Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
Over Posesif


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Kasih tersenyum lebar saat mobil Rangga berjalan ke arahnya, awalnya ia merasa kesal karena saat meminta Dewa untuk menjemputnya ternyata Kakak sepupunya tersebut tak bisa dengan alasan ada kesibukan di kampusnya.


Ingin menghubungi Rangga, ia masih terlalu segan untuk merepotkan pacarnya tersebut. Akan tetapi saat ia hendak memesan ojek online, Kasih menerima pesan dari Rangga untuk menunggu dirinya menjemput.


"Udah lama?" tanya Rangga saat Kasih sudah duduk di sebelahnya.


"Lumayan, maaf ya Kak aku jadi ngerepotin Kakak harus balik lagi ke sekolah buat jemput aku!" Kasih menatap sungkan ke arah Rangga yang terus saja mengulum senyuman.


Tanpa kasih duga, Rangga justru menyodorkan kotak makanan bertuliskan salah satu restauran Jepang yang cukup terkenal di negeri ini, "kamu pasti lapar, makan dulu. Aku sengaja mampir buat beliin ini!".


"Pengertian banget sih Kak Rangga, makasih ya Kak!" ucap Kasih membuka kotak makanan tersebut.


Dilihatnya isi dalam makanan tersebut sangatlah menggugah selera, ia semakin tersenyum ketika menyadari bahwa menu yang dipilihkan oleh Rangga tak ada yang pedas sama sekali, sesuai dengan seleranya.


"Kakak udah makan? Makan bareng aku ya, ini terlalu banyak buat aku!" tawar Kasih, Rangga sempat menolak tetapi karena Kasih terus saja memaksa akhirnya ia pun mengalah dan menerima suapan dari Kasih bergantian dengan satu sumpit yang sama.


"Anyep ya Kak, enggak ada pedes-pedesnya?" Kasih terkekeh melihat Rangga yang harus terpaksa menikmati makanannya yang tanpa ia tambah saus sambal sachet yang tersedia di kotak makan yang telah habis isinya tersebut.


"Ahh enggak juga, aku juga bukan pecinta pedes kok, jadi enak-enak aja tuh!" jawab Rangga menatap sekilas wajah cantik kekasihnya yang terus memasang senyuman.


"Tadi gimana latihannya? Genta gangguin kamu lagi enggak?" tanya Rangga tetap fokus dengan kemudinya.


"Enggak, cuma sempet nyamperin aja buat ngobrol. Tapi kayaknya ceweknya ngambek Genta terus ngedeketin aku tadi!" jawab Kasih jujur.


"Aku juga pasti ngambek kalo tadi ngelihat sendiri kamu ngobrol sama Genta" sahut Rangga terdengar dengusan kekesalan dari mulutnya.


"Aku juga udah sering ngelarang dia kok buat jangan deketin aku, tapi dia tetep nekat!" Kasih mencoba untuk meredam kekesalan pacarnya.

__ADS_1


"Bahas apa?" tanya Rangga lagi tanpa memperdulikan ucapan Kasih tadi.


"Bukan hal penting!" Kasih melempar pandangannya keluar jendela mobil, ia enggan membahas cowok menyebalkan yang selalu menjadi sumber pertengkaran antara dirinya dan Rangga.


"Kamu mulai mau main rahasia-rahasian, hm?" nada suara Rangga meskipun lembut tapi tetap tersirat penuh tuntutan.


Kasih sempat menghela nafasnya berat, ia pun menatap intens wajah Rangga yang terlihat kesal meskipun tengah fokus mengemudikan mobilnya.


"Dia bilang ke aku kalo gaya pacaran kita itu pasti cupu--!" Kasih sempat menangkap wajah kebingungan Rangga sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.


"Katanya kalo orang pacaran itu musti ******* dan bobo bareng, baru deh bisa dibilang pacaran!" sontak kalimat polos yang meluncur dari bibir Kasih membuat Rangga langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba saking terkejutnya.


Kasih yang kaget, langsung menatap tajam ke arah Rangga yang juga sedang memelototinya, "Kak Rangga kenapa sih berhenti tiba-tiba gini? Bahaya tau!".


"Kalian ngebahas hal beginian?" tanya Rangga kesal.


"Dia yang ngebahas itu--!" kalimat Kasih langsung terpotong di udara saat Rangga kembali menyelaknya dengan dengan sebuah pertanyaan bernada kekecewaan.


"Ya aku tanya ke dia, gimana dia ngejalanin pacaran sama Clara" jawab Kasih jujur.


"Terus?" Rangga sungguh-sungguh ingin tahu sampai sejauh mana pembahasan antara sang kekasih dengan saudara sepupunya itu.


"Dia bilang, ******* itu biasa tapi untuk masalah tidur bareng setiap pasangan yang melakukannya harus serius dan berani mempertanggung jawabkan perbuatan merek itu!" Rangga langsung mengernyitkan dahinya bingung, apa benar Genta berucap demikian karena ia tau seperti apa sosok Genta yang berjiwa petualang tersebut.


Melihat Rangga hanya terdiam, Kasih pun melanjutkan ceritanya, "aku enggak tau sejauh mana hubungan antara Genta dan Clara yang jelas pas aku tanya tadi dia cuma diem aja!".


"Sampai mana hubungan mereka bukan urusan kamu, yang jelas aku mau kamu sebisa mungkin enggak terlalu banyak terlibat dengan Genta!" tegas Rangga yang terlihat tak suka dengan topik obrolan mereka saat ini.


"Aku juga ogah kali terlibat sama dia, tapi mau gimana lagi aku sama dia berada di ekskul yang sama, tapi tenang aku bakal berusaha sekeras mungkin buat enggak sering-sering berinteraksi sama dia!" ucap Kasih cepat saat melihat Rangga menatapnya tajam.


***


Malamnya usai mengerjakan PR nya, Kasih memilih berdiam diri di kamarnya. Biasanya ia akan ikut berkumpul di bawah menonton televisi bersama Bude dan Dewa, tapi malam ini rasanya ia hanya ingin sendirian saja.

__ADS_1


Sikap Rangga yang terlalu posesif dan cemburuan sedikit membuat Kasih tidak nyaman, rasanya dirinya menjadi perempuan yang tak bisa dipercaya karena berkali-kali selalu mendapat peringatan yang sama, padahal dirinya pun sudah berkali-kali menjelaskan bahwa tak sedikit pun ia tertarik dengan Genta.


"Harus gimana lagi aku ngomong ke Kak Rangga aku enggak nyaman sama sikap dia?" dessah Kasih memikirkan hubungannya yang baru beberapa hari sudah terasa rumit seperti ini.


"Woi Dek, bengong aja lu! Dicariin Ibu tuh!" teriak Dewa saat memasuki kamar adiknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Iya, nanti aku turun!" jawab Kasih sekenanya dengan wajah lesu.


"Kenapa sih lu?" tanya Dewa penasaran dengan sang adik yang lebih pendiam dari biasanya.


"Aku agak kesel sama Kak Rangga over posesif sama cemburuan banget. Heran deh semenjak resmi kejadian Kak Rangga malah kelihatan lebay!" keluh Kasih mencurahkan isi hatinya.


Dewa sempat menaikkan satu alisnya untuk mencerna ucapan adik kesayangannya.


"Emang dia cemburu sama siapa?".


"Genta!" jawab Kasih.


"Lah katanya Genta pacaran sama Clara, kok bisa si Rangga cemburu sama si Genta?" Dewa terlihat ikutan bingung.


"Tadi pagi, Genta sama Kak Rangga sempet ribut di parkiran sekolah gara-gara si Genta nyium pipi aku--!" cerita Kasih terpaksa berhenti saat Dewa langsung berdiri sambil berteriak dengan suara yang keras.


"APA?? GENTA NYIUM ELO??".


Kasih pun tersadar jika ia baru saja kelepasan bicara lagi, jelas Dewa pasti tak terima dengan apa yang baru saja ia ceritakan. Dan sungguh perasaan Kasih langsung tak menentu melihat ekspresi yang ditunjukkan Kakak sepupunya itu.


"Cari mati tuh cowok hah?" geram Dewa penuh amarah, sedang Kasih hanya mampu menggigit bibir bawahnya karena gugup.


Ia sadar Dewa tak akan diam saja dengan apa yang sudah dilakukan Genta terhadapnya karena sikap posesif sang kakak sepupu tak jauh berbeda dengan pacarnya.


"Besok gue anter elo ke sekolahan, perlu dikasih pelajaran emang tuh cowok biar enggak sembarangan!!" perintah Dewa tegas membuat Kasih membelalakkan matanya lebar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2