Akhir Kisah Kasih

Akhir Kisah Kasih
"Elo..?!".


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya πŸ™πŸ™..


Happy Reading 😊😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Makasih untuk malem ini Beb!" Ucap Genta pada Clara saat mereka baru saja sampai di depan pintu gerbang rumah Clara.


"Iya..!" Sahut Clara singkat.


"Kamu marah?" Tanya Genta bingung dengan sikap Clara yang sedikit pendiam, karena sejak keluar dari hotel dan sepanjang perjalanan pulang, Clara sama sekali tak berbicara kecuali jika Genta bertanya sesuatu. Itu pun dijawabnya singkat.


"Enggak, buat apa aku marah? Aku cuma kecapekan aja!" Jawab Clara memaksakan senyumannya.


"Maaf klo permainanku agak kasar tadi..!" Ucap Genta penuh sesal karena sadar ia cukup bermain dengan kasar tadi.


"Enggak kok, aku juga menikmatinya. Yang terpenting selama kita be*cinta kamu enggak ngebayangin cewek lain!" Genta langsung terdiam mendengar jawaban kekasihnya, karena sungguh ia menikmati percintaan mereka kali ini karena bayangan Kasih yang terus saja muncul di fikirannya.


"Haha.. Enggak mungkinlah aku ngebayangin cewek lain kalo pacarku sendiri aja begitu cantik dan menggairahkan!" Elak Genta tak ingin sama sekali menyulut amarah kekasihnya, sedangkan Clara hanya mengangguk dan tersenyum.


Genta langsung menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepala sang kekasih dengan penuh kehangatan. Ia sadar sudah memperlakukan kekasihnya dengan tak adil, namun jujur jiwa berpetualangnya sungguhlah teramat sangat besar. Tetapi yang berbeda kali ini kenyataan yang tak bisa dipungkiri jika Kasih telah mengusik hidupnya, berbeda dengan gadis-gadis lain yang hanya ia targetkan untuk dinikmati saja tanpa sama sekali bisa singgah untuk mengganggu fikirannya.


"Maaf kalo aku masih sering ngecewaiin kamu, aku harap kamu ngertiin aku!" Ucap Genta disela belaian lembut yang ia berikan untuk Clara yang dibalas dengan anggukan lemah oleh Clara.


"Ya udah kamu masuk gih, istirahat. Jangan mikir macem-macem ya, aku sayang sama kamu itu yang terpenting. Dan aku udah transfer tadi ke rekening kamu buat beli tas yang kamu mau waktu itu!" Lanjut Genta melepas pelukannya.


"Aku udah beli tas itu kok, Papi yang beliin sebelum berangkat ke Jerman. Lagian kan aku udah sering bilang ke kamu kalo aku paling enggak suka kamu transfer-transfer setelah kita be*cinta, aku bukan pelac*r kamu, aku ini pacar kamu!" Salak Clara.


"Aku enggak pernah nganggep kamu begitu, ak..!" Ucapan Genta terpaksa harus terpotong ketika dengan kesal Clara menyalaknya.


"Kamu emang gak nganggep aku begitu, tapi kamu memperlakukan aku begitu. Udah lah aku mau masuk dulu!" Clara terlihat kesal, ia pun langsung keluar dari mobil Genta tanpa menengok ke arah Genta lagi.

__ADS_1


"Aku cuma mentransfer kamu uang agar kamu membeli barang yang kamu suka, karena aku gak ngerti hadiah seperti apa yang cewek mau!" Lirih Genta melanjutkan kata-katanya yang terpotong tadi, meskipun tahu Clara tak mendengar penjelasannya.


***


Sepanjang hari ini, sejak pagi Kasih masih saja sibuk membantu kedai Ranti yang memang semakin ramai jika hari libur.


Begitu pula Dewa yang tak henti-hentinya mengantarkan pesanan para pelanggan, membuat Kasih hendak membantunya karena memang Kasih hanya membantu Ranti di belakang kasir. Kasih memang sangat teliti dan cekatan hingga Ranti sering mempercayakan proses pembayaran pada Kasih.


"Istirahat dulu aja Sayang, besok hari pertama kamu mulai kegiatan belajar di sekolah kan? Nanti kamu kecapekan lagi, makan dulu sana!" Ucap Ranti ketika Kasih meminta izin padanya untuk turun membantu Dewa.


"Belum lapar Bude, nanti aja makan barengan Mas Dewa pas ketiga karyawan Bude selesai istirahat gantian aku sama Mas Dewa deh yang istirahat. Aku bantuin Mas Dewa ya Bude, kasihan kayaknya kerepotan banget!" Sahut Kasih dengan tersenyum ceria.


Ranti akui semangat keponakannya memang sangat besar seperti seakan selalu bertenaga dan tak mudah lelah.


Bahkan ia perhatikan Kasih lebih cekatan dan cepat dalam melayani pelanggan dibanding Dewa membuatnya tersenyum bangga pada gadis mungil itu.


Dan ketika tiga karyawan kembali ke pekerjaannya kini Kasih dan Dewa bergantian mengambil jam istirahat ke halaman belakang.


"Tumben mau ngambilin, biasanya gue disuruh ambil sendiri?" Cibir Dewa menatap curiga pada adiknya.


"Abis kasihan Mas Dewa kayaknya capek banget!" Sahut Kasih tanpa mau memperpanjang perdebatan.


"Ayam goreng sama tumis kangkung aja, minumnya es teh gelas gue yang gede banget ya dan jangan lupa peyek kacangnya ambil tiga bungkus. Oh iya nasi gue lebihin ya porsinya, ayamnya juga dua potong, sambel juga yang banyak, entar elo gue bagi!" Kasih langsung memandang kesal mendengar pesanan Kakaknya itu yang diselipi ejekan.


"Ngelunjak!".


Setelah beberapa saat, Kasih datang dibantu oleh salah satu pekerja kedai membawa pesanan Kakaknya juga dirinya dan menyusunnya di atas meja.


"Elo makan apa Dek?" Tanya Dewa ingin tahu.


"Tuh..!" Tunjuk Kasih ke piring miliknya dimana terdapat ayam goreng, tahu-tempe bacem serta tumis kangkung yang sepertinya baru dibuat karena tanpa ada irisan cabe sama sekali.

__ADS_1


"Ya udah ayo makan, gue udah laper banget. Kita juga harus cepet-cepet, soalnya Ibu bilang ada pelanggan penting yang katanya mau mampir hari ini, makanya Ibu nyiapin ruangan makan khusus buat mereka!" Ajak Dewa.


"Emang siapa Mas?" Tanya Kasih penasaran.


"Kata Ibu sih, Bos besar pemilik mall yang lagi dibangun di seberang jalan besar sana. Gak cuma pemilik tapi yang dateng sekelurga katanya!" Jawab Dewa, kemudian mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Uangnya seberapa banyak ya Mas bos itu? Bisa ngebangun mall yang kayaknya juga bakal besar banget deh kalo udah jadi!" Kasih benar-benar membayangkan seberapa banyak kekayaan yang dimiliki orang tersebut.


"Pastinya banyak lah, malah kata Ibu, ini tuh gedung mall ke berapa yang Bos itu bangun di Jakarta. Belum lagi hotel, restauran, gedung perkantoran. Di luar kota juga banyak, apalagi di Bali, beuuhhh.. Yang jelas ini mah billioner!".


"Tapi aku salut lho Mas sama orang itu, Beliau pasti orang yang down to earth. Ya kan?" Ucap Kasih membuat Dewa sedikit bingung dengan perkiraan adiknya itu.


"Kok elo bisa bilang begitu?" Tanya Dewa.


"Ya, Mas Dewa bayangin aja seorang Billioner macam Beliau mau-maunya mampir ke kedai sederhana kita, iya kan?" Jawab Kasih yang langsung diangguki setuju oleh Dewa.


"Bener juga ya kata lo!".


Mereka pun dengan diselingi obrolan dan candaan selama makan, akhirnya menyelesaikan makan siang mereka. Dewa meminta sang adik untuk merapikan bekas makan mereka, sedangkan dirinya langsung turun ke kedai setelah mendapat kabar jika tamu penting kedai mereka telah tiba.


Dan disaat tengah asyik membereskan bekas makannya dengan Dewa, ia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, sedangkan si penepuk pun sama terkejutnya dengan Kasih.


"Permisi Mbak, maaf toiletnya sebelah mana ya?" Tanya seseorang sambil menepuk pundaknya membuat Kasih langsung menengok ke arah orang tersebut.


"Elo..?!".


"Elo..?!".


Teriak mereka bersamaan saking terkejutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2