
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Tumben kamu, besok weekend sekarang ada di rumah. Biasanya udah kayak ditelen bumi aja, muncul-muncul Senin pagi!" sindir Adam.
"Lagi pengen di rumah, males kemana-mana!" ujar Genta dan dengan cueknya langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelah Kasih .
"Kirain ada tamu agung siapa, dari tadi aku lihat sibuk banget Mommy, ternyata cuma mau menyambut anak beasiswa ini doang" lanjut Genta menjawil dagu Kasih.
Kasih dan Rangga langsung memberikan tatapan tajam ke arah Genta yang masih saja mengumbar ketengilannya.
"Genta, bisa enggak kamu gak iseng. Hargai Rangga!" Andhira memperingati diiringi dengan tatapan tajam.
"Kenapa sih emang Mom, aku sama Kasih udah biasa kok begini!".
Sontak ucapan Genta yang asal membuat Kasih bahkan semuanya membelalakkan matanya.
"Enak aja Lo, kalo ngomong jangan ngaco! Sembarangan!" Salak Kasih ketus.
Semua dibuat ternganga dengan keketusan Kasih, kecuali Genta yang justru tertawa melihat gadis cantik itu tanpa sadar menunjukkan kegalakkannya.
Sadar dirinya kelepasan kontrol, Kasih langsung tertunduk malu dengan wajah yang sangat merah. Merutuki kebodohannya karena selalu saja dengan mudah terpancing oleh tingkah cowok random yang menyebalkan itu.
"Genta, kamu kalo ke sini cuma pengen mancing-mancing emosi Kasih mending keluyuran sana deh! Cukup keluarga kamu aja yang selalu kamu bikin emosi, orang lain jangan apalagi Kasih!" bentak Andhira.
Entah mengapa ucapan Andhira membuat Kasih terkekeh, ternyata memang benar cowok rese itu tak dikehendaki oleh keluarganya sendiri, begitu dalam pikiran Kasih saat ini.
"Kasih emang gitu, Mommy. Aslinya mah dia care banget sama Genta!" sahut Genta percaya diri, membuat Kasih langsung mendelikkan matanya dipenuhi ancaman.
"Idihh, najis!" umpat Kasih di dalam hati.
Tak mungkin ia terang-terangan mengumpati anak dari si pemilik rumah, bukan? Meskipun semua orang sadar jika dirinya mengerucutkan bibirnya bibirnya sebal mendengar kenarsisan Genta.
Genta sendiri yakin seratus persen jika saat ini Kasih pasti tengah mengumpati dirinya.
__ADS_1
Suasana kumpul-kumpul sore itu terasa hangat dan menyenangkan, Kasih benar-benar merasa diterima keberadaannya di tengah-tengah keluarga Milyader tersebut.
Penerimaan keluarga Genta pada dirinya membuat dirinya mengikis kecanggungan yang awalnya melanda.
Bagaimana tidak, dia berada di tengah-tengah keluarga kelas atas, sedangkan dirinya hanya gadis sederhana berstatus pacar dari keponakan sang pemilik rumah.
Satu hal yang bisa Kasih tangkap, meskipun mereka keluarga kaya, akan tetapi mereka tak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang. Itu juga terlihat bagaikan mereka memperlakukan para pekerja di rumah mereka dengan sangat baik dan sopan.
Bahkan Genta sendiri, si cowok slengean itu pun begitu sopan ketika meminta tolong pada asisten rumah tangganya.
"Tante tinggal dulu ke dapur ya, mau nyiapin makan malam. Kasih jangan sungkan di sini ya, Sayang!" ucap Andhira penuh kelembutan.
Tak berselang lama, Arsya juga berpamitan untuk pergi ke kliniknya karena ada pasien urgent yang tengah membutunkannya, disusul Adam dan Adhisiti yang pamit karena ingin membahas beberapa pekerjaan.
Kini tinggal mereka bertiga di ruang terbuka tersebut.
Kasih merasa agak canggung berada di tengah-tengah dua cowok yang seperti tak bersahabat saat ini.
"Kenapa suasananya malah tegang gini sih?" gerutu Kasih dalam hati.
Tak ada obrolan apapun diantara mereka bertiga, Genta yang memilih asyik memainkan game di ponselnya, juga Rangga yang sibuk berbalas pesan entah dengan siapa dengan wajah yang sesekali terlihat kesal. Membuat Kasih jenuh dan mati gaya saja.
"Kenapa Kak?" tanya Kasih khawatir.
"Aku harus pergi dulu sebentar, ada yang harus aku urus! Kamu enggak apa-apa ya aku tinggal sebentar aja?" pamit Rangga agak ragu.
"Emang Kakak mau kemana? Terus aku gimana, masa sendirian?" Kasih tak bisa menutupi kegelisahannya.
Sendirian, tanpa ada seseorang yang dekat dengannya di rumah ini pasti akan terasa tak nyaman.
"Enggak apa-apa, Sayang, sebentar doang kok! Lagian kalo kamu aku anter pulang enggak enak sama Tante Andhira yang udah masak khusus buat kamu. Gak lama kok, sebelum makan malam aku udah di sini lagi. Gak apa-apa ya aku tinggal sebentar?" Rangga mengerti betul suasana hati sang pacar saat ini.
Dengan berat hati Kasih menganggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan sang kekasih ada benarnya juga. Dia tak mungkin langsung pulang begitu saja, sementara Andhira sudah repot-repot menyiapkan makan malam untuk dirinya.
Sangat tidak sopan, bukan? Dan pasti juga akan mengecewakan Tante Andhira yang sudah begitu hangat dan baik menyambut kedatangannya.
Sepeninggalan Rangga, kini dia hanya berdua saja dengan Genta yang dilihatnya sedang tersenyum puas penuh kemenangan.
__ADS_1
"Apa Lo?" sembur Kasih saat melihat Genta terus saja menatap dirinya.
"Udah lanjutin aja maen game Lo, jangan peduliin gue, anggap aja gue enggak ada!" perintah Kasih ketus.
"Bosen!" sahut Genta singkat untuk kemudian menimpan ponsel mahalnya di atas meja.
"Gue mau ke dapur, mau bantu Tante Andhira masak!" dengan gugup Kasih beranjak dari kursinya.
Sayang, dengan cepat Genta memundurkan kursi yang didudukinya untuk kemudian menarik tangan Kasih agar terduduk di atas pangkuannya.
"Apa-apaan sih? Lepas enggak!" perintah Kasih geram, ia juga menatap tajam ke arah Genta.
"Ngapain sih bantuin nyokap gue, banyak pembantu dia sana jadi mending di sini aja nemenin gue!" sahut Genta tanpa mau melepaskan Kasih dari pangkuannya, meskipun gadis berani itu terus saja memberontak.
"Kalem Kasih, kalo elo terus bergerak di atas pangkuan gue, elo bisa bangunin Genta Junior!" pinta Genta dengan tatapan menggoda, yang tentu tak dimengerti gadis sepolos Kasih.
"Genta Junior, siapa?" tanya Kasih polos membuat Genta terbahak-bahak.
"Alat tempur gue!" jawab Genta lagi setelah menguasai tawanya.
"Alat tempur apa?" makin tergelak saja Genta mendengar pertanyaan polos yang dilontarkan Kasih.
Kelakuan Genta yang terus menerus menertawainya bukan menjawab pertanyaannya malah semakin membuat Kasih bingung, karena sungguh ia tak mengerti sama sekali istilah-istilah yang digunakan Genta saat ini.
"Elo beneran enggak ngerti?" tanya Genta disela tawanya.
Kasih yang terpaksa masih berada di atas pangkuan Genta hanya menggelengkan kepalanya.
"Alat reproduksi gue!" jawab Genta berbisik di telinga Kasih, membuat Kasih langsung meremang merasakan hembusan nafas Genta di telinga dan lehernya.
Bukan hanya itu, jawaban yang diberikan oleh cowok mesum itu langsung membuat ngeri seorang gadis polos seperti Kasih.
Kasih yang mengerti apa itu 'alat reproduksi' yang dikatakan oleh Genta, langsung mengarahkan pandangannya ke bawah sana, dimana dirinya tengah duduk di atas alat yang disebutkan oleh Genta tadi.
Dengan gerakan cepat Kasih langsung bangkit dari duduknya, tentu dengan wajah yang merah padam.
"Dasar, bener-bener cowok cabul Lo!" hardik Kasih yang hanya dibalas dengan gelak tawa penuh kepuasan oleh Genta.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=