
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Woi bogel lo suka makanan apa?" Tanya seseorang melalui sambungan telfon pada Kasih.
"Maaf ini siapa ya?" Sungguh Kasih tak tahu siapakah penelfon yang langsung saja menanyakan makanan kesukaannya karena memang nomor yang digunakan si penelfon adalah nomor baru yang belum terdaftar di kontaknya.
"Masa elo gak ngenalin suara seksi gue sih, coba inget-inget suara gue yang seksi ini siapa hayoo!" Jawab si penelfon membuat Kasih menaikan bola matanya malas saat teringat si pemilik suara menyebalkan tersebut.
"Elo tau nomor gue dari mana, hah?" Sembur Kasih membuat Genta langsung tergelak di sebrang sana.
"Lah, lo lupa siapa gue? Jangankan nomor hape lo, nomor be ha lo aja gue bisa tau kok!" Sahut Genta terkekeh.
"Cabul lu! Mau ngapain lo nelfon gue?" Salak Kasih lantang.
"Lo suka makanan apaan, gue mau jenguk lo nih jadi sekalian gue bawain makanan. Bosen kan lo makan makanan rumah sakit doang!" Tawar Genta tanpa memperdulikan kekesalan Kasih.
"Gak usah repot-repot, lagian ngapain sih jengukin gue mulu?" Tanya Kasih.
"Kebab mau enggak? Pake mayones aja ya, nih gue lagi di kebab langganan gue, mantep pokoknya!" Tawar Genta lagi tanpa memperdulikan kekesalan gadis cantik itu.
"Kalo lo maksa, apa boleh buat. Inget jangan dikasih saos cabe, saos tomat sama mayones aja, kalo bisa double keju" Sahut Kasih tanpa malu-malu.
"Mau berapa bungkus?" Tanya Genta lagi.
"Emang kalo gue bilang mau lima puluh bungkus, elo mau ngebeliinnya?" Tantang Kasih.
"Noted, tunggu gue ya!" Sahut Genta kemudian memutuskan sambungan telfon mereka.
Melihat sambungan telfonnya diputus, Kasih langsung tergagap, ia sungguh hanya ingin menggoda Genta saja, tak ada niatan serius meminta lima puluh bungkus kebab.
"Tapi apa iya bakal dibeliin lima puluh beneran? Enggak mungkinkan ya? Dia enggak bego-bego amat kan nganggep serius omongan gue?" Batin Kasih bermonolog.
Tetapi sungguh diluar dugaan, satu jam setelahnya Genta datang dengan membawa lima paperbag berisikan lima puluh kebab pesanannya membuat Kasih ternganga tak percaya dengan mata yang mendelik lebar.
"Nih, lima puluh kebab pesenan lo. Abisin!" Ucap Genta dengan senyum penuh kemenangan meletakan lima paperbag berukuran sedang ke atas pangkuannya.
__ADS_1
"Lo gila apa bego sih?" Sembur Kasih kesal.
"Lho ada yang salah emangnya?" Tanya Genta tak mengerti maksud pertanyaan yang diajukan Kasih.
"Lo beneran ngebeliin gue lima puluh bungkus? Gue enggak serius kali tadi, lagian lo pikir badan semungil dan seimut-imut kayak gue ini sanggup apa ngabisin kebab sebanyak ini?" Kasih benar-benar dibuat bingung dengan sikap musuh bebuyutannya ini.
"Narsis lu, kan elo sendiri yang minta lima puluh tadi. Sekarang malah ngomel-ngomel enggak jelas!" Salak Genta pura-pura kesal, karena sebenarnya dia tahu jika Kasih tidaklah serius dengan permintaannya.
" Gue bercanda Oon!" Kesal Kasih.
"Lah, terus ini gimana dong. Lo tau enggak satunya berapa tuh kebab?".
"Berapa?" Sungguh sekarang Kasih dibuat takut terhadap keisengan yang dibuat sendiri.
"Lima puluh lima ribu per bungkusnya, lo itung deh tuh dikali lima puluh bungkus berapa jadinya?" Genta sungguh menikmati wajah panik gadis cantik di depannya tersebut.
"Dua juta tujuh ratus lima puluh ribu totalnya!" Jawab Kasih cepat, membuat Genta kagum dengan kecepatan Kasih dalam menghitung.
"Yups..!" Sahut Genta dengan tersenyum lebar, namun tidak dengan Kasih yang wajahnya semakin pias karena terlalu menyesali akibat dari celetukannya.
"Kok lo nekat banget sih?" Sungguh Kasih tak habis fikir dengan tindakan semaunya gue Kakak kelasnya itu.
"Nekat gimana?" Salak Genta tak terima.
"Terus gimana dong, udah gue beli gak mungkin bisa gue balikin lagi?" Kini Genta memasang wajah panik membuat Kasih semakin panik.
"Gue, gue abis menang taruhan. Gini aja gue ambil kebabnya lima, sisanya lo bagi-bagiin aja ke siapa kek. Nanti gue kasih setengah uang lo, macem patungan gitu deh daripada gak kemakan, mubazir!" Usul Kasih.
Sungguh saat ini Genta dibuat takjub dengan sifat cewek berisik di hadapannya saat ini.
"Bagiin ke siapa?".
"Siapa ajalah, suster kek, ob kek, cleaning service kek. Banyak kok yang mau pasti!" Jawab Kasih memberi solusi.
"Gue bagi-bagiinnya sendirian gitu?" Tanya Genta lagi.
"Ya iyalah, masa sama gue? Gue kan lagi sakit!" Jawab Kasih sedikit kesal.
"Masa seorang Genta bagi-bagiin kebab?" Keluh Genta dengan wajah jengah yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Emang kenapa? Bagus dong malahan, seorang Genta bagi-bagiin kebab. Itu nunjukin kalo elo gak cuma rupawan dan jutawan tetapi juga dermawan, bagus kan buat kesempurnaan image elo selama ini?" Sungguh tiap ucapan Kasih sangat bertentangan dengan hatinya, bahkan ia kini sedang dengan susah payah menyembunyikan mimik jijik di wajahnya.
"Bener juga kata lo!" Sahut Genta membanggakan diri membuat Kasih langsung memasang wajah geli.
Namun entah mengapa keduanya saling tergelak, saling menertawakan diri mereka masing-masing. Hingga ketika pintu kamar rawatnya dibuka oleh seseorang membuat mereka menghentikan tawa mereka.
"Apa gue ganggu kalian?" Tanya Rangga dengan suara kaku.
"Engg, enggak kok Kak. Masuk aja!" Jawab Kasih tergagap.
"Nyantai, gue juga mau balik. By the way lo mau kebab enggak, nih gue bawain Kasih kebanyakan sekarang mau gue bagi-bagiin. Kali aja lo mau?" Tawar Genta diselingi cengiran yang cukup mengesalkan.
"Thanks, gue udah kenyang!" Sahut Rangga ketus.
"Well Kasih, gue balik dulu ya! Get well soon, ketemu di sekolah!" Ucap Genta yang sengaja untuk memanasi Rangga.
"Udah sih balik sana!" Usir Kasih menatap tajam Genta yang tengah tersenyum smirk padanya.
Sepeninggalan Genta, Rangga langsung menghampiri Kasih dan mendudukan dirinya di atas tempat tidur Kasih.
"Udah lama dia di sini?" Tanya Rangga dengan tatapan yang sama sekali tak bisa terbaca oleh Kasih.
"Belum lama kok, paling sepuluh menitan" jawab Kasih menggigit bibir bawahnya untuk menetralisir kegugupannya.
"Berarti bener dong dugaanku tadi sore?" Rangga benar-benar tak bisa menutupi kecemburuannya sama sekali.
"Hah?".
"Kalo malem ini Genta bakalan dateng?" Rangga mencoba mengingatkan ucapannya sebelum dia pergi meninggalkan ruangan Kasih.
"Tapi aku enggak tau beneran deh kalo dia mau dateng!" Sahut Kasih.
"Tapi bisa bawain dia kebab, sebanyak itu lagi?" Selidik Rangga.
"Iya tadi dia nelfon aku tadi sebelum ke sini, nanya minta dibawain apa karena kebetulan dia bilang dia lagi di tempat kebab langganannya dia ngusulin aku supaya cobain kebab kesukaan dia, yaa karena aku gak mau ngerepotin aku iya in aja__!" Jawab Kasih menjeda ucapannya untuk menatap wajah Rangga yang semakin berubah masam.
"Dan untuk jumlahnya yang sebanyak itu, aku tadinya cuma ngisengin dia aja minta dia lima puluh bungkus kebab, aku kira dia pinter nanggepin candaan aku, ternyata dia bodoh banget beneran ngebeliin aku lima puluh bungkus tau enggak? Mana per bungkusnya lima puluh lima ribu lagi, bisa Kak Rangga bayangin uang dua juta tujuh ratus lima puluh ribu cuma buat kebab doang, nekat banget gak sih tuh cowok?" Kasih terkekeh mengingat kelakuan absurd musuh tampannya tersebut.
"Jadi kalian udah saling bertelfonan?" Seketika tawa Kasih terhenti mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Rangga.
__ADS_1
"Hah?".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=