
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
Kasih baru saja menyelesaikan PR nya, setelah merapikan buku-buku yang akan dibawanya besok, ia pun hendak beranjak turun untuk makan malam seperti biasanya.
Baru saja ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh Dewa yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ngapain Mas?" tanyanya bingung.
"Hape Lo mati? Dari tadi gue coba nelpon enggak aktif, gue wa juga cuma ceklis satu, rusak?" ucap Dewa balik bertanya.
"Oohh, batrenya habis. Aku malah baru inget, bentar aku charge dulu" Kasih kembali masuk ke dalam kamarnya untung mencharge ponselnya yang sebenarnya tak mati daya sama sekali.
Kasih memang sengaja menon aktifkan ponselnya karena merasa jengah dengan Rangga dan Genta yang terus menerus menelponnya bergantian.
"Elo berantem lagi di sekolah?" tanya Genta yang sudah mendudukan dirinya di atas ranjang Kasih.
"Ibu bilang, pulang tadi mata Lo sembab, muka Lo juga memar-memar. Pokoknya elo kacau banget deh kata Ibu. Kali ini berantem sama siapa? Clara lagi? Sekarang masalahnya apa lagi sih?" lanjut Dewa dengan serentet pertanyaan karena Kasih hanya diam saja.
"Biasa salah faham!" jawab Kasih singkat, mood nya sungguh tak ingin membahas sama sekali masalah dengan ketiga orang paling kaya di sekolahnya.
"Cemburu?" selidik Dewa.
"Yahhh, bisa dibilang begitu. Maklumlah, resiko cewek cantik jadi pada insecure kalo cowoknya nyapa aku dikit!" narsis Kasih dengan cengiran khasnya.
Meski mencoba seceria biasa, akan tetapi Dewa masih bisa menangkap kegundahan yang coba disembunyikan oleh adik kesayangannya itu.
"Ada apa?" tanya Dewa mencoba mengorek masalah yang sedang adiknya.
Kasih terkekeh, meskipun gestur tubuhnya mulai menunjukkan kegelisahan, "ada apa, ada apa sih?" tanyanya membalikkan kalimat sang kakak.
"Elo berantem sama Rangga?" tepat sekali tebakan sang kakak, rasanya memang tak pernah mungkin untuk menyembunyikan sesuatu dari Dewa.
Kasih mendengus kesal, ia juga melempar pandangannya ke samping untuk menyembunyikan raut wajahnya yang pasti sudah langsung berubah sendu, bahkan matanya pun rasanya sudah memanas, "setiap hubungan biasa kan kalo ada pertengkaran kecil. Jadi Mas Dewa enggak perlu khawatir, aku baik-baik aja."
"Elo mah mungkin baik-baik aja, tapi gue nya enggak. Dari tadi si Rangga nelponin gue terus, nge wa gue terus nyuruh elo angkat panggilan dia, bales pesen dia dan sekarang dia minta gue buat nyuruh elo nyalain hape Lo!" dengus Dewa dengan raut wajah yang dibuat kesal.
"Bilang aja hape aku habis daya!" sahut Kasih.
Dewa tak menyahuti lagi ucapan adiknya, perhatiannya kini justru pada paperbag berisikan tas super mahal yang diberikan pada Genta di atas meja belajar Kasih.
"Elo suka sama tas pemberian Genta?" tanyanya penasaran.
"Siapa yang enggak suka sama tas sebagus dan semahal itu?" jawab Kasih melirik sekilas paperbag yang sedari tadi menyita perhatian sang kakak.
"Iya sih, semua perempuan pasti suka sama barang branded super mahal kayak gitu. Makanya banyak cewek yang rela nuker badan dia sama tas begitu dan gue harap elo gak sampe sebegitunya cuma buat barang begitu!" Dewa tak menyadari jika ucapannya membuat perasaan Kasih terluka.
Mengapa semua menganggap dirinya begitu rendah, menganggap dirinya seperti perempuan murahan.
__ADS_1
Dan perkataan Dewa sontak membuat Kasih meradang, setelah Genta yang melecehkannya dan Rangga yang menuduhnya bisa berbuat serendah itu, sekarang Dewa yang seakan-akan tak mempercayainya jika dirinya bisa menjaga diri.
"AKU BINGUNG DEH SAMA KALIAN BERTIGA, SEBENERNYA KALIAN ITU BERGAUL DENGAN CEWEK SEPERTI APA SIH, HAH? KENAPA TEGA BANGET MENYAMA RATAKAN AKU DENGAN CEWEK-CEWEK MURAHAN DI SEKELILING KALIAN!!" geram Kasih, langsung meninggalkan Dewa dalam keadaan yang begitu marah.
Psikis Kasih seakan terkoyak, ia mulai limbung saat berjalan. Sambil menyusut air matanya, Kasih berusaha terus berjalan sambil berpegangan meja atau pun dinding yang dilewatinya.
Tetapi naas, saat berusaha menuruni tangga, Kasih yang memang dalam keadaan lemah karena tertekan langsung jatuh ke bawah usai menginjakan kakinya di anakan tangga ketiga dari atas.
"BUGHHHHH"
"Akhhhk, Mbak Kasih!"
"Astaghfirullah, Mbak Kasih!"
Teriak beberapa pegawai yang kebetulan berada di bawah tangga bersamaan.
Suara benda jatuh cukup keras, serta teriakan beberapa pegawai langsung membuat Dewa dan Ranti juga beberapa pegawai kedai lainnya langsung berlari menghampiri asal suara.
Betapa terkejutnya Dewa dan semuanya saat melihat Kasih terbaring dan berusaha untuk duduk dengan dahi yang mengeluarkan darah cukup banyak.
Dewa dengan cepat menuruni anak tangga dan membantu Kasih untuk duduk, raut wajah khawatir terlihat dari semua orang, "ya Allah, Dek! Kenapa enggak hati-hati sih?
"Kenapa Nduk?" tanya Ranti yang juga sudah mendudukan dirinya di sebelah keponakannya.
"Kasih pusing, Bude" jawab Kasih terisak sambil menyentuh dahinya yang berdarah.
"Jangan dipegang, sini!" Dewa langsung membuka kaosnya dan menekan pelan luka di dahi Kasih agar darahnya tak banyak keluar.
***
"Makan ya, terus minum obatnya!" pinta Dewa saat mereka baru saja tiba di rumah.
Kasih menerima empat jahitan di dahinya, matanya sembab karena terus menerus menangis. Ia pun mogok bicara sejak di rumah sakit membuat Dewa mendesaah nafasnya berat melihat sang adik tengah merajuk.
"Gue minta maaf kalo gue salah ngomong, gue enggak bermaksud nuduh macem-macem elo, gue cuma ngewanti-wanti elo aja biar enggak menghalalkan segala cara cuma buat tampil wah!" ucap Dewa mengusap lembut pipi sang adik.
"Emang aku kelihatan kayak cewek gampangan ya Mas? Menurut Mas Dewa, apa aku semurahan itu cuma buat tas? Asal Mas Dewa tau, aku tuh mau ngebalikin Tas itu ke Genta!" ujar Kasih dengan segala gejolak amarah di dadanya.
"Bukan gitu, gue cuma bermaksud--"
"Bermaksud apa?" selak Kasih.
"Kalian bertiga tuh sama aja, tau enggak? Enggak ngerti aku tuh, cewek-cewek seperti apa yang ada di sekeliling kalian, sampe-sampe kalian tega merendahkan aku. Aku sakit hati tau enggak!?" lanjut Kasih mulai terisak.
"Kalian bertiga? Maksud elo?" Dewa langsung memincingkan matanya, kini ia bisa menangkap kegundahan adik cantiknya.
"Aku laper, mau makan!" jawab Kasih cepat-cepat, tak mau Dewa lebih mengintrogasinya, karena ia yakin jika sampai Dewa mengetahui masalahnya dengan Rangga dan Genta, sudah dipastikan apa yang bakal diperbuat kakak sepupunya itu pada dua cowok yang sudah menyakitinya.
Dewa menghembuskan nafasnya berat, ia tahu jika sang adik tengah berusaha menyembunyikan kekalutannya seorang diri, "bentar gue ambilin ya!" Dewa beranjak keluar untuk mengambilkan makan malam yang cukup terlambat untuk Kasih.
Mata Kasih langsung berbinar saat Dewa meletakan nampan makanannya, di sana ada semangkuk sup ceker, ayam goreng serundeng dan potongan buah apel.
__ADS_1
Perutnya sudah sangat lapar, dengan tergesa-gesa ia pun mulai menyendokkan sup ke nasinya dan langsung menyuapkannya dengan suapan besar.
"Pelan-pelan makannya kali, sini gue suapin!" Dewa menarik sendok yang dipegang Kasih saat ingin menyendokkan suapan kedua.
"Pake tangan aja Mas suapin aku pake ayam serundengnya aja, nanti sopnya biar aku gado" request Kasih yang langsung dituruti oleh Dewa.
"Bentar gue cuci tangan dulu kalo gitu."
***
"Yakin, enggak mau izin dulu sehari dua hari biar mendingan?" tanya Dewa sambil melepaskan ikatan helm yang Kasih kenakan.
Kasih menggeleng, ia sudah terlalu sering absen sekolah tak mau lagi-lagi membolos jika benar-benar tak terdesak, "Kasih gak apa-apa, Mas Dewa enggak usah khawatir" ucapnya mencoba menenangkan kakak sepupunya.
"Nanti gue jemput jam biasa ya!"
"Hari ini jadwal latihan teater aku, kalo Mas Dewa bisa jemputnya jam lima aja" Kasih menghela nafasnya berat, menyadari jika dirinya akan bertatap muka dengan Genta dan Clara, padahal dua orang itu termasuk dari tiga orang yang sangat ingin Kasih hindari.
"Kalo enggak enak badan, izin aja dulu enggak usah ikut latihan. Pasti mereka maklum kok!" nasehat Dewa, ia pun mengecup dahi Kasih dengan lembut dan lama untuk menyalurkan rasa sayang dan pedulinya.
Mungkin juga rasa bersalah, karena ucapannya semalam sebelum kejadian sang adik terjatuh dari tangga.
"Iya Mas, kalo gitu Kasih masuk dulu ya!" pamitnya mencium punggung tangan lelaki kesayangannya tersebut, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke gedung sekolahnya.
Sepanjang perjalan Kasih berdoa agar seharian ini tidak bertemu dengan ketiga orang yang telah menyakitinya. Ia hanya ingin menjalankan harinya dengan tenang.
Mungkinkah?
Sepertinya tidak, karena dari jauh Kasih sudah melihat sosok Rangga yang tengah menunggunya di ujung lorong depan kelasnya dan ia sadar tak mungkin putar balik atau pun mencari jalan lain, karena memang tidak ada.
"Aku mau ngomong sama kamu" Rangga langsung mencekal tangan Kasih, yang melewatinya begitu aja.
Kasih langsung menatap marah pada kekasihnya, sungguh hari ini ia tak ingin sama sekali membahas apapun bahkan bertemu dengan Rangga, Genta atau pun Clara.
"Hari ini tugas aku banyak, aku juga ada kerja kelompok. Bisa marah kelompok aku kalo aku Dateng telat" sahutnya ketus.
"Kapan kita bisa ngomong? Pulang sekolah bisa, nanti aku anter pulang sekalian!?" Rangga terlihat penuh harap.
"Aku nanti dijemput Mas Dewa, kita berdua mau pergi ke suatu tempat!" nada Kasih masih begitu ketus.
"Aku minta maaf.." ucap Rangga mendesahh berat melihat Kasih yang begitu marah padanya.
"Aku mau masuk, yang lain nungguin aku!" tanpa memperdulikan wajah memelas sang kekasih, Kasih langsung melenggang pergi meninggalkan Rangga.
***
Rania dan Kasih kini sudah berada di ruang tempat biasa mereka latihan teater, berbeda dengan Rania yang begitu bersemangat, Kasih justru terlihat murung dan sangat ogah-ogahan.
Meskipun beberapa kali Kasih bertatap muka dengan Genta atau pun Clara saat jam istirahat tadi, beruntung mereka tak sampai terlibat pembicaraan.
Kasih sebenarnya sadar jika Genta atau pun Rangga penasaran dengan perban yang menempel di dahinya, Kasih justru menutupinya dengan poninya agar tak membuat penasaran siapapun.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=