Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Pilihan


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih tersenyum lebar saat sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia cukup puas dengan hasilnya. Bukan apa, ini kali pertama Kasih mengobati luka seseorang.


"Nahhh, selesai!" ucap Kasih puas berbarengan dengan petugas yang masuk membawakan satu cup teh hangat pesannya.


"Makasih ya Kak!" Kasih menerima cup teh hangat yang disodorkan ke arahnya, ia pun langsung memberikan ke Genta, "nihh diminum!" .


Dengan senang hati Genta menerima cup tersebut, kemudian menyesap teh hangatnya perlahan-lahan. Dirasa cukup, Genta menyimpan cup tersebut di atas nakas sebelah ranjangnya.


"Jadi, setelah ini gimana? Apa bentuk tanggung jawab elo?" tanya Genta, Kasih mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Genta.


"Tanggung jawab apa?" ucap Kasih balik bertanya.


"Menurut elo luka-luka kayak gini cukup dengan cuma elo obatin aja? Terus gimana rasa malu gue yang dihajar habis-habisan di sekolah gue sendiri?" Genta menunjuk-nunjuk luka-lukanya di hadapan Kasih.


"Elo mau gue bawa ke rumah sakit? Ayo, gue ada uang buat bawa elo ke rumah sakit. Tapi uang gue disimpen di rekening Mas Dewa, kalo elo mau nanti gue minta dulu ke Mas Dewa baru kita ke rumah sakit!" usul Kasih panik, "atau gue pinjem dulu uang elo, besok gue ganti. Daripada elo kelamaan nahan sakitnya!" lanjut Kasih lirih dengan wajah tertunduk.


"Elo pikir gue enggak mampu ke rumah sakit sendiri apa?" salak Genta.


"Terus mau elo gimana?" Kasih benar-benar bingung arah pembicaraan Genta saat ini.


"Menurut elo, perlu enggak gue perpanjang masalah ini sampe ke jalur hukum?" ancaman Genta langsung membuat Kasih terhenyak.


"Gue bisa ngelakuin visum sekarang, saksi pun banyak, cctv juga ada buat bukti kalo emang Mas Dewa elo itu yang duluan melakukan penyerangan!" Genta bisa menangkap wajah pucat ketakutan dari cewek cantik di hadapannya.


"Please, jangan jeblosin Mas Dewa ke penjara. Dia cuma emosi aja! Kalo elo mau nanti gue bakal paksa dia minta maaf ke elo!" pinta Kasih memelas, matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.


"Menurut elo maaf aja udah cukup?" sargah Genta dengan senyum smirknya.


"Terus mau elo apa?".


"Gue punya tiga pilihan buat elo kalo elo mau gue enggak memperpanjang masalah ini!" Genta tersenyum penuh kemenangan saat melihat Kasih sepertinya tertarik dengan apa yang dirinya tawarkan.

__ADS_1


"Apapun itu gue bakal lakuin, asalkan elo janji enggak bakal memperpanjang masalah ini!".


"Oke! Pertama elo putus dari Rangga, terus jadian sama gue--!" ucapan Genta terpaksa terhenti saat Kasih berdiri dan langsung menolak mentah-mentah pilihan pertamanya.


"Jangan gila Lo Genta, gue enggak mau!".


"Itu baru pilihan pertama, masih ada dua pilihan yang lainnya, kan?".


Kasih terdiam, menunggu Genta untuk mengatakan pilihan kedua dan ketiga. Tapi yang jelas ia yakin pilihan yang diberikan Genta tak akan sama sekali menguntungkan dirinya.


"Pilihan kedua, elo gak usah putus dari Rangga tapi mau backstreet sama gue--!" Genta tersenyum devil melihat Kasih mendelikkan matanya.


"Dan pilihan terakhir, elo cukup mau dengan suka rela berciuman sama gue! Gimana, apa yang elo pilih?".


Setelah mendengar ketiga pilihan yang diberikan oleh Genta, Kasih hanya terdiam. Sungguh ketiga pilihan tersebut teramat merugikannya.


Tapi jika dia tak memilih satu dari ketiga pilihan tersebut, dia yakin jika Genta tak akan main-main dengan ancamannya.


"Tik-tok, tik-tok, tik-tok!" melihat Kasih hanya terdiam, Genta menyindirnya dengan mengikuti suara bunyi detak jam.


Kasih menarik nafasnya dalam sambil memejamkan matanya saat ia mengatakan pilihannya, "Gue pilih yang ketiga, tapi gue juga punya syarat.."


"Gue mau pilihan yang gue pilih enggak seorang pun tau, jaga ini sebagai rahasia kita berdua. Dan setelah ini, gue enggak mau kita saling kenal lagi!" ucap Kasih yakin, sungguh saat ini hati Kasih teramat sangat terluka. Ia benar-benar merasa direndahkan oleh Genta.


"Gue enggak masalah untuk yang pertama, tapi yang kedua, gue enggak janji!" sahut Genta penuh kemenangan.


Kasih hanya mampu pasrah ketika tangannya ditarik oleh Genta hingga membuatnya duduk di atas pangkuan cowok berandal itu.


"Gue mau elo balas ciuman gue!" Genta mendekatkan wajahnya ke wajah Kasih yang terlihat gugup.


Kasih memejamkan matanya ketika bibirnya bertemu dengan bibir Genta, ia bisa merasakan bagaimana Genta memanggut penuh kelembutan bibirnya.


Ia yang memang tak punya pengalaman tentang berciuman hanya mampu terdiam sambil tangannya mencengkram kuat pundak Genta.


"Balas gue, Kasih!" pinta Genta dengan suara parau.


"Gue enggak bisa, enggak ngerti!" sahut Kasih tanpa berani menatap wajah Genta yang begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1


"Buka bibir Lo!" Kasih langsung tersentak saat Genta memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya dan memainkannya di sana.


Dengan terpaksa Kasih mengikuti permainan Genta, terlebih saat Genta menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.


Saat Genta menikmatinya, Kasih justru merasa hancur dan terhina. Ia pun mengutuk dirinya sendiri karena tak mampu melawan Genta saat ini, ya .. semua demi sang Kakak.


Tak terasa air mata Kasih luruh dan membasahi telapak tangan Genta yang sebagian berada di pipi Kasih.


Genta yang merasakan air mata Kasih membasahi punggung tangannya langsung melepaskan ciuman mereka dan menatap Kasih yang sudah sesegukan tanpa melihat wajahnya.


"Elo nangis?" tanyanya bingung.


Tanpa berminat menjawab pertanyaan yang diajukan Genta, Kasih lebih memilih menanyakan hal yang lain sambil menatap tajam ke arah Genta.


"Apa udah cukup? Gue bisa balik ke kelas sekarang?".


Genta bisa melihat mata Kasih yang menyiratkan luka dan hal tersebut entah mengapa membuat hatinya terasa nyeri. Ia pun memilih mengangguk dan menjauhkan tangannya dari tubuh Kasih.


Dengan terburu-buru Kasih bangkit dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari bilik dan ruang UKS yang begitu menyesakkan dadanya.


Berkali-kali ia harus menyusut air matanya yang sama sekali tak mau berhenti membasahi pipinya dengan punggung tangannya.


Kasih merapikan dirinya saat tiba di depan pintu kelasnya, setelah dirasa lebih baik ia pun mengetuk pintu kelasnya yang tertutup karena kegiatan belajar yang tengah berlangsung.


"Masuk!" perintah suara guru perempuan dari dalam kelas.


"Maaf Bu saya terlambat!" ucap Kasih tertunduk.


"Duduk! Lain kali jangan diulangi lagi!" sahut guru tersebut tegas membuat Kasih bisa bernafas lega karena tak harus kena marah.


Bisa dipastikan mood Hana akan semakin buruk jika dia juga harus kena marah oleh guru tersebut. Dengan cepat Kasih langsung menuju ke kursinya dan membuka buku pelajarannya.


"Dari mana?" tanya Axel berbisik.


"UKS" jawab Kasih singkat.


"Elo abis nangis?" Axel bisa melihat mata Kasih yang sembab, serta wajah yang memerah, namun Kasih hanya menggeleng.

__ADS_1


Melihat Kasih yang enggan bercerita, Axel memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia pun kembali fokus memperhatikan guru yang tengah menerangkan pelajaran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2