Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Dimarahi Oleh Dewa


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih baru selesai membasuh wajahnya yang sembab, usai habis-habisan dimarahi oleh Dewa.


Ya Dewa marah karena pagi ini dirinya terlambat bangun untuk membantu kedai Budenya, padahal setiap Minggu kedai Ranti cukup ramai.


Sebenarnya subuh tadi Kasih sudah bangun untuk mengganti pembalutnya, namun karena rasa ngantuk dan lelah yang teramat sangat membuatnya kembali ke tempat tidur.


Niatnya hanya ingin tidur selama setengah jam, tapi jam sembilan pagi justru dia baru bangun. Itu juga setelah Dewa membangunkannya denjgan marah-marah.


"Kan gue udah bilang, langsung tidur. Pasti telpon-telponan kan Lo!" gertak Dewa menyibak kasar selimut Kasih saat membangunkannya tadi.


"Aku enggak telpon-telponan, masuk kamar langsung cuci muka, gosok gigi, ganti baju terus tidur. Kalo enggak percaya lihat aja hape aku tuh, ada dua panggilan tak terjawab dari Kak Rangga!" salak Kasih membela diri.


Kasih langsung masuk ke kamar mandi untuk memulai ritual paginya. Hatinya teramat sangat dongkol dengan tindakan kasar Dewa.


Memang Dewa selalu marah jika Kasih bangun kesiangan dan Kasih sudah biasa akan hal tersebut.


Akan tetapi berbeda dengan pagi ini, hormon tamu bulanan serta tidur terlambat yang penyebabnya pun Dewa ketahui membuatnya menjadi sensitif.


Sepanjang hari Kasih sama sekali tak mau berinteraksi dengan Dewa, bahkan dia dengan terang-terangan memasang wajah bermusuhan pada sang Kakak setiap kali pandangan mereka bertemu.


Hal tersebut bukannya membuat Dewa takut atau pun merasa bersalah, malah justru membuatnya semakin gemas dengan tingkah merajuk sang adik.


"Istirahat entar, gue teraktir jajan di luar. Mau nggak?" rayu Dewa berusaha membujuk.


"Enggak mau!" jawab Kasih ketus.


Dewa terkekeh melihat keketusan sang adik, tapi ia tak mau menyerah sama sekali, "bebas deh mau makan apa aja, mau bungkus juga boleh!" rayunya sekali lagi.


"Dibilang enggak mau. Maksa banget sih!" gertak Kasih. Ia benar-benar masih marah dan sakit hati dengan perlakuan Dewa tadi pagi.


"Yakin nih enggak mau?" goda Dewa.


"Dibilang enggak ya enggak. Enggak ngerti banget sih!" ketus Kasih sekali lagi.

__ADS_1


"Cafe persimpangan jalan itu lagi grand opening lho, banyak diskon dan gratisan!" bujuk Dewa lagi tak menyerah.


Dan senyum Dewa mengembang ketika ia melihat wajah Kasih yang sepertinya tertarik dengan bujukannya.


Karena memang Kasih bersemangat sekali melihat ada cafe baru yang akan segera dibuka.


"Oke, aku mau. Tapi dengan satu syarat!" sahut Kasih masih tetap memasang wajah angkuhnya.


"Apa sih yang enggak buat adekku yang cantik ini!" Dewa menarik tubuh mungil Kasih dan langsung mendekapnya.


"Mas Dewa minta maaf dulu sama aku, baru aku mau ditraktir Mas Dewa dan ingat aku bebas makan apa aja, terus boleh bungkus juga!" Dewa terkekeh mendengar rentetan permintaan adik kesayangannya.


"Oke, gue minta maaf ya..!" ucap Dewa mengalah.


"Minta maafnya enggak tulus banget, udah gitu enggak nyebutin kesalahannya apa lagi" gerutu Kasih, namun tetap bergelayut manja di lengan sang Kakak.


"Nggak tulus gimana sih ah? Udah tulus banget ini!" kesal Dewa memincingkan mata pada adiknya.


"Ya udah deh enggak jadi aja!" rajuk Kasih.


"Oke, oke! Gue minta maaf ya udah marah-marah tadi. Lagian sebenernya bagus dong gue marah, biar anak perawan tuh nggak kebiasaan bangun siang!" meskipun mengalah, tetap saja Dewa membela dirinya tak mau disalahkan.


"Siapa suruh Lo pulang sampe larut?" geram Dewa.


Kasih langsung mendelikkan matanya, tak terima dirinya disalahkan. Enak saja!


"Oohh hellooo, Mas Dewa yang selalu merasa benar! Yang kasih izin aku boleh pulang malem melalui Kak Rangga, siapa ya? Aku mah udah mau pulang sebelum jam sepuluh kemarin, ehh kata Kak Rangga, dia udah izin sama Mas Dewa buat pulang terlambat!".


Namun di tengah perdebatan mereka berdua, tiba-tiba tubuh Kasih mengejang saat matanya menangkap sosok tubuh Genta yang berjalan menghampiri mereka.


"Mau ngapain sih nih pedofil ke sini lagi?" batin Kasih.


"Permisi! Kasih bisa kita ngomong berdua?" ucap Genta setelah berdiri di hadapan mereka.


"Ngomong aja langsung di sini, ngapain harus berduaan!" ketus Dewa.


Genta menghela nafasnya berat saat, namun dia berusaha tak teranpancing emosinya, "gue ke sini mau minta maaf atas--".


Otak cerdas Kasih langsung bisa menangkap apa yang ingin dikatakan oleh Genta, ia pun langsung menyelak omongan Genta agar tak melanjutkan ucapannya lagi, "kita ngomong berdua. Ayo ikut gue!" ajak Kasih, langsung menarik tangan Genta dan membawa cowok tampan itu entah kemana.

__ADS_1


Sontak kelakuan Kasih membuat Dewa dan Genta kaget dan bingung.


Dewa yakin ada yang disembunyikan adiknya dari dirinya, sedangkan Genta meskipun kaget, ia langsung bernafas lega saat Kasih menyetujui untuk bos berbicara berdua dengan dirinya.


"Kenapa?" tanya Genta yang ternyata di bawa Kasih ke halaman belakang rumah sang Bude.


"Elo mau ngebahas kejadian tadi malem, huh,?" Kasih justru balik bertanya dengan nada ketus.


"Gue cuma mau minta maaf, emang salah?" tanya Dewa tak kalah ketus. Ia selalu dibuat bingung dengan gadis di hadapannya ini yang selalu saja menganggap salah apa yang dilakukan olehnya.


"Elo sama Clara mau diamuk Mas Dewa, hah?".


Akhirnya Genta pun faham, Kasih memang cerdas karena ia dengan cepat langsung memprediksi kejadian yang akan terjadi andai saja tadi dirinya melanjutkan ucapannya di depan Dewa.


Genta tentu saja tak ingin dibuat babak belur lagi, terima tidak terima memang dirinya masih kalah skill dalam adu jotos dengan Dewa.


"Gue cuma mau minta maaf atas kejadian semalem!" ucap Dewa menyodorkan paper bag bertuliskan nama sebuah brand ternama dunia yang ia kunjungi nya bersama Genta kemarin.


"Ini apa? Sogokan?" sindir Kasih tanpa menerima paper bag tersebut.


"Bukan, ini ucapan makasih gue karena kemarin Lo udah mau nganterin gue nyari kado buat Clara and Kak Dhisti!" sahut Genta.


"Lho, bukannya elo kemaren nyari kado buat Clara doang?" tanya Kasih bingung.


"Setelah elo ditarik pergi sama cowok elo, gue lanjut nyari kado buat Kakak gue!" jawab Genta sambil sekali lagi mengulurkan paper bag di tangannya kepada Kasih.


"Katanya, elo enggak pernah tau barang yang pas buat cewek?" sindir Kasih.


"Kak Dhisti selalu request ke gue tiap ulang tahun hadiah apa yang lagi dia mau. Ini diterima dulu kek, pegel tangan gue tau!".


Sambil membentuk O besar di bibirnya, tangan Kasih pun menerima paper bag pemberian Genta dan langsung melihat isinya.


Ternyata di dalam paper bag tersebut masih terdapat kotak elegan berwarna cokelat, ia pun langsung menarik kotak tersebut untuk kemudian meletakkannya di atas meja dan membukanya.


Betapa terkejutnya dia, ternyata isinya adalah tas sekolah yang kemarin menarik perhatiannya.


"Ini kan...!" Kasih seakan-akan tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Yupz, itu buat elo!" sahut Genta gemas melihat ekspresi terkejut dan tak percaya gadis cantik itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2