa ulahnya harus sang Ayahlah yang menyelesaikannya. Tak heran jika Genta tak bisa memnbalikkan tuduhan atau sindiran Daddynya.
"Aku mau ngomong serius sama Daddy dan maaf kalo harus mengecawakan Daddy karena apa yang mau aku omongin kali ini bukan tentang kenakalan, tetapi mnyangkut masa depan ratusan anak-anak yang hidup di sebuah panti!" tegas Genta menatap serius ke manik mata sang Ayah, sedangkan Adam sendiri langsung mngerutkan dahinya, heran dengan sang anak yang tumben-tumbenan berbicara serius dan juga menyangkut orang lain.
"Ceritakan!" perintah Adam tegas dan langsung ingin ke poinnya.
Genta pun langsung menceritakan tentang masalah yang membelenggu panti asuhan yang dirinya dan Kasih kunjungi tadi.
Rasanya ketidak adilan yang diterima oleh panti tersebut membuat hati seorang Genta tidak menerima perbuatan orang-orang tamak yang begitu egois mengorbankan nasib anak-anak yang tinggal di panti tersebut, nasib yang sudah begitu tragis karena tak memiliki orang tua ditambah dengan menghadapi orang-orang serakah yang tega menghancurkan tempat ternyaman dan terhangat mereka yang saat ini mereka miliki, juga satu-satunya menjadi kebahagiaan mereka tumbuh di sana.
"Baiklah, nanti akan Daddy jadwalkan kunjungan ke sana secepat mungkin. Untuk saat ini biarkan Daddy mengirimkan orang-orang Daddy untuk mencari tau titik masalah yang membuat panti tersebut begitu lemah di mata hukum untuk mempertahakan kepemilikkan tanah dan bangunan yang jelas-jelas sudah dihibahkan pada mereka" ujar Adam setelah mendengar dengan seksama cerita putera bungsunya tersebut.
"Dad, jika boleh aku minta ke Daddy agar tak sampai Kasih tau jika aku meminta bantuan Daddy. Dia gadis yang tak enak hatian, dan pasti dia akan menuduhku menyusahkan Daddy dengan meminta Daddy menyelesaika permasalah panti tersebut" pinta Genta penuh permohonan.
Adam tersenyum simpul mendengar permintaan sang anak, "sering-seringlah kamu bergaul dengan teman-teman seperti Kasih ini, dia membawa pengaruh positif untuk kamu!"
Genta hanya membalas dengan senyuman nasehat Daddynya.
__ADS_1
"Sayangnya hanya Kasih yang mampu mengubahku, tak ada ada orang lain lagi." batin Genta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=