
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya ππ..
Happy Reading ππ
πππ
"Untung elo enggak ikut gue ke toilet" Kasih mulai bergosip usai kembali dari toilet tadi.
"Kenapa?" tanya Rania penasaran.
"Enggak usah diceritainlah, entar elo mewek enggak jelas!".
Rania dibuat geram dengan kelakuan sahabatnya ini, jika memang berniat tak menceritakannya untuk apa malah membuat penasaran.
"Ngeselin lu!".
Kasih hanya terkekeh mendengar umpatan Rania.
Mereka kini mulai memfokuskan perhatian mereka ke depan, saat Genta mulai bersiap berbicara. Sebenarnya Kasih dibuat bingung dengan kepribadian cowok tampan di atas panggung itu.
Disaat Genta menjadi pembicara, sosoknya sangat berbeda dengan kesehariannya. Tak terlihat sama sekali Genta si cowok tengil jika di atas panggung.
Aura kepemimpinan bahkan terpancar jelas dari sosoknya, begitu tampan dan mempesona.
No, wait-wait!!
Kasih langsung mengusap wajahnya kasar dan memukul-mukul kepalanya tersadar jika baru saja mengagumi si cowok cabul itu.
"Elo kenapa sih?" Rania bertanya karena terganggu dengan pergerakan yang dilakukan oleh Kasih di sebelahnya.
"Enggak apa-apa. Akhir-akhir ini otak gue sering konslet!" jawaban Kasih justru makin membuat Rania kebingungan.
Tak mau ambil pusing satu sama lain, mereka memilih kembali memfokuskan perhatian mereka ke Genta.
__ADS_1
"Jadi setelah pertimbangan kita semua, kita sepakat memilih sebuah cerita yang menurut saya menarik dan berbobot..!" Genta mengambil kertas yang berisikan kerangka cerita dari salah satu anggota teater.
Semua yang hadir pun dibuat penasaran cerita siapakah yang beruntung akan dibuatkan drama?
"Permata Kasih Ayudya, kami sepakat untuk mengangkat cerita karya kamu menjadi drama musikal yang tahun ini untuk perlombaan nasional dan persembahan di pentas seni perpisahan anak kelas dua belas. Kami harap kamu bersedia mengikuti pertemuan untuk membuat kerangka cerita kamu itu menjadi sebuah drama!" ucap Genta.
Kasih sempat melongo tak percaya mendengar Genta mengatakan karangan ceritanya berhasil dipilih, bahkan dia sempat mencurigai jika Genta memilihnya hanya untuk mengerjainya.
"Bisa ke atas, menjelaskan sedikit cerita kamu ke temen-temen yang lain!" pinta Genta tersenyum, namun saat ini Kasih melihat senyuman yang tulus bukan senyuman yang meledek yang sering kali ditunjukan cowok rese itu kepadanya.
"Elo sengaja kan?" bisik Kasih melontarkan kecurigaannya saat setelah berdiri di sebelah Genta.
"Sengaja apaan?".
"Sengaja milih cerita karangan gue, buat ngerjain gue kan?" sembur Kasih masih berbisik-bisik.
"Dihh, ge-er lu! Karangan lu dipilih bukan sama gue doang, pembina-pembina lain pada rembukan!" Genta menoyor pelan kepala Kasih dengan ujung telunjuknya.
"Songong!!" sembur Kasih mengusap-usap kepalanya.
Kasih pun maju ke arah depan dengan percaya diri, dia memang bukan gadis pemalu. Bahkan dia sangat menyukai momen-momen dimana dirinya tampil di depan banyak orang.
Dia pun dengan semangat yang berapi-api menjabarkan inti karangan yang ia tuliskan, dimana ia menceritakan tentang kisah cinta sepasang anak muda di bangku SMA.
Akan tetapi di usia muda yang masih labil, mereka justru terjerumus dengan hubungan yang terlalu bebas hingga mengharuskan mereka mempertanggung jawabkan hasil perbuatan mereka.
Tak hanya janin, pendidikan mereka pun juga harus mereka perjuangkan. Beruntung keduanya memang sama-sama ingin mempertanggung jawabkan semuanya.
Mereka berdua pun bersama-sama menghadapi lika-liku kehidupan mereka yang berubah 180Β° akibat ulah mereka sendiri.
Dan beruntungnya perjuangan mereka untuk memperbaiki diri di akhir cerita berbuah manis. Mereka mampu mempertahankan bayi mereka dan juga melanjutkan pendidikan mereka.
Kasih menekankan perjuangan mereka menghadapi cibiran orang lain, tekat mereka memperbaiki diri dan juga yang terpenting dukungan keluarga mereka untuk memperbaiki kekacauan yang mereka buat.
__ADS_1
Ia berharap dengan inti cerita yang dia tekankan dapat memberi pesan bagi para penonton bahwa kesalahan sebesar apapun bisa diselesaikan baik-baik tanpa harus melakukan kesalahan lainnya untuk menutupi kesalahan yang pertama.
Riuh tepuk tangan menggema seantero aula, merasa takjub dengan cerita yang dijabarkan oleh gadis mungil berparas cantik itu.
Pemikiran kritis dengan apa yang terjadi di dunia remaja saat ini memang tidak dipungkiri bahwa se*s bebas memang bukan hal tabu lagi.
Tak banyak dari remaja yang melakukan praktek tersebut mau mempertanggung jawabkan kesalahan mereka, dan di sini yang ingin Kasih tekankan adalah ketika kesalahan fatal mereka menghasilkan sesuatu yang butuh pertanggung jawaban besar, karakter yang dia buat dalam ceritanya memilih untuk memperbaiki daripada melenyapkan hasil perbuatan mereka.
Semua bisa dilakukan jika mereka mendapat dukungan untuk memperbaiki diri, bukannya mendapat sanksi berlebihan yang justru membuat para pelaku melakukan kesalahan yang lebih fatal lagi.
"Bukan berarti saya mendukung se*s bebas remaja, lebih baik kita melakukan hal tersebut jika benar-benar sudah terikat dalam pernikahan. Akan tetapi jika terlanjur membuat kesalahan, mari kita orang-orang terdekat memberi dukungan dan bantuan pada yang melakukan kesalahan karena dengan begitu tak akan ada kesalahan yang terulang atau yang lebih fatal lagi!" ucap Kasih diakhir penjabaran ceritanya.
Setelah sedikit melakukan sesi tanya jawab, Kasih turun dari atas panggung diiringi dengan suara tepuk tangan.
Genta pun kemudian mengambil alih kembali dengan beberapa penjelasan tentang pembuatan skenario dari kerangka cerita karya Kasih, audisi para pemain nantinya juga mulainya latihan rutin drama musikal mereka.
Setelah semua mengerti dan setuju, pertemuan kali ini akhirnya selesai lebih cepat dari biasanya. Genta pun membubarkan para anggota teater untuk pulang ke rumah, kecuali Kasih tentunya.
Genta meminta kehadiran Kasih untuk memberitahukan jika Kasih akan ikut para pembina membuat skenario drama mereka, tentu alasannya adalah karena Kasih adalah pemilih ide cerita.
"Mau gue tungguin?" tawar Rania ketika bersiap untuk keluar dari aula.
"Enggak usah, enggak apa-apa duluan aja! Lagian Kak Rangga nungguin gue kok di ruang OSIS, enggak usah khawatir!" tolak Kasih tersenyum lebar.
"Ya udah gue duluan kalo gitu ya!" pamit Rania kemudian melambaikan tangan dan berjalan keluar aula.
Dengan langkah malas, Kasih melangkahkan kaki untuk menghampiri para pembina yang tengah membuat lingkaran untuk mendiskusikan project drama mereka.
Karena tak ada bangku yang tersisa, kecuali bangku di sebelah Genta. Mau tak mau Kasih mendudukan dirinya di sebelah Genta.
Terlihat sekali Genta tersenyum puas ketika melihat dirinya pasrah duduk di sebelah cowok brandal itu, berbeda dengan Clara yang melihat tak suka ketika Kasih mendudukkan dirinya di sebelah sang kekasih.
"Gue terpaksa duduk di sebelah cowok elo, kalo ada bangku lain mah gue ogah. Jadi kondisikan tuh mata!" sindir Kasih tanpa rasa takut sama sekali pada para senior lainnya karena jengah melihat Clara memandangnya terus-menerus dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=