
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Gue mau kita enggak usah mulai buat berteman atau apalah, gue juga minta ke elo stop ngasih gue apapun dan tolong ambil barang yang elo pernah kasih ke gue sepulang sekolah nanti" tegas Kasih.
Ia benar-benar mengenyampingkan rasa tak enak hatinya, ia harus tegas demi hubungannya dengan Rangga agar tak selalu bermasalah.
"Kenapa begitu? Rangga, hm? Rangga yang nyuruh elo ngejauhin gue. Iya?" Kasih bisa menangkap amarah pada nada bicara Genta saat ini.
"Enggak, Kak Rangga enggak pernah nyuruh gue apa-apa. Ini semua inisiatif gue sendiri demi kelangsungan hubungan gue sama dia. Maaf Genta, gue rasa Kak Rangga enggak pernah suka kalo kita terlalu dekat!" ujar Kasih.
"Kalo gue enggak mau, gimana?" tantang Genta.
"Kenapa harus enggak mau? Gue sama elo dari awal juga bukan temen, bahkan elo sama gue itu musuh. Enggak ada alasan buat kita tiba-tiba jadi deket kan?" salak Kasih.
"Gue mulai nyaman sama elo!" ucap Genta menjawab ocehan Kasih.
Kasih menelan salivanya susah payah, seorang Genta merasa nyaman dengannya adalah hal yang luar biasa menakjubkan.
Tapi tentu tidak boleh Kasih membiarkan kenyamanan tersebut terjadi di antara mereka, ada seseorang dan hubungan yang harus dia jaga.
"Maaf Genta, gue harus ngejaga perasaan Kak Rangga. Besok gue bakal balikin tas pemberian elo kemarin, gue enggak bisa nerima barang dari elo apalagi semahal itu, gue bener-bener enggak bisa!" sahut Kasih.
"Gue udah bilang ke elo, gue enggak akan pernah ngambil balik barang yang udah pernah gue kasih ke orang. Kalo elo emang enggak mau tas itu, ya buang aja atau elo kasih ke orang lain!" ketus Genta.
"Terserah lah, yang jelas mulai sekarang kita enggak perlu lagi tegur sapa. Gue enggak mau ribut terus sama Kak Rangga cuma gara-gara elo!" Kasih Langsung membalikkan badannya untuk meninggalkan Genta yang wajahnya sudah merah padam akibat menahan kekesalan.
"GUE SUKA SAMA ELO!"
Kasih langsung menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan Genta yang menyatakan perasaannya.
"Gue suka sama elo, Kasih. Tolong kalo pun elo enggak mau ngebales perasaan gue, paling enggak jangan jauhin gue!" suara Genta begitu memohon membuat Kasih kembali memutar tubuhnya ke arah Genta.
"Elo lagi ngerjain gue kan?"
"Gue serius gue suka sama elo, gue, gue rasa gue jatuh cinta sama elo!" ucap Genta terbata-bata.
"Bener-bener enggak lucu joke elo ini!" cibir Kasih kembali memutar badannya untuk meninggalkan Genta.
Baru beberapa langkah, Kasih justru dikagetkan dengan tarikan tangan Genta di lengannya yang membuat tubuhnya terpaksa kembali memutar ke arah Genta.
"Gue serius, gue suka sama elo Kasih!" ucap Genta sekali lagi menatap lekat ke dalam manik mata Kasih.
"Asli, becandaan lu enggak lucu!" cibir Kasih.
Genta mendengus kesal mendengar cibiran gadis pujaannya itu, "bilang ke gue, gue harus apa biar elo percaya?" tanyanya menuntut.
__ADS_1
"Kalo elo beneran suka sama gue, gue cuma minta ke elo jauhi gue! Gue sayang sama Kak Rangga, jadi jangan berharap gue bakal berpaling ke elo!" tegas Kasih.
"Kalo gue enggak mau, elo mau apa? Kalo perlu gue bakal hancurin hubungan elo sama Rangga dan memaksa elo jadi cewek gue!" ancam Genta.
Kasih hanya tersenyum miring mendengar ancaman Genta, ia pun tak ambil pusing menanggapinya dan dengan santainya Kasih memutar tubuhnya kembali untuk meninggalkan Genta yang terlihat mulai kesal dengan dirinya.
Merasa tak terima dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kasih, Genta kembali menarik lengan Kasih secara kasar dan menggiring paksa tubuh mungil gadis cantik itu ke tembok usang dan menghimpitnya.
"Elo mau ngapain Genta? Jangan macem-macem!" gertak Kasih dengan mata menyalang marah.
"Elo enggak percaya sama omongan gue, sama perasaan gue ke elo? Ya kan?" gertak Genta semakin mengungkung tubuh mungil Kasih.
"Kalo pun gue percaya, semua juga enggak mungkin Genta. Gue ada Kak Rangga, elo ada Clara dan yang jelas gue enggak punya perasaan apa-apa sama elo!" Kasih mencoba terlihat berani meskipun perasaannya begitu diliputi ketakutan yang luar biasa.
Dikungkung Genta seperti ini membuatnya trauma, karena tak sekali dua kali Genta melakukan hal tersebut hingga akhirnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan dirinya.
"Lepas Genta, biarin gue balik ke kelas. Jangan kayak gini, gue takut!" mohon Kasih begitu memelas.
"Gue suka sama elo Kasih, gue sayang sama elo. Backstreet an pun gue mau!" Genta tak kalah memohon sambil terus menyatukan dahinya dengan dahi Kasih.
"Gue enggak bisa, gue sayang sama Kak Rangga. Gue, gue enggak ada perasaan apa-apa sama elo" Kasih tertunduk, dirinya begitu cemas saat ini karena Genta semakin erat menahan tubuhnya.
"Sayangnya gue bukan tipe cowok yang menerima penolakan!" Genta langsung mencengkram rahang mungil Kasih, sebelah tangannya pun ia gunakan untuk menahan tengkuk Kasih disaat wajahnya mulai mendekati wajah Kasih.
Dan tanpa ampun Genta langsung melumatt secara paksa bibir mungil Kasih, tentu Kasih tak tinggal diam, ia terus menerus memberontak.
Bahkan kini salah satu tangan kekar Genta beralih mencengkram kedua pergelangan tangan mungil Kasih yang terus menerus memukuli dada Genta, sedang tangannya yang lain tetap menahan tengkuk Kasih.
Merasa tak akan mampu membebaskan dirinya, Kasih kini hanya pasrah dilecehkan oleh cowok brandal di hadapannya, membiarkan Genta terus beraksi mencium bibirnya.
Air mata yang luruh begitu deras, suara tangisan yang tercekat serta tubuh Kasih yang sudah bergetar hebat sama sekali tak membuat Genta iba dan melepaskannya, bahkan Genta semakin bringas mempermainkan bibir mungil milik Kasih.
Hingga ...
"GENTAAA, KASIHHH ..!!"
Teriakan menggelegar seseorang yang memanggil nama mereka langsung membuat Genta menghentikan perbuatannya dan menengok ke arah si pemanggil yang ternyat adalah Rangga.
Kasih dan Genta bisa melihat wajah merah padam penuh amarah yang terpancar dari Rangga.
Kasih begitu ketakutan melihat Rangga saat ini, ia sadar betul kali ini Rangga benar-benar salah faham terhadap dirinya, sedangkan Genta, ia sama sekali tak terpengaruh dengan aura penuh kemarahan yang terpancar dari Rangga. Bahkan dengan cueknya Genta memasang senyum iblis seakan mengejek Rangga saat ini.
Rangga merangsek ke arah Genta dan langsung menghantam wajah Genta dengan pukulan-pukulan keras membuat Genta tak punya kesempatan untuk membalas.
Jangankan untuk membalas, untuk menghindar pun Genta tak bisa.
Kebringasan Rangga tentu membuat Kasih syok berat, ia bahkan tak mampu berteriak untuk menghentikan pernuatan kekasihnya dan hanya bisa menutup mulutnya yang ternganga tanpa suara.
"Brengsek, sialann, anjing Lo Genta. Enggak pernah puasnya Lo ngambil punya gue, hah!" umpat Rangga yang terus memukuli Genta secara membabi buta.
__ADS_1
Entah keberanian dari mana atau mungkin terdorong dari rasa kasihan dan tak tega membuat Kasih berlari ke arah kedua saudara sepupu itu untuk menghentikan perkelahian mereka.
"Kak Rangga, udah Kak. Berhenti!" teriak Kasih mencoba menghalangi Rangga yang masih terus saja ingin menghajar Genta.
"Kenapa kamu hah? Enggak tega ngelihat pacar gelap kamu kesakitan, huh?" sarkas Rangga dengan sorot mata penuh amarah.
Kasih langsung membolakan matanya lebar saat mendengar tuduhan yang dilontarkan kekasihnya tersebut.
FLASHBACK ON
Selama jam pelajaran, Rangga terus saja memikirkan kemarahan Kasih padanya.
Harusnya dirinya tak berlebihan menyikapi sikap tak menurut sang pacar, beberapa kali memang Rangga memperingati Kasih agar tak menggubris Genta, akan tetapi Kasih seakan mempunyai ribuan alasan untuk bisa dekat dengan Genta.
Jelas sikap tak menurut Kasih membuat dongkol dirinya, namun teringat meski Kasih tak menurut padanya, tapi satu hal pasti bahwa Kasih selalu memberitahukan jika ia sedang bersama Genta.
Begitu pula kemarin, Kasih pun mengirimi pesan padanya dan memberitahukan jika dirinya diantar oleh Genta karena sebuah ancaman.
Hufthhh.. Harusnya ia mencoba mengerti posisi Kasih waktu itu dan bukannya marah dan mendiamkan kekasihnya seperti tadi pagi.
"Elo nyari cewek lu?" tanya Vidi saat mereka bertemu di lorong kelas Kasih, karena tadi ia sempat mencari sang pacar di kantin, tetapi tidak ada.
"Elo tau dimana cewek gue?"
"Gue rasa dia sekarang lagi di gudang belakang sekolah sama si Genta, tadi cewek lu sempet nanya ke gue dimana Genta. Ya gue tunjukkin aja posisi Genta!" jawab Vidi panjang lebar.
Perasaan Rangga langsung saja tak enak, untuk apa Kasih sampai mencari Genta ke tempat paling sepi di sekolah mereka? Apa yang sedang mereka lakukan berdua di sana?
Segala pikiran buruk dan prasangka negatif pada kedua orang terdekatnya begitu mengganggu Rangga, dengan perasaan tak menentu Rangga pun berjalan cepat menuju gudang belakang sekolah mereka.
Benar saja, sesampainya di sana Rangga langsung mendapati pemandangan yang begitu menyakitkan perasaannya.
Karena dari sudut pandang Rangga, Kasih yang terlihat pasrah dicium oleh Genta seakan membuktikan jika mereka berdua memang melakukan ciuman tersebut atas suka sama suka.
FLASHBACK OFF
"Kak Rangga ngomong apa sih?" tanya Kasih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu nyuruh aku berhenti ngehajar Genta, karena kamu enggak rela kan pacar gelap kamu ini kesakitan?" sindir Rangga lagi menjawab pertanyaan kekasihnya tersebut.
Sebenarnya Rangga bisa melihat wajah sembab Kasih serta bibir yang bengkak yang bisa diartikan olehnya jika ciuman mereka tadi karena bisa jadi sebuah pemaksaan.
"Aku emang enggak tega siapapun yang sekarang ada di hadapanku itu terluka, kesakitan. Bukan karena Genta itu pacar gelap aku yang sepeti Kak Rangga tuduhkan!" geram Kasih.
"Oh ya? Bukan pacar gelap? Terus apa dong? Selingan?" sindir Rangga semakin menjadi-jadi.
"Aku sepanjang kegiatan belajar sama sekali enggak fokus, aku ngerasa bersalah udah marah dan mendiamkan kamu. Aku cuma mau cepat istirahat dan ketemu kamu untuk minta maaf sama kamu--" Rangga sempat menjeda ucapannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1