Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Merasa Bersalah


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Kak Rangga?" pekik Kasih.


"Kenapa? Kaget?" tanya Rangga dengan suara paling kaku yang pernah Kasih dengar.


"Kak, Kak Rangga ngapain di sini?" Kasih terlihat sangat gugup, ia yakin jika Rangga pasti salah faham dengannya.


"Ini tempat umumkan, aku bebas berada di mana aja, termasuk di sini! Kenapa harus gugup gitu? Enggak nyangka huh bakal kepergok di sini?" Rangga menatap tajam penuh amarah pada gadis cantik yang mulai terlihat pucat itu.


"Apa yang Kakak lihat, enggak kayak yang Kakak pikirin. Aku--!" penjelasan Kasih harus terpotong di udara saat dengan ketus Rangga menyelaknya.


"Ohh ya? Jalan berduaan, gandengan tangan, bercanda-canda. Menurut kamu aku harus mikir gimana, huh?".


Melihat Kasih yang mulai ketakutan, Genta pun berusaha menjelaskannya, "ini enggak kayak yang otak Lo pikir. Gue yang minta Kasih buat nemenin ke sini, gue--!" tapi lagi-lagi gantian penjelasan Genta kali ini juga harus rela diselak oleh Rangga.


"Seperti sebelum-sebelumnya, elo enggak akan pernah capek buat ngerebut apa yang gue punya!".


Genta langsung terdiam mendengar sindiran saudara sepupunya tersebut, sedang Kasih tak mengerti maksud ucapan Rangga pada Genta.


"Ayo aku anter pulang, kita harus ngomongin ini!" Rangga langsung menarik kasar tangan Kasih yang sedari tadi dicengkramnya.


"Sakit Kak, pelan..!" rintih Kasih yang tak sama sekali diindahkan oleh Rangga yang terus saja menarik tangannya.


Genta memandang iba ke arah gadis cantik yang saat ini tengah diseret paksa oleh saudara sepupunya, rasa bersalah pun menggelayuti hatinya terlebih saat sekilas melihat Kasih menengok ke arahnya dengan wajah sedih.


***

__ADS_1


"Ada yang mau kamu jelasin ke aku?" suara Rangga masih saja kaku, juga aura penuh kemarahan begitu terlihat dari Rangga saat ia menuntut penjelasan di dalam mobilnya.


Dengan menahan tangis, Kasih memberanikan diri menatap Rangga yang tak sama sekali melihat ke arahnya, "aku harus ngejelasin apa lagi? Udah aku bilang aku cuma nemenin Genta doang. Enggak lebih!".


"Dia mau nyari kado buat ulang tahun Clara, dia ngajak aku buat bantu pilihin hadiah yang pas buat ceweknya" lanjut Kasih lagi, kali ini ia sudah tak mampu lagi menahan laju air matanya.


"Cuma nemenin, tapi sambil bergandengan tangan! Yakin bukan ngedate?" sindir Rangga, kali ini menengok ke arah gadis yang sudah banjir air mata itu.


"Aku enggak sadar kalo gandengan sama Genta. Aku, aku kebiasaan selalu gandengan sama Mas Dewa tiap jalan, jadi aku gak ngeh!" sahut Kasih sesegukan.


Rangga sempat merasa terenyuh saat melihat wajah Kasih yang penuh air mata, namun ego kelakiannya yang merasa dikhianati tetap menang dan menyingkirkan perasaan kasihan pada gadis yang tengah sesegukan sambil terus menyurut air matanya itu.


Rangga pun sebenarnya sadar, kebiasaan Kasih yang selalu menggandeng siapapun di sebelahnya karena tak sekali dua kali ia melihat Kasih menggandeng Axel, Mas Dewa, teman-temannya yang lain termasuk juga dengan dirinya.


"Kenapa enggak izin sama aku kalo kamu mau keluar sama Genta?" terselip nada kecewa dari suara Rangga.


"Tadinya aku enggak mau nemenin Genta, tapi dia langsung minta izin ke Bude dan Mas Dewa. Mereka ngizinin, mau enggak mau aku nurutin Bude dan Mas Dewa!" jawab Kasih masih sesegukan.


Rangga langsung merengkuh tubuh yang tengah bergetar karena tangisannya, membelai dengan penuh rasa sayang. Berkali-kali pula Rangga mengecupi puncak kepala Kasih berharap dapat meredakan tangisan gadis kesayangannya.


"Aku bukannya enggak mau minta izin sama Kakak, tapi aku takut Kak Rangga marah sama aku. Sedangkan aku enggak mungkin enggak nurut sama Bude..!" ucap Kasih sesegukkan dalam dekapan hangat kekasihnya.


"Maaf aku udah kasar sama kamu, aku bener-bener enggak suka kamu dekat sama Genta. Aku sayang sama kamu, aku enggak akan ngebiarin dia ngerebut milikku lagi!" ujar Rangga sesekali masih mengecupi puncak kepala Kasih.


"Kita pulang?" ajak Rangga setelah melihat Kasih sudah dalam keadaan yang lebih tenang.


Kasih pun menganggukan kepalanya. Sebenarnya ingin sekali dia menanyakan apa maksud kalimat Rangga yang mengatakan bahwa dia tak akan pernah membiarkan Genta merebut apa yang sudah dimilikinya.


Namun melihat keadaan yang baru saja tenang, Kasih pun mengurungkan niatnya. Nanti, jika keadaan sudah benar-benar membaik ia berjanji akan meminta pengelasannya pacarnya tersebut tentang maksud kalimat yang diucapkannya.


Rangga yang melihat anggukan sang kekasih langsung tersenyum dan mengelus lembut puncak kepala Kasih penuh sayang untuk kemudian menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalan Kasih hanya terdiam dan melemparkan pandangannya ke samping jendela mobil, berusaha menikmati kemacetan kota Jakarta.


Ia hanya berusaha untuk menenangkan dirinya, karena apa yang baru saja terjadi membuatnya cukup terkejut.


Ini kali pertama melihat sosok lain dari Rangga, tak pernah menyangka jika pacarnya itu cukup menakutkan jika sedang marah dan juga cemburu.


Ia juga sempat mengingat wajah khawatir yang ditunjukkan Genta saat dirinya ditarik paksa oleh Rangga. Benar-benar satu hal yang mengejutkan, Rangga si cowok random yang super arogan bisa memasang wajah penuh kekhawatiran.


"Mau makan? Mungkin kamu laper?" hingga suara berat Rangga membuatnya tersentak dari lamunannya.


"Langsung pulang aja ya Kak, aku capek! Lagian aku tadi juga udah makan bareng Genta sebelum ke mall tadi!" Kasih langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat tersadar ia sudah keceplosan bicara.


"Kalian makan berdua?" selidik Rangga kembali memasang wajah kesal.


"I, iya.. Tadi di kedai Bude. Dia dateng ke sana buat makan siang, terus maksa aku nemenin dia makan. Maaf!" sahut Kasih tertunduk lesu.


Ia begitu menyesali mulutnya yang sering saja kelepasan berbicara.


Ketika tak ada jawaban apapun dari Rangga, Kasih memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya untuk melihat ekspresi Rangga saat ini.


Datar, itulah yang bisa ditangkap oleh penglihatan Kasih.


"Bego banget sih Lo Sih, baru adem pake keceplosan ngomong. Gali lubang kematian Lo sendiri aja, bego, bego!" rutuk Kasih pada dirinya sendiri dalam hatinya.


Benar saja, selama sisa perjalanan yang mereka tempuh hingga sampai ke rumah Ranti tak ada obrolan sama sekali, membuat Kasih kembali gelisah. Takut-takut jika Rangga kembali merasakan kekecewaan pada dirinya.


"Alhamdulillah udah sampe. Oh iya ini buat kamu, pake ya nanti malam. Aku udah izin ke Mas Dewa mau ngajak kamu jalan, makanya tadi aku sengaja ke mall buat beliin kamu ini!" Genta mengangsurkan paper bag berukuran besar dengan logo brand ternama yang dia ambil dari jok belakang mobilnya.


"Awalnya aku mau ngajak kamu tadi, tapi aku pikir kamu weekend gini pasti sibuk bantu-bantu kedai, jadi aku urungin niat aku itu. Ehh ternyata kamu malah bisa jalan sama Genta, tau gitu mending aku nekat aja ngajak kamu!" sindir Rangga, membuat Kasih semakin merasa bersalah saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2