Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Genta, tunggu!


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Genta??" cicit Kasih pelan meskipun lumayan terkejut dengan kehadiran Genta saat ini, ia pun sempat melirik sekilas paperbag yang dibawa oleh Genta.


Kasih pun mulai menyadari kedatangan cowok menyebalkan itu pasti dikarenakan tas yang sudah ia kembalikan melalui jasa pengiriman.


"Ada apa?" tanya Kasih pura-pura belum menyadari alasan kedatangan Genta sambil menuruni tangga.


"Ada yang mau gue omongin sama elo!" jawab Genta dengan tatapan tajamnya.


Kasih pun mengangguk dan tersenyum, ia kemudian mengajak Genta untuk duduk di salah satu kursi kedai yang sudah tutup itu, namun Genta menolaknya.


"Gue mau ngomong di luar, enggak di sini!"


"Ngomong aja di sini, ini tuh udah malem gue enggak bisa keluar, nanti Mas Dewa marah sama gue!" ketus Kasih menanggapi penolakan Genta.


"Gue lihat Mas Dewa elo belum pulang, gue cuma butuh waktu sebentar doang. Gue enggak mau Bude elo mikir yang enggak-enggak kalo ngeliat kita berdebat nanti!" Genta beralasan.


"Berdebat? Emang kita mau ada perdebatan apa?" tanya Kasih pura-pura bingung.


Genta merotasi matanya malas, Genta yakin sekali jika Kasih sangat mengetahui alasan dirinya nekat malam-malam datang menemui gadis yang sedang memusuhinya tersebut.


"Udah Kasih, enggak sok-sok an enggak tau. Gue yakin banget elo tau alasan gue dateng ke sini dan gue harap elo mau ikut gue, elo tau kan seberapa nekatnya gue!" ancam Genta.


Kasih langsung memandang sebal ke arah cowok tampan itu, selalu saja mengancam menjadi andalan cowok berandal satu ini.


"Tunggu sebentar, gue izin dulu sama Bude sekalian ambil hape gue. Kalo elo macem-macem gue bisa langsung nelpon Mas Dewa!"


Genta hanya tersenyum smirk mendengar ucapan Kasih yang mengancamnya, meskipun hatinya mencelos dengan kata-kata Kasih yang menyiratkan ketakutan.


Di dalam kamar, dengan hati dongkol Kasih langsung mengambil ponselnya juga cutter yang berada di atas meja belajarnya.


Ia memang berniat membawa cutter tersebut, berjaga-jaga jika lagi-lagi Genta akan melecehkannya.


Karena sudah memakai piyama tidurnya, Kasih pun mengambil outer tebal untuk ia kenakan dan tentu untuk meletakkan cutter di saku yang terdapat pada kedua sisi outernya.


"Nduk!" panggil Ranti menghampiri Kasih di kamarnya.


"Jangan malem-malem pulangnya, kalo bisa sebelum Mas Dewa sampe di rumah kamu udah di rumah duluan. Tadi Mas Dewa udah Bude telepon, katanya sampe rumah sekitar jam dua belasan malam!" titah Ranti dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.


"Enggak sampe setengah jam kok Bude, kalo nanti lebih dari setengah jam Bude teleponh aja Kasih!" sahut gadis cantik itu dengan senyum yang berusaha menenangkan kegelisahan Budenya.


***


"Elo mau ngajak gue kemana?" tanya Kasih saat mereka telah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Genta.


"Kita ngobrol di taman kota!" jawab Genta melirik sekilas wajah cantik Kasih yang terus menerus menampilkan keketusan.


"Harus gitu?"

__ADS_1


"Haruslah, makanya gue nekat nemuin elo meskipun gue tau elo masih marah sama gue" terdengar nada suara penuh penyesalan yang tertangkap oleh telinga Kasih.


"Bagus deh, elo tau diri!" salak gadis cantik itu kesal.


Genta hanya mendengus, ia menyadari kesalahannya memang fatal, bahkan tak termaafkan.


Sesampainya di taman kota, Genta langsung memarkirkan mobilnya. Meskipun sudah malam, taman di tengah kota itu masih saja ramai membuat Genta memutuskan untuk membawa Kasih ke tempat yang tak begitu ramai.


"Elo mau bawa gue kemana sih hah?" Kasih menghempaskan kasar tangan Genta yang terus menerus menariknya untuk menggiring ke tempat yang ia sendiri tak tahu.


"Gue butuh ngomong ke tempat yang lebih sepi, di sini rame!" jawabnya Kembali berusaha menggandeng tangan Kasih.


"Enggak mau! Elo jangan macem-macem ya Genta, gue udah cukup berbesar hati ngikutin mau elo ikut ke sini, jangan makin ngelunjak aja Lo mau ngebawa gue ke tempat sepi lagi. Elo mau ngelecehin gue?" tuduh Kasih menggebu-gebu.


Gadis cantik yang sedang merasa terancam atau traumanya yang teramat sangat langsung mengeluarkan cutter dari sakunya.


"Elo jangan pernah berharap bisa macem-macemin gue lagi, ngerti! Karena gue enggak akan pernah ngebiarin elo bikin gue terhina lagi!"


"Elo bawa-bawa cutter?" tanya Genta dengan mimik wajah tak percaya.


"Gue udah capek elo lecehin terus!" entah mengapa Kasih yang mengacungkan cutternya dengan tangan gemetar justru menangis.


"Gue mungkin enggak akan pernah sanggup ngelukai orang lain, tapi kalo elo macem-macem gue enggak akan segan-segan ngelukai diri gue sendiri!" Kasih kini meletakan cutter nya ke pergelangan tangannya sendiri.


Hal tersebut justru membuat Genta merasa perih di hatinya, sebegitu takutnya kah gadis mungil itu terhadap dirinya.


"Gue bersumpah demi apapun, gue enggak akan pernah macem-macem lagi sama elo. Sekarang tolong elo simpen lagi cutter itu!" pinta Genta mengangkat kedua tangannya pertanda tak akan lagi menyentuh gadis yang tengah menggigil ketakutan.


"Sumpah?" tekan Kasih sekali lagi meminta kepastian Genta.


Kasih kemudian menarik kembali pisau yang diacungkannya untuk kemudian menyimpannya di saku outer yang ia kenakan.


"Kalo gitu ngomongnya di sini aja, gue enggak mau ke tempat yang sepi, gue takut!" ujar Kasih merekatkan tangannya ke depan tubuhnya.


"Ini kenapa elo balikin? Tinggal terima aja apa susahnya sih?" tanya Genta menunjuk-nunjuk paperbag yang memang dia terus bawa.


Kasih menggelengkan kepalanya, merasa jengkel dengan sikap keras kepala cowok di hadapannya saat ini, "kan gue udah bilang gue enggak bisa nerima barang semahal ini."


"Bukannya gue juga udah bilang, kalo emang beneran elo enggak mau ya kasih orang aja atau enggak elo buang aja karena gue paling enggak bisa nerima balik apa yang udah pernah gue kasih ke orang lain!" sahut Genta ketus.


"Kasih orang gimana? Elo kira orang bakal mikir apa ke gue kalo gue ngasih barang semewah dan semahal ini? Dan ngebuangnya? Gue enggak segila itu buat ngebuang barang dengan harga yang fantastis!" salak Kasih.


Genta semakin mendengus kesal, saat ini yang ada di otaknya hanyalah mengapa gadis pemberani ini begitu sulit menerima dengan suka rela barang pemberiannya?


"Yaa kalo gitu terima aja!" tuntut Genta.


"Bebel banget sih lu, dibilang gue enggak mau juga!" sahut Kasih makin kesal saja dengan cowok tampan di hadapannya.


"Berarti fix nih elo enggak mau nerima tas ini?" tanya Genta sekali lagi.


"Gue enggak mau! Elo kasih ke siapa kek sana, ke Clara mungkin?" jawab Kasih pasti dengan tatapan yakin.


"Oke kalo begitu, berarti gue enggak bisa maksa elo lagi. Kalo gitu mending gue buang aja, gue bisa beli selusin tas kayak gini buat Clay bukannya ngasih barang bekas yang ditolak orang lain buat dia!" ketus Genta yang langsung berjalan cepat meninggalkan Kasih yang masih mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Genta.

__ADS_1


"Masa iya dia mau ngebuang tas itu begitu aja!" cicit Kasih mulai khawatir.


"Gila, ini enggak bisa dibiarin! Genta tunggu!" Kasih langsung berlari mengejar Genta yang sudah berada di tepian semak-semak di samping parkiran.


Tanpa memperdulikan Kasih yang sedang berlari menghampirinya, Genta langsung melempar sekuat mungkin paperbag berisikan tas mahal itu hingga terbang dan terjatuh di tengah-tengah semak.


Kasih pun dengan mulut ternganga menghentikan langkahnya saat paperbag tersebut melayang dan terjatuh entah dimana.


Dan dengan cueknya, Genta pun menghampiri gadis yang terlihat masih begitu syok dengan ulahnya, "ayo gue anter pulang!" perintahnya saat melewati tubuh Kasih yang masih berdiri membeku.


"Elo gila ya Genta? Elo beneran ngebuang tas itu begitu aja?" Kasih menarik lengan Genta yang berjalan melewatinya.


"Seperti yang elo lihat!" sahutnya begitu cuek.


"Elo sadarkan berapa harga tas itu?" Kasih benar-benar tak habis pikir dengan isi kepala cowok sombong ini.


"Kan gue bilang gue enggak pernah ngambil balik barang yang udah pernah gue kasih ke orang lain!" ucap Genta menatap lekat wajah penuh kebingungan Kasih.


"Ya, tapi enggak harus dibuang juga kali! Elo tau enggak di luar sana tuh banyak orang yang harus bekerja ekstra keras cuma buat dapetin uang sepuluh dua puluh ribu. Sedangkan elo begitu gampangnya ngebuang barang yang nilainya puluhan juta!" kesal Kasih menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terus salah gue gitu? Jelas elo lebih salah di sini, siapa suruh elo nolak pemberian gue!" Genta dengan cueknya justru menyalahkan gadis cantik itu.


Jelas hal tersebut membuat dahi Kasih mengernyit karena bingung.


"Kenapa sih jadi gue yang disalahin?" tanya Kasih tak mau disalahkan, tapi Genta hanya menggedikkan bahunya.


Makin kesal saja Kasih dibuatnya, "Ishh, udah sana cari tuh tas!" perintah Kasih mendorong-dorong tubuh tinggi tegap Genta untuk kembali ke tempat dimana cowok resek itu membuang tas mahal tersebut.


"Dihh ogah, ngapain gue repot-repot nyari tas itu lagi toh elo gak mau nerimanya!" tolak Genta.


Penolakan Genta akhirnya membuat mereka berdua saling dorong mendorong, bahkan Kasih dengan suaranya yang lantang memarah-marahi Genta yang masih saja cuek tak perduli dengan umpatan dan amarah gadis mungil itu.


"Ada masalah apa Kasih?" tanya Axel yang entah dari mana muncul di badapan mereka berdua yang otomatis membuat adegan saling dorong terhenti.


"Enggak ada masalah apa-apa, gue cuma mau ngajak Kasih pulang, tapi nih cewek malah maksa gue ngajak ke semak-semak!" jawab Genta asal membuat Kasih membolakan matanya.


"Jangan gila Lo!" geram Kasih langsung menginjak kaki Genta sekuat tenaga.


Bukannya marah, Genta justru terbahak-bahak meski sambil meringis kesakitan merasakan nyeri di kakinya.


"Yaudah ayo gue anter pulang, keburu Mas Dewa lu pulang!" ajak Genta disela kekehannya.


"Ambil dulu itu tas Genta, baru gue mau pulang!" pinta Kasih.


"Enggak mau, enggak bakal ketemu juga tuh tas. Lo lihat sendiri kan tuh ilalang pada tinggi mana gelap banget lagi!" lagi Genta menolak.


"Kalo gitu gue enggak mau pulang sama elo, gue mau pulang sama Axel aja!"


"Terserah! Kalo gitu gue duluan!" Genta langsung mengeloyor pergi, namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik.


"Gue titip Kasih ya Sel, pulangin dia dengan selamat, sampein juga permintaan maaf gue ke Budenya. Bilangin gue minta maaf bukan gue yang nganter dia pulang, tapi tenang Kasih tetep dalam keadaan perawan, enggak gue apa-apain!"


Kasih langsung menatap tajam cowok menyebalkan yang sedang menggodanya itu, "dasar sakit jiwa lu!" cibirnya yang membuat Genta dan juga Axel tergelak.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2