Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Tamu Misterius


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Mereka tak menyadari jika obrolan mereka didengar oleh Genta yang bersembunyi di belakang halte, karena saat itu Genta yang memang sedang menghindari Clara yang menungguinya di parkiran, memilih keluar gedung sekolah dan bersembunyi di sana.


Awalnya Genta yang menyadari kehadiran Kasih saat sedang bertelfonan dengan Dewa ingin menghampiri, namun urung saat dirinya melihat Rangga yang berjalan ke arah Kasih.


Hatinya mencelos ketika mendengar semua ungkapan rasa sakit hati terhadap mereka bertiga, ia pun sadar jika perbuatannya sangat keterlaluan dan melukai gadis cantik penuh kesederhanaan tersebut.


Dia fikir dengan memaksakan kehendaknya pada Kasih akan membuat gadis cantik itu percaya jika dirinya memang benar-benar mempunyai perasaan pada Kasih, akan tetapi ternyata apa yang diperbuatnya kemarin justru menorehkan luka yang begitu dalam pada gadis itu.


Harusnya Genta menyadari jika Kasih berbeda dengan gadis lainnya, dia bukan tipe perempuan yang luluh dengan sebuah sentuhan apalagi dengan cara memaksa seperti yang ia lakukan kemarin.


Genta pun berjanji akan menebus kesalahannya, dia akan berusaha terus menerus meminta maaf dari Kasih dan yang pasti ia tak akan lagi melecehkan gadis polos itu.


***


Sepanjang perjalan Kasih tak sama sekali membuka mulutnya, dia lebih memilih untuk melemparkan pandangannya ke luar jendela menikmati jejeran mobil yang terjebak kemacetan seperti dirinya.


Mungkin jika saat ini Kasih tidak dalam keadaan marah, ia akan dengan sangat bersemangat menceritakan jika dirinya menjadi pemeran utama di drama perdananya.


Dia juga akan mengadukan kekesalan hatinya karena harus beradu akting dengan Genta yang menjadi pemeran utama prianya.


Beberapa kali pun Rangga melirik ke arah kekasihnya tersebut tanpa berani mencoba memulai sebuah obrolan.


Suasana sepi seperti ini sungguh membuat Rangga begitu merasa aneh karena ia sudah terbiasa mendengar celoteh cerewet kekasihnya jika berada di dalam satu mobil, terlebih saat terjebak macet seperti saat ini kecerewetan sang pacar seperti menjadi hiburan tersendiri.


Tapi sayang saat ini Rangga harus menerima kemarahan dari Kasih yang memang pantas ia dapatkan.


"Makasih Kak!" ucap Kasih saat mereka telah tiba di depan teras luas rumah sekaligus kedai Ranti.


"Kasih"


Rangga mencekal tangan Kasih, saat gadis cantik itu hendak keluar dari mobil Rangga. Mau tak mau Kasih pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil dan melihat ke arah Rangga.


"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Rangga.


"Apa?"


"Dahi kamu kenapa?" Rangga menatap lekat arah luka berbalut perban di dahi Kasih.


"Ohh ini, kemarin malam aku jatuh dari tangga, kebentur kaki meja" jawab Kasih menyentuh sekilas dahinya.


"Kok bisa?" tanya Rangga dengan mimik keheranan sekaligus khawatir.


"Ya bisalah, namanya juga musibah" jawab Kasih, terlihat seulas senyum tipis saat Kasih menjawab pertanyaan aneh kekasihnya.


Hal tersebut jelas membuat Rangga sedikit bisa bernafas lega, paling tidak sang pacar tidak sekaku seharian ini.


"Aku masuk ya!" pamit Kasih, tapi lagi-lagi dicegah oleh Rangga.


Ia kemudian menyorongkan tubuhnya ke bangku belakang mobilnya untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Buat kamu" Rangga menyodorkan paperbag berukuran sedang bertuliskan nama toko kue yang pernah ia kunjungi saat membeli lapis legit untuk keluarga Genta.


"Ini apa?" tanya Kasih menerima paperbag yang disodorkan oleh Rangga.


"Buka aja" Rangga tersenyum simpul.


Kasih membalas senyuman Rangga, ia pun kemudian membuka paperbag yang ternyata di dalamnya terdapat kotak yang begitu cantik, makin lebar saja senyuman di bibir Kasih.


Apalagi saat Kasih membuka kotaknya yang dimana ternyata berisikan beberapa cupcake cantik yang di atasnya terdapat satu huruf per satu cupcake hingga tersusun kalimat "I am sorry Honey".


"Akhhh, Kak Rangga resek amat sih. Aku kan jadi enggak bisa marah lama-lama gara-gara cupcake manis ini" rengek Kasih dengan mata yang berkaca-kaca.


Rangga langsung tergelak melihat rengekan sang kekasih, begitu mudahnya kemarahan sang pacar luluh hanya dengan hadiah yang dia berikan.


"Jadi luluhkan aku, padahal aku maunya yang lama marahnya biar Kak Rangga lebih berjuang buat minta maafnya!" sungut Kasih dengan air mata yang sudah luruh di pipi putih yang dihiasi rona merah muda yang natural, begitu cantik.


Makin keras saja gelak tawa Rangga melihat kepolosan serta wajah menggemaskan sang kekasih.


"Jadi aku udah dimaafin nih?" goda Rangga.


"Belum seratus persen!" tegas Kasih yang lagi-lagi membuat Rangga tergelak.


Kasih tak memperdulikan Rangga yang masih saja tertawa, ia justru langsung memfokuskan perhatiannya pada cupcakes yang begitu cantik.


"Aku enggak tega buat makan cupcake cantik ini, tapi kalo enggak dimakan mubazir!" ujar Kasih yang hanya ditanggapi senyuman oleh Rangga.


"Sayang!" panggil Rangga yang hanya disahuti deheman oleh Kasih, karena perhatiannya masih saja terfokus pada cupcake-cupcake cantik di pangkuannya.


"Boleh aku cium kamu?" izin Rangga.


Kasih langsung membolakan matanya, ia pun melihat kekasihnya, bingung dengan permintaan yang luar biasa yang baru saja terucap dari mulut sang pacar.


Rangga begitu takut permintaannya disalah artikan oleh Kasih, tapi sungguh apa yang terjadi kemarin membuatnya tidak tenang, tidak terima dengan apa yang diperbuat oleh sepupunya pada sang kekasih.


Kasih membeku, bingung harus menjawab apa permintaan ajaib kekasihnya. Jika ia mengizinkan ia takut apabila Rangga malah berpikir dirinya begitu murahan meskipun tadi Rangga sendiri sudah menjelaskan jika dirinya tak sama sekali menganggapnya begitu, akan tetapi ia sendiri juga masih bisa merasakan aroma dan sentuhan bibir Genta yang membuatnya muak.


"Tapi kalo kamu enggak mau enggak apa-apa, aku enggak bakal maks--!" ucapan Rangga langsung terhenti ketika Kasih tiba-tiba langsung mencium bahkan menyesap bibirnya.


Rangga yang sempat terkejut dengan tindakan Kasih, langsung menahan tengkuk Kasih untuk memperdalam ciuman mereka.


Awalnya Kasih memang enggan untuk memenuhi permintaan kekasihnya, tapi setelah dipikir-dipikir apa yang dikatakan oleh Rangga benar adanya. Ia sendiri pun merasa memang butuh untuk menghilangkan rasa yang ditinggalkan oleh Genta.


Toh ia melakukannya dengan Rangga, pacarnya sendiri dan Rangga memang lebih berhak mendapatkannya dibandingkan Genta yang justru sudah berkali-kali menikmati bibirnya.


Kasih dan Rangga saling menatap satu sama lain saat mereka melepaskan ciuman mereka untuk mengambil oksigen yang yang dirasa habis saat mereka berciuman.


"Apa Kak Rangga nganggep aku kayak cewek-cewek murahan yang ada di sekitaran kalian?" tanya Kasih dengan nafas yang tersengal-sengal.


"I love you..!" Rangga lebih memilih mengungkapkan perasaannya dibanding menjawab pertanyaan bodoh yang diajukan oleh Kasih.


"Maaf kalo aku enggak memberikan ciuman pertama aku buat Kakak, but I love you too..!" sahut Kasih tanpa melepas pandangannya pada mata sang kekasih.


"Aku yakin ini ciuman pertama kamu kok!" ujar Rangga tersenyum simpul.


Kasih langsung menampilkan wajah kebingungan, bagaimana bisa Rangga mengatakan jika ini adalah ciuman pertamanya padahal sang pacar mengetahui sudah beberapa kali Genta menciumnya secara paksa.

__ADS_1


Melihat mimik kebingungan dari wajah sang pacar, senyum Rangga lagi-lagi semakin lebar.


"Aku yakin ciuman ini adalah ciuman pertama kamu dengan perasaan, iya kan?"


Kasih langsung tersenyum malu-malu mendengar penjelasan kekasihnya, karena apa yang dikatakan oleh Rangga adalah benar.


Ini adalah ciuman pertamanya dengan perasaan yang tulus, bukan terpaksa karena dipaksa oleh ketidakberdayaan seperti yang beberapa kali terjadi bersama dengan Genta.


"Makasih, Sayang!" ucap Rangga tulus.


Kasih hanya mengangguk dengan semburat merah di pipi yang tak bisa ia sembunyikan sama sekali.


"Kalo begitu aku masuk ke rumah ya, makasih udah nganterin aku dan cupcake cantiknya" sahut Kasih.


Namun, sekali lagi saat Kasih hendak keluar Rangga kembali mencekal lengan Kasih, ia kemudian mengecup dahi Kasih lama dan lembut, bahkan setelahnya ia juga mengecup pelan dan cepat perban yang menghiasi dahi Kasih.


"Cepet sembuh ya, semoga ini menjadi luka yang pertama dan terakhir" ucapnya sungguh-sungguh.


Kasih hanya terkekeh mendengarnya, ia pun kemudian turun dan berjalan memasuki rumah Budenya tanpa sama sekali menengok ke belakang. Ia begitu malu dengan apa yang baru saja terjadi, dirinya sendiri pun tak menyangka mempunyai keberanian untuk mencium Rangga terlebih dahulu.


***


"Permisi Bude, apa bisa saya bertemu Kasih?" tanya Genta yang tiba-tiba mendatangi kedai Ranti dengan wajah yang begitu muram.


"Udah jam sembilan Nak Genta, mungkin Kasihnya lagi belajar di kamarnya" jawab Ranti yang memang saat itu sedang membantu para pegawainya untuk menutup kedainya.


"Sebentar aja Bude, saya mohon. Ada hal penting yang mau saya omongin sama Kasih" pinta Genta sekali lagi penuh permohonan.


"Enggak bisa bes--!"


"Enggak bisa Bude, harus sekarang juga. Maaf Bude, sebentar aja" Genta memotong ucapan Ranti karena ia benar-benar ingin bertemu dengan Kasih saat ini juga.


Meskipun ragu, Ranti yang melihat Genta juga membawa paperbag yang ia lihat pernah juga dibawa oleh Kasih akhirnya mengalah dan meminta Genta menunggunya sebentar.


"Kalo begitu, Bude panggilkan dulu ya" Ranti langsung beranjak menuju kamar Kasih setelah melihat anggukan dari Genta.


Sesampainya di kamar Kasih, benar saja Ranti melihat keponakan cantiknya masih berkutat dengan buku-buku pelajarannya.


"Nduk!" sapa Ranti mendekati sang keponakan.


Kasih pun langsung menoleh ke arah sang Bude sambil tersenyum, "iya Bude, kenapa?" tanyanya.


"Masih banyak PR nya?" tanya Ranti lagi.


"Sedikit lagi kok Bude" jawab Kasih lagi.


"Bisa ditinggal dulu, ada yang mau ketemu kamu di bawah. Kayaknya ada hal penting yang mau dia omongin sama kamu?!" Ranti menginformasikan.


Kasih langsung memasang wajah heran, malam-malam begini siapa yang ingin menemuinya?


"Siapa emang Bude?" tanyanya kebingungan.


"Kamu lihat aja sendiri!"


Kasih langsung menganggukkan kepalanya, ia pun kemudian mengikuti langkah Budenya menuju ke bawah untuk menemui tamu misterius malam-malam begini.

__ADS_1


Dan betapa terkejutnya Kasih saat melihat sosok Genta yang sedang menunggunya di bawah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2