
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Usai membayar dan menerima barang yang dibelinya, Genta begitu bersemangat menyusul gadis pujaan hatinya di lantai dasar.
Dengan sabar Genta memeriksa lorong demi lorong mencari Kasih, ia tersenyum lebar saat melihat sosok cantik Kasih yang tengah memasukkan beberapa bungkus gula ke dalam troli yang sudah penuh dengan beberapa bahan-bahan pokok.
"Hai!" sapanya saat Genta sudah berdiri di belakang Kasih.
Kasih yang terlonjak akibat sapaan Genta langsung menoleh ke belakang dengan memasang wajah kesal, "harus ya ngagetin gitu?" cibirnya.
Genta tak perduli dengan cibiran gadis di hadapannya, "Banyak banget belanjaannya?" tanyanya dengan senyum menawan yang sempat membuat Kasih terpanah, akan tetapi sedetik kemudian langsung menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan kekagumannya terhadap Genta.
"Gak masalah kan? Mobil lo pasti muat lah, ini semua tuh gue mau kasih ke pihak panti" Kasih balas tersenyum, meskipun senyum tipis dan hanya sebentar saja.
"Tenang aja, muat kok! Emmmh, gue harap kali ini elo enggak nolak ya" Kasih mengernyitkan dahinya bingung, terlebih saat Genta menyodorkan paperbag ke arahnya.
"Ini apa?"
"Ini upah buat elo karena waktu itu udah nganterin gue nyari hadiah buat cewek gue. Elo kan nolak tas yang waktu itu karena harganya yang mahal, sekarang gue beli tas yang harganya enggak mahal, tapi gue jamin kualitasnya pasti bagus kok!" jelas Genta, ia sangat berharap Kasih tak lagi menolak pemberiannya.
"Ehh, gue kan enggak nolak tas itu kok, kan gue udah jual tasnya yang artinya gue udah nerima pemberian elo kok meskipun enggak gue pake sih" Kasih terlihat tak enak hati dengan ucapan Genta barusan.
"Please..!!" mohon cowok tampan itu sekali lagi.
Kasih yang tak tega melihat wajah memohon cowok yang biasanya bersikap sombong itu pun mau tak mau menerima pemberian sang cowok, terlebih Kasih tahu betul akan kemana pemberian sang cowok itu jika ia menolaknya. Bisa dipastikan akan dia langsung buang.
"Oke gue terima, makasih ya" ucap Kasih tulus yang diangguki penuh senyum kelegaan oleh Genta.
"Boleh gue buka sekarang?" Kasih yang penasaran pun meminta izin pada sang pemberi.
"Boleh" jawab cowok tampan itu singkat.
Dengan bersemangat Kasih langsung mengeluarkan kotak cantik dari paperbag yang lumayan elegan tersebut.
__ADS_1
Senyum Kasih langsung mengembang saat melihat model tas pilihan cowok aneh itu, begitu manis sesuai dengan karakternya, "katanya engga bisa milih hadiah buat cewek, ini bagus pas banget sama selera gue" puji Kasih tulus tanpa dilebih-lebihkan.
"Mungkin karena emang gue milihnya pake hati, dan sejauh ini gue mulai tau elo dan selera elo jadi pas buat elo. Seneng akhirnya elo suka dengan apa yang gue kasih!"
Kasih langsung menatap lekat-lekat Genta yang juga menatapnya dengan senyuman hangatnya. Mendengar ucapan Genta serasa ada desiran aneh di hati Kasih, terlebih melihat senyuman tulus dari cowok tampan yang selalu menyusahkannya tersebut.
Kasih berdehem untuk mengusir perasaan canggungnya, "ehemmn, meski ini bukan tas branded tapi gue yakin harganya pasti mahal juga. Iya kan?"
"Sesuai kualitaslah" jawab Genta enteng.
"Boleh gue tebak ya?" tanya Kasih yang langsung diangguki oleh Genta.
"Sekitar tiga jutaan?" terka gadis cantik itu langsung membuat Genta tergelak.
"Menurut elo kualitas tas ini seharga tiga juta?"
Kasih langsung terlihat gugup, ia khawatir jika harga tas itu mungkin lebih dari harga yang ia terka, "lebih dari lima juta jangan-jangan?"
"Ya enggaklah, ngaco!" Genta terkekeh, apalagi melihat wajah panik yang ditunjukkan oleh Kasih.
"Terus berapa dong satu juta? Dua juta? Tiga juta?" Kasih benar-benar akan kembali menolak jika tas tersebut berharga jutaan.
"Genta ihh, pokoknya gue enggak mau nerima pemberian elo ya kalo harganya sampe jutaan!" rengek Kasih kembali memasukkan tas tersebut seperti semula dan menyodorkan kembali ke Genta.
"Menurut elo, mungkin apa tas ini nilainya sampe jutaan? Coba deh elo perhatiin dengan seksama, pasti elo bisa kualitas barang ini!" perintah Genta yang kembali menyodorkan tas tersebut setelah sebelumnya ia keluarkan dari paperbag dan kotaknya.
"Ehh..!"
Kasih seperti teringat sesuatu saat benar-benar memperhatikan tas tersebut.
"Ahh gue tau sekarang, elo beli tas ini di Rumah Tas dan Dompet Cantik, kan? Coba sini lihat paperbag nya!"
Kasih mencari nama yang tertulis di paperbag tersebut, "Bener ini dari toko itu, ada olshop nya juga. Baru beberapa hari kemarin gue kepoin barang-barang keluaran terbaru mereka. Bentar gue cek dulu di Instagram!" Kasih begitu bersemangat ingin mengetahui harga tas tersebut, terlebih yang dia tau barang-barang yang dijual di toko tersebut tidak pernah lebih dari lima ratus ribuan.
Senyum Kasih mengembang saat tahu harga tas tersebut dapat ia terima, "gue terima ya, tiga ratus lima puluh ribu, sesuai budget gue setiap beli tas. Makasih ya, tasnya lucu, gue suka. Jangan bilang Kak Rangga ya kalo tas ini dari elo, jadi gue bisa pake!"
Dahi Genta mengernyit mendengar harga tas dia beli lebih mahal dari harga yang sebenarnya, "Tiga ratus lima puluh ribu?" cicitnya mengulang ucapan Kasih tadi.
__ADS_1
"Iya kan? Harga tas ini tiga ratus lima puluh ribu?" Kasih balik bertanya, ia sedikit bingung melihat ekspresi wajah terkejut dan bingung dari Genta.
"I, iya. Maaf gue kasih barang semurah itu, gue harap elo suka!" jawab Genta tergagap, ia memilih untuk tak memberitahukan Kasih jika ia baru saja dibohongi perihal uang yang harus ia keluarkan untuk membelikan gadis cantik itu tas, akan tetapi ia akan membuat perhitungan dengan pegawai yang ya tidak jujur di toko tersebut.
"Mau lanjut lagi belanjanya? Apa udah cukup?" tanya Genta lagi mencoba mengalihkan pembahasan mereka tentang tas tersebut.
Kasih yang sebenarnya tahu jika Genta tengah gelisah memilih tersenyum dan pura-pura tidak menyadari air muka Genta yang menunjukkan kegelisahan dan sedikit kekesalan, "udahan kok gue belanjanya, semua yang gue butuhin udah gue beli semua."
***
Kasih dan Genta telah mengunjungi dua panti asuhan tujuan Kasih dan sudah memberikan apa yang sudah Kasih niatkan dari penjualan tas pemberian Genta.
Kini mereka berdua tengah berada di dalam mobil untuk menuju panti asuhan terakhir yang akan mereka berdua kunjungi.
"Makasih ya udah mau gue repotin kesana kemari nganterin gue. Gue enggak bisa ngebayangin kalo gue harus pergi sendirian, pasti capek dan repot banget deh!" ucap gadis cantik itu yang merasa sangat terbantu dengan kehadiran Genta saat ini.
"Tumben?" Genta melirik penuh keheranan gadis di sebelahnya, tak biasanya gadis tersebut mau mengucapkan kata terima kasih untuk keberadaannya di sekita sang gadis.
Biasanya elo paling kesel deh kalo gue di deket elo" lanjut Genta.
Kasih hanya mencebikkan bibirnya, merasa menyesal karena secaa langsung menyatakan jika keberadaan cowok menyebalkan itu begitu berguna saat ini.
Kasih yang enggan membahas lebih lanjut ucapannya memilih langsung memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya, memilih kembali menikmati perjalanan di sore hari ini dibanding berdebat dengan seorang Genta yang sudah dipastikan tak akan pernah mau mengalah dan justru akan semakin senang untuk menggodanya.
Tidak butuh waktu lama, mereka kini telah sampai di panti asuhan terakhir yang mereka tuju.
Genta begitu terpesona dengan tempat yang terakhir ini karena setelah memakirkan mobilnya dan keluar dari mobil, Genta langsung menggeliatkan tangannya ke atas sambil menghirup dalam udara yang masih begitu bersih di panti tersebut.
Panti tersebut memang terletak di pinggiran Jakarta, masih banyak pohon-pohon rindang yang membuat suasana panti tersebut sangat asri di sore hari ini.
"Tempatnya enak" puji Genta begitu melihat Kasih juga sudah berada di luar mobilnya.
"Iya, tapi sayang panti ini enggak lama lagi harus pindah dari sini. Kasihan anak-anak dan penghuni panti ini" Genta mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan Kasih.
"Maksud elo?"
"Nanti gue ceritain, sekarang mending elo bantuin gue nurunin arang-barang buat diserahin ke mereka. Yuk!"
__ADS_1
Genta hanya menuruti ucapan gadis cantik dan bergegas melaksankan perintah sang pujaan hati, terlebih melihat beberapa anak-anak yang mulai datang menghampiri mereka dengan binar-binar wajah penuh kebahagiaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=